
"Emang, dari dulu Lo punya harga diri ya? Ups, keceplosan," Dodi menutup mulutnya sok kaget, setelah apa yang di katakan dirinya.
|•••|
"Jaga mulut Lo!" Sentak Mona.
"Oke mbak jago, lain kali... gue pasti krangkeng nih mulut," Jawab Dodi, malah terlihat sangat menyebalkan.
"Cepetan isi nomor rekeningnya, lama amat si Lo!" Dodi mendekat, sembari membuka resleting celananya, membuat Mona melotot.
"Mau ngapain Lo?!" Tanya Mona, sembari melotot.
"Apapun yang pastinya Lo pikirin, isi nomor rekening itu, atau gue bakal lakuin apa yang ada di pikiran Lo!" Dodi semakin mendekat, masih dengan memegang resleting celananya.
Ia mengusap-ngusap pipi Mona sensual, membuat cewek itu cepat-cepat mengambil handphone Alzam, dan menuliskan nomor Rekeningnya.
"Good girl," Kata Dodi, menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Mona, lalu kembali ke tempat semula.
"Gitu aja susah Lo Semua! Seret dia kelapangan!"
Dodi memerintah seolah dirinya bos, lelaki itu memainkan kukunya angkuh, lalu meniupnya. Bangga, terhadap apa yang dirinya lakukan.
Melihat tak ada yang bergerak, lelaki itu mendongkak, dan menemukan wajah cengo ketika teman lelakinya.
"Kenapa Lo bertiga? terpukau sama apa yang udah gue lakuin?" Tanyanya, sembari menaik-turunkan alisnya.
"Najis!" Balas mereka bertiga serempak.
Dan tanpa berlama-lama lagi, keempat lelaki itu menyeret dua orang pelaku ke tengah lapangan.
Tanpa di minta pun, semua orang tiba-tiba sudah berkerumun, ketika keempat lelaki itu membawa dua tersangka.
"Hai guys, gue di sini mau promosiin produk ya—"
"Yang benar!" Sentak Raga. sembari memukul bahu belakang Dodi.
Dodi berdecak "Lo mah susah di ajak bercanda!" Kesal Dodi. sembari melengkungkan bibirnya kebawah.
"Cepetan ngaku!" Desak Alzam.
"Cepetan ngaku anjir!" Timpal Bima.
"Gu-gue Mona, orang yang udah suruh Sasa buat sebarin foto tentang Bima sama Dodi," Ucap Mona sedikit terbata.
"Eh anjir! Bima sama Bella tolol, bukan sama gue!" Seru Dodi tak terima, namanya malah di sebut-sebut.
"Eh Sorry sorry, gue gugup. Gue adalah dalang dari semua ini, gue yang udah suruh Sasa buat nyebarin foto Bima sama Bella," Ucap Mona.
"Banyak drama banget dah. sampai-sampai kita nuduh orang yang enggak-enggak!"
"Gak heran sih, orang tuh orang banyak drama,"
"Iya bener, gak heran!"
"Bisa-bisanya ada orang yang kek gitu,"
"Manipulatif banget anjir! di kelas pintar, sok baik, eh di luar? kelakuannya,"
"Gak malu ya say?"
"Cih, muka dua!"
Banyak cibiran-cibiran yang terlontar, hampir semua yang ada di sana, melontarkan kata-kata mutiara mereka masing-masing.
Terlepas dari itu, Raga masih saja menampilkan wajah tak karuannya, meskipun tetap datar, ia mendekat ke arah Bima, lalu membisikan sesuatu.
"Udah selesai kan? gue ada urusan, jadi duluan," Bisik Raga, di tengah berisik nya orang-orang.
Bima berbalik, "Kemana?"
"Rumah sakit,"
Bima mengangguk, membuat Raga cepat-cepat berlari keluar dari kerumunan. perasaannya tak karuan, ketika mengingat Caca hanya berdua dengan lelaki lain di Rumah sakit.
Kembali Lagi ke kerumunan, Mona dengan wajah datarnya itu, terlihat biasa saja, ketika dirinya di lempari batu-batu yang ada di lapangan.
Topan yang juga ikut di lempari karena berada di sisi Mona, lebih baik maju, dan memeluk wanita itu, supaya terhindar dari lemparan batu.
"Ada pahlawan kesiangan nih! lempar guys!" Seru salah satu orang, membuat mereka semua dengan gencar melempari dua orang itu dengan batu.
"ADA APA INI? SEMUANYA BUBAR! KEMBALI KE KELAS MASING-MASING!" Seru Bu Shinta, membuat semua murid menyoraki guru itu, lalu berlari untuk pergi ke kelas masing-masing.
|•••|
"Loh Ga? Udah pulang?" Tanya Caca, sedikit kaget, karena Raga membuka pintu bangsalnya cukup keras.
"Ada barang ketinggalan," Dalihnya.
Lelaki itu celangak-celinguk kesana-kemari, seolah-olah mencari barang. padahal, lelaki itu sedang melihat ekspresi dua insan di depannya ketika sedang mengobrol.
"Nyari apa Ga?" Tanya Caca, sama sekali tak di jawab Raga.
"Nona, anda tahu? Rekomendasi makanan yang anda pilihkan memanglah sangat enak," Kata Alex, tentunya berbicara kepada Caca.
"Tuh kan bener, rekomendasi gue mah gak pernah gagal. mana gue coba," Jawab Caca, lalu melirik makanan Alex.
"Emmm, enak banget kan? tukeran dong, punya gue enak, tapi lebih enakan punya Lo," Ucap Caca, setelah merasakan makanan milik Alex.
"Ya udah—"
"Anjir! mana sih tuh barang kok gak ada!" Sela Raga ngegas.
Caca yang akan menukarkan makanan pun tertunda, lalu melirik ke arah Raga "Nyari apa Ga? Entar di bantu Alex, supaya cepat ketemu,"
"Lo berdua mulutnya bisa diem Ga? berisik! Gue gak fokus nyari barangnya!" Sinis Raga, sembari celangak-celinguk.
Caca dan Alex saling lirik. berisik? padahal, sendari tadi, lelaki itulah yang teriak-teriak, kenapa mereka berdua yang di salahkan?
Drtt drtt drtt
Alex terlihat mengambil handphonenya dan bertelponan, setelah selesai, lelaki itu kembali ke arah caca.
"Maaf nona, nampaknya saya harus pergi, ada meeting mendadak di kantor," Pamit Alex.
"Makanannya?" Tanya Caca.
"Buat nona saja," Katanya, lalu berjalan keluar.
"Makasih alex!" Caca berucap, hendak memasukkan makanan Alex ke mulutnya, tetapi tangan Raga langsung membuang sendok itu.
"Lo gak boleh sembarangan makan bekas orang! Lo tau virus? Kita gak tau kan? kalo si Alex itu ternyata penyakitan, jadi jangan sekali-kali lagi, tukeran makanan sama orang!" Ketus Raga. lelaki cepat makanan Alex, lalu membuangnya.
"Gak usa cemberut! gue beliin lagi, makanan kayak gitu!" Serunya.
"Gak perlu, udah gak nafsu!" Balas caca kesal.
"Lo bisa gak sih Ga? kalo misalnya nyuruh gue buat gak makan ini itu, omongin baik-baik, jangan sampai kayak tadi yang tiba-tiba lemparin sendok, tiba-tiba buang makanya, kan baik-baik bisa," Tambah caca, dengan suara pelan dan lembut, supaya lelaki di depannya tidak tersinggung.
"Gue kayak gini, demi kebaikan Lo kok!" Balas Raga.
"Tau... semua yang Lo lakuin pasti yang terbaik buat gue. maksudnya, pake cara yang lebih lembut kan bisa,"
"Yaudah, gue minta maaf,"
"Lo kenapa Ga? Gue ada salah ya sama Lo? Dari tadi pagi gue di cuekin, apa karena kemarin? Lo gak suka, kalo gue suka sama Lo?" Tanya Caca.
"Gak! Lo gak ada salah, cuman gue aja yang gak paham situasi," Balasnya.
"Situasi apa?" Tanya Caca.
"Lo gak perlu tau!"
"Ngegas Mulu heran..." Gumam Caca.
"Kedengeran!" Ucap Raga, masih dengan intonasi Ketusnya.
Caca mendekatkan wajahnya di depan wajah Raga “Cepat tua tau, kalo marah-marah mulu!"
"Tapi gak papa, meskipun Lo cepat tua, marah-marah Mulu, tukang ngegas, jarang balas omongan gue, kalo marah lama, gue pasti tetap cinta sama Lo," Kata Caca, sembari mencuil hidup penuh tulang Raga.
Raga mengalihkan pandangan sembari memutar bola matanya malas, Caca memang seperti itu, menyebalkan sekaligus menyenangkan dalam satu waktu.
"Raga, liat gue bentar," Katanya, sembari menoel-noel bahu belakang Raga.
"Gak males!"
"Balik bentar ih," Bukan lagi menoel, cewek itu mulai menarik-narik lengan seragam lelaki itu.
"Apa!" Ketus Raga.
Caca memelototkan matanya “Coba liatin mata gue, ada apanya?"
"Gue," Jawabnya singkat.
"Nah itu Lo tau, sebanyak apapun cowok yang dekat sama gue, gue akan tetap suka sama Lo. karena, yang selalu gue liat itu cuman Lo. sebaik, se care, atau sesempurna apapun cowok yang deketin gue, gak akan ada artinya buat gue, kalo itu bukan Lo,"