
“Kenapa Lo kejar-kejar gue, kalo Lo emang gak suka sama gue?!”
Sasa berbalik mendengar pertanyaan itu. Baru saja ia keluar dari kelasnya, sudah di beri pertanyaan seperti ini lagi.
“Pertanyaan yang gak peting!” Sasa akan kembali membalikkan tubuhnya, tetapi Alzam mencekal lengan Sasa kuat, memaksa Sasa untuk terus menatapnya.
“Jawab, apa maksud Lo?!” sentak alzam
“Gue gak ada waktu buat jelasin itu!” Balas Sasa.
“Jawab gue bilang!” Paksanya.
“Sa, ayok! Katanya mau—“ Ari yang baru saja keluar dari kelas, langsung berucap, tanpa melihat siapa yang sedang mencekal tangan Sasa.
“Dia pulang sama gue!” Tekan Alzam tajam.
“Tapi, dia ada janji sama gue!” Balas Ari.
“Dia pulang sama gue! Dia masih tunangan gue, jadi Lo gak usah ikut campur sama urusan kita!” Katanya kembali dengan tajam.
Ari tampak Terkekeh, ”Baru ngakuin juga Lo! Udah ah sa, lo urusin rumah tangga Lo, gue duluan!”
Sasa berusaha melepaskan cekalan itu, tetapi tak bisa ”Gue mau pulang bareng Ari!”
“Gue bakal kasih Lo pulang, kalo Lo mau jawab pertanyaan gue!”
“Lepasin dulu tangannya, sakit ini!” Kesal Sasa.
Alzam tak melepaskan cekalanya, tetapi sedikit melonggarkan ”Jawab gue sa,” Katanya, dengan intonasi kata yang melembut.
“Kenapa Lo pengen tau banget sih Zam? Emang berpengaruh banget ya sama Lo?” Tanya Sasa.
Alzam mengangguk “Berpengaruh. Lo kejar-kejar gue gak mikirin perasaan gue apa? Gue juga manusia, yang bisa luluh cuman karena sikap Lo yang unik itu. Dan ketika Lo bilang Lo gak suka sama gue, Lo gak mikirin perasaan gue gimana?” Tanya Alzam, menatap manik perempuan itu lekat.
“Gue tau, Lo gak akan bisa mudah luluh, atupun suka sama gue, makanya gue kejar-kejar Lo,” Jawab Sasa.
Alzam terseyum, ternyata Sasa tak paham dan tak peka apa yang di ucapkan dirinya “Yaudah jelasin, kenapa lo kejar-kejar gue, kalo Lo emang gak suka sama gue?”
Sasa melirik sekitar, lalu melangkah untuk semakin dekat, dan itu semua jelas terekam di penglihatan Alzam.
“Gue selalu di awasin disini, lo juga tau kan? Orang tua kita ngotot banget buat jodohin kita, apalagi papah gue. Kalo misalnya gue ketauan gak deket sama Lo atau bersikap ketus sama lo, papah gue pasti marah. masalahnya, papah gue kalo marah bukan ke gue doang, tapi ke adik gue juga. Makanya gue bersikap sok kenal sama Lo,”
“Tapi tenang, sekarang gue bakalan terima konsekuensinya. gue gak bakal kejar-kejar Lo Dan bikin Lo risih. udah kan? Gue udah jawab, jadi gue mau pulang,” Ucap Sasa.
“Pulang sama gue!”
|•••|
Sedangkan di parkiran, anggota inti alverage sedang mencari keberadaan Alzam.
“Kemana si batu?” Tanya Bima.
“Pulang duluan katanya,” Jawab Dodi.
“Yaudah deh, gue juga mau pulang dulu. Kangen istri,” Ucap Bima, lalu menaiki motornya.
“Yang halal mah beda, gak kayak yang friendzone, ngungkapin rasa sayang aja gengsinya selangit,” Ucap Dodi, lalu ngacir menaiki motornya. Meninggalkan Caca dan raga yang saling lirik.
“Dodi kena friendzone ya ga?” Tanya Caca,
Raga menatap Caca tajam,”Gue yang kena friendzone! Bukan Dodi!”
Setelah mengucapkan ucapan ketus itu, Raga juga ikut ngacir menaiki motornya.
Caca yang merasa di tinggalkan pun menyusul Raga ”Ga, gue kena friendzone juga gak?!” Tanyanya, teriak.
Motor mereka sudah saling bersebelahan.
“Raga! Denger gue gak sih?!” Ucap Caca masih saja berteriak.
Raga malah menambah kecepatan Motornya, membuat Caca cemberut lalu menyusul motor lelaki itu.
“Raga! Gue tabrak motor Lo ya, kalo Lo gak yahut!” Kesal Caca,
Saking kesalnya, Caca sampai melupakan kalo dirinya masih di jalan raya.
Gubrak
Ia meringis sakit, ketika di depannya ada perbaikan jalan, dan dirinya tak Melihat. Membuat perempuan itu terjatuh.
“Sakit anjir. aduh, mana lecetnya banyak,” Ringisnya, ketika melihat lecet di motornya sangat tidak bisa di toleransi.
Sedangkan di sisi lain, Raga melihat di kaca spion, kemana Caca? Cewek itu tak lagi mengejarnya?
Merasa perasaannya tidak enak, Raga memilih berbalik arah untuk mengecek. Dan benar dugaannya, cewek itu sedang tergeletak bersama motornya.
“Lo kenapa?” Tanyanya kaget, plus khawatir.
“Buta mata Lo! Udah tau jatuh, masih aja nanya! heran,”
“Makanya, siapa suruh ngejar-ngejar gue!” Marah Raga.
Caca cemberut, ”Lo mah, Gue udah jatuh tetap aja di marahin!”
“Yaudah cepat, naik motor gue!” Suruh Raga.
“Gak! Gue gak mau!” Tolaknya, lalu membangunkan ducatinya, dan menaiki motor itu, meninggalkan Raga.
“Dih, malah ngambek!” Cibir Raga.
|•••|
Raga sampai di rumah Caca, untuk sekedar melihat keadaan cewek itu. Setelah kejadian ngambek tadi, Caca tak membalas pesannya, atau pun mengangkat telponnya. Dan karena itulah Raga menyusul Caca kesini, daripada cewek itu ngambeknya keterusan.
“Ngapain kesini!” Tanya Caca ketus.
“Nyamperin Lo lah, gak mungkin nyamperin pak Iman kan?” Raga tertawa, berusaha menghibur. Tetapi wajah Caca tetap datar saja, membuat Raga menghentikan tawanya.
“Masih ngambek aja Lo,” Kata Raga lagi, sambil mencolek dagu Caca.
“Diem!” Tajamnya.
“Cewek mah ambekan, heran,” Kata Raga, lalu duduk di sebelah cewek itu.
“Dih? Gak ngaca? lo kalo ngambek ke gue, setahun baru di maafin,” Cibir Caca.
Raga terkekeh, lalu mengusap-ngusap tangan lecet Caca dengan pelan “Belum di obatin?” Sekarang, raga bertanya dengan intonasi lembut.
Caca menggeleng sebagai Jawaban.
Raga bangkit dari duduknya, untuk mengambil kotak P3k, setelah mendapatkan, cowok itu kembali duduk di sisi Caca.
“Jangan jadi ceroboh bisa? Kayaknya, kalo gak celaka namanya bukan Caca,” Cerocos Raga, sembari mengobati caca dengan telaten.
“Namanya juga kecelakaan,” Jawab cewek itu.
“Jawab aja terus, kalo di bilangin bisa jangan jawab? Bisa cuman dengerin, terus terapin? Jangan jawab aja, tapi gak di terap-terapin!” Nasihat Raga.
“Tapi kan Ga, kalo gak ja—“
“Ca...” Peringat Raga, membuat mulut Caca langsung bungkam.
“Dengerin apa yang gue omongin, ini demi kebaikan Lo kok, jangan bantah terus-terusan!”
Caca mengangguk, lalu menundukkan kepalanya. Raga sudah seperti saka kakaknya, kalo sudah seperti ini.
Raga mengambil dagu Caca, supaya cewek itu sepenuhnya menatapnya ”Denger apa yang gue omongin kan?”
Cewek itu ke kembali mengangguk ”Dengar,” Cicitnya pelan.
Raga tersenyum, lalu memeluk Caca ”Gue kayak gini bukan berati marah, Gue kayak gini, supaya Lo gak ceroboh lagi. Gue gak mau Lo kenapa-kenapa, jadi jangan bikin gue khawatir terus-terusan,”
Caca membalas pelukan itu, pelukan hangat yang sama, seperti milik kakaknya, ia jadi merindukan lelaki itu.
Caca mendongak, masih dengan memeluk lelaki itu ”Kangen kakak gue,” Keluhnya.
“Peluk gue terus kayak gini, dan bayangin gue ini kakak lo. semoga dengan itu, Lo bisa mengurangin rasa rindu Lo sama dia,” mendengar kata itu, Caca tersenyum lalu memeluk raga lebih erat dari sebelumnya.
Mengusap-usap rambut perempuan di pelukannya dengan lembut. Selalu saja seperti ini, dadanya selalu berdetak lebih kencang dari biasanya ketika melakukan skinsip dengan Caca.
Entah apa yang di rasakannya, tetapi Raga selalu merindukan getaran ini di dadanya. Dan hanya dengan Caca saja dia bisa seperti ini.
Mendengar dengkuran halus di bibirnya kecil caca, ia menunduk ”Cepat banget tidurnya,” Katanya, semakin memeluk erat Caca.
Raga tertawa kecil ”Gue sayang sama Lo, lebih dari teman, dan gue berharap Lo tau itu. gue belum ada nyali ngungkapin perasaan ini, ketika mata Lo emang terbuka. Pengecut memang, tapi lebih baik seperti ini. Gue gak mau, persahabatan kita rusak, hanya karena gue egois cinta sama Lo,”
“Terkadang, Lo emang nyebelin, bahkan super nyebelin. tapi entah kenapa, Gue gak pernah bener-bener kesel atau marah sama lo,”
“gue marah lama sama Lo, ya karena gue pengen denger lebih sering Lo bujukin gue. jadi, gue gak pernah benar-benar marah lama sama lo. asal Lo tau aja,”