RAGASA

RAGASA
Bab. 49. Mona dan Topan



Dodi melirik ke arah Raga dan Caca. mereka berdua tampak beda, lebih tepatnya, Raga yang tampak berbeda dari biasanya. 


Raga yang biasanya mepet-mepet kalo Caca kenapa-kenapa, kini memilih diam di belakang, seolah tak memperdulikan, sedangkan Caca, perempuan itu sudah seperti orang gila yang cengengesan sendari tadi.


"Lo berdua kenapa?" Tanya Dodi.


"Gak papa, Iya kan sayang?" Caca menatap geli Raga, yang sendari tadi tak pernah membalas tatapan matanya.


"Hm," Balas Raga.


"Lo berdua pacaran?!" Kaget Dodi.


Bagaimana Lelaki itu tidak kaget, biasanya Raga akan menolak atau marah, ketika di panggil dengan panggilan sayang oleh Caca, tetapi kini, lelaki itu malah bergumam membalas.


"Enggak, lebih dari itu," Jawab Caca di akhiri kekehan.


Dodi menatap Tajam mereka berdua “Lo gak ngelakuin yang Bima sama Bella lakuin dulu kan?" Selidiknya.


"Gila kali, kagak lah!" Balas Caca.


"Ya gausah ngegas dong, gue kan cuman tanya," Kata Dodi.


"Lo semua ngapain kesini? bukannya sekolah, ini udah waktunya masuk tau," Ucap Caca, ketika melihat jam di dinding.


"Kita kesini cuman mau kasih tau, kalo kita bakalan langsung ngasih pelajaran orang yang suruh Sasa," Balas Bima.


Caca mengangguk “Baguslah, lebih cepat lebih baik kan? cepetan sama pergi, gue mau tidur lagi," Usir caca.


"Mau tidur, atau mau berduaan sama Alex?" Sahut Dodi.


"Lo bisa diem gak? sana pergi!" 


"Kita ke sekolah dulu, Lo baik-baik disini," Ucap bima, membuat mereka semua keluar, termasuk Raga.


Caca cemberut, tumben sekali Raga tak berbicara dulu padanya dan langsung pergi begitu aja, dari tadi pun, Raga memang enggan menatapnya, bukan karena malu, tapi karena memang, enggan menatapnya.


"Lo marah sama gue ya ga?" Tanya Caca.


Raga tak berbalik, tetapi langkahnya terhenti, hanya karena mendengar suara Caca “Enggak!" Balasnya, lalu berjalan keluar.


Caca semakin mengerucutkan bibirnya, Raga memang manusia sulit di tebak. kemarin mengungkapkan perasaannya, tetapi sekarang, malah seperti tak peduli sama sekali kepadanya.


"Anda menyukai lelaki itu kah nona?" Tanya Alex.


Memang, Alex menginap disini. dengan alibi untuk menemani Caca agar tak kesepian.


"Tidak!" Balas Caca, lalu merebahkan dirinya.


|•••|


Suara ketukan sepatu menggema di koridor sekolah. keempat lelaki itu berjalan dengan gagahnya, tanpa sama sekali bercanda seperti biasanya.


Semuanya tampak serius, bahkan Dodi dan Bima pun ikut serius kali ini.


"Anjir anjir! ada cewek dingin itu!" Seru Dodi heboh.


Baru saja, murid di SMA Bhakti itu terpukau dengan kegagahan mereka, tetapi di gagalkan oleh pekikan Dodi begitu saja.


"Lo bisa serius gak? Kita lagi keren banget tadi, Lo malah ngerusak suasana," Kesal Bima, sembari menjitak kepala Dodi.


"Gue gak bisa serius sama kalian, bisanya serius sama cewek dingin itu," Balas Dodi, hendak mengejar cewek itu, tetapi Raga dengan cepat menarik kerah belakangnya.


"Diam, kita selesain masalah ini dulu. kalo udah, Lo boleh ngelakuin apapun yang Lo mau!" Ucap Raga, dengan tatapan tajamnya.


Mereka masuk ke kelas orang yang di maksud, lalu menyeret orang itu ke gudang belakang sekolah untuk di interogasi.


"Apa maksud Lo nyuruh Sasa?!" Ucap Alzam, sembari menyeret tubuh orang itu.


"Apa maksud Lo?" Tanya Mona.


Memang, ketika di selidiki, Mona lah yang menyuruh Sasa untuk melakukan itu. entah apa maksudnya, mereka akan mengintrogasinya sekarang.


Kalian ingat? sebelum tragedi penusukan Caca terjadi, Caca menyelidiki dua orang yang memang sedang mengobrol. dan satu orang dari mereka memanggil bos, pada orang yang lainnya.


Mereka berdua lah biang keroknya.


Bima mendekat, ketika Mona malah mengelak, dan bukannya mengakui.


"Gak malu Lo ngelak? gue sama yang lainnya udah punya bukti, bahwa Lo lah orang yang udah nyuruh Sasa," Kata lelaki itu, sembari menunjuk Caca .


Mona tertawa, "Emangnya kenapa? kalo gue yang nyuruh Sasa? gak ada urusannya sama Lo kan? lagian, Sasa udah bersihin nama Lo sama istri cupu Lo itu," Balas Mona.


"Lagian, Sasa gak keberatan kok gue suruh kek gitu, dia butuh duit. jangan salahin gue, Sasa yang nyebar semuanya!" Lanjut Mona.


"Gak ngerasa bersalah Lo? apa tujuan Lo kayak gitu?" Kini, Raga lah yang berbicara.


"Sasa ngelakuin itu karena Lo bayar! dia gak mungkin, nyebarin foto bella sama Bima, kalo dia gak di bayar!" Timpal Alzam.


"Lagian, apa yang di sebarin waktu itu fakta kan? gue nyuruh Sasa nyebarin berita benar, ngapain juga gue nyebarin berita salah?" Jawab Sasa.


"Salah atau benernya itu, kenapa Lo ikut campur sama urusan gue?" Tanya Bima.


"Selagi beritanya benar, gue berhak ikut campur!" Balas Sasa.


"Eh nenek lampir, siapa Lo yang berhak ikut campur sama urusan orang?" Sambar Dodi.


Alzam Menggeram, Mona itu manipulatif, wanita itu masih diam merasa tak bersalah, padahal dirinya sudah begitu di sudutkan.


"Akuin semuanya di depan umum, bahwa Lo yang nyuruh Sasa. sebelum gue, ngelakuin hal yang enggak-enggak ke Lo!" Kata Alzam tajam.


"Bukan Mona yang ngelakuin tapi gue!" Ucap satu orang lainnya.


Mereka berempat tertawa “Topan Topan, Lo pikir? kita gak tahu? Lo cuman anak buahnya dia? gak usah lindungin manusia kayak dia deh!" Seru Bima.


Topan? kalian masih ingatkan? lelaki yang hampir di tabrak oleh Caca, juga lelaki yang meminjamkan sapu tangannya pada Caca.


Dodi yang sudah lelah berdiri pun kembali bersuara “Udah lah, gak perlu banyak bacot buat dia ngaku, kita langsung seret aja ke depan banyak orang, dan ngomong, kalo Mona lah yang emang nyuruh Sasa, Kita udah punya buktinya kan?"


Mona kelimpungan, namanya sudah rusak di sekolah ini, kalo semua orang tau, kalo dirinya lah yang menyuruh Sasa melakukan itu, pasti akan semakin runyam, dan semua orang pasti membencinya.


"Gue kan udah ngaku, ngapain Lo semua harus seret gue juga sih?!" Kesal Mona.


"Bersihin nama Sasa, gue gak mau kalo Sasa di bully di sekolah ini," Jawab Alzam.


"Kagak bisa lah! gue udah pinjemin dia duit, jadi dia yang harusnya bertanggung jawab," Balas Mona.


"Berapa hutang dia sama Lo?" Tanya Alzam.


"50jt,"


Alzam tertawa, uang segitu tidak ada apa-apanya bagi dia. bahkan, uang tabungannya pun lebih besar dan jauh dari nominal yang di pinjamkan Mona.


Alzam memberikan  "Masukin nomer rekening Lo, gue transfer sekarang! dengan alasan, Lo harus ngakuin diri bahwa Lo yang nyuruh Sasa, dan bersihin nama dia!" 


"Gue mau Lo sendiri yang ngaku, sebelum kita semua sebarin bukti-bukti itu. jadi cepet lakuin, sebelum Lo bakal lebih malu," Lanjut Raga.


Raga, lelaki itu sendari tadi tidak fokus. tubuhnya memang disini, tetapi arwahnya masih berada di rumah sakit. 


Salah satu alasan, kenapa Raga seolah-olah tidak peduli Caca tadi. karena tiba-tiba moodnya tidak bagus, ketika melihat Alex sudah berada di ruangan Caca.


Raga berpikir, apakah Alex menginap disana? Berati kalaupun misalnya ia, mereka berdua tidur di ruangan yang sama. itu alasan yang membuat dirinya tidak mood pagi tadi.


Singkatnya, Raga jealous.


"Cepat masukin nomor rekening Lo bego!" Kesal Alzam, karena Sasa hanya memandang tangannya.


"Gue gak mau, gue meningan kehilangan duit lima puluh juta, daripada harga diri gue harus turun lagi," Balas Mona.


"Emang, dari dulu Lo punya harga diri ya? Ups, keceplosan," Dodi menutup mulutnya sok kaget, setelah apa yang di katakan dirinya.