
"Raga suapin,"
"Aduh panas banget, Mau minum"
"Aduh, susah banget sih. iketin tali sepatu dong,"
"Keringat meleber kemana-mana, hapusin keringat di wajah gue dong,"
"Pegel banget nih, pijitin dong"
"Gerah banget.... iketin rambut dong, kepang tapi,"
"Duh, banyak banget sih rangkumannya. rangkumin buat tugas gue dong,"
"Ga, gue lupa gak buat Pr, tolong salinin yang punya Alzam yah,"
Raga memejamkan matanya sembari menghela nafas, berusaha sabar. Baru setengah hari, Tetapi Caca banyak sekali menyuruhnya melakukan pekerjaan.
Ingin marah, Vidio nya bersama Alex pasti akan di sebarkan. sabar pun tampaknya sudah tidak bisa, ia sampai-sampai mengeratkan pegangannya pada gagang kain pel, saking menahan amarahnya.
"Cepetan dong pel lantai nya, keburu Bu Shinta liat, gawat kan!" Suruh Caca.
"Nggih nyonya," Raga tersenyum ke arah Caca, sembari sedikit membungkukkan kepalanya.
Caca tertawa, nampaknya Raga sangat tertekan sekali"Good boy, cepetan lanjutin!"
"CACA! KENAPA RAGA YANG MENGERJAKAN HUKUMAN KAMU!"
Caca berbalik sembari tersenyum kikuk. Mampus, dirinya ketahuan oleh Bu Shinta, sedang menjadikan Raga seorang babu.
"Awss...aws.. sakit Bu, telinga saya jangan di jewer!"
Caca memegangi telinganya, yang tampaknya sebentar lagi akan putus karena ulah Bu Shinta, yang terlalu keras menjewernya.
"Ngapain kamu suruh Raga buat pel ini? saya nyuruh kamu, bukan Raga!" Sentak Bu Shinta.
Caca melirik ke arah Raga yang sedang menahan tawanya. Sangat menyebalkan sekali, siap-siap saja, Caca akan menyiapkan hal yang membuat Raga menderita. Dan tentunya, dirinyalah yang akan tertawa nantinya.
"Dia sendiri yang mau Bu, saya udah bilang jangan. Tapi dia maksa," Ucap Caca.
"Benar seperti itu Raga?" Tanya Bu Shinta.
Raga menggeleng, membuat mata Caca melotot,"Enggak Bu. Caca paksa saya, katanya kalo gak mau ngelakuin, dia bakal ngelakuin hal yang aneh, sama saya,"
"Sakit Bu...." Ringis Caca.
Bukannya memperlonggar, Bu Shinta malah semakin menjadi-jadi menjewer Caca,"berani-beraninya kamu berbohong! Saya akan tambah hukuman kamu!"
"Iya bu terserah ibu. Tapi lepasin dulu jewerannya. Dosa loh...jewer anak yatim piatu sebatang kara,"
Berhasil, menggunakan kata 'yatim piatu sebatang kara', selalu saja berhasil. buktinya,Bu Shinta langsung melepaskan jewerannya.
"Bersihkan toilet ini kembali, menggunakan tangan kamu. Kalo sampai saya melihat lagi kamu menyuruh Raga, saya akan menambah hukumannya!" Bu Shinta berucap, lalu pergi dari sana.
"Rasanya telinga gue bakal putus, kalo Bu Shinta terus-terusan jewer telinga gue!" Kata Caca, mengusap-usap telinganya yang terasa panas.
"Ga, cepet kerjain! jangan sampai kelihatan Bu Shinta lagi!" Suruh Caca
"Lo gak denger? Bu Shinta nyuruh Lo! Emang Lo mau, hukuman Lo di tambah?" Ucap Raga, menakut-nakuti.
"Siapa peduli? ini sekolah gue, bebas dong, gue mau ngelakuin apa," Balas Caca.
Raga memutar bola matanya malas, Sifat sombongnya Caca keluar,"Gak usah sombong. Berapa sih, harga sekolah ini, Gue beli!"
Caca tertawa"Cepetan kerjain! semahal apapun Lo beli, Gue gak akan jual! jadi, cepet lakuin tugas Lo!"
•••
Anggota inti alverage sedang berjalan di koridor untuk pulang. suara tawa Terdengar menggelegar, dari caca, Dodi dan Bima.
Mereka bertiga tertawa, melihat muka Raga yang dari tadi pagi terlihat kusut. Apalagi melihat Raga yang terlihat selalu menurut perkataan Caca, itu yang membuat tawa mereka semakin renyah ketika di dengar.
"Raga nurut banget sama Lo, Lo apain?" Tanya Dodi.
"Tau tuh, Lo apain? kita minta rumusnya dong, hahahahahaha"
"Gue—"
"Gue bunuh Lo! kalo sampe ngomong!" Sela Raga, membekap mulut Caca.
Caca melepaskan bekapan itu"Enggak akan sayang," Ucap Caca, sembari memberikan wink nya pada raga.
"Cih, jijik gue liatnya" cibir Dodi.
Caca tak menghiraukan ucapan Dodi, cewek itu memegangi kakinya yang tidak terasa apa-apa, hanya saja, dirinya akan ber- acting sekarang.
"Aduh, kaki gue sakit... Ga, bisa—"
"Ngelunjak ya Lo, lama-lama" Bisik Raga.
Caca tertawa kembali, kapan-kapan ia di gendong cowok ganteng pentolan sekolah. Dirinya sangat beruntung, apalagi pentolan sekolah ini, bisa di jadikan babu olehnya.
Caca turun dari gendongan, ketika melihat Topan yang sedang berjalan. Ia lupa, harus mengembalikan sapu tangan milik Topan yang sudah di pinjamnya.
"Topan! woy topan!" Teriak Caca.
Topan berbalik,lalu mendekat “Kenapa?" Tanyanya.
"Ini sapu tangan Lo! thanks ya!" Kata Caca sambil tersenyum.
"Eh iya, sama-sama. Kalo gitu, gue duluan," Caca mengangguk, dan Topan pun pergi, ketika sudah ada persetujuan.
"Eh iya, sapu tangan milik Topan, sama persis sama sapu tangan orang yang merusak markas. Sama persis, makanya gue minta vidio cctv sama Lo zam, waktu itu," Kata Caca.
"Tapi gak mungkin si cupu itu kan yang ngerusak? Model yang kayak gitu, gak cuman satu aja," Timpal Dodi.
"Tapi gue baru liat, model sapu tangan kayak gitu," Balas Bima.
"Emang Lo pernah punya sapu tangan?” Kata Dodi.
"Gue mau punya anak, Gue pastinya tau model-model sapu tangan. Karena gue udah mulai belanja perlengkapan buat bayi gue!"
Caca menutup mulutnya yang terbuka,"Oemji, kenapa Lo gak bilang sih, udah beli perlengkapan bayi, gue mau ikut!"
"Beli perlengkapan bayi gak cuman sekali Ca, lo bisa ikut kapan aja,"
"Bisa jadi dia. Gue gak yakin dia beneran cupu," Ucap Alzam tiba-tiba. membuat Caca dan Bima yang sedang mengobrol tentang perlengkapan bayi, atensinya teralihkan.
"What? Fake nerd maksud Lo?" Kata Caca.
Raga menyentil dahi Caca,"Jangan sering baca cerita, gak semua cupu itu fake nerd, bisa jadi dia beneran cupu!"
"Aishhh.....Kan Alzam yang bilang gitu, gue ngelanjutin doang"
Drtt....drt....drt
Caca mengambil handphonenya, ketika ada suara nada dering.
Alex
|| Rumah anda kembali di serang nona.
|| Bahkan, bukan hanya jendela saja yang pecah. Material di depan rumah, semuanya rusak
Caca Menghela nafas, baru saja ia bersenang-senang karena bisa menjadikan seorang Raga menjadi babu. kini, sudah datang lagi masalahnya.
masalah, apakah bisa di cancel dulu datangnya? saya sudah lelah, izinkan saya beristirahat.
"Rumah gue di serang! mendingan Lo semua ke markas, takut-takut markas di serang lagi. Karena kemarin juga kek gitu kan? setelah rumah gue di serang, markas ikut di serang juga!" Kata Caca.
"Gue ikut ke rumah Lo! gak mungkin juga markas di serang lagi," Ucap Raga. membuat ke tiga pria lainnya mengangguk.
Sesampainya disana, Mata mereka berempat melotot, ketika melihat bagaimana kacaunya rumah Caca, sangat-sangat kacau. Bahkan, Mansion yang awalnya tampak megah, kini berubah seketika.
"Lo udah cek cctv Lex?" Tanya Caca.
"Susah nona. Tetapi tak ada hasil, karena cctv di luar rumah rusak,"
"What, Rusak? gak bener nih..."
"Ada yang di tinggalin lagi sama orang yang udah ngerusak nya?" Tanya Caca.
"Tidak ada nona, apakah nona sudah membuka kotaknya?" kini, Alex lah yang bertanya.
"Belum, Gue lupa," Balas cewek itu.
"Maksud Lo, ketika waktu itu rumah Lo di rusak, Lo dapat kotak di si perusak itu?" Raga bertanya.
"Betul sekali,"
"Ini nona, kotaknya," Sodor Alex, yang baru saja masuk dari rumah.
"Peka sekali anda Alex," Mengambil kotak itu, lalu duduk di kursi pos satpam.
Serahkan semua harta libertà,atau anda akan mati.
-x
Itulah isi dari kotak yang di tinggalkan, hanya sebuah kalimat yang sangat-sangat tidak berguna.
"Dih, kenal banget nih orang. Apa orang ini gak tau, kematian adalah salah satu hal yang di tunggu-tunggu, oleh seorang Caca cantik ini?"
"Untuk anda tuan X, saya tidak akan pernah menyerahkan se-peser pun harta opah saya, kepada pengecut seperti anda!"