
Ditengah ramainya pengunjung kantin, geng inti Alverage berada di kursi paling ujung dengan obrolan Caca yang tak habis-habisnya, membuat kantin yang heboh, menjadi semakin heboh.
"ANJIR ANJIR ANJIR! GUE SAMPE EXCITED BANGET SUMPAH, GIMANA ENGGAK? OPAH GUE MAU PULANG KE RUMAH GUE DAN NGINEP WOY!"
Meskipun niat Caca mengobrol hanya dengan inti Alverage saja, tetapi suara Caca yang keras, membuat seisi kantin tahu, apa yang sedang mereka bicarakan.
"BERHUBUNG GUE LAGI SENENG, SENENGNYA PAKE BANGET, BANGET, BANGET.. GUE TRAKTIR KALIAN SEMUA!" Teriak Caca menggelegar.
Semua orang di kantin yang mendengar itu, langsung berlarian ke stand makanan membuat suasana kantin menjadi riuh tak terkendali. Bahkan dodi dan Bim—
"lho Bim? Gue lagi traktir nih? Tumben lo gak seneng? Bahkan tuh si Dodi udah ngacir ke stand makanan," bingung Caca.
Tumben sekali Bima menjadi pendiam seperti ini, biasanya Bima dam Dodi tidak akan pernah diam, ketika mendengar kata traktiran.
"Gue lagi gak mood."
Caca melotot, mendengar suara Bima yang sangat lesu dan lemah gemulai. Tumben sekali, ada apa dengan cowok di depannya ini?
"Tumben banget, kenapa? Lo gak mau cerita gitu sama kita?" Tanya Caca membuat Raga dan Alzam yang tengah menyimak mengangguk.
"Gu—gue, buntingin anak orang," cicitnya.
Perkataan singkat itu, berhasil membuat semua orang yang berada di meja itu melotot kaget, bahkan mulut Caca sampe terbuka.
"Serius lo monyet?"
Caca menutup mulutnya, "Be-berarti gue mau punya ponakan dong!"
"Ye-ye, gue punya keponakan, punya keponakan, ye ye!" Caca menari-nari kesenangan, membuat ketiga lelaki itu cengo, bisa-bisanya dia malah senang, ketika temannya membuntingi anak orang.
"Cewek atau cowok Bim?" Tanya Caca.
Gadis itu menopang dagunya, bersiap mendengar semua cerita tentang calon ponakannya.
"Gue gak tahu," jawab Bima masih lesu, membuat Caca mengerutkan dahinya, kenapa Bima tak senang? Padahalkan dirinya mau mempunyai anak dan akan menjadi papah.
"Kenapa mukanya gak seneng gitu sih Bim? Lo kan mau punya anak? Lo gak seneng gitu? Lo mau jadi papah tahu, bisa-bisanya lo gak seneng, gue aja yang mau jadi rich aunty senengnya minta ampun," cerocos Caca. Ganita itu sudah membayangkan, bagaimana senangnya, menjadi seorang rich aunty.
"Bego lo ah!" Umpat alzam membuat Caca melotot pada lelaki itu.
"Lo ngomong bego ke gue?" Tanyanya tak terima.
"Baguslah kalau lo ngerasa," celetuknya enteng, membuat Caca semakin melotot,
"Lo!"
"Apa?" Perkataan tajam itu berhasil membuat Caca duduk tenang dan nyengir.
"Kagak," jawabannya masih dengan cengiran di mulutnya.
Raga mengelus-elus rambut Caca, bisa-bisanya gadis ini membuatnya gemas dengan kebeloonannya.
"Lemot, tapi kok bikin gemesin sih?" Bisik Raga sembari terus mengusap-ngusap rambut Caca.
"Gue gak lemot!" Sanggahnya tajam, sambil melotot ke arah Raga.
"Lo lemot wlee.."
Raga menjulurkan lidahnya, membuat Caca semakin kesal dan kembali menatap Bima yang masih menunduk lesu.
"Udahlah Bim terima aja, kalau lo entar gak mau bayinya, gue siap tampung kok," kata Caca sambil tersenyum.
Bima mengacak rambutnya frustasi, bukan itu yang menjadi masalahnya, "Gue bingung harus gimana."
"Tanggung jawab lah tolol, jangan jadi laki laki yang pengecut,
berani berbuat berani bertanggung jawab!" Jawab Alzam dengan nada datarnya, lelaki itu akan berbicara panjang lebar, ketika sedang dalam keadaan seperti ini.
"Gue pasti tanggung jawab, tapi bukan itu inti dari masalahnya. Gue diusir dari rumah, fasilitas gue disita, mulai dari mobil, apart, semuanya. Untung tuh motor beli pake duit gue, jadinya kagak ikutan disita juga. Gue udah gak punya apa-apa, terus gimana caranya gue ngasih makan tuh anak orang? Terus kita tinggal dimana? Gak mungkin di rumah cewek yang gue buntingin kan? Bisa-bisanya gue bakal ngerepotin orang tuanya terus."
"Besok, untung orang tuanya dia paham, kalau waktu itu gue lagi dikuasai sama alkohol, jadinya gak terlalu marah yang penting gue tanggung jawab. Orang tuanya bisa maafin gue, meskipun bapaknya masih agak sinis sama gue. Tapi orang tua gue, dia marah besar sama gue, terutama papah, dia bilang gue malu-maluin dia doang, makanya gue sampe diusir."
Caca menepuk-nepuk bahu Bima memberi semangat.
"Kalau masalah tempat tinggal sama duit, lo gak perlu bingung. Gue punya apartemen dan apartemennya jarang banget gue pake. Lo bisa tinggal disana, meskipun gak terlalu gede, muatlah buat kalian berdua. Terus kalau masalah duit, gue ada beberapa resto sama toko distro peninggalan kakak gue, lo bisa ambil alih satu, lumayan kan bisa tambah-tambah penghasilan, meskipun gak banyak."
Bima mendongak ke arah Caca sambil terkejut, "Lo—Lo gak bercanda kan Ca?" Gagapnya terkejut.
"Meskipun gue sering bercanda, kali ini gue serius, hari ini lo ambil kunci apart gue dan soal usaha resto, gue akan ambil alih jadi nama lo, setelah pulang sekolah nanti," jelasnya.
Bima hendak menangis karena terharu, tanpa aba-aba, Bima memeluk Caca dengan eratnya.
"Thanks, gue gak nyangka temen dajjal kayak lo bisa sebaik ini."
Caca berdecak, "Ge'er banget dah lo, ini semua bukan buat lo! Tapi calon ponakan gue!"
"Loh loh, pada kenapa? Kok gue gak di ajak pelukan?" Dodi berlari, menyimpan makanannya lalu nimbrung dalam pelukan.
"Anjir, apaan sih lo! Sok kenal banget jadi orang," Bima yang kepalang kesal melepaskan pelukannya dan kembali duduk.
Sedangkan Dodi masih setia memeluk Caca tanpa dosanya membuat Raga kesal dan melepaskan pelukan Dodi secara paksa.
"Ngapain peluk-peluk? Lo kan gak tahu apa-apa!" Sungut Raga kesal, membuat Dodi memutar bola matanya malas dan duduk anteng di tempatnya.
"Emang masalahnya apa sih anjir? Emang meluk harus ada alasan dulu?" Kesal Dodi sembari memakan makanannya.
"Iya, masalahnya yang lo peluk itu Caca!"
"lah, terserah gue lah. Emang lo doang yang bisa peluk Caca!"
Apakah Dodi sedang tidak sadar berbicara dengan siapa? Raga yang mendengar jawaban itu menggeram, hendak berdiri, tetapi Dodi kembali bersuara.
"Anda Ga, canda hehehe."
Dodi nyengir sambil menahan tangan Raga. "Emang ada masalah apa sih?" Lanjut Dodi.
"Bima mau nikah besok," ucapan empat kata itu berhasil membuat Dodi kaget dan kembali memuntahkan makananya.
"Jangan canda lo Ca, gak lucu tahu gak!"
"Terserah, lo mau percaya atau enggak, toh gue gak peduli!" Ucapnya acuh lalu memakan makanan yang dibawa Dodi.
"Anjir, ceritain yang singkat padat dan jelas kenapa? Gue nggak paham."
Bima menghela nafas lelah, "Gue mau nikah besok, gara-gara gue buntingin dia."
Dodi berdecak, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya, tak lupa pelototan kagetnya, membuat mata Dodi hampir saja keluar.
"Parah lo! Emangnya siapa sih yang lo buntingin? Anak mana?" Tanya Dodi mewakilkan semuanya.
"Anak sekolah sini, namanya Bella anak kelas duabelas IPA 1."
"What!"
Dodi menutup mulutnya tak percaya, "Lo—Lo, Lo hamilin cewek cupu itu kan?" Tanyanya ragu masih dengan keterkaitannya.
"Iya, gue gak sengaja," Bima menunduk, ia juga merasa sangat-sangat bersalah, merasa dirinya telah menghancurkan masa depan gadis itu.
Dodi geleng-geleng kepala tak percaya, "Ck, ck, ck, kasian gue sama dia, bisa-bisanya lo hamilin gadis lugu nan cupu kayak dia. Kasian anjir, pasti dia terpuruk banget," ucapan Dodi itu berhasil membuat Bima semakin merasa bersalah.
Dodi memang rajanya mengompori. Raga melemparkan tatapan tajamnya pada Dodi ketika melihat Bima semakin menundukkan dirinya tak semangat.
"Bisa diem gak? Lo gak tahu apa-apa!" Seru Raga membuat Dodi kicep, lalu memasukan kembali makanannya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Saaaayaaanggggg!" Teriakan menggelegar itu membuat atensi mereka teralihkan, apalagi saat gadis itu langsung bergelayut manja pada tangan Alzam, membuat mereka semua semakin bingung.