
Sedangkan Raga, lelaki hanya memutar bola matanya malas dan mendengus” lebih kasihan sama motor dari pada gue? Gue kejepit sama dia Loh tadi,” Raga menunjuk motornya degan tajam. Bahkan lelaki itu tak suka, ketika Caca lebih memperhatikan motor daripada dirinya.
|•••|
Caca nyengir memperlihatkan gigi rapihnya, lalu menuntun Raga untuk duduk di pinggiran jalan.
“Mana yang sakit?” Tanya Caca.
“Ini,” Jawab Raga sembari menunjuk dadanya. Letak dimana hati Raga berasal.
“Serius Raga.....”
“Gue serius. Hati gue sakit, ketika Lo lebih perhatiin motor dari pada gue,”
Caca tertawa, lalu menimpuk bahu Raga cukup keras. Terkadang, tangan perempuan tidak bisa diam ketika tertawa. Kenapa cowok di depannya ini jadi seperti ini, ia selalu merasa kaget sekaligus lucu, ketika melihat perubahan sikap Raga yang selalu tiba-tiba.
Tidak lama dari itu, Caca tiba-tiba menepuk jidatnya, karena merasa ada yang dirinya lupakan.
“Dimana orang yang mau gue tabrak tadi?” Tanya Caca celangak-celinguk, mencari keberadaan orang yang hampir di tabraknya.
“Tuh,” Raga menunjuk orang yang masih berjalan santai.
Wajah Caca berubah menjadi cengo. Apakah manusia itu tak sadar? Bahwa dirinya hampir di tabrak? Kenapa bisa sesantuy itu dan melanjutkan jalannya.
Dan dari sepengetahuan Caca ketika melihat film Indosiar, orang yang akan di tabrak biasanya akan menjerit, atau pingsan tiba-tiba karena Shok, tetapi kenapa orang hendak di tabrakannya berbeda?
|••••|
Mereka berdua sudah berada di warkop di pinggir jalan. Kedua orang itu juga tengah menyantap mie rebus dan sesekali menyesap kopi yang tadi mereka pesan.
“Nikmat kali, mana pakai telur mata sapi, semakin sempurna!” Seru Caca masih asik dengan mienya.
Raga terkekeh, lalu mencoba kuah mie instan kepunyaan caca. Lelaki itu penasaran, seenak apa sih? Padahal dirinya memesan dengan rasa dan toping yang sama, tetapi tetap saja dirinya penasaran.
“Sama aja rasanya kayak punya gue,” Ungkap Raga.
“Ya iyalah sama, orang gue sama Lo sama-sama pesan rasa soto. Kalo misalnya Lo rasa soto, gue rasa ayam bawang, pasti rasanya beda, gimana sih Lo?” Balas caca.
“Tuh kan, gue jadi mau nyicipin mie punya Lo,” Tambah caca dengan cengiran. Lalu menyicip kuah yang Raga punya.
“Mie Lo rasanya lebih wah, tukar gimana?” Tawar Caca. Milik orang lain emang selalu menggoda, contohnya pacar orang lebih menggoda kan?
“tukar-tukar! Bukan tukar Lo mah. Emang minta aja, orang mie gue masih banyak dan mie Lo udah ludes, dan Lo bilang tukar?” Raga berkata sinis, membuat Caca mencubit pipi cowok itu.
“Boleh yah?” Ucap Caca, beralih profesi menjadi menguel-guel pipi Raga.
“Iya boleh, lagian udah kenyang,” Entah kenapa, hanya melihat Caca makan saja, itu cukup membuat perut Raga ikut merasa kenyang meskipun dirinya tidak ikut memakan.
Mata Caca berbinar, membuat perempuan itu langsung merebut mangkok Raga dan memakannya dengan lahap.
“Pelan-pelan, udah habis satu porsi, masih aja kelihatan kelaparan, ”cibir Raga, sembari mengusap-usap rambut perempuan itu.
“Udah kayak hewan dogy aja, lagi makan rambutnya di elus-elus!” Protes Caca, tak suka.
“Makanya jangan cepat-cepat makannya,”
Tidak berselang lama dari itu... “Akhhhhhh....” Caca menyenderkan punggungnya di kursi, lalu menepuk-nepuk perutnya, ketika semua mienya sudah ludes habis.
Caca melirik ke arah Raga yang sedang merokok. Caca kira, lelaki itu tak lagi merokok, karena Caca jarang sekali melihat Raga merokok akhir-akhir ini.
“Gue kira Lo berhenti ngerokok Ga,” Ucap Caca, ikut mengambil Rokok dari bungkusnya.
“Emang siapa yang bilang?” Tanya Raga.
“Gak ada, tapi akhir-akhir ini gue jarang banget liat Lo ngerokok,” Jawab Caca.
“Gak kelihatan bukan berati berhenti kan?”
“Iya juga sih,”
Baru saja Caca akan menyalakan rokoknya, tetapi Raga dengan sigap menggaplok pelan tangannya.
“Apanya?”
“Rokoknya lah, jadi lepasin!” Suruh Raga mutlak, membuat Caca melepaskan Rokok itu di tangannya.
“Meskipun Lo anak geng motor dari lama, gue udah sering bilang sama Lo. Jangan ikutin kita-kita, Lo cewek! Jadi jangan samain sama apa yang gue lakuin, gue cowok! Gue bilang gini bukan maksud beda-bedain, gue ngomong gini demi kebaikan Lo! Lo tahu rokok gak baik kan? Jadi gak usah ikutin gue buat ngerokok juga!”
“Tapi sebelum gue masuk geng Lo, kan gue udah ngerokok Ga,” Kata Caca.
“Jangan di biasin. Mulai sekarang, hapus demi sedikit nikotin di otak Lo!”
Caca mengangguk, ia pun memang berniat untuk tidak mengonsumsi nikotin lagi.
Bayangkan saja, setelah kematian kakaknya, Caca memang menjadi wanita liar. Kelas sembilan SMP, umur dimana remaja labil yang ingin serba tahu, sedangkan di sana, Caca tak punya lagi orang untuk mengarahkan hidupnya ke jalan yang benar.
Opahnya? Sibuk bekerja pada masa itu.
Setelah kematian kakaknya, Caca tak punya lagi Arah untuk pulang. Caca menjalankan semua apapun semaunya tanpa arah. Tidak lagi mempunyai komando, semua di jalankan. Benar atau salah, wanita itu tetap akan menjalankan.
Hidupnya tak tertata, semuanya di mulai setelah kematian kakaknya.
Setelah duduk di bangku SMA , Caca bertemu dengan Raga, hidupnya mulai kembali tertata, ketika Raga mengenalkan dirinya dengan malaikat cantik bernama bunda Renita, bunda Raga sendiri.
Disitulah hidup Caca kembali di mulai, meskipun tidak sepenuhnya benar, tetapi Caca cukup bisa mengontrol dirinya untuk selalu melakukan yang baik, dan sedikit demi sedikit meninggalkan yang buruk.
Dan itu juga alasan, mengapa Caca sulit sekali untuk menolak permintaan bunda Renita, karena perempuan itu sudah Caca anggap menjadi ibunya sendiri.
Setelah sekian lama Caca merindukan peran ibu di hidupnya, datanglah bunda Renita yang menyayanginya, dan bisa menggantikan peran ibu di hidupnya.
Raga dan bunda Renita bagai penyelamat di hidupnya.
Caca tersenyum menatap Raga, betapa beruntungnya dia, ketika bisa berdekatan sedekat ini dengan Raga. Banyak wanita lain yang menginginkannya, tetapi dirinya yang mendapatkan. Itu seolah-olah menjadi kebanggaan bagi hidupnya.
“Gue sayang sama Lo,” Kata Caca tiba-tiba.
“Gak jelas!” Balas Raga.
“Lo Ingat kan? Gue pernah bilang, gak ada yang jelas di hidup gue, selain sayang gue sama Lo,”
“Kumat lagi nih,” Gumam Raga, sembari memalingkan wajahnya.
“Iya kumat. Kapan sih? Gue gak pernah kumat, kalo itu semua berhubungan sama Lo,”
“Gak usah gombal Mulu bisa?!” Tanu Raga tajam.
“Kenapa emangnya? Raga selalu baper ya.... kalo misalnya gue gombalin Lo terus,” Goda Caca.
“Gak usah ge’er!”
“Kebiasaan banget, bilang gak usah ge’er! Padahalkan bukan ge’er, tapi kenyataan!” Kesal Caca Lalu bersedekap di meja.
“Kenapa cewek gampang marah?” Raga berbicara seolah bermonolog, tetapi terang-terangan melihat Caca.
“Lo nanya sendiri ke diri Lo atau ke gue sih?!”
Raga mengedikan bahunya acuh “Buat yang ngerasa aja,”
“Buat yang ngerasa aja, nyenyeneye!”
Raga terkekeh, lalu mengusap-ngusap rambut Caca pelan “Bagus ngikutin gaya bicara orang kayak gitu?” Tanya Raga, sembari menaikkan alisnya.
“Lagian Lo!” Sinis Caca.
“Iya... salah gue, gue minta maaf,” Raga menggeser kursinya, supaya bisa bersebelahan dengan Caca.
“Jangan cemberut Mulu, kan gue udah ngaku salah. Gue yang mancing-mancing,”
Caca mengangguk lalu menyenderkan kepalanya, wanita itu menatap langit yang sedang penuh bintang sekarang.
“Kalo tiba-tiba gue pergi di dunia ini gimana Ga?" ucap Caca tiba-tiba, sembari tersenyum ke arah lelaki di sampingnya.