
“Pulang!” Ucapnya tegas, sembari menatap dingin orang yang sedang ditariknya itu.
Orang itu kaget, lalu ikut berdiri, “Eh Ga, ngapain disini?” Jika kalian berpikir bahwa itu Caca, jawabannya adalah benar.
“Pulang!” Ucapnya lagi semakin tegas dan terkesan lebih dingin.
“Tapi Ga—“
“Pulang!” Finalnya mutlak.
Melihat tatapan Raga yang seperti itu, membuat Caca menurut, tetapi sebelum melangkah Caca berpamitan dulu pada Cakra.
“Gue duluan ya kak Cak, bye-bye!” Pamit Caca sembari melambai lambaikan tangan, karena Raga sudah membawanya berjalan.
“Kenapa gak angkat telpon dan baca chat gue? Sibuk pacaran lo?” Ketus Raga.
Entah kenapa? Raga tidak suka sekali melihat Caca dekat dan berinteraksi dengan lelaki lain, apalagi ketika melihat gadis itu tertawa dengan pria lain. Rasanya, seperti ada yang mengganjal dihatinya.
“Gak kedengeran hehehe,” cengir Caca.
“Ikut gue, bunda nanyain lo terus. Parah lo, lebih pentingin pacar lo dari pada bunda gue.”
Raga berjalan menuju motornya, lalu melajukan motornya tanpa menunggu Caca.
“Perasaan dia kagak bilang jamnya, kapan sih? Kok gue yang disalahin sih? Kalau dia bilang, gue gak mungkin jalan sama kak Cakra tadi.
**
“Ck, lama!” Decak Raga, ketika Caca baru sampai, membuat Raga harus menunggu dulu didepan gerbang.
“Ck, lama mata lo!” Cibirnya, sembari menggunakan intonasi yang sama dengan lelaki itu.
Raga melotot, dirinya sudah badmood, tetapi Caca malah mempermainkan dirinya, ”Gue patahin kaki lo!” Ancam Raga tajam sembari menunjuk Caca.
Tanpa takut, Caca pun menunjuk Raga dan..
”Giwi pitihin kiki li!” Caca kembali mencibir,m dengan cara menirukan kembali gaya bicara Raga, membuat lelaki itu tersulut emosi.
Raga menghela nafas kasar, hendak kembali berbicara, membalas ucapan gadis didepannya ini. Tetapi ia urungkan itu akan membuat moodnya semakin memburuk.
”Ah anjing, udahlah!” Kesalnya lalu masuk ke dalam rumah.
“Marah-marah mulu, heran gue,” gumam Caca lalu mengejar Raga yang sudah masuk ke dalam rumahnya.
“ASSALAMU’ALAIKUM CACA CANTIK COMBEK NIH!” Teriaknya lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Raga yang masih didepan pintu.
“Eh, sini-sini!” Seru Renita.
“Sibuk banget kayaknya, sampai-sampai lupa jengukin bunda,” ucap Renita sembari menyalipkan rambut ditelinga Caca.
Caca hendak menjawab, tetapi Raga lebih dulu menjawabnya, ”Iya Bund. Si caca sibuk, sibuk pacaran!” Ketusnya sembari berlalu dari sana dan berjalan menuju kamarnya dilantai dua.
“Marah-marah mulu tahu Bund, sering banget Raga marah-marah gak jelas kayak gitu,” kesal Caca sembari mengadu pada Renita.
Renita terkekeh sembari mengusap-ngusap rambut gadis didepannya, ”Kamu punya pacar?”Tanya Renita anggun.
Caca menggeleng, ”Enggak kok Bund, Raganya aja yang salah paham. Orang aku lagi ketemuan sama temen, ngobrol-ngobrol gitu. Eh tiba-tiba dia ada dan narik aku, padahal obrolannya lagi seru banget, seharusnya aku yang marah kan Bund? Bukan Raga, nyeselin deh sumpah!” Adu Caca kesal.
Renita tertawa, ternyata anaknya itu sedang terbakar api cemburu, “Samperin sana gih, Raga kan marahnya suka lama,” usul Renita mendapat anggukan dari Caca.
Tanpa berlama-lama lagi, gadis itupun langsung berlari dari hadapan bunda Renita.
Ceklek!
Diatas, dilantai dua didepan pintu kamar Raga. Caca membuka langsung pintu Raga, ketika Raga sama sekali tak menyahut.
“Gak kedengaran gue panggil tadi?” Tanya Caca berlari menuju ranjang Raga dan merebahkan dirinya disana.
“Ga ih, Raga!” Caca menggoyang-goyangkan tangan Raga, ketika lelaki itu seolah-olah tidak mendengar ucapannya.
“Siapa cowok tadi? Pacar lo?” Tanya Raga mengalihkan pembicaraan, tetapi matanya masih saja melihat layar ponsel.
“Yang mana? Yang tadi di kafe?” Tanya Caca membuat Raga mengangguk kecil.
“Emangnya kenapa kalau itu pacar gue? Lo cemburu?” Goda Caca.
“Dih. Kagak ya, ngapain juga gue cemburu?” Jawabnya mengelak.
“Yakin gak cemburu?” Goda Caca sembari memiringkan posisi tidurnya.
“Kagak!” Jawab Raga ikut merebahkan tubuhnya membelakangi Caca.
“Oh bagus deh kalau gitu, kirain lo cemburu!“ Balas Caca menekan kata cemburu.
“…”
Hening.
Caca tersenyum, ”Kasih tahu aja, lagian opah pengen gue cepet-cepet nikah. Jadi baguskan, kalau gue sama pacar gue cepet dinikahin?”
Raga berbalik, menghadap ke arah Caca. ”Putusin pacar lo!”
“Gak mau lah, ngapain?”
“Sejak kapan lo pacaran sama dia?” Tanya Raga.
“Beberapa hari yang lalu,” jawab Caca.
“Putusin!” Caca menggeleng.
“Putusin Caca!”
“Enggak Raga!”
Raga menatap Caca tajam, ”Apa sih yang lo liat dari dia? Kalau masalah ganteng, gue lebih ganteng kemana-mana dari pada dia. Kalau masalah harta, nampaknya gue masih unggul. Apa yang lo liat dari dia sih?”
“Apa yang gue liat dari dia? Keberanian.. Keberanian, nyatain rasa sukanya dan nurunin gengsinya buat dapetin gue!” Jawab Caca dengan menangkup dagu sebelah sambil menatap ke arah lain, seakan berpura pura membayangkan sesuatu.
Raga berdecak, ”Pergi sana, gue gak nampung manusia yang punya pacar!” Sinis Raga.
“Marah-marah mulu lo! Kalau cemburu bilang, entar gue punya pacar beneran, nangis!” Ejek Caca.
Raga terkekeh, ”Cemburu? Gue bisa dapetin manusia yang lebih dari itu.”
Caca beringsut mendekati Raga, lalu memeluk dan menyimpan wajahnya didepan dada lelaki itu dan memejamkan matanya.
“Tahu, gue mau peluk lo sebelum punya pacar, entar susah kalau udah punya pacar lo nya.”
Raga membalas pelukan Caca erat, sudah seperti mengungkung. Bahkan, kakinya pun sudah ikut naik dipinggang gadis itu. Sial, imut sekali.
“Jangan pernah berani pacaran sama orang lain!” Tegas Raga.
Caca terkekeh, ”Iya.”
Beberapa menit terjadi keheningan, sebelum akhirnya Raga kembali berbicara.
“Lo gak takut gue apa-apain hm? Gue emang temen lo, tapi gue cowok normal kalau lo lupa,” berbisik, sambil terus mengeratkan pelukan.
“Apa-apain aja kalau lo berani,” tantangannya dengan mata terpejam.
“Oh, nantangin hm?” Ucap Raga semakin mengeratkan pelukannya, sampai-sampai Caca sesak dibuatnya.
“Aishh, jangan kenceng-kenceng peluknya, engap tahu!”
Caca menepuk sedikit keras punggung Raga membuat lelaki tersebut terpaksa sedikit mengurangi longgar pelukannya.
“Lagian lo, godain iman gue terus. Entar diunboxing nanges lo,” cibir Raga sambil mencubit hidung Caca.
“Dih, gue gak godain ya. Iman lo aja yang lemah!”
**
Seseorang tengah duduk dikursi kebesarannya, sembari memegang gelas yang berisi wine. Kakinya tidak pernah bisa diam, sesekali mengetuk telapak kakinya dilantai, nampak seperti sedang berpikir.
Orang itu berdiri, lalu menyimpan jelas wine nya dimeja setelah meneguknya.
Ceklek..
Pintu dibuka, menampilkan anak buahnya. Para bawahan tersebut membungkukan badannya sedikit memberi hormat.
“Kenapa baru sekarang, saya menunggunya dari kemarin!” Bentak orang itu.
Setelahnya, orang itu berjalan menuju sofa. Duduk disana dan menyimpan kakinya di atas kaki yang satunya.
“Saya membawa kabar yang nampaknya sedikit buruk,” ucap salah satu anak buah itu yang menjadi bos dari mereka.
”Sebenarnya saya tidak suka kabar buruk!”
“Maaf, tetapi hanya ini yang bisa saya katakan,” kata si gempal.
“Nampaknya anggota Alverage tahu bos, mereka sedang diadu domba.”
Perkataan anak buahnya itu berhasil membuat emosi orang memuncak, ”Kenapa bisa? Kamu sudah berhasil membuat anak buahnya dilarikan ke rumah sakit kan?”
Seseorang yang menjadi anak buahnya mengangguk, “Sudah, tetapi nampaknya mereka tidak langsung mengambil kesimpulan.”
“Buat mereka kembali percaya, bahwa anggota Libra lah yang menghabisi anggota mereka!” Kata seseorang yang manjadi bos.
“Saya usahakan dan satu lagi, saya melihat Raga dan teman-temannya ke rumah sakit. Entah hanya menengok atau ada alasan lain.”
“Pastikan mereka tidak menemukan identitas kita, sebelum saya sendiri yang mengungkapkannya. Paham?” Lelaki itu mengetuk ujung lengan kursi tersebut sambil tersenyum tipis.