RAGASA

RAGASA
Ep. 88. Sadar



Penyesalan memang selalu berada di pengunjung cerita.


|•••|


Dua minggu sudah, mereka melakukan pencarian. Tetapi sama sekali tidak mendapatkan hasil, keberadaan Caca tidak di temukan.


Entah Caca yang pintar dalam menyembunyikan keberadaannya? Atau, anggota Alverage saja, yang  memang kurang jeli dalam melakukan pemeriksaan ke setiap tempat.


Tetapi jikalau anggota alverage yang kurang jeli, kenapa anak buahnya om Wijaya pun tidak menemukan keberadaan Caca? 


Entahlah, mereka bingung, harus mencari Caca ke mana lagi.


Bukan hanya itu saja. Raga masih terbaring dan belum sadarkan diri, setelah kejadian tabrakan seminggu yang lalu. Lelaki itu koma, karena banyaknya darah yang keluar dari anggota tubuhnya.


Apa yang membuat mereka kaget, selama Raga koma? Mata lelaki matanya selalu mengeluarkan air mata, entah karena apa? Yang pastinya, di dalam koma pun, tampaknya Raga masih memikirkan keberadaan Caca.


Bima menyenderkan tubuhnya di kursi yang berada di dalam ruangan. Terlihat, lelaki itu mengusap wajahnya secara kasar. Sampai sekarang, Caca masih belum melihat sama sekali pesan yang dikirimkannya pada saat Raga kecelakaan.


“Caca belum sama sekali liat chat yang gue kirim waktu itu,” ucap Bima lesu.


Mereka semua hampir frustrasi. Bahkan, Dodi yang awalnya selalu berpikir positif, bahwa mereka berdua akan baik-baik saja. Kini berbeda, pikiran positif nya itu seolah-olah hilang sedikit demi sedikit, tergantikan dengan wajah cemas kentara di wajahnya.


“Awas aja kalo tiba-tiba muncul gue—ANJIR WOY, TANGAN RAGA GERAK-GERAK,” Dodi berteriak histeris. Lelaki itu shok sekaligus senang.


Mereka semua yang awalnya tampak lelah, langsung berdiri begitu saja, ketika mendengar teriakkan Dodi. 


Memencet tombol di samping brankar. Tidak lupa mereka semua menelepon bunda dan papahnya Raga, mengabarkan bahwa Raga melakukan pergerakan tangan.


Dokter masuk, memeriksa keadaan Raga yang sudah membuka matanya. Dari mata, hidung, mulut, semua dokter itu periksa. Sedangkan Raga, lelaki di hanya menatap kosong semuanya.


Raga menghela nafasnya, ketika memperhatikan sekitar, lelaki itu tak menemukan orang yang selama ini di carinya.


Percuma saja ia sadar, jikalau orang yang di tunggu-tunggunya pun tak ada di sini, untuk menemaninya.


“Gimana keadaan teman saya Dok?” tanya Alzam.


“Keadaan teman anda berangsur membaik. Hanya saja, tidak boleh dulu melakukan hal berat apapun. Dan juga, harus melakukan pemeriksaan berlanjut, harus bad rest beberapa hari, supaya keadaannya cepat membaik.”


Alzam mengangguk mengerti, “Terima kasih Dok,”


“Sama-sama, saya pergi dulu,” jawab Dokter itu, lalu pergi dari ruangan Raga.


Mereka semua beralih menatap Raga yang dari pertama kali sadar, hanya menatap langit-langit dengan tatapan kosongnya.


Ketiga lelaki itu menatap satu sama lain? Ada apa dengan Raga? Apakah Raga baik-baik saja atau tidak? Kenapa laki-laki itu seolah-olah tak ingin sadar, jikalau kita melihat dari tatapannya.


“Ga,” Alzam memanggil, tidak lupa tangannya memegang bahu Raga, untuk memastikan. Raga baik-baik saja atau tidak.


Raga tak menjawab, lelaki itu hanya melirik Alzam sebentar, lalu kembali menatap langit-langit dengan tatapan kosongnya. “Caca mana? Gue mau ketemu dia,”


Alzam menghela nafasnya pelan. Ini pertanyaan yang paling di hindari dirinya. Alzam sempat tak habis pikir, bahkan di saat baru siuman pun, yang ditanyakan pertama kali oleh Raga adalah Caca. 


“Caca masih belom bisa di hubungin,” ucap Alzam jujur.


Brak


Kembali lagi terulang pintu di buka dengan kerasnya. Dan pelakunya adalah orang yang sama, bunda Renita, tetapi kali ini perempuan setengah baya itu tak sendiri, wanita itu di temani suaminya.


Renita berlari ke arah brankar Raga, memeriksa keadaan anaknya dengan grasak-grusuk. Kepala pundak lutut kaki, di periksa oleh wanita setengah baya itu.


“Gimana keadaan kamu sayang,” Renita tersenyum, perempuan itu sangat senang sekali, ketika melihat putranya sadar dari koma. Setelah seminggu lamanya Renita menunggu.


Pada saat koma. Raga seperti orang hidup tetapi tak hidup, seperti orang mati tetapi tak mati. Entahlah, Renita si buat galau karena hal itu.


Raga bergerak, lelaki itu ingin duduk dan memeluk bundanya. Tetapi sekedar melakukan pergerakan kecil pun, tubuhnya tak bisa. Ternyata, tubuhnya itu masih terasa sakit, dan tak sanggup, hanya sekedar untuk duduk pun.


“Raga pengen duduk,“ ucap raga, dan dengan sigap Renita membantunya, lalu menyenderkan anaknya di senderan brankar.


Raga memeluk bundanya merasakan perlukan hangat yang terasa sudah lama ia tak rasakan. Raga menatap depan dengan tatapan kosongnya, pikirannya tiba-tiba kembali memikirkan di mana Caca berada.


Di mana perempuan itu berada? Kenapa di saat Raga sadar pun, Caca masih tidak berada di sini. Apakah perempuan itu baik-baik saja? Apakah perempuan itu juga merindukannya seperti dirinya yang merindukan perempuan itu?


Raga menutup matanya, kenapa ini terasa menyiksa? Bahkan, sakit di tubuhnya, tidak sebanding dengan sakit di hatinya. Apalagi ketika lelaki itu berpikiran, Caca tampaknya sudah tak peduli lagi padanya.


Ke mana perempuan itu pergi?


“bunda,” panggil Raga lirih.


“Kenapa sayang?” Renita bertanya, sembari mengusap-usap punggung anaknya.


“Caca kenapa gak ada disini? Dia udah gak peduli sama aku? Dia udah gak sayang sama aku? Padahal aku sakit disini, tapi Caca masih aja belum kembali,”  


“Caca ada sayang, dia lagi ngurusin perusahaan opahnya,” ucap Renita berbohong. Perempuan setengah baya pun tak tahu Caca berada dimana. Ingin berkata jujur saja, tetapi Ranita takut, kondisi anaknya kembali memburuk.


Raga menghela nafas berat, jawaban yang selalu ia dapatkan. Ketika sebelum atau sesudah kecelakaan. Apakah jawaban ini memang benar adanya? Raga tak terlalu percaya akan hal itu. 


“Kalo iya emang Caca lagi ngurus perusahaan, Kenapa? Kenapa dia gak kesini? Apakah dia gak tahu, aku abis kecelakaan disini? Apakah di antara kalian gak ada yang ngasih tahu Caca, kalo gue gak baik-baik aja ketika gak ada dia? Apa perusahaan opahnya lebih penting dari aku bun?” 


Renita mendongakkan kepalanya, ketika tidak dengan permisinya, air mata jatuh begitu saja. Wanita itu seolah merasakan sakit yang sama, dengan yang di rasakan sang anak. 


Hatinya terasa ikut nyeri, ketika Raga berkata lirih menahan tangis, hanya karena ingin melihat Caca. Di manakah perempuan itu? 


Renita mengambil nafas, lalu menghembuskannya secara perlahan “Enggak gitu sayang, dia pasti bakal balik kalo semuanya udah selesai  di sana, sabar ya?”  


Raga mengangguk ragu, untuk menyemangati diri sendiri. Lelaki itu tidak yakin Caca kembali, setelah apa yang telah dirinya lakukan kepada kakaknya.


Kembali helaan nafas keluar dari bibir lelaki itu “Aku pantes dapetin ini bun. Ini balesan buat aku, karena udah bunuh Saka. Wajar, Caca marah sama aku, akupun akan melakukan hal yang sama, ketika kakak kita sendiri di bunuh sama orang yang kita percaya, atau bahkan lebih dari apa yang Caca lakuin sekarang.”


“Kalo aku bisa ngulang waktu, aku mau ngulang kejadian waktu itu.”


Renita tak menjawab, wanita hanya mengusap-usap punggung Raga menenangkan. Seolah-olah berkata lewat tepukan, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


“CACA! CACA READ CHAT YANG GUE KIRIM!” histeris Bima tiba-tiba.