RAGASA

RAGASA
Ep. 98. Anak sial



“Kok bunda gak di ajak ketawa juga?” Bunda Renita masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.


“Ini lo sayang, kita berdua lagi ngikutin gaya bicara Caca, kalo misalnya lagi marah sama Raga, karena gak makan.” Ucap Wijaya.


“Makan dulu yuk, bunda suapin.”


“Noh, cepet makan! Kapan lagi, papah izinin bunda buat suapin kamu,”


Raga mengangguk, membuat bunda mulai menyuapi anak bungsunya itu. 


“Kenyang bunda,” kata Raga.


“Baru juga dua suap, yang banyak makannya,” Renita kembali memasukkan sendok ke mulut Raga.


“Ini fotonya ada cerita lucu nya gak? Atau asal foto aja?” tanya Renita, mengalihkan pembicaraan. Supaya Raga asik bercerita nantinya, dan dirinya asik menyuapi putarannya.


“Ada dong, jadi gini ceritanya....”


Flashback on.


Jamkos tentunya jam paling di senangi oleh semua murid. Termasuk anggota Alverage, jadi mereka semua tak usah susah payah, membujuk Raga untuk membolos.


Hari ini hujan cukup deras, membuat siapapun yang biasanya berkeliaran, lebih memilih untuk berdiam di kelas. Tetapi berbeda dengan anggota inti Alverage, kelima orang itu malah berdiam di luar. Untuk menikmati hujan tentunya.


“Mendingan hujan-hujanan yuk! Kayaknya seru, main bola sambil hujan-hujanan.” Ajak Caca.


“Males banget, tar kepeleset!” jawab Dodi.


“Ga, main ayok! Biarin si Dodi mah, kagak usah di ajakin,” 


Caca mendorong tubuh Raga, Bima dan Alzam dengan secara paksa ke arah lapangan.


Caca tertawa, senang sekali hujan-hujanan seperti ini. Perempuan itu sudah lama, tidak merasakan hujan-hujanan setelah cukup lamanya.


Mereka berempat akhirnya bermain bola, dengan satu tim 2 orang 2 orang. Mereka tertawa, menikmati guyuran hujan yang turun langsung dari langit, langsung ke tubuh mereka.


Cukup keras suara tertawaan mereka, sampai-sampai tak bisa teredam oleh suara derasnya air hujan.


Jelas, itu cukup membuat perhatian Dodi tersita. Lelaki itu cukup tergoda, dengan permainan teman-temannya yang tampak seru.


Dodi berlari ke tengah lapangan untuk bergabung. Baru saja akan menendang bola, lelaki itu malah menendang air hujan, yang membuat lelaki itu terjatuh.


Melihat Dodi yang terjatuh, Caca dan yang lainnya tertawa terbahak-bahak.


Bagaimana tidak, kondisi Dodi terlihat mengenaskan sekarang, dengan seluruh pakaiannya yang kotor. Dan jangan lupakan posisi jatuhnya, yang tengkurap, dengan bokong yang ke atas.


“Bim, bokongnya lo tendang pake bola, sebelum tuh si Dodi bangun,” bisik Caca.


Bima mengangguk, mengambil ancang-ancang, lalu melakukan apa yang Caca suruhkan. Dodi yang hendak berdiri pun, jadi kembali tengkurap, bahkan tengkurap sepenuhnya.


Dodi mengusap wajahnya secara kasar karena tertutup air hujan. Lelaki itu berdiri, lalu menghampiri Bima dengan langkah marahnya.


Melihat tanda-tanda seperti itu, Bima berlari, membuat kedua laki-laki itu kejar-kejaran di tengahnya hujan.


Gubrak


Bima terpeleset, membuat Dodi tertawa. Hendak bangun, kedua kaki Bima sudah di tarik oleh Dodi keliling lapangan. 


Melihat ketiga teman yang lainnya menertawakan Bima. Setelah mendekati ketiga orang itu, Bima menarik kaki Caca membuat Caca terjatuh pula, sama hal nya dengan Bima, Caca menarik kaki Raga, dan Raga tentunya menarik kaki Alzam.


Jadilah mereka semua di tarik oleh Dodi dengan keadaan tertidur. Dodi yang berkuasa sekarang. Meskipun seperti itu, bukannya merasa kesakitan, mereka semua yang di tarik malah tertawa, menikmati tarikan Dodi, dan air hujan yang langsung turun ke wajahnya.


“Apa-apaan Kalian semua?!” seru Bu Shinta, membuat pergerakan yang Dodi lakukan berhenti.


Melepaskan cekalannya di kaki Bima, Dodi langsung saja berlari keluar lapangan, tanpa memikirkan teman-temannya yang masih tertidur dengan wajah cengo.


“Bangsat tuh si Dodi!” ucap Caca, lalu berdiri menghadap Bu Shinta, yang sudah berada di depan mereka.


“Ini masih jam istirahat! Baju kalian sudah kotor semua dengan tanah! Bagaimana kalian mau melanjutkan pelajaran?!” marah Bu Shinta.


“Jikalau kalian memang mau hujan-hujanan, bisa kan setelah pulang sekolah?!”


Setelah marah-marah seperti itu, Bu Shinta langsung saja pergi, tanpa mau mendengarkan protes dari murid-murid nakalnya.


“Gara-gara lo sih Ca! Jadinya kita di hukum kan?!” ucap Bima.


“Lah, kok gara-gara gue?” tak terima Caca.


“Lo kan yang ngajak kita hujan-hujanan di lapangan? Ya jadi gara-gara lo!”


“Dih? Lo juga mau kan? Kenapa lo ikut kalo lo gak mau?!”


“Udah lah, udah lewat juga. Mendingan kita selesaiin hukumannya, udah itu kita pulang. Lagian, udah gak bisa belajar dalam keadaan kayak gini lagi kan?” lerai Raga.


Mereka semua akhirnya melakukan apa yang bu Shinta suruh, memunguti sampah dengan cara tiarap.


Caca berdiri, seraya menyuruh Raga berdiri juga.


“Apaansi Ca? Belum selesai juga, tar kita di marahin lagi Bu Shinta loh.” Kata Raga.


“Bentar,” tahan Caca.


“Dodi sini lo!” teriak Caca, ketika melihat Dodi dengan antengnya memainkan handphone tanpa memedulikan mereka.


“Apaansi lo?! Pake teriak-teriak segala!” kesal Dodi.


“Fotoin gue sama Raga dulu bentar, gue mau post Instagram ini,” 


“Ganggu aja lo!”


“Gue bayar seratus ribu,” iming-iming Caca.


“Nah, kalo gini gue setuju.”


Flashback off.


“Nah, gitu bun ceritanya.” 


Renita manggut-manggut mendengar itu. Benar kan pemikirannya, sepiring nasi berhasil di habiskan tanpa sadarnya oleh Raga, karena terlalu fokus menceriakan sesuatu.


“Papah juga dulu gitu sama temen-temen papah. Emang seru-serunya banget masa-masa kayak gitu.”


Raga mengangguk membenarkan, “Tapi aku jadi kangen sama Caca lagi,”


Renita mengusap rambut anaknya “Mau ke makam Caca?” tawar Renita.


“Raga gak mau, Raga mau tidur aja.” 


“Ya udah kalo kayak gitu, mamah sama papah keluar dulu ya?” Raga mengangguk, membuat kedua suami istri itu, meninggalkan kamar anaknya.


Raga kembali menatap langit-langit. Apakah dirinya bisa menjalani hidup tanpa adanya Caca di sini? Waktu itu, hanya di tinggalkan dua minggu saja laki-laki itu sudah ketar-ketir, bagaimana dengan sekarang, yang di tinggalkan selamanya?


Raga menghela nafas, sembari mengusap air matanya secara kasar. Ia selalu menjadi lelaki cengeng, ketika itu semua berhubungan dengan Caca.


Kembali melihat foto di pelukannya, Raga mengusap-usap wajah di balik gambar itu. Cantik, sangat cantik. Kata itu yang selalu terlontar di mulutnya, setiap melihatnya foto-foto Caca.


“Secepat ini kah?”


“Secepat ini kah lo tinggalin gue?”


Terdiam sesaat, lelaki itu tiba-tiba tertawa, “Lo seharusnya bilang gue lebay, karena gue nangis terus di sini. Terlebih lagi gue nangisin lo,”


“Hebat ya lo? Niat gue kenal sama lo, supaya gue bisa bikin lo bernasib sama kayak kakak gue. Tapi, malah gue sendiri yang bernasib sama kayak kakak gue sendiri,”


“Kakak gue di tinggalin sama orang yang dia sayang, gue juga sama. Penyebab kakak gue di tinggalin itu karena gue, dan penyebab gue juga di tinggalin, itu karena gue sendiri,”


Raga kembali tertawa “Gue baru ngeh sekarang, kalo gue itu anak sial. Selalu merusak kebahagiaan orang, termasuk kebahagiaan gue sendiri,”


“Gue pantes dapat ini, atau bahkan lebih dari ini.”