
Hari demi hari, Raga lalui di tempat di mana lelaki itu mempertanggung jawabkan perbuatannya. Banyak yang berubah dari Raga, termasuk sebuah senyuman, setelah kepergian Caca beberapa waktu yang lalu, tak ada lagi senyuman yang tercetak di bibir lelaki itu.
Bukan hanya itu, Raga seolah-olah tak mempunyai tujuan hidup. Raga hanya melakukan apa yang sifir suruhkan tanpa menjawab.
Akibat perbuatan yang dulu lelaki itu lakukan, Raga di jerat pasal 340 KUHP yang ancamannya hukuman mati. Selain pidana mati, pidana penjara juga merupakan pidana yang di jatuhkan kepada terdakwa baik penjara seumur hidup maupun penjara dalam waktu tertentu paling lama 20 tahun.
Kemudian apabila benar terbukti bahwa (anak di bawah umur) melakukan tindak pidana pembunuhan maka proses persidangan sesuai dengan ketentuan yang di atur dalam UU No. 11 tahun 2012 sedangkan hukumnya adalah ½ (satu perdua) dari hukuman orang dewasa.
Raga mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit sel dengan tatapan datar dan tanpa minatnya. Meskipun seperti itu, Raga tak berniat mengalihkan perhatiannya dari langit-langit.
Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik, Raga selalu merindukan Caca. Perempuan itu seolah-olah selalu mengisi otaknya, tanpa ingin pergi di ingatannya. Raga ingin terlepas dari ini, tetapi hati Raga sendiri menolak untuk hal itu.
Menatap langit-langit di temani kerinduan.
Apa kabarmu di sana?
Apa kau baik-baik saja?
Sedang apa?
Aku merindukanmu, apakah kau merasakan hal yang sama?
Lucu ya?
Merindukan orang yang sama sekali tidak akan pernah kembali, beruntung jika kita bisa bertemu dalam mimpi.
Aku merindukanmu kasih sayangmu lagi.
Kumohon kembali,
Teruntuk kau yang ku cintai.
Selain menatap langit-langit, itu yang sering Raga lakukan. Merangkai kata-kata di otaknya untuk Caca, dan berharap Caca mendengar keluh kesahnya.
Susah untukmu melupakanmu
Meskipun kau di ambil tuhanmu
Aku selalu merasakan kau berada di sisiku
Tetapi pada kenyataannya, itu hanyalah angan-angan yang selalu ku harapkan.
Aku ingin melupakan,
Tetapi kau seolah-olah manusia yang memang sayang jikalau terhapus dalam ingatan.
Raga sedikit mengangkat kepalanya untuk mengambil sebuah buku yang dulu Raga ambil di rumah Caca waktu itu. Buku diary yang berisi tentang dirinya.
Teruntuk perisaiku Raga.
Baru melihat judulnya saja, Raga sudah tersenyum. Entahlah, hanya Caca saja yang membuat lelaki itu tersenyum. Padahal, lelaki itu sudah sering membaca ini, tetapi tetap saja, senyumannya tak pernah hilang, ketika kembali membaca diary yang Caca tuliskan untuknya.
Jikalau misalkan Caca gak di kasih umur panjang sama Allah, dan berati Caca gak nemenin Raga nantinya, Caca cuman minta, jaga kesehatan. Itu yang terpenting, supaya Raga lebih leluasa untuk menikmati dunia.
Kurangin overthingking dan cemasnya, gak baik buat kesehatan. Banyak sebenarnya yang mau Caca tulis, tapi Caca males nulisnya, cape. Yang terpenting Raga sehat, jangan pernah cari gara-gara yang nyebabin Raga sakit, ingat! Jangan pernah, jadi orang sakit gak enak.makanya, Caca nyuruh Raga jaga kesehatan, biar gak ngalamin apa yang Caca alami.
Oh iya, ini yang terpenting. Cepet cari pacar, gak malu apa? Jomblo dari lahir dengan tampang yang tampan? Dan kalo misalnya Raga udah punya pacar, jangan lupain Caca. Awas aja kalo kalo berani ngelupain, Caca bakalan marah nantinya sama Raga. Nih terakhir, Cari pacar yang ngertiin sifatnya Raga, nerima Raga bukan karena tampan dan mapan, tetapi emang karena Raga. Si manusia paling gengsi sedunia.
Pokoknya, bahagia selalu Raga.
Luv u hihihihihi.
Menyuruhnya bahagia? Bagaimana mana bisa? Bahagianya sudah tak ada di sini. Mencari pacar? Bagaimana bisa? Raga sendiri saja masih terikat dengan manusia yang sudah menuliskan diary itu untuknya.
Jikalau menjaga kesehatan, Raga berusaha untuk terus menjaga kesehatannya. Supaya tak membuat marah Caca di sana, Raga ingin, Caca baik-baik saja.
“Tahanan Raga, ada kunjungan,” ucap sifir yang menjaga.
“Siapa?”
“Teman-teman anda,”
Raga mengangguk, lalu berjalan ke arah tempat di mana teman-temannya berkunjung di sana.
Raga duduk, di depan Alzam, Bima, dan Dodi yang menjenguknya.
“Kenapa?” Tanya Raga.
“Yeh lo mah, emang gak boleh jenguk temen sendiri?” Jawab Dodi balik bertanya.
“Kalo gak ada yang penting, gue mau balik ke sel,”
Dodi mendengus, setelah menjadi tahanan, Raga menjadi orang yang seolah-olah sangat sibuk. Sangat sulit sekali untuk di temui.
“Kita bawa kabar baik ini,” ucap Bima.
“Apa?”
“Kita berhasil temuin, siapa orang yang udah bunuh orang tua Caca. Dan memang orang yang di tulis di papan bor lah, orang yang udah bunuh orang tua Caca,” jelas Bima.
“Tapi kita gak bisa berbuat banyak, ternyata orang itu bukan orang biasa. Kita emang harus cari waktu yang tepat buat jeblosin dia ke penjara,”
Raga mengangguk mengerti, dirinya tak bisa berbuat apapun. Ia hanya bisa menerima hasil tanpa membantu.
“Udah tahu pasti siapa yang bunuh aja itu udah bagus. Lo semua gak perlu ngelakuin apapun lagi, orang itu bukan orang biasa kan? Jangan buat diri kalian masuk ke dalam bahaya. Caca pasti senang denger fakta ini, tetapi Caca gak bakalan seneng kalo misalnya kalian kenapa-kenapa, jadi gue minta, jangan buat Caca kecewa di sana,”
“Mengubicinin setan nih bos, senggol dong!” seru Dodi, membuat Bima menyenggol badan lelaki itu dengan keras.
“Gak usah bacot lo, gue udah ingetin dari lama, mulut lo bau tai!” sambar Bima.
“Bang—“
“Nih, gue beliin makanan kesukaan lo,” sela Alzam, sambil memberikan ayam kremes kesukaan Raga.
“Thanks,”
“Gimana hubungan lo sama Sasa? Baik-baik aja kan?” tanya Raga.
“Euh, lo gak tahu sih Ga, bucin banget dia sekarang. Dulu aja sok gak mau sama Sasa, tapi sekarang? Beuh, Sasa gak kelihatan batang idungnya aja langsung di cariin! Terus, dia lebih sering makan di kantin sama Sasa, daripada kita, parah kan dia?” sambar Dodi.
“Dan lo juga harus tahu Ga, Alzam yang paling biasanya masukin postingan Instagram karena di suruh Caca, ataupun masukin postingan yang penting-penting aja. Tapi sekarang, lo harus tahu! Hampir setiap postingan Instagramnya, isinya foto Sasa aja. Pokoknya Alzam full bucin!”
“Dan banyak lagi yang bikin muak. Sasa padahal gak marah nih, kalo misalnya tun si Alzam gak makan sama Sasa di kantin. Tapi ada aja kelakuannya, Alzam sering ketar-ketir kalo semisalnya Sasa diam beberapa detik aja! Sasa juga manusia yakan? Gak mungkin terus-terusan ngoceh, tapi tetap aja teman lo itu ketar-ketir!”
“Dan bukan Alzam doang yang kayak gitu! Noh si Bima juga, postingan Instagramnya foto Bella semua sama kandungannya! Sebel gue sama temen-temen gue yang bucin akut kayak gini! Gak pernah ngertiin gue yang uwufobia. Gue sebenernya mau bloc akun Instagram mereka, tapi gue gak mau followers gue hilang, meskipun cuman dua!”
Raga sedikit terkekeh mendengarkan penjelasan menggebu-gebu itu. Dodi selalu mengingatkannya pada Caca, sifat kedua orang itu hampir sama, Caca pun pasti akan bercerita se menggebu-gebu itu jikalau ada yang membuat perempuan itu kesal.
“Sekarang gue bakal nanya lo, gimana kedekatan lo sama Awan? Ada peningkatan?”
“Gak ada! Kayaknya awan takut sama gue!”