
Caca dan Alex saling berhadap-hadapan, Alex sudah datang ke rumah Caca pada pagi-pagi sekali dengan membawa sarapan. Bahkan, Alex sudah memakai pakaian formalnya, membuat Caca berpikir, apakah Alex sedisiplin itu.
“Jadi, ada apa sama orang yang sudah ngirimin teka-teki di rumah gue?” Tanya Caca. Masih memakai pakaian piamanya, perempuan itu baru saja bangun dari tidurnya, dan ternyata Alex sudah nangkring di bawah dengan membawa sarapan.
“Makan dulu, baru saya ceritakan,” Alex membuka mika yang berisi bubur ayam, lalu memberikannya pada Caca.
“Nona tim di aduk atau tidak?” Tanya Alex, langsung memakan buburnya tanpa sama sekali di aduk. Sudah di pastikan, Alex adalah orang yang memakan bubur tanpa di aduk.
“Aduk lah, lebih enak.” Kata Caca, mengaduk-aduk buburnya, membuat Alex merinding di buatnya.
“Anda tidak jijik makan seperti itu?” Alex berkata pelan, sambil terus memakan buburnya.
“Oh... maksud Lo, bubur yang di aduk jijik?” Tanya Caca sembari menaikkan satu alisnya.
Alex menggeleng cepat, tetapi juga mengangguk secara bersamaan “Bukan seperti itu Nona, tetapi kelihatannya memang seperti itu, bubur yang di aduk seperti muntah kucing,” Ucap Alex, sembari menggaruk tekuknya dan tersenyum kaku
“Muntah kucing hm? Berani Lo bilang bubur gue kayak muntah kucing?” Caca merasa tak terima, martabat bubur di aduknya di injak-injak, wanita itu mengaduk-aduk buburnya secara pelan, sembari menatap Alex.
Glek
Dengan paksa, Caca memasukkan bubur yang sudah di aduk-aduknya ke dalam mulut Alex.
“Telen!” Paksa Caca.
Alex menggeleng pertanda tak mau, lelaki itu masih menyimpan buburnya di mulut tanpa menelannAle
“Alex telan! Lebih enak bubur gue Daripada bubur Lo!”
“Ayok Alex, jijik di diemin di mulut gitu,”
Alex memejamkan lalu menelannya secara paksa, setelah tertelan lelaki itu mengambil minum lalu meminumnya supaya buburnya lancar tertelan.
“Enak kan?” Tanya Caca, dan jelas-jelas Alex menggeleng menjawabnya.
“Tidak, rasanya aneh!” Jawab Alex, sembari terus bergidik merasa memakan muntah kucing di mulutnya.
Caca berdecak, lalu menyimpan buburnya di meja dengan keras, Caca tampaknya sudah tak mood makan, ketika Alex menginjak-injak harga diri buburnya.
“Cepat omongin apa yang mau Lo omongin, gue udah kenyang hanya karena ejekan Lo tentang bubur gue!” Sinis Caca.
“Anda marah Nona?” Tanya Alex, ikut menyimpan mika buburnya.
“Jelas lah! Orang Lo bilang bubur gue rasanya aneh terus kaya muntah kucing, gimana gue gak marah coba!”
“Saya minta maaf Nona, saya tidak bermaksud mengejek bubur anda,” Kata Alex, terlihat sangat menyesal.
“Udahlah, cepat jelasin kenapa orang yang ngirim teka-teki itu ke rumah gue!”
Alex mengangguk, sebenarnya lelaki itu masih tak enak, ketika melihat wajah Caca yang memang terlihat seperti tak mengenakkan.
“Jadi begini Nona, saya tidak bisa mencari siapa orang yang mengirim teka-teki itu, karena mungkin, orang itu sudah tahu bakalan ada orang yang mencarinya. Tetapi, yang memang cukup mengejutkan juga, orang yang mengirim teka-teki itu adalah anggota geng anda Nona, anggota alverage,”
Caca berbalik ke arah Alex, dengan wajah terkejut “What! Orang yang udah ngebunuh Kakak gue anggota alverage, dan orang yang mau membongkar siapa pembunuh Kakak gue juga anggota alverage?”
“Ya, seperti itu Nona.”
“Intinya, emang ada orang yang tahu siapa yang udah bunuh Kakak gue, tapi emang gak mau kasih tahu secara langsung, karena emang gak mau ngerusak, iya gak sih Lex?”
“Betul, makanya orang itu kirim teka-teki, dia gak mungkin kasih tahu anda secara langsung, karena gak mau ngerusak pertemanan dia sama orang yang udah ngebunuh Kakak anda, tapi dia juga kasian dan gak mau kamu terus-terusan seperti orang bodoh, yang mempercayai orang yang udah bunuh Kakak anda Nona,”
Caca menelungkupkan wajahnya, ketika mendengar penjelasan Alex, “Kenapa jadi rumit kayak gini sih Lex?”
“Maaf sebelumnya Nona, mulai sekarang anda harus mencoba untuk tidak terlalu percaya kepada orang. Karena kita tidak tahu kan? Bagaimana yang kedepannya akan terjadi, jadi jangan terlalu percaya terhadap orang meskipun orang itu teman baik anda sekalipun,”
Alex mengangguk “Ya jelas, apalagi saya orang baru di hidup anda,”
Caca melirik jam tangannya, jam sudah menunjukkan pukul hampir delapan pagi, yang artinya bel masuk sekolah akan berbunyi, sedangkan Caca, mandi saja pun belum, wanita itu terlalu asik mengobrol dengan Alex, sampai melupakan bahwa hari ini dirinya sekolah.
“Gue mau sekolah, Lo juga berangkat ke kantor gih,” Suruh Caca kepada Alex.
“Apakah anda masih marah kepada saya?” Bukannya pergi, Alex malah memberikan pertanyaan seperti itu kepada Caca.
“Masih, dan kalo misalnya Lo mau maaf dari gue, Lo harus berpindah posisi, dari yang makan bubur gak di aduk, jadi makan bubur yang di aduk,” Ucap Caca, lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Alex.
Baru saja masuk ke dalam rumah, handphonenya sudah berdering, menunjukkan bahwa Raga lah yang menelepon.
“Halo Ga, kenapa?” Sapa Caca, ketika wanita itu sudah mengangkat teleponnya.
“Dimana? Ini udah waktunya masuk, kenapa Lo belum juga datang,”
“Ini mau mandi dulu,”
“Mandi! Kenapa baru mandi sekarang! Lo udah gak punya jam di rumah! Atau udah lupa jadwal?! Atau udah ngerasa bahwa itu sekolah milik Lo! Makanya Lo datang seenaknya!”
Caca sedikit menjauhkan teleponnya, Raga sudah seperti mak-mak Komplek yang marah, bawelnya mungkin sama rata, ketika anak ibu Komplek itu kesiangan dalam berangkat sekolah.
“Dengar gue gak?!”
“Dengar Ga,” Ucap Caca pelan.
Terdengar helaan nafas di seberang telepon “Jam kedua ada ulangan, Lo harus kesini, sebelum jam pelajaran kedua mulai, atau gak Lo bakalan nyusul Minggu depan, yang pastinya Lo gak akan bisa nyontek ke gue, karena pasti ngerjainnya di ruang guru,”
“Iya Raga, bawel banget sih?!”
“Gue bawel juga demi kebaikan Lo, kalo Lo gak di bawelin Lo bakal datang kesekolah seenaknya! Bentar lagi kita ujian, harus giat-giat belajar, katanya mau banggain bunda!”
“Iya Raga.... udah dulu ya, gak mandi-mandi dong gue, kalo Lo gak matiin teleponnya dan terus nyerocos,” Caca berbicara lembut, tetapi Raga langsung mematikan teleponnya secara kasar, membuat Caca lagi-lagi menjauhkan teleponnya.
“Yeh, dasar nyebelin!” Kesal Caca lalu berjalan ke kamar mandi.
“Belajar yang giat, jangan seenaknya, gue bawel demi kebaikan Lo, Katanya mau banggain bunda, udah lupa jadwal? Lo gak punya jam di rumah? Nyenyeneye!” Caca berjalan masih dengan menirukan gaya bicara Raga.
“Denger gue gak?!” Caca tertawa, menertawakan Raga di belakang mungkin salah satu yang selalu menjadi moodnya.
Drtt drtt drtt
Raga luvluv<3
|| Jangan ikutin gaya bicara gue di belakang!”
Ketika melihat notif seperti itu, Caca menengok kekanan dan kekiri, apakah Raga menyimpan kamera cctv disini, sampai lelaki itu tahu apa yang sedang dirinya lakukan.
Me
|| Lo simpan kamera diam-diam di sini?!
Raga luuluv<3
|| Oh... berati Lo lagi niruin gaya bicara gue sekarang?
Menepuk pelan dahinya, lalu cepat-cepat menyimpan handphonenya. Wanita itu tampaknya lupa, jikalau Raga itu lelaki yang pintar, lelaki itu bilang seperti itu hanya untuk memancing dirinya.
Mematikan data seluler handphonenya, lalu berlari ke kamar mandi. Berharap, setelah mandi, Raga melupakan isi dari chat mereka tadi.