ONE LAST TIME

ONE LAST TIME
AWAL



Aku mungkin bukan gadis sempurna, tapi berapa banyak gadis berharap menjadi aku. Namaku Annchi Ri, pewaris tunggal perusahaan ternama keluarga Ri, aku memiliki semua yang aku mau, tapi aku tidak memiliki hati yang ku mau. Apa yang bisa aku gambarkan dari diriku, tinggiku tidak lebih dari 167cm, aku perlu memakai sepatu hak tinggi untuk pergi ke kantor ku, kenapa? karena aku harus bertemu berbagai macam klien dari berbagai negara untuk perusahaanku, tau kan banyak di antara mereka tinggi semampai. Aku memiliki Assisten pribadi bernama Gioshi, karyawan terhebat sejauh ini, matanya selalu dingin, rambutnya selalu tampak berantakan tapi tampan.


2 bulan lagi aku akan menikah, menikah dengan pria yang aku pacari sejak bangku kuliah, Liu Yoshan. aku bertemu dengannya tidak sengaja, waktu itu aku sedang berjalan sendiri di pusat kota. Aku berjalan menyusuri setiap toko perbelanjaan di sana, dengan baju seadanya alias casual aku mengitari kota, berusaha hidup normal seperti orang normal, berbelanja, membeli ice cream, memandangi langit malam. Sibuk melihat langit sambil menikmati ice cream ku, disana ada sebuah taman indah dengan kelap kelip lampu, banyak tempat duduk yang di sediakan. Aku pilih duduk ke tempat dengan pemandangan langit tanpa penghalang sambil tetap memakan ice cream ku.


"hufh, indah sekali ternyata langit malam, seandainya aku tidak selalu sibuk dengan urusan kantor, aku akan pergi kesini setiap malam"


tak terasa setengah jam berlalu, aku masih terus memandangi langit, ponsel ku tiba-tiba bergetar, itu Yin, sahabatku.


" hei Ann, sedang apa? aku sedang sedih 😭😭, datanglah ke Redvelvet cafe, aku menunggumu, sekarang!!"


Dengan mengernyitkan dahi aku melihat pesannya dengan sejuta emote menangis, Yin adalah sahabatku paling sering galau, hampir setiap hari dia akan mengirimku pesan dengan emote menangis seperti ini, tiada lain tiada bukan karena pacarnya yang over protective.


" aku di taman Yongsan, kenapa kamu seperti tidak rela aku hidup tenang, selalu menyuruhku datang karena kamu sedih, ya Tuhan, sungguh menyesal bertemu denganmu di kehidupanku saat ini"


"jangan cereweeeeet! datang saja, aku tunggu!!"


Aku tak membalasnya , aku masih mematung duduk sendiri, baru akan beranjak pergi, titik-titik hujan tiba-tiba turun, semakin lama - semakin deras. Aku kembali duduk, menengadahkan tanganku menyambut hujan, seperti menikmati tetesan air menetes di tubuhku


" ahh,, hujan,, sudah berapa lama aku tidak merasakannya, ahh segar sekali" aku merasakan tetes demi tetes hujan yang jatuh dengan menutup mataku, tiba-tiba, jemariku tidak lagi merasakan tetesan hujan itu, dengan cepat aku membuka mataku.


"aaaaaaaaaaaaa ya Tuhan!!"


Aku terperanjat sangat kaget, ketika seraut wajah dengan mata biru tajam melihat ke arahku dengan memegangi payung melindungiku dari hujan, jarak wajahku dengannya hanya beberapa senti , wajahku yang basah terguyur hujan tiba-tiba memerah.


" hai kau bodoh ya? kau tau ini malam dan hujan, duduk di taman sendiri apa kau pikir ini aman? cari mati?"


" ti.. tidak, singkirkan payungmu, menahan hujan dengan payungmu berarti menahan kebahagiaanku, minggir!" Annchi segera berdiri memalingkan payung di hadapannya.


" kau benar-benar tidak tau sopan ya, mengagetkan orang dengan jarak wajahmu begitu dekat dengan wajahku, bagaimana kalau aku sampai teriak minta tolong, semua akan salah paham padamu" gumamnya


" dasar kau bodoh, aku datang karena kasihan padamu, aku kira kau gelandangan yang sengaja hujan-hujanan karena tak punya rumah, ternyata memang si bodoh yg ingin bermain hujan" celetuk Liu sambil menyentuh jidat annchi dengan telunjuknya berulang-ulang


" sudahlah minggir, aku tak butuh pertolonganmu" gumam annchi sambil beranjak pergi meninggalkan Liu.


Beberapa langkah Annchi pergi, dia sempat menoleh kearah Liu yang msih berdiri memandanginya pergi, saat menoleh, Annchi melihat Liu hanya tersenyum tajam, matanya yang biru, senyumnya yang dingin, rambutnya yang hitam, wajahnya yang tampan terus saja terngiang-ngiang di fikiran Annchi, hingga tak sadar dia menabrak seseorang di depannya.


"ma...maafkan saya tuan, saya tidak sengaja" gumam annchin yang masih sibuk membereskan isi tasnya yang berserakan karena jatuh, dia masih belum sadar dengan siapa dia bertabrakan. Laki-laki itu masih terdiam mematung melihat annchi membenahi tasnya, saat Annchi mendongakan kepalanya, dia baru sadar dia Gou Ran, Gou Ran adalah kaki tangan kepercayaan pemimpin perusahaan Fang, rival perusahaan Ri.


Saat itu Ayah sibuk meminta asisten Wang mencari tahu tentang rival perusahaan kami banyak sekali kejanggalan yang terjadi semenjak perusahaan Fang mengambil alih aset keluarga Zhang yang notabene pemilik perusahaan berpengaruh ketiga selain Ri.corp.


Ada banyak spekulasi beredar mengenai perusahaan Fang. Perusahaan Ri bergerak di bidang Fashion, semua stock kain, Ri serahkan kepada pihak ketiga, namun setelah perushaaan Fang mengakuisisi perusahaan Zhang, hampir 70% stock barang yang masuk ke perusahaan Ri berkurang dengan kualitas rendah.


"ma, maaf tuan, saya tidak sengaja menabrakmu tadi" Annchi mengulangi permintaan maafnya dengan sedikit gemetar, fikirannya menjadi kacau, firasatnya buruk,meskipun Annchi pernah belajar bela diri tapi tidak akan menang jika harus melawan Gou


"tentu saja nona Ann, kami khawartir dengan keselamatan nona cantik karena berjalan sendiri di malam hujan seperti ini", " apa kau butuh tumpangan nona atau butuh sedikit kehangatan?" wajah Gou begitu mencurigakan, melihat gelagat tak baik, Annchi sedikit kaget dia tau namanya karena dia tidak tahu bahwa Gou mungkin orang suruhan keluarga Fang, melihat itu Annchi segera meninggalkan Gou tanpa sepatah kata, merasa di tinggalkan Gou menarik tangan Annchi


" ayolah nona, terimalah bantuan ku menghangatkan tubuhmu yang kedinginan itu, aku jamin kau akan senang" rayu Gou kepada Annchi, Annchi langsung melepaskan tangan Gou, belum sempat Annchi melawan, Liu segera menarik tangan Annchi dan mendekapnya.


" sayang, apa dia mengganggumu?" tanya Liu sambil menyentuh dagu Annchi, Annchi yang merasa terganggu dengan dekapan Liu, ia berusaha melepaskan dekapannya tapi tak berhasil karena tubuh Liu lebih besar dibanding tubuhnya, sambil berbisik Liu mendekatkan wajahnya ke arah telinga Annchi dan berkata


" jika tak mau mati sia-sia, ikuti saja kataku, jadilah pacarku, aku akan melindungi mu" , mendengar itu Annchi hanya bisa mengernyitkan alisnya sambil berkata sinis


" jangan mimpi!" , " baiklah jika itu yang kau mau" Liu melepaskan dekapannya dan mulai berjalan meninggalkan Annchi, merasa terancam Annchi reflex memeluk Liu dari belakang dan berkata sedikit keras " maafkan aku, tetaplah disini" , ucap Annchi pada Liu, Liu kemudian berbalik arah memeluk Annchi dan berkata " baiklah, jika kau memaksa", dengan senyuman licik Liu mendekap tubuh mungil Annchi.



"ah sial,karena takut, aku harus melindungi diriku sendiri dengan berpura-pura seperti ini, memalukan sekali, hilang sudah harga diriku" gumam Annchi dalam hati.


" Tuan, dengar? dia wanitaku, jangan sentuh dia atau kau akan berurusan denganku" titah Liu pada Gou, tentu saja Gou tidak akan melepaskan targetnya begitu saja, dengan berani Gou tersenyum licik pada Liu " hah, tidak usah banyak bicara kau!! " tanpa basa basi Gou berusaha meninju Liu, dengan cepat ,Liu menghindar dan menarik tangan Annchi untuk berlari menghindari Gou. lama berlari Liu dan Annchi bersembunyi di lorong pertokoan, tempat itu sunyi dan gelap, Liu sibuk melihat kanan dan kiri untuk memastikan mereka telah aman


" hei, aku pikir kau akan berkelahi dengan pria tubuh besar itu, ternyata maksudmu melindungiku dengan cara melarikan diri?,, cih.. jika aku tau hanya begini caramu melindungiku, tak perlu aku memelukmu seperti tadi, kau tak tau be......" belum sempat annchi menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Liu mencium bibir Annchi, begitu dalam, begitu lembut bibirnya menyentuh bibir Annchi, Annchi berusaha melepaskan Liu namun nihil, Tangannya degenggam erat oleh Liu,


" sudah, hentikan ocehan mu, kau hanya harus berterimakasih aku menyelamatkanmu, ku harap kita akan bertemu lagi besok, ingat, kamu pacarku mulai hari ini " gumam Liu dan mencium Annchi untuk kedua kalinya. Jantung Annchi seperti akan keluar dari tempatnya.


Sesaat kemudian Liu melepaskan ciumannya seraya berkata "sudah aman, aku pergi , sampai jumpa di lain waktu", kemudian Liu meninggalkan Annchi dengan sebuah senyuman dan kedipan mata. Annchi masih tertegun tidak percaya, ciuman pertamanya harus berakhir di bibir orang asing. Wajahnya membekas dalam pikiran Annchi, jantungnya masih berdegup kencang.


Terimakasih sudah membaca 😍😍🙏 jangan lupa coment da Like nya yaaaa 👌👌