RAGASA

RAGASA
Ep. 90. Kondisi



Setelah memberikan handphone yang di pegangannya, kembali ke pemiliknya. Raga tak pernah melunturkan senyumnya.


Lelaki itu seolah-olah lebih fresh dari sebelumnya, setelah mendengar suara Caca. suara Caca bagaikan energi bagi lelaki itu. entahlah, bisa di bilang lebay, tetapi itu yang Raga rasakan.


"Seneng banget kayak nya, tadi aja nangis-nangis, sekarang senyum-senyum Sendiri kek orang gila!" cibir Dodi.


Sebenarnya, Dodi senang karena Caca bisa di hubungi sekarang, dan kondisi Raga bisa kembali seperti semula. tetapi entah kenapa, ada yang kurang, jika dirinya tak mencibir seseorang.


Seolah-olah memakan sayur tanpa garam, itu pikir Dodi ketika tidak mencibir seseorang.


Raga yang sedang tersenyum, tiba-tiba mendatarkan wajahnya dan menatap Dodi tajam, "Bacot Lo!"


Setelah mengatakan itu, Raga kembali menatap atap dengan tersenyum sumringah. entahlah, tiba-tiba moodnya sangat-sangat baik sekarang.


"Kenapa senyum-senyum kayak gitu? Caca mau kesini?" tanya Renita, membuat Raga menatap bundanya.


Raga menggeleng "Enggak bun, Caca gak kesini."


"Terus? kenapa senyum-senyum kayak gitu?"


"Kan udah dengar suara Caca, jadi senang aja."


"Dih! pingin muntah gue dengarnya!" Ceplos Dodi.


Raga tak merespons, lelaki itu tahu, Dodi hanya syirik saja padanya.


"Kenapa Caca gak kesini? dia dimana?" 


"Caca sibuk, pegang handphone aja dua Minggu sekali,"


"Sok sibuk banget tuh bocah! udah kek ngerasa jadi pengusaha berjaya kali ya? sekolah aja kagak benar, apalagi ngurusin perusahaan kayak gitu?"


Bima geleng-geleng kepala, "Kelakuan lo Dod, sehari gak nyibir hidup orang bisa gak sih?" 


"Gak! gue gak bisa! hidup gue rasanya hampa kalo gak cibir orang!"


"Stres!" Maki Alzam, yang sendari tadi diam menyimak.


Raga tak memedulikan temannya, lelaki itu menutup matanya, sembari kembali mengingat perbincangannya dengan Caca di telepon tadi.


Awalnya Raga berpikir, Caca tak lagi memedulikan dirinya, karena lebih mementingkan pekerjaannya, daripada dirinya. 


Tetapi ketika melihat gaya bicara Caca yang sudah melunak, Raga menghilangkan permikiran negatif itu. Caca memang selalu memprioritaskan dirinya nya. hanya saja, keadaannya yang mengharuskan perempuan itu mendahulukan dulu pekerjaannya.


Tak apa, karena dua Minggu lagi, Caca akan kembali menghubunginya, atau bahkan menjenguknya. untuk pertama kalinya, Raga ingin sakit lebih lama lagi.


Sedangkan di sisi lain, Caca pun merasakan hal yang sama. perempuan itu senang, karena mendengar kondisi Raga sudah baik-baik saja.


Caca tersenyum setelah sambungan teleponnya dengan Raga terputus. perempuan itu cepat-cepat memberikan handphonenya pada Dokter Bagas, karena Dokter itu terus protes, karena waktunya lebih walaupun hanya satu menit.


"Ribut banget sih?! padahal lewatnya cuman satu menit!" kesal Caca.


"Perjanjiannya hanya sepuluh menit. jadi, tidak sepantasnya kamu protes!"


Caca menghela nafas pelan, bukan karena sifat Pak Bagas, tetapi karena dirinya sendiri. perempuan itu merasa bersalah, karena telah membohongi Raga.


"Maafin gue Ga, maafin gue karena bohongin lo. gue bukan kerja, atau nyelesaiin kerjaan, gue sakit, sama kayak lo."


"Maaf karena sembunyiin penyakit ini sama lo, bukan karena gue gak percaya, tapi karena gue gak mau bikin lo khawatir. yang terpenting sekarang adalah kesembuhan lo,"


"Kamu belum makan. makan dulu, setelah makan, kamu minum obat!" titah Dokter Bagas.


Caca yang awalnya sedang membatin, mengalihkan pandangnya, ketika Dokter Bagas melakukan sesuatu.


Caca menggeleng tak mau "Pak Bagas yang ganteng, gue udah gak mau minum obat, gue udah kepalanya ilfil sama obat-obatan yang lo kasih!"


Dokter Bagas menghela nafas lelah. Caca adalah Pasien yang paling menyebalkan yang pernah lelaki itu kenal.


"Gimana kamu mau sembuh? kalo minum obat saja kamu tak mau!"


Bagas menghela nafasnya kembali "Yang penting kamu makan dulu,"


Caca mengangguk, lalu merentangkan tangannya "Minta bantuin naik kursi roda, mau makan di taman,"


Bagas mengangguk lalu membopong Caca untuk naik kursi roda "Mau saya antar?"


Caca mengangguk lagi "Iya... ribet sendiri, mana kemana-mana harus bawa infus, gak bisa di lepas dulu nih?"


"Gak bisa! udah jangan ribut, biar saya yang bantu!"


|•••|


Bima keluar dari toilet, matanya tiba-tiba menajam ketika melihat siluet perempuan yang dia sangat kenal.


Itu Caca, kenapa rambut perempuan itu menjadi botak? dan kenapa juga Caca menaiki kursi roda? tidak lupa Ada tongkat infus di sebelah roda Caca.


Bima mendekat, lelaki itu akan memastikan, apakah itu Caca sahabatnya atau bukan?


Matanya melotot kaget ketika yang di lihatnya itu benar Caca. apa yang terjadi dengan perempuan itu? sampai-sampai Caca duduk di kursi roda? dengan kepala yang botak.


Bima memberhentikan suster yang lewat, "Permisi Sus," 


"Kenapa mas?" jawab suster itu sopan.


"Suster tau pasien itu siapa?" ucap Bima sambil menunjuk Caca.


"Itu mbak Caca, dia pengidap kanker otak stadium empat di rumah sakit ini," jawab suster itu membuat bisa melotot kaget.


Bima mengangguk, "Sudah berapa lama ya kira-kira Pasien itu di sini?"


"Ada apa ya mas?" tanya suster itu sedikit tak nyaman. pasalnya, lelaki di depannya ini, seolah sedang mengorek informasi darinya.


"Tidak ada apa-apa. hanya saja, orang yang bernama Caca itu sangat mirip dengan teman dekat saya,"


Sekarang, giliran suster itu yang mengangguk "Maaf mas, tetapi saya tidak bisa memberikan informasi Masi lebih tentang Pasien disini. saya permisi,"


"Oh iya, terima kasih Sus," kata Bima, membuat suster itu pergi.


Jadi caca pengidap kanker otak? Kenapa perempuan itu tak pernah cerita dan bilang, padanya atau teman-teman yang lainnya? kenapa perempuan itu menyimpannya sendirian? 


"Kenapa lo sembunyiin semua ini ca?" lirih Bima. lelaki itu merasa menjadi teman yang gagal sekarang.


Fyi. waktu itu kanker otak yang Caca idap masih stadium 2, tapi karena sering di abaikan dan jarang pengobatan, jadinya penyakit itu semakin parah, yang membuat Caca mengidap kanker stadium empat sekarang.


"Kita sibuk cariin lo kemana-mana. dan ternyata lo disini, ngelawan penyakit lo. kenapa lo bohong Sama Raga dan kita kalo Lo kerja?" lirih Bima.


Melihat Caca pergi di bantu oleh Dokter, Bima cepat-cepat mengikuti kemana Caca pergi, untuk tahu di mana ruangan perempuan itu.


Ini tak bisa dibiarkan, Caca butuh teman untuk melewati penyakitnya.


Berhentilah Bima di depan satu ruangan, ruangan yang tidak terlalu jauh dari tempat Raga di rawat. 


Kenapa dunia sesempit ini? mereka semua mencari Caca kemana-mana. padahal, Caca berada di tempat yang sama dengan mereka semua.


Bima mengintip dari celah pintu, lelaki itu memundurkan langkahnya, dan pura-pura hanya terdiam, ketika dokter Bagas keluar dari bangsal.


Ketika melihat Dokter Bagas sudah jauh, Bima kembali mengintip Caca.


Bima berpikir, tidak kesepian kah Caca? perempuan itu hanya duduk terdiam tanpa melakukan apapun.


Bima merasa semakin gagal menjadi teman, ketika melihat Caca kesusahan tidak melibatkan siapapun. perempuan itu seolah-olah memang ingin hidup sendiri, tanpa berpegang pada orang lain.


Dan ketika melihat ada kursi roda di samping brankar Caca, Bima kembali berpikir, apakah perempuan itu lumpuh? tadi pun di taman, Bima melihat Caca duduk di tempat itu tanpa sama sekali turun.


Bima tertawa kecil, dengan suara sumbang nya "Lo jago Ca, lo seolah bertingkah baik-baik aja, padahal kenyataannya enggak,"