
Raga Menghela nafas pasrah, kalo sudah begini, akan susah juga lepasnya. akhirnya ia memutuskan untuk masuk juga meskipun kesal. sebenarnya, ia juga ingin berada disisi Caca sekarang, meskipun sudah bertemu, rasa cemasnya masih ada.
Setelah duduk di ruang tamu, tak ada yang memulai obrolan, mereka sama-sama diam. lebih tepatnya Caca yang bingung harus berkata apa dan memulai dari mana.
Raga yang melihat Caca terus diam dan tak berniat memulai obrolan akhirnya kembali berdiri "Percuma Lo ajak masuk gue, lo sendiri aja gak berniat bilang apa-apa!"
Caca kembali mencekal tangan Raga, "duduk dulu Ga, please...." Mohon Caca, membuat Raga terpaksa kembali duduk.
"Maafin gue, udah bikin Lo khawatir," Cicit Caca, sembari memainkan telapak tangan Raga.
"Emang awalnya Lo mau apa telepon gue ada apa?" Tanya Caca, masih dengan memainkan telapak tangan Raga.
"Mentang-mentang sekarang udah punya pacar, gue gak boleh telepon Lo?" Tanya Raga sinis.
Caca menggeleng cepat, bukan itu maksud dirinya, "Enggak gitu Raga.... maksudnya, tujuan awal Lo telepon gue apa?"
"Gue mimpi," Ucap Raga, mencekal tangan Caca yang sedang memainkan tangannya.
"Mimpi apa?" Tanya Caca.
Sebenarnya Raga malas membahas mimpi ini, itu bisa membuatnya kembali takut, takut akan di tinggalkan, "Gue mimpi lo tinggalin gue, gue mimpi lo tinggalin gue di dunia ini Ca, gue mimpi itu, gue takut Ca, gue takut Lo beneran tinggalin gue," Raga berbicara lirih, dengan raut wajah yang kembali kentara cemasnya.
Caca mendekat ke arah Raga, lalu merentangkan tangannya, "Pingin peluk," Pinta Caca.
Dengan cepat, Raga menyetujui permintaan Caca dan memeluk cewek itu, lalu menyimpan kepala gadis itu di dadanya.
"Caca sayang banget sama Raga," Caca mendongkak, sembari mengusap-usap pipi cowok itu.
Caca senang sekaligus terharu. ternyata ada orang yang sebegitu khawatir akan dirinya.
"Gue juga sayang sama lo, jadi Lo gak boleh tinggalin gue ya? apalagi sampai tinggalin gue di dunia ini, jangan bikin gue takut,"
"Lo juga jangan tinggalin gue, kalo misalnya Lo tinggalin gue, gue sendirian, gak punya siapa-siapa lagi," Ucap Caca, menyenderkan sepenuhnya kepalanya di dada Raga.
Caca tersenyum kecut, semakin menelungkupkan kepalanya di dada hangat Raga. bagaimana kalo kejadian di mimpi Raga terjadi? melihat Raga ketakutan dan cemas ini membuat hatinya sakit sekaligus senang. sakit, sakit melihat Raga ketakutan dan cemas seperti ini, tetapi ia juga senang, senang, ada yang mengkhawatirkan dirinya sampai seperti ini.
"Doain gue sehat-sehat makanya, biar gue disini terus sama Lo, karena gue juga sayang sama lo, gue juga gak mau kehilangan Lo Raga...."
"Emang Lo sakit?" Pertanyaan itu, pertanyaan yang sangat di hindari oleh Caca, wanita itu selalu panik sekaligus takut, ketika seseorang membahas perihal penyakit.
Caca mencoba tersenyum, lalu menggeleng "Enggak lah, gue sehat wal'afiat gini, Lo bilang sakit," Kata Caca sembari terkekeh.
"Kalo ada apa-apa itu bilang, gue gak suka Lo nyimpan kesakitan Lo sendiri. ada gue, tempat Lo cerita, awas aja kalo Lo gak cerita, gue bakalan marah pokoknya sama lo!" Raga mengusap-usap punggung Caca, perasaan cemasnya sedikit menghilang, ketika bisa memeluk tubuh mungil Caca.
"Maaf Raga," Batin Caca.
Caca terkekeh, meskipun di dalam lubuk hatinya wanita itu merasa bersalah "Iya Raga... kalo ada apa-apa juga, Raga harus bilang sama Caca, kalo enggak? Caca bakalan marah juga ke Raga dan gak mau ngomong sama Raga!"
Raga tertawa, kenapa gadis di pelukannya ini sangatlah menggemaskan, apalagi melihatnya mengdungsel-dungsel di dadanya, rasanya seperti anak kucing yang kehilangan induknya.
Raga yang semula tertawa lepas, tiba-tiba mendatarkan wajahnya, ketika ingatan lelaki itu kembali teringat pada saat dirinya melihat Caca mengobrol berdua bersama bartender tadi, yang membuat laki-laki itu kembali kesal.
"Cowok tadi siapa? pacar lo? " Raga bertanya lembut, sambil mengusap-usap pelan pipi Caca.
"Tapi kenapa lo Dekat?" Raga kembali bertanya, sembari menatap lekat mata wanita di pelukannya ini.
Caca mengedikan bahunya acuh, "Kita cuman ngobrol-ngobrol biasa padahal, emang kelihatan Dekat ya?"
Caca pun merasa aneh, dirinya dan Cakra baru dua kali saja berbincang-bincang ngobrol, tetapi kenapa? selalu kepergok oleh Raga, yang menjadikan mereka berdua seperti terlihat memang dekat satu sama lain. padahal tidak, mereka berdua berbincang dan mengobrol pun itu karena kasus Kakaknya.
"Iyalah bego! gue udah mergokin Lo dua kali, gimana gak kelihatan Deket coba," Kesal Raga, sembari menjepit pelan hidup mungil Caca.
"Tapi emang gak pacaran Raga, emang boleh ya? gue pacaran sama kak Cakra?"
Dengan tiba-tiba, Raga melepaskan pelukannya, "Terserah Lo sih, lagian ini hidup lo, gue gak peduli akan hal itu!"
Caca menahan bibirnya untuk tidak melengkung ke atas, menciptakan senyuman "Gak peduli kok mukanya kayak kesel gitu?"
"Dih, siapa yang kesel coba? gue juga bisa pacaran kali! gak cuman Lo doang? banyak yang mau sama gue, bahkan lebih banyak daripada cowok yang mau sama Lo!"
Caca cemberut, sembari menatap Raga tajam "Raga pokoknya lo gak boleh pacaran!"
Caca mengangkat jari telunjuknya, menunjuk Raga "Kalo misalnya Lo pacaran, tar gak ada lagi yang peduli sama gue! terus tar Lo tinggalin gue! pokoknya gue gak mau! Lo boleh pacaran, tapi pacarannya sama gue aja, gak boleh sama yang lain!" Caca menurunkan jarinya, lalu bersidekap dada menatap Raga tajam, yang artinya melarang.
"Lah? Lo egois kalo gitu, masa iya Lo pacaran, tapi gue enggak!" Kata Raga, ikut bersidekap dada menatap Caca.
Melihat Raga yang malah seperti itu, Caca kembali memeluk Raga erat "Siapa yang pacaran sih ga? gue gak pacaran juga!" kesal Caca.
"Dih, ngapain peluk-peluk? sana, peluk aja pacarnya, jangan peluk gue,"
Wajah Caca semakin cemberut, perempuan itu melepaskan pelukannya secara kasar, lalu berdiri dan menyorot raga tajam "Ya udah sana Lo pergi, cari pacar sana, biar Lo bisa peluk-peluk pacar Lo!" Sinis Caca, sembari menghentak-hentakan kakinya, berjalan menuju kamar.
Sedangkan Raga, lelaki itu malah tertawa dengan renyahnya, yang membuat caca semakin kesal.
"Halo Mona, kenapa? mau gue jemput dimana?" Ucap Raga pura-pura menelpon, membuat Caca berbalik menatap Raga.
"Raga ih!" Ucap Caca semakin kesal, wanita itu semakin menghentak-hentakan kakinya.
"Bercanda, sini peluk lagi," Kata Raga, kembali merentangkan tangannya.
"Gak! gue gak mau! mendingan Lo pulang aja!" Ketus Caca.
"Sini,gue bilang sini..."
Mendengar perintah Raga yang lembut tetapi tak terbantahkan itu, Caca langsung berjalan ke arah Raga, dan duduk di sebelah lelaki itu, tetapi tatapannya mengarah ke arah lain.
Raga membalikkan tubuh Caca secara paksa, lalu memeluknya kembali, membuat Caca mendongkak "Raga, Lo gak boleh pacaran, nanti gak ada yang perhatiin gue lagi!"
"Iya.... lo juga gak boleh,"
"Ya kenapa? gue kan ada alasannya, takut Lo gak perhatiin, terus alasan Lo gak ngebolehin gue pacaran apa?"
"Ya sama, belum pacaran aja Lo selalu belain orang lain Mulu, apalagi udah pacaran, pasti di lupain gue!"