ONE LAST TIME

ONE LAST TIME
annyeong



Beberapa tahun berlalu, setelah acara wisuda mereka, antara Liu dan Annchi tak lagi pernah bertemu sekalipun. Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, Annchi dengan Ri.corp dan Liu dengan webbricknya, kedua perusahaan itu berkembang semakin besar dan besar. Baik keluarga Annchi atau Liu sama-sama sering membuat janji kencan buta untuk anak mereka, namun tak pernah berhasil, diam-diam annchi dan Liu masih memendam perasaan yang sama, namun mereka sibuk dengan pikiran yang sama , Annchi berpikir Liu hidup bahagia bersama Xiauwen, begitu pula Liu berpikir Annchi hidup bahagia bersama Shin. Liu diam-diam sering berhenti di depan perusahaan annchi hanya untuk memandangi punggung annchi yang sering kali lembur dan masih dengan kebiasaannya tidak bisa memakai hak tinggi, sesekali ia juga melihat Shin menjemputnya. Memandang punggung annchi dari kejauhan sudah membuat liu cukup bahagia.


Malam itu, begitu dingin, Annchi menuruni bis di halte dekat rumahnya, berjalan menuju rumahnya bertelanjang kaki. Tidak ada seorangpun di sepanjang jalan, lama berjalan Annchi melihat sebuah kotak tergeletak di salah satu bangku jalan, ketika Annchi mendekati kotak itu, sebuah catatan kecil tertempel di atas kotak itu. Annchi membuka kotak itu, terlihat sepasang flat shoes yang cantik dan sebuah catatan kecil.


"gunakan sepatu ini ketika kakimu lelah, kau akan melukai kakimu jika terus berjalan seperti itu" Annchi terkejut melihat catatan di dalam kotak itu, meskipun tak ada nama pengirimnya, ia hampir yakin sepatu itu dari Liu, di kehidupan sebelumnya, liu membelikan sepatu yang sama untuknya, bahkan memakaikan sepatu itu untuknya, Annchi berusaha menatap ke segala arah, berusaha mencari sosok Liu di sana, tapi tak ada siapapun di sana. Air mata annchi mulai berjatuhan, annchi duduk di bangku jalan itu dan menutup matanya, menangis sejadinya, ia merasa seperti di hukum seumur hidupnya. Menahan perasaan seperti ini benar-benar menyiksa.


"ya Tuhan, aku benar-benar merindukannya"


Tanpa di sadari Annchi, Liu yang sedari tadi melihat annchi dari kejauhan, ia merasa heran,


"mengapa annchi tiba-tiba begitu sedih ketika melihat sepatu itu? meskipun itu adalah sepatu yang sama dengan sepatu yang pernah ku berikan sebelumnya, tapi ia seharusnya tak pernah melihat sepatu itu, lalu kenapa dia begitu sedih?" batin Liu.


Setelah kejadian malam itu, setiap kali annchi pulang, ia selalu mengenakan sepatu yang Lih berikan, memakai sepatu itu, annchi seperti merasa Liu selalu berada di sisinya, memperhatikannya dan melindunginya. Itu hanya sepatu tapi begitu memiliki kenangan yang mendalam.


beberapa bulan berlalu, Annchi berada di kantornya, belakangan ini ia sangat sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangannya, Annchi sontak menatap ke arah pintu masuk, ia tak menyangka Yin muncul dari balin pintu, ia setengah berlari ke hadapannya. Menarik lengannya dan memeluknya dengan erat. Annchi terheran-heran di buatnya.


"Yin, bukankah kau berada di German saat ini? kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Annchi heran.


"annnnnnnnnnn, kau akan kaget mendengar berita ini, kau tahu, akhirnya Kak shin melamarku, whoaaaaaaaaa seperti mimpi menjadi kenyataan" senyuman di bibir Yin benar-benar tersirat kebahagiaan luar biasa, ia teringat di kehidupan lalunya jangankan memberitahu pertunangan mereka, bahkan secuil senyuman dari bibirnya pun tak pernah terlihat. Annchi merasa lega, ia benar-benar merubah takdirnya.


"benarkah??? wah selamat, akhirnya sekian lama berpacaran kalian menikah juga Yin, lalu dimana kak Shin?" tanya annchi


"dia masih di perancis, ia titip salam untukmu, ia bahkan meminta maaf tak memberitahumu secara langsung, ia begitu sibuk akhir-akhir ini" seru Yin


"tak masalah Yin, aku tetap berbahagia untuk kalian" senyum annchi


di sisi lain, Liu pun mendengar kabar yang sama dari Pink, betapa terkejutnya Liu mendengar kabar itu.


"Liu, kau kenapa? kenapa tiba-tiba diam seperti itu?" tanya Pink begitu khawatir


" darimana kau tahu Shin akan menikah dengan Yin, pink?" kemudian Pink menyodorkan kartu undangan pernikahan Shin dan Yin, Liu meraih kartu undangan itu.


***


Beberapa hari terlalui dengan cepat, hari ini adalah hari pernikahan Shin dan Yin, ayin dan shin menikah di sebuah kapal pesiar, begitu mewah, annchi datang menemui Yin di ruang tunggu pengantin wanita, Annchi terpesona melihat kecantikan Yin, begitu mempesona.


"Yin, aku tak tahu kau bisa begitu mempesona seperti ini" seru annchi memeluk sahabatnya itu.


"benarkah??? hufh, jika bukan karena mu waktu itu memintaku jujur pada perasaanku, kak shin mungkin masih hanya akan menjadi mimpi dan khayalanku ann, aku benar-benar berterimakasih kepadamu ann, kau benar-benar sahabatku" seru Yin memeluk annchi lebih erat.


"aku turut bahagia untukmu Yin" annchi tersenyum manis


"ann, sejauh ini kau terus sendiri, aku tak pernah melihatmu berkencan dengan siapapun, aku mulai mencurigaimu ann"


" ha?? mencurigaiku? maksudmu kau pikir aku menyukai wanita? ya Tuhan Yin, pemikiran dari mana itu? benar-benar bodoh!!!" seru annchi mencubit hidung Yin, tak berapa lama seseorang dari EO datang memberitahu acara akan segera di mulai, Yin mulai bersiap keluar ruangan, sambil berjalan keluar Annchi membantu Yin merapihkan ekor gaun Yin yang sedikit kusut, tak di sangka karena Yin berjalan terlalu cepat, Annchi yang tak biasa menggunakan hak tinggi dan lantai yang licin, annchi pun terpeleset, Sadar akan terjatuh annchi refleks menutup matanya, namun ia merasakan sebuah tangan kokoh menahan tubuhnya, menyelamatkannya dari rasa sakit terjatuh. Merasakan sebuah tangan menahannya, annchi dengan cepat membuka matanya, betapa terkejutnya ketika melihat sepasang manik mata yang ia kenal betul menatap lurus ke wajahnya, sepasang mata yang selalu ia rindukan keberadaannya, sepasang mata yang menyimpan sejuta rasa cintanya dan kenangan di dalamnya, beberapa saat pandangan mata mereka bertemu, dialah Liu.


Yin yang menyadari annchi tak berada di belakangnya, kemudian menoleh ke arah belakang, melihat annchi dan Liu, Yin tersenyum dan berdehem, membuat lamunan di antara mereka berdua pecah,annchi yang mematung menatap Liu beberapa saat lalu akhirnya sadar dan buru-buru bangun dan bediri. Annchi tak bisa menyembunyikan wajah paniknya yang mulai merona. Liu melihat wajah Annchi juga merasakan hal yang sama.


"ann, aku harus segera pergi, nikmati hari mu" seru Yin dengan mengedipkan satu matanya menggoda annchi, membuat annchi semakin malu, kemudian Yin meninggalkan mereka berdua. Annchi dan Liu saling menatap.


"apa kau tidak apa-apa? bagaimana dengan kakimu?" tanya Liu


"oh.. hehe.. aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja, terimakasih, kau menyelamatkanku"


"aku hanya kebetulan lewat, tak perlu berterimakasih" Liu tersenyum, melihat senyuman Liu, Annchi merasa sesuatu di hatinya yang beku mencair, begitu cair hingga terasa akan tumpah kemanapun.


"oh ya, kalau begitu aku harus menyusul pengantin wanita" annchi buru-buru melangkah pergi.


Annchi dan Liu merasakan hal yang sama,jantung mereka berdebar kencang, itu adalah kali pertama annchi dan Liu menatap sedekat itu. Mereka benar-benar saling merindukan satu sama lain.