RAGASA

RAGASA
Ep. 104. Menjadi Hantu



Entah bodoh atau tak ada akal lagi, mereka berdua akhirnya menyetujui ide yang di usulkan oleh Dodi. Yaitu, menakut-nakuti Alex.


Dari Cctv yang mereka lihat, Alex sering ke sini setiap malam, tampaknya untuk mengecek keadaan, karena masih banyak barang-barang berharga di sini.


Kerena itu juga, mereka memutuskan untuk memulai dari sekarang untuk menakuti Alex.


Kini, Dodi sibuk membedaki Alzam dengan foundation milik Caca, lelaki itu sudah terlihat seperti bencong yang berada di salon-salon.


“Brush Bim, brush!” pinta Dodi, sambil menadah tangannya.


“Brush yang mana?” tanya Bima kesal.


“Yang buat blush on itu lho!” kata Dodi itu kesal juga.


Bima berdecak, lalu memberikan brush itu dengan kasar. Sedangkan Alzam, lelaki itu hanya diam menyimak, tidak mengerti dengan apa yang di katakan Dodi.


Foundation? Blush? Brush? Apa itu? Alzam tak mengerti, lelaki itu hanya diam, dan memejamkan matanya, ketika di dandani oleh Dodi.


“Menikmati banget lo di dandanin sama gue, awas lo sampai keterusan,”


Alzam membuka matanya, lalu menatap Dodi datar. Serba salah juga menjadi dirinya, tadi dirinya membuka mata, Dodi menyuruhnya untuk menutup mata, tetapi sekarang? Dodi malah menyebutnya menikmati.


“Merem-merem, gue takutnya nih foundation masuk ke mata,” dalih Dodi, sedikit ngeri dengan tatapan seperti itu.


Dodi menyimpan brush nya, lalu menatap Alzam dari kejauhan, “Apa yang kurang Bim?” tanya Dodi.


“Matanya, pakai eyeshadow warna item, biar kata setan-setan yang di film,”


Dodi mengangguk, lelaki itu mengambil eyeshadow, lalu mulai melakukan apa yang Dodi sarankan.


Setelah selesai, Dodi membiarkan Alzam untuk berkaca, dan setelah itu kita serahkan pada desainer dadakan baju setan, yaitu Bima.


“Astaghfirullah!” kaget Alzam, melihat dirinya sendiri di cermin.


“Tuh kan, lo sendiri aja kaget, gimana kalo Alex coba? Gue yakin, ini bakalan berhasil!” seru Dodi semangat.


Bima mulai mengambil alih, lelaki itu sedang mengukur-ukur, kain seberapa banyak yang di perlukan untuk membungkus Alzam.


Dodi menepuk dahinya, lelaki itu mengambil kapas, lalu di baluti dengan obat merah yang banyak, setelah itu, lalu menempelkannya pada wajah Alzam.


“Perasaan, gue mulu yang di dandanin, lo berdua enggak?” tanya Alzam.


Bima dan Dodi yang mendengar pertanyaan itu, spontan menggeleng “Enggak lah, kita mah gampang. Pakai masker putih, itu juga udah kayak setan. Kan muka kita biasa-biasa aja. Kenapa kita makeover lo, karena lo ganteng, orang mana percaya kalo Lo setan, kalo lo gak di dandanin kayak begini,”


Alzam memutar bola matanya malas “Bilang aja lo berdua gak mau ribet!”


Dodi menjentikkan jarinya, tepat sekali. Selain tidak mau ribet, Dodi juga bisa menakut-nakuti, sambil menggunakan masker wajah, yang menyebabkan wajahnya glowing sekarang.


“Bener banget, lo pinter banget deh,”


“Eh liat-liat! Alex dateng!” seru Bima, ketika melihat dari laptop yang menyiarkan cctv di depan.


Mereka keluar dengan mengendap-endap, ketika melihat Alex yang mulai memasuki rumah, Dodi mulai menyalakan suara-suara yang cukup mengerikan. Entah dari suara tertawaan yang pelan tiba-tiba kencang, suara bisik-bisikan, sampai suara angin berhembus pun Dodi putar, untuk menambah rasa seram.


Tidak, tidak ada reaksi apapun yang Alex tunjukkan, lelaki itu malah duduk anteng di ruang tamu, dengan sebuah rokok yang sendari melekat di bibirnya.


“Kok Alex gak bereaksi apa-apa?” bisik Dodi, ke arah Alzam dan Bima.


“Gimana mau bereaksi, liat noh telinganya, pake headset!” kesal Alzam. Entahlah, setelah tahu dirinya saja yang di dandani ia merasa kesal.


Dodi tak kehilangan akal, lelaki itu mencari sesuatu untuk di jatuhkan di lantai atas, untuk mencuri perhatian dari Alex.


Benar saja, setelah itu terlihat Alex yang membuka handset dan berjalan ke arah sumber suara. Kembali lah, Dodi mulai kembali menyalakan suara yang sempat di putarnya tadi.


Dodi dan Bima terlihat menutup mulutnya menahan tertawaan yang akan keluar dari mulut mereka, ketika melihat Alex yang mulai melirik sekitar.


Dodi menyenggol tangan Alzam, menyuruh lelaki itu untuk beraksi sekarang.


Alzam memutar bola matanya malas, tetapi tetap menuruti apa yang Dodi katakan. Mulai berloncatan mendekati Alex dengan perlahan.


Bruk


Alzam meringis kecil, ketika tiba-tiba terjatuh di tangga, yang membuatnya terpeleset kebawah, seperti sedang menaiki serodotan.


“Bego bat di Alzam, loncat-loncat gitu aja sampai jatuh segala,” kata Dodi. Sambil menepuk jidatnya.


“Lo aja coba yang jadi pocongnya, gak mudah bodoh! Loncat-loncat di tangga, pantes aja Alzam jatuh!”


“Iya dah iya! Kenapa Alzam gak bangun-bangun sih anjir!” kesal Dodi.


“Susah bego! Kan badannya di iket!” balas Bima.


Mereka berdua menepuk jidatnya, benar juga, lutut dan perut Alzam di ikat, pasti sulit lelaki itu untuk bangun.


Mereka berdua saling lirik, lalu berlari menuruni tangga untuk membantu Alzam.


“Kenapa lo gak kasih sinyal sih Zam, kalo misalnya lo susah bangun,” ucap Dodi, lelaki itu membangunkan Alzam dan Dodi.


“Bacot anjir! Pantat gue sakit tahu!” keluh Alzam.


“Oh.... kalian bertiga yang nakut-nakutin saya?” tanya Alex, yang sudah berada di belakang mereka.


Mereka semua spontan berbalik, “Dih, siapa yang nakut-nakutin lo anjir! Kita lagi memperingati kepergian Caca dengan jadinya setan, biar Caca gak kesepian. Iya gak guys?” ngeles Dodi.


“Benar tuh! Lo nya aja yang datang di waktu yang salah, makanannya berasa di takut-takutin!” timpal Bima.


Alex yang mendengar jawaban itu seperti percaya tak percaya, tetapi lelaki itu mengangguk saja, agar tak memperpanjang masalah.


“Gara-gara lo sih? Jadi kita gagal memperingati hari ini!” setelah mengatakan itu, Dodi mendorong Bima dan Alzam untuk keluar.


“Pelan-pelan bego! Lo mau gue nyusruk! Udah tahu gue di iket kayak gini!” marah Alzam, menatap Dodi tajam.


Dodi nyengir lalu membuka ikatan di kaki dan perut Alzam, “Maaf elah, gue kan kesel ceritanya, jadi gak mikirin kayak gitu,”


Alzam memutar bola matanya malas, lelaki itu berjalan ke arah keran air, lalu membasuh wajahnya. Tidak mungkin kan? Ia pulang dalam keadaan seperti ini?


“Gara-gara lo sih Zam! Kita hampir aja berhasil, tapi karena lo jatuh, rencana kita tiba-tiba hancur gitu aja! Lo udah lihat kan? Alex udah mulai ketakutan tadi,”


“Apa kata lo? Salah gue? Gak salah lo? Gue jatuh tadi, dan rasanya sakit banget asal lo tahu. Bayangin aja, pantat lo di serang bertubi-tubi sama tangga, dan lo bilang ini semua salah gue? Lo pikir loncat-loncat di tangga dalam keadaan di Iket itu gampang?!” damprat Alzam, dengan nafas menggebu-gebunya.


“Ini lagi! Bedaknya gak bersih-bersih! Lo paksa bedak apa sih?! Ini permanen bego!” maki Alzam lagi.


Mereka berdua diam tanpa menjawab. Alzam dan Dodi jelas kaget, ini ucapan terpanjang yang pernah mereka dengar dari mulut Alzam. Ini pertama kalinya, itu yang membuat mereka diam dengan keadaan kaget seperti ini.


“I—ini kata terpanjang yang pernah lo ucapkan Zam,” gagap Bima, masih dalam keterkagetannya.


Alzam tampaknya semakin tersulut emosi mendengar kata itu, nafas lelaki itu naik-turun menahan emosi.


“Gue serius!” teriak Alzam.