RAGASA

RAGASA
Ep. 7. Wabah Derita



"Tetap bersyukur atas apa yang terjadi pada diri kita, entah baik maupun sebaliknya. Karena semua itu sudah digariskan oleh takdir Tuhan."


**


"Gue di.. rumah opah, iya di rumah opah."


Mendengar perkataan ragu dari seberang telephone, membuat Raga mengerutkan dahinya bingung. Ditambah lagi Caca bilang kalau gadis itu di rumah opahnya, tumben sekali. Padahal gadis itu bisa dibilang cucu yang durhaka. Bagaimana tidak, ia sangat malas jika berkunjung ke rumah opahnya, dengan alasan opahnya sibuk dengan dunianya sendiri. Ditambah lagi yang Raga ketahui, opahnya Caca sedang berada diluar negeri.


"Tumben, ngapain?" Tanya Raga.


"Gak tahu, mungkin opah kangen?"


Raga menutup matanya sejenak, lalu membukanya kembali, merasa lega. Entah kenapa? Semua hal tentang Caca selalu membuatnya khawatir.


"Kenapa gak bilang dulu coba? Kita berempat nyariin lo! Takutnya lo kayak minggu lalu."


"Perhatian banget sih bang Aga. Udahan dulu yah bye! Tar gue telephone lagi."


Tut!


Raga berdecak, belum juga dirinya selesai berbicara, gadis itu sudah mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Padahal masih banyak yang ingin dia bicarakan.


Meskipun sudah merasa lega karena Caca tak Kenapa-kenapa, tapi Raga masih berpikir, bahwa ada yang disembunyikan gadis itu, ketika gadis itu menjawab pertanyaannya sedikit ragu.


"Gimana si Caca? baik-baik saja kan?" Tanya Bima ketika melihat Raga sudah meletakkan handphonenya.


"Hm, dia lagi di rumah opah-nya," gumam Raga malas, lalu menyendokan makanan ke dalam mulutnya dengan lesu. Sepertinya kangen.


"Raga, aku bawakan kamu makanan lho. Masa kamu makan makanan yang dari kantin?" Ucap Mona sembari cemberut.


"Siapa lo berani ngatur-ngatur gue?"


"Calon pacar kamu," jawab Mona dengan percaya dirinya.


Raga terkekeh lalu meludah ke samping kiri, "Gak usah mimpi!" Meskipun sudah dicaci seperti itu, Mona tetap tersenyum sembari menatap Raga.


"Aku gak masalah harus mimpi terus-terusan, kalau semua mimpinya tentang kamu," kata Mona. Sayang, gadis setulus itu disia-siakan.


**


Setelah mendapat telepon dari Raga, Caca selalu meminta maaf kepada tuhan dan teman-temannya karena sudah berani berbohong.


Dia hanya tidak mau saja menjadi beban mereka terus-menerus, kasus kakaknya saja belum ada titik terangnya, ditambah lagi dirinya yang sekarang terkulai lemas di rumah sakit, pasti akan membuat beban mereka bertambah. Meskipun Caca tahu, mereka tak akan menyebutkannya seperti itu.


Caca menghela nafas panjang. Ia bersyukur, sangat bersyukur memiliki mereka dalam hidupnya, meskipun tidak memiliki keluarga selain kakeknya, tetapi peran mereka cukup membuat Caca merasa tidak kesepian.


Ceklek..


Pintu ruang bangsal terbuka, membuat Caca yang tengah berpikir harus terpaksa menoleh dan mendapati dokter muda ganteng yang tengah berjalan menuju brankar dirinya.


"Gimana? Masih pusing? Atau ada keluhan lain?" Tanya dokter itu ramah.


"Gak ada," jawab Caca acuh tak acuh. Ia sangat tidak suka kalau sedang berpikir tiba-tiba ada yang mengganggunya, meskipun lelaki ganteng sekalipun, ia tidak suka.


Dokter muda itu tersenyum, lalu memeriksa kondisi tubuh gadis yang sedang menekuk wajah-nya, "Dimana orang tua kamu? Sedari kemarin saya tidak melihatnya," dokter itu bertanya sambil celangak-celinguk.


"Gak ada."


"Kemana?" Tanya dokter itu lagi.


"Ck, kepo bat nih dokter!" Batin Caca sembari berdecak.


"Meninggal atau yang biasa disebut mati, you now isdet or koit?" Penjelasan itu, berhasil membuat dokter itu menatap Caca terkejut, apalagi mendengar perkataan yang keluar dari gadis itu, membuat dirinya semakin heran sekaligus shock.


"Maaf saya tidak ber—"


"Gak masalah," sela Caca Cepat. Jujur saja, sangat malas jika berbicara tentang keluarga, kan dirinya tidak punya keluarga hahahahahahahah.


"Emm, apa ada orang lain yang bisa saya ajak bicara? Kakak atau adik kamu gitu? Mungkin saudara yang tinggal bersamamu."


Caca memutar bola matanya malas, gak bisa kah? Dokter itu langsung berbicara padanya, tanpa menanyakan keluarga?


"Ck, tinggal ngomong aja apa susahnya sih? Kakak saya sudah meninggal juga, saya tinggal sendirian dan saya gak punya keluarga!" Ketus Caca.


Dokter itu dibuat terkejut kembali oleh gadis di depannya ini. Bagaimana bisa ada remaja perempuan yang tinggal sendirian, tetapi ketika mengatakan keluarganya sudah tidak ada, remaja itu mengatakan seperti tidak ada beban sama sekali.


"Terus, kamu—" lagi-lagi pertanyaan dokter itu di


sela oleh Caca yang merasa malas dengan ocehan unfaedah dokter di depannya.


"Saya masih punya kakek dan kakek saya yang membiayai saya hidup. Tapi gak perlu menyuruh kakek saya kesini, dia sedang sibuk menafkahi saya dan saya harap, tidak ada pertanyaan yang menjurus ke arah keluarga!" Jawab Caca dengan satu tarikan nafas, membuat dokter di depannya dibuat kaget kembali. Banyak terkejutnya, agak sedikit membosankan.


"Dibuat terkaget-kaget saya," batinnya tak habis pikir.


"Maaf, saya tidak bermaksud seperti itu, maaf jika mengganggu kenyamanan dan privasi anda."


Berbarengan dengan ucapannya yang selesai, dokter itu juga selesai memeriksa kondisi Caca dan duduk disisi brankar.


"Kita baru aja ketemu, tapi dokter udah dua kali meminta maaf pada saya, padahal ini belum lebaran dan saya gak akan maafkan dokter sebelum lebaran nanti. Dokter itu terkekeh, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ada-ada saja, boleh saya beritahu penyakit kamu sekarang?"


"Dengan senang hati saya mendengarkan," jawab Caca.


"Kamu terkena penyakit tumor otak atau yang biasa disebut kanker otak. Tumbuhnya tumor otak disebabkan oleh perubahan atau mutasi genetik di dalam sel otak. Tapi kamu tidak perlu khawatir, karena penyakit kanker kamu masih bisa disembuhkan, karena termasuk masih jinak."


"Kanker otak di kepalamu masih stadium dua yang artinya sel tumor yang berkembang di kepalamu masih lambat, tetapi mungkin dapat menyebar ke jaringan terdekat atau sel tumor kembali, setelah perawatan dilakukan."


"Pengobatan kanker otak dilakukan tergantung stadium, bisa berupa operasi, radiasi dan kemoterapi. Dan yang terakhir, jangan panik atau kaget ketika gejala sakit kepala semakin bertambah, penglihatan kabur, hilang keseimbangan, kebingungan dan kejang."


Caca menguap lalu mengangguk, menurutnya. Percuma saja dokter itu menjelaskan secara rinci, toh dianya tak akan pernah paham dan ngerti.


"Oke, terimakasih," ucapnya santai, lalu mengucek matanya. Ternyata penjelasan dokter itu membuat dirinya mengantuk. Dokter itu melotot tak percaya.


"Hey, kamu gak kaget atau shock gitu? Kamu mempunyai penyakit kanker otak, bisa-bisanya tetap santai seperti itu."


"Katanya disuruh jangan panik atau kaget, gimana sih?" Balas Caca, karena hanya kalimat itulah yang dia pahami saat dokter itu menjelaskan.


Apa jangan-jangan ia terlihat santai karena tak tahu arti kalimat kanker otak?


"Ya—yakan, penyakit kamu, ya sudahlah."


Dokter itu sudah kehabisan kata-kata sekaligus pasrah dan bingung harus berkata apa, ia sudah cukup depresi dengan sikap orang didepannya ini.


"Ya terus saya harus gimana? Koar-koar pake speaker, koprol?Atau back roll atau perlu saya kayang, gak kan? Saya gak selebay itu, lagian ini sudah takdir Tuhan juga bukan?" Kata Caca melihat muka tak perduli sang dokter.


Dokter itu menghela nafas lega dan tersenyum, ternyata gadis di depannya itu masih normal. Karena saat tadi mendengar respon terlalu santai pada gadis itu, ia sempat berpikir kalau remaja di depannya kurang normal.


Ia menepuk pelan pucuk kepala Caca lalu berkata, "good girl."


"Yeh main tepuk-tepuk aja, kagak liat kepala saya lagi bocok!" Seru Caca mencondongkan kepalanya ke arah dokter muda itu.


"Loh kok bisa?" Tanya dokter itu.


"Jatuh dari motor, terus kena aspal," santainya lagi, mengambil apel di atas nakas lalu mengusap- ngusap apel itu ke jas dokter secara diam-diam.


"Ck,banyak tingkah banget sih kamu!" Setelah mengatakan itu, matanya melotot ketika gadis di depannya tanpa dosa membersihkan apel menggunakan jas kebanggaannya.


Caca yang melihat pelototan dokter langsung nyengir dan menggigit apelnya, "Maaf pak dokter, baju saya kotor, jadi mendingan pake jas pak dokter aja yang putih bersih berkilau."


Dokter itu menghela nafas lelah, "Ya Sudahlah, saya mau ngecek pasien selanjutnya," kena mental dia.


Tidak lama setelah pak dokter itu pergi, suara telephone kembali berbunyi dan mendapati Bima yang menelpon.


"Ca! Markas diserang cok!"