
Sudah malam, tetapi Bima masih memikirkan apa yang tadi Siang dirinya lihat. Kenapa Caca bisa menyembunyikan rahasia besar seperti ini? Kenapa bisa perempuan itu menutupi semuanya? Caca selalu terlihat baik-baik saja di dekat Bima dan yang lainnya.
Bima menepuk kepalanya tiba-tiba, kenapa dirinya tidak sadar? Kalo kondisi Caca sekarang-sekarang ini terlihat menurun. Bima sering melihat Caca mimisan, memegang kepalanya, kepada lelaki itu tak sadar? Kenapa juga waktu itu tak melanjutkan mencari kondisi Caca?
Memang, anggota inti alverage pernah menyelidiki Caca. Mencari tahu apa yang terjadi terhadap perempuan itu, kenapa kondisinya terlihat menurun secara drastis? Tetapi setiap mereka menyelidiki, tak ada hasil yang aneh dari perempuan itu. Makanya, mereka memutuskan untuk berhenti.
“Kenapa lo ngelamun terus? Lo gak pulang? Bini lo hamil di rumah!” tegur Dodi.
Kata itu, kata yang biasanya di ucapkan Caca untuk memperingati Bima. Tetapi sekarang, Dodi lah yang memperingatkan itu
Dodi berpikir, tumben sekali Bima belum pulang. Biasanya, lelaki itu itu akan pulang sebelum akan adzan magrib, karena khawatir pada istrinya yang sedang mengandung.
Bima lagi-lagi menepuk jidatnya. Karena kejadian ini, ia hampir lupa jikalau istrinya sendirian di rumah.
“Gue pulang dulu,” ucap lelaki itu, lalu pergi dari sana.
༎ຶ‿༎ຶ
Bima sudah datang pagi-pagi. Lelaki itu ingin membicarakan tentang Kondisi Caca pada Raga. Tetapi melihat kondisi lelaki itu kurang baik, ia bingung harus bagaimana?
Bima takut ketika Raga tahu semuanya, Raga kaget tak terima dan akan berdampak pada kesehatannya.
Memilih tak memberitahu pun salah, ketika Raga tahu semuanya dan ternyata dirinya juga menyimpan semuanya baik-baik, Raga pasti sangat marah padanya. Apa yang harus lelaki itu lakukan?
Bima memejamkan matanya, lalu menghela nafas, “gue tau Caca dimana.” Celetuk Bima. Merenggut atensi semuanya.
“Dimana-mana?” seru Raga antusias.
Melihat Raga yang antusias, membuat Bima sedikit tak enak hati “Sebenernya, Caca gak ngurusin pekerjaan almarhum opahnya, tapi Caca ada disini,”
“Caca jengukin gue?” seru Raga sambil tersenyum.
Bima menggeleng sebagai jawaban.
Raga sedikit termenung, apa yang di maksud Bima? Kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak? Caca di sini karena ingin menjenguknya kan? Tidak ada tujuan lain?
“Kalo bukan jenguk gue, terus ngapain?” tanya Raga.
“Ikut gue,” Bima tak bisa menjelaskan. Biar kondisi Caca saja yang menjelaskan.
Raga di bantu Alzam untuk menaiki kursi rodanya. Lalu mengikuti langkah Bima dengan cara di dorong juga oleh Alzam.
Mereka berhenti di depan pintu bangsal. Membuat Raga mengerutkan keningnya, apa yang di lakukan oleh Bima? Lelaki itu bilang ingin mempertemukannya dengan Caca kan? Kenapa berhenti di sini?
“Itu Caca,” kata Bima, menunjuk kata transparan yang berada di pintu.
Raga menatap wajah Alzam dan Dodi, membuat Alzam membantu Raga untuk berdiri dengan cara di bopong.
Raga menutup mulutnya tak percaya, ketika melihat caca terbaring lemah seperti itu, di sebuah brankar.
“Caca punya penyakit kanker otak stadium empat,” mendengar kata yang terlontar dari mulut Bima, Raga semakin menutup mulutnya, dengan air mata yang hampir saja lolos di matanya.
Raga terkekeh mencoba mengelak “Gak usah bohong lo!” sentak Raga tak suka. Lelaki itu tak suka, ada yang berbicara yang tidak-tidak tentang Caca.
“Lo liat? Bahkan, Caca udah gak punya rambut, itu karena kanker otak yang di deritanya!”
“Itu bukan Caca! Itu orang lain!”
“Gue mau masuk!” final Raga mutlak.
Mereka semua hendak masuk, tetapi suara seseorang menginterupsi mereka untuk berhenti.
“Tidak ada yang boleh masuk kedalam ruangan sana!” itu bagas. Dokter itu baru saja datang, untuk mengecek kondisi Caca.
“Tapi kita temennya!”
“Pasien tidak mengijinkan siapapun untuk masuk, termasuk kalian semua!” memang, Bagas di titipkan amanah, tidak boleh ada yang masuk ke dalam ruangan perempuan itu, kecuali dokter dan suster yang merawatnya.
“Gue mohon, gue mau masuk...” mohon Raga. Bahkan, untuk pertama kali di hidupnya, seorang bernama Raga berani memohon.
“Mohon maaf, saya tak bisa!”
Raga menempelkan tangannya, Berharap Dokter di depannya ini mengerti, “Kali ini saja, saya mohon... izinkan saya masuk,”
Alzam yang melihat itu menghela nafas. Terlihat menyedihkan sekali Raga di matanya sekarang. “Bisa tolong ceritakan sesuatu tentang pasien? Kenapa Caca bisa terbaring lemah seperti itu?” ucap Alzam. Pengalihan isu.
“Caca awalnya mengidap kanker stadium dua. Dia selalu melakukan pengobatan seminggu sekali kesini. Dia pun masih mau minum obat, meskipun hanya malam. Dengan alasan, kalo siang saya tidak bisa, saya masih sekolah, saya tidak mau teman-teman saya tau kalo saya sakit, itu alasannya katanya.”
“Tapi lama-kelamaan, Caca tak pernah datang kesini lagi, entah karena apa? Tapi pas terakhir kali ke sini, perempuan itu datang diantar oleh supir dengan keadaan pingsan, makanya Caca mendekam di sini, itu atas paksaan dari saya,”
“Susah untuk membujuk caca meminum obat, perempuan itu harus merasakan sakit terlebih dahulu, baru mau memakan obatnya. Tetapi kalo tidak merasakan sakit, Caca sama sekali tak mau makan atau bahkan hanya sekedar untuk menyentuh.
“Saya sering memarahi dia, hanya perihal meminum obat. Kalo mau sembuh ya minum obatnya! Saya selalu berbicara seperti itu. Tetapi Caca sendiri selalu menjawab seperti ini, siapa yang mau sembuh? Orang saya mau mati kok, selalu saja jawabannya seperti itu,”
Raga memejamkan matanya mendengar cerita dari dokter Bagas, Caca terlihat seperti perempuan yang sangat putus asa.
“Saya mohon, izinkan kita masuk...” ucap Raga, kembali memohon.
“Maaf sekali lagi, tetapi tida bisa,”
“Saya mohon... apa anda tidak mau melihat pasien ada sembuh? Pasien ada membutuhkan support sistem Untuk tetap hidup bukan? Jadi, biarkan kami masuk,”
Mendengar terus kata memohon, akhirnya Bagas mengangguk juga, dengan sedikit paksaan. “kalo ada apa-apa langsung panggil saya.”
Mereka tersenyum miris, ketika tidak ada lagi senyuman di wajah Caca. Tak ada keceriaan, semuanya seolah sirna, tergantikan dengan wajah pucat perempuan itu.
Raga mengusap-usap wajah Caca secara lembut “Kenapa lo sembunyiin penyakit ini? Kenapa lo rasain semua ini sendirian?” Raga ingin marah, tetapi tak bisa. Hanya melihat wajah Caca yang seperti ini saja, membuatnya ingin menangis.
Caca melenguh, ketika merasakan usapan lembut di pipinya. Perempuan itu melirik sekitar, lalu mengucek-ngucek matanya. Terdapat empat orang lelaki disana, kembali mengucek matanya, dan hasilnya tetap sama, empat lelaki itu masih berada di depannya.
“Ini mimpi ape gimane?” gumam Caca.
Caca tiba-tiba memegang kepalanya yang terasa sakit sekali. “ARGHHH SAKIT,” Caca berteriak, lalu memecet tombol di sisi brankar. Menutup semua kepalanya dengan bantal, dan berharap, semoga sakitnya akan reda.
Raga panik, lelaki itu ingin berdiri tetapi tak bisa “Mana yang sakit Ca, mana yang sakit...” Raga berkata pelan, seraya mengusap-usap tangan Caca menenangkan.
Raga berpikir, apakah setiap hari nya Caca akan kesakitan seperti ini? Sendirian?
Tak lama dokter masuk, menyuruh keempat lelaki itu keluar dulu, mereka mengangguk, lalu melangkah dengan langkah pelan.
Tak lama, Dokter Bagas pun kembali keluar “Kalian boleh masuk, tetapi tidak Sekarang.”