
Alzam mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lelaki itu panik, ketika melihat temannya Caca menutup mata.
Sama halnya dengan Raga, yang mencoba menutup luka yang berada di Perut Caca. Karena terlalu banyak, lelaki itu tak bisa menutup semuanya.
Dodi, lelaki itu sudah menangis, prihatin, melihat Caca yang ceria menutup matanya seperti ini.
“Eungh...” Lenguh Caca, membuat Raga yang memeluk Caca, menepuk-nepuk pipinya.
“Ca, hey... ini gue, kita bentar lagi sampai rumah sakit. Tahan, jangan dulu tutup matanya,” Cemas Raga, sembari terus menepuk-nepuk pipi Caca.
“Ca hiks, maafin gue yang selalu bikin Lo jengkel, jangan tutup mata Lo. Kalo Lo mati, gak akan ada yang jajanin gue lagi,” Dodi menangis histeris, lelaki itu tampaknya tak rela, jika Caca mati sekarang-sekarang.
“Jangan dulu mati, gue belum sukses dan masih butuh duit Lo,”
Caca yang mendengar tangisan Dodi, melepas pelukan Raga, lalu menjitak kepala Dodi keras.
“Bisa-bisanya Lo! Teman lagi sekarat, Lo Masih pentingin diri Lo sendiri!” Kesal Caca.
“Caca lo—“ Dodi sengaja menggantung ucapannya merasa heran.
“Iya! Gue gak kenapa-kenapa! Gue pakai baju Anti peluru! Tangan doang yang sakit, karena kena.” Caca membuka jaketnya, memperlihatkan.
“Kok bisa? Kan Lo pasti gak ada persiapan. Terus pistol, kita kan bawa cuman dua doang yang lainnya pisau, kenapa jadi ada empat tuh pistol,” Heran Dodi.
“Jadi gini.......
Flashback on
Perempuan dengan nama Caca baru sampai di rumahnya. Berhubung hari ini ia tidak langsung ke markas, karena Raga akan ke rumahnya dulu.
Caca berjalan ke kamar Opahnya, yang sudah lama tak di tinggali. Memang, semasa hidup pun, Caca jarang sekali masuk kalau Opahnya sendiri tak menyuruh.
Caca berjalan ke arah lukisan besar, yang selama ini menjadi fokusnya jikalau masuk ke kamar Opahnya.
Memperhatikan gambarnya, lalu memegang lukisan itu. Mata caca membulat, ketika tiba-tiba lukisan itu bergerak.
“Wow, keren banget Loh!” Takjub Caca, lalu berjalan ke dalam ketika melihat ruangan di dalam lukisan itu.
Caca semakin di buat takjub, ketika di dalamnya terdapat banyak sekali senjata tembakan. Berjalan ke arah baju peluru, lalu mencobanya.
“Kok keren,” Ucap Caca, pada dirinya sendiri, setelah melihat dirinya di cermin.
Mengambil dua pistol yang berada di etalase kaca, lalu berjalan keluar, ia akan main-main kesini lagi nanti.
“Bisa-bisanya opah gak ngasih tau tempat sebagus itu sama gue,” Caca memakai jaketnya, lalu memasukkan pistolnya ke dalam.
“Kayaknya pamer pistol keren ini ke mereka asik nih,” Ucap Caca.
“Kemana aja sih Lo? Gue udah nunggu di bawah dari tadi,”
Caca terkesiap kaget, ketika Raga berada di depannya secara tiba-tiba.
“Ngangetin Lo!” Kesal Caca.
“Cepetan ke markas ah, bosen gue!” Raga berucap, Sembari berjalan kebawah meninggalkan Caca.
Flashback off
“Jadi gitu ceritanya,” Kata Caca, menyudahi cerita.
“Terus kenapa Lo pura-pura pingsan bego!” Kesal Dodi, karena dirinya sudah menagisi perempuan menyebalkan ini.
“Bayangin kalo misalnya gue gak acting, terus aja kita di tembakin sampai gue beneran mati,” Ucap Caca.
“Lagian, gue udah janji gak akan kenapa-napa sama Raga, ya gak Ga?”
“Hm,” Raga berdehem sebagai jawaban, lelaki itu menyobek kaosnya, lalu di ikatkan pada tangan Caca yang terkena tembakan.
“Lain kali jangan bikin panik, harusnya Lo kasih tahu dulu kita, kalo mau acting atau pura-pura pingsan,” Caca mengangguk mengiyakan ucapan Raga.
|•••|
“Gimana keadaan Bella sama Sasa?” Tanya Caca, yang melihat Ari baru saja keluar dari bangsal.
“Baik-baik aja, tapi mungkin masih Shok sama kejadian tadi,” Balas Ari.
“Ya udah, kita semua mau masuk dulu,” Kata Caca, membuat Ari mengangguk.
“Bella Lo baik-baik aja kan?” Tanya Caca, setelah memasuki ruangan.
Caca tersenyum, lalu mengusap-usap perut Bella yang mulai membuncit “Ponakan gue emang bakalan jadi calon manusia kuat kayak gue, mau di gimana pun, tetap baik-baik aja,”
“Dih, percaya diri itu tidak terlalu baik,” Maki Dodi.
Caca tak memedulikan Dodi, wanita itu mendekat ke arah Sasa “Udah baik-baik aja Kila?”
“Udah kok kak, tapi tetap masih kaget, masih kebayang-kebayang,” Jawab Kila.
“Gak usah di bayangin terus, tar jadi overthingking. Mending, bayangin betapa jagonya gue kalo berantem,”
“Muak gue dengar Lo dari tadi banggain diri, bawa keluar deh Ga, hama tau ga!” Sinis Dodi.
“Syirik aja Lo dod,” Cibir caca, sembari tersenyum angkuh ke arah Dodi.
“Tapi benar Lo kak, kakak keren banget loh, dor dor, pokonya keren!” Puji Kila antusias.
“Gue tahu gue keren,” Balas Caca.
“Eh Kila, gak usah deh Lo puji si Caca, dia di puji jadi terbang sama makin sombong,” Kata Dodi, menas-manasi.
“Gak papa sombong, yang penting jago, kak Dodi bisa?” Kila mengatupkan bibirnya, sembari menahan tawa ketika melihat Mata Dodi yang melotot.
“Oh... Lo ngeraguin kekuatan gue?” Dodi bertanya sembari bersidekap dada.
Kila nyengir, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya “Bercanda kak, gak usah baper elah,”
Dodi memutar bola matanya malas, dimana-mana ia selalu pihak di remehkan. Padahal, dirinya lah yang paling jago dalam segala hal.
“Kak Caca, aku mau dong, belajar tembak-tembakan gitu, biar keren kayak kakak,” Kila berucap, sembari memegang tangan Caca, supaya perempuan itu menyetujui harapannya.
“Boleh, makanya cepat sembuh. Tar gua ajarin, sama kenalin beberapa nama pistol,” Balas Caca.
“Hore! Aku senang, makasih kak Caca!” Seru Kila semangat.
“Iya, sama-sama.” Kata Caca, sambil mengusap-usap pucuk kepala perempuan itu.
Sedangkan di tempat yang sama, tetapi dengan suasana yang berbeda. Bima sedang mengusap-usap perut buncit Bella yang nampaknya sebentar lagi membesar.
“Masih sakit?” Tanya Bima.
“Enggak. Mungkin tadi karena Shok,” Balas Bella.
Bima mengangguk, lalu kembali mengusap-usap perut itu dengan lembut.
“Bim, Bima..... Bima,” Panggil Bella sembari menekan-nekan pipi Bima.
“Kenapa sayang? Mau sesuatu?” Tanya Bima.
Bella mengangguk “Kayaknya, baby nya mau di peluk sama papah,”
“Baby apa kamu?” Goda Bima sembari menaik-turunkan alisnya.
“Dua-duanya.” Balas Bella.
“Aku juga ngantuk, tapi gak mau bobo disini, gak suka rumah sakit,” Keluh Bella.
“Brankar nya kecil, gak muat buat kita berdua,”
“Ya udah, aku mau bobo di pangkuan kamu aja,” Bella berucap sembari menunjuk paha Bima.
“Ya udah, sini.” Bima memangku Bella dan menyimpan di pangkuannya dengan Ala koala.
“Cepetan bobo, kalo gak nyaman bilang ya?” Bella mengangguk, dalam dekapan Bima.
Mengusap-ngusap punggung Bella, sesekali mencium bahu perempuan itu, agar cepat tertidur. Akhir-akhir ini, Bella memang sudah sekali tidur, dan dengan cara inilah, yang bisa membuat Bella tidur.
“Eh buset! Yang lain lagi pada bercanda, Lo malah bucin!” Dodi berseru cukup kencang, membuat Bella yang baru saja terlelap kembali membuka matanya.
“Mulut Lo bisa bicara pelan gak? Bini gue baru aja mau tidur!” Tegur Bima.
“Ya Sorry, gue gak tahu!” Balas Dodi.
Bima mengusap-usap kembali punggung Bella, ketika perempuan itu bergerak gelisah, tampaknya sedikit terganggu dengan suara pekikan Dodi.
“Cup cup cup, tidur lagi, gak ada apa-apa kok,” Bima membisikan kata itu, supaya Bella bisa kembali tertidur.
“Eh eh eh, kalo di lihat-lihat, kita bisa aja four date gak sih? Cuman Dodi aja yang gak ke ajak, kan gak punya pasangan. Ups, keceplosan deh gue,” Caca berbicara seolah terkejut, tidak lupa tangannya yang ikut menUtup mulut, menambah ekspresi kaget itu semakin kentara.