RAGASA

RAGASA
Ep. 57. Caca Tumbang



Sebelumnya...


Mata mereka semua tiba-tiba membola kaget, melihat apa yang terjadi di sana. apalagi melihat posisi.....


|•••|


Mata mereka semua tiba-tiba membola kaget, melihat apa yang terjadi di sana. apalagi melihat posisi Bella dan Sasa yang sedang berada di ujung rooftoop, dengan keadaan di ikat. 


Dan apa yang membuat mereka semakin kaget, pelaku dari semua ini adalah seorang Mona bersama ajudannya Topan.


Bima hendak berlari ke arah Bella, tetapi Mona terlebih dahulu berseru. "Kalo Lo mendekat, gue jatuhin istri Lo yang lagi bunting ini," Peringat perempuan itu.


"Lagu lama," Cibir Caca pelan.


Wanita itu sudah geram, tetapi harus tetap berada di belakang tubuh tegap Raga. 


"Apa mau Lo?" Tanya Raga, dengan suara rendahnya.


"Apa mau gue? mau gue ya Lo," Balas Mona.


"Kenapa Lo harus lakuin ini?" Tanya Raga lagi.


"Buat curi perhatian Lo lah," Balas Mona, tanpa tahu malu.


"Cuman ini?" Tanya Raga memancing.


Mona menggeleng "Enggak, banyak kok gue lakuin,"


"Lo semua tau gak? kalo yang ngerusak markas alverage yang ke tiga kalinya itu gue sama Topan, iya gak Pan?" Ucap Mona antusias.


"Iya," Balas Topan.


"Terus apa tujuan gue nyebar foto Bima sama Bella, ngerusak markas, sama culik mereka berdua. tujuan gue ya.... buat curi perhatian lo Raga, buat curi perhatian lo,"


"Segini doang, gak cukup buat cari perhatian gue," Kata Raga, menganggap remeh.


Sasa yang mendengar alasan Mona, menahan kesal, "Gak ada sangkut pautnya sama adik gue kan? KENAPA LO CULIK ADIK GUE BANGSAT!" Teriak Sasa, jelas-jelas tidak ada sama sekali alasan yang menyangkut dirinya, tetapi kenapa Mona malah menculik adiknya.


"Ya... karena Lo awal dari permasalahan ini. gue gak mungkin, bongkar ini cepat-cepat, kalo foto Bima sama Bella gak ketahuan, dan itu karena Lo, karena Lo bilang sama tunangan Lo itu. makanya, gue culik adik tercinta Lo ini," Mona berkata, sembari bersidekap dada, wanita itu tampak angkuh sekali.


"GUE GAK BILANG SAMA SEKALI, MEREKA SEMUA YANG CARI SENDIRI ANJING, JANGAN SALAHIN GUE! BALIKIN ADIK GUE!" Sasa berteriak sembari menahan tangis, melihat adiknya yang di ujung rooftoop sana menahan ketakutan.


"Udah, percuma Lo teriak-teriak dia licik, gak akan pernah lepasin adik Lo cuma-cuma," Caca menepuk-nepuk bahu Sasa menenangkan.


Alzam mundur, supaya bisa sejajar dengan Sasa yang dibelakangnya, Alzam mencoba untuk mengusap-ngusap bahu Sasa, tetapi cewek itu menghindar "Gak usah pegang gue," Katanya pelan.


Alzam paham apa yang di rasakan Sasa, wajar saja Sasa menyalakan diri dirinya, karena ngotot untuk mencari siapa yang memang menyebarkan foto itu. "Gak usah marah lagi, sering banget Lo marah," Bisik Alzam, laku merangkul bahu Sasa.


"Balikin mereka berdua, dan sebutin apa mau Lo," Kata Raga, kembali menginterupsi.


"Oke, mau gue adalah Lo jadi pacar gue, gimana? Lo setuju gak?" Tawar Sasa.


"Gue setuju," Enteng Raga tanpa beban.


Caca yang belakangan melotot tak percaya, benar saja, Raga bilang seperti itu.


Mona mendekat ke arah Raga, "Ambil surat kontraknya Pan," Suruh Mona kepada Topan.


Caca tersenyum, posisi yang pas, tidak ada yang di dekat Bella dan Kila, yang artinya, tidak akan ada yang bisa mendorong mereka berdua.


Melihat topan yang juga mendekat ke arah Raga, Caca pelan-pelan mengambil pistol yang di bawanya di rumah, lalu.....


Dor


Dor


Menembakkan peluru itu pada masing-masing kaki Mona dan topan.


"BIMA, ARI, AMBIL MEREKA!" Teriak Caca, membuat kedua lelaki yang di sebut namanya itu sigap berlari ke arah masing-masing pasangannya.


Mona otomatis jatuh di pelukan Raga, dan dengan sengaja, wanita itu mengalungkan tangannya di leher Raga.


"Pinter juga Lo," kata Mona. wanita itu sama sekali tidak merasakan sakit, hanya karena satu tembakan yang di lakukan Caca.


Caca tersenyum, "Jelas."


"Bima, Ari Lo berdua langsung ke bawah, sekalian bawa Sasa juga, bawa mereka berdua langsung ke rumah sakit," Perintah Caca di angguki mereka Berdua.


Jadi... tinggalah berempat disana.


Raga hendak melepaskan pelukan itu, tetapi Mona dengan erat memegang juga leher Raga, membuat Raga sulit melepaskan.


"Keluar!" Perintah Mona tiba-tiba, membuat semua orang yang sedang bersembunyi di sebuah kamar disana keluar.


Terpampanglah sedikitnya sepuluh orang dengan tubuh tegap, dan membawa masing-masing pistol perorangannya.


"Buat formasi lingkaran!" Perintah Raga.


Caca mengambil tiga pistol di sakunya untuk di bagikan ke Dodi, Alzam dan Raga.


"Dah beb," Katanya, meninggalkan mereka berempat yang di kelilingi sepuluh orang dengan bersenjata.


"Gak akan menang ini, Lo semua gak ada kata-kata terakhir apa?" Seru Dodi, sedikit panik.


"Gue sayang sama kalian," Tambah lelaki itu.


"Gak usah nakut-nakutin anjir!" Kesal Caca.


Mereka berempat menodongkan pistolnya, dan berjalan secara berputar.


"Tembak langsung kepalanya, biar langsung mati!" Seru Caca.


"Anjir! kita gak boleh bunuh orang bego!" Kata Dodi, mereka semua terus saja berjalan berputar.


"Daripada kita yang di bunuh," 


"Jangan sampai di antara mereka ada yang mati!" Tekan Raga, membuat dengan berat hati Caca mengangguk.


"Tembak!" Seru Raga.


Dor


Dor


Dor


Dor


Dor


Dor


Suara tembakan bersahut-sahutan. ternyata... orang suruhan Mona tidak mengincar Alzam, Raga atau Dodi, tetapi mengincar Caca. lihat saja, bagaimana orang itu terus mencoba menembakkan pelurunya pas di tubuh Caca.


"Sial, dia gak ngincer kita semua, dia cuman nginjer Caca!" Kata Raga.


"Terus jalan berputar, tapi lebih Cepat dari yang tadi,"


Caca kembali mengeluarkan satu pistolnya lagi. jadi dirinya memegang dua pistol sekaligus.


"Jangan ada yang coba lindungin gue, gue gak bakal kenapa-kenapa, percaya." Caca terus saja mencoba membidik, meskipun tubuhnya sudah berkali-kali di tembak di area perut.


"Awss....  jangan coba tempat area kaki mereka!" Ringis Caca, ketika lengan nya tertembak.


Mereka bertiga menurut, tak ada yang berani menembak area kaki, karena itu adalah Perintah.


Dor


Dor


Dor


Dor


Dor


Lima tembakan akibat lalay, berhasil lolos ke daerah tubuh Caca, membuat sedikit lagi wanita itu tumbang.


"Tahan... sebentar lagi, gue pasti habisin mereka," Raga memeluk tubuh Caca, agar tak jatuh. 


Mereka yang ada di sana mungkin penembak handal. buktinya, orang itu selalu pas mengenai tubuh Caca, tidak sama sekali meleset.


Ketika meleset pun, palingan hanya mengenai ujung lengan Alzam dan Raga, yang paling dekat dengan Caca.


Raga menjadikan dirinya benteng, lelaki membelakangi tubuh orang suruhan Mona, sembari mengungkung Caca dalam pelukannya.


"Jangan kayak gitu bego! tar Lo kenapa-kenapa," Caca berbicara sedikit lesu, dengan mata hampir tertutup.


Raga menghentikan jalannya, ketika mata Caca hampir menutup. "Hey, Ca... jangan dulu tutup mata Lo," Mohon Raga.


"Ca hey," Raga menepuk-nepuk Pipi Caca, ketika wanita itu tidak menuruti perkataannya.


Dor


Hanya satu tembakan saja, pas mengenai pinggang Caca, membuat mata cewek itu benar-benar tertutup.


"Bangsat!" Umpat Raga, menembak orang yang baru saja menembak Caca pas pada otaknya. 


"Ca hey, Caca... Lo masih dengar gue kan?" 


Raga mengeratkan pelukannya, kalo saja terjadi apa-apa terhadap Caca nantinya, ia tidak akan segan-segan membunuh Mona.


"Kasih gue jalan," Ucap Raga dengan suara dinginnya.


"Lepasin mereka, gue belum mau, kalo cewek itu mati," Perintah Mona, membuat orang-orang memberi jalan.