
"liu, datanglah ke apartemenku temani aku minum" begitulah yang tertulis di WA Liu, waktu sudah menunjukan jam 23:03, Liu menatap dalam-dalam pesan di ponselnya itu.
" wen, kenapa kau jadi seperti ini?" batin Liu yang langsung beranjak menuju apartemen Xiauwen, sesampainya di sana, Liu membuka pintu dan melihat Xiauwen duduk di meja bar sambil memegangi gelas alkoholnya. Menyadari Liu datang, Xiauwen langsung tersenyum, mata Xiauwen berkaca-kaca. Liu mendekat.
"apa aku bermimpi? huh? aku tak memaksamu datang dengan ancaman dan sekarang kau datang, ini hal yang jarang terjadi" seru xiauwen menatap liu
"kau ini, kau sedang hamil wen, jauhkan minuman-minuman itu dari mu" jawab Liu sambil menyingkirkan gelas xiauwen tapi tangannya ditepis, Xiauwen 1/2 mabuk.
" biasanya aku harus mintamu berulang-ulang , menelfonmu berulang-ulang agar kau datang, tapi kau tak juga datang, apa karena aku bilang ingin minum kau jadi khawatir?"
" kenapa kau jadi seperti ini wen?" tanya Liu mengabaikan pertanyaan Xiauwen sebelumnya
"kau masih bertanya kenapa aku begini? apa kau bodoh?"
" sampai di detik ini aku masih berfikir, bertahun-tahun lalu aku sering menyatakan cinta padamu, kau tak pedulikan aku, bahkan kau sengaja membuatku melihat pria mana saja yang kau kencani hampir setiap malam, saat aku menyerah dan meninggalkanmu kenapa kau malah melakukan ini padaku? apa menurutmu aku tak berhak bahagia?" seru Liu sambil menuang whiskey dan meminumnya
"ya aku ingat, aku minta maaf, aku tak berfikir kau akan berpaling, aku melihat cinta di matamu padaku begitu besar dan setiap kali aku melihatmu cemburu karena pria-pria itu sungguh menggemaskan, ketika aku tahu kau memiliki annchi di sampingmu, awalnya ini akan biasa saja, tapi melihatmu jauh dan tak peduli padaku lagi, ternyata ini begitu menyakitkan, secara tak sadar aku sudah mencintaimu hingga sekarang, Liu, katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kau mau menerimaku?"
" melihatku cemburu membuatmu senang, apa tidak ada alasan yang bisa ku terima lebih baik lagi wen? gugurkan kandunganmu wen, aku mohon biarkan aku bahagia dengan annchi dan kau bisa melanjutkan hidupmu dan masa depanmu"
"plakkkkk" tamparan keras mengenai pipi liu
" tamparan dari mu tak cukup keras untuk membangunkanku dari semua mimpi buruk ini wen, sesujurnya aku rindu denganmu yang dulu, aku bahkan tak mengenalmu lagi saat ini" seru liu
" liu, lihat aku baik-baik, apa kau tak lihat aku sekarang mencintaimu sampai gila?" seru xiauwen sambil memegangi pipi Liu
" aku tak melihat cintamu di sana wen, yang ku lihat hanya perasaan ingin memiliki ku, aku tak peduli bayi yang kau kandung itu anak ku atau bukan selamanya aku takan peduli, satu-satunya anak yang akan aku akui menjadi anakku hanya anak yang berasal dari rahim Annchi, baiknya kau pertimbangkan lagi keputusanmu mempertahankan anak itu" seru Liu sambil beranjak dari tempat duduknya
" liu, jika aku tak bisa berada di sisimu, maka orang lain pun tak akan bisa"
" jangan berani menyentuh annchi 1 inch pun, jika kau lakukan aku takan memaafkanmu"
" sebenarnya kenapa kau bisa mencintainya sampai seperti ini?"
" seluruh tubuh dan hatinya nya luar maupun dalam adalah alasan aku mencintainya"
" ajari aku agar kau bisa kembali ke sisiku"
" menjauhlah dari hidupku dan berhentilah mengacaukan kebahagiaanku wen"
mendengar jawaban Liu, air mata Xiauwen sungguh tak bisa terbendung, dia tak menyangka kata-kata yang tak mungkin di ucapkan beberapa tahun belakangan sekarang malah menjadi kata-kata yang sering di ucapkan oleh Liu, Kesalahannya tak mungkin tak bisa di maafkan, Anak di perutnya adalah satu-satunya cara agar Liu mau menemuinya dan berada di sisinya meskipun hanya pura-pura. Jika dia membunuh anak ini, mungkin bahkan melihatnyapun Liu tak mau.
🎶If I had just one more day
I would tell you how much that I've missed you
Since you've been away
Ooh, it's dangerous
It's so out of line
To try and turn back time
I'm sorry for blaming you
For everything I just couldn't do
And I've hurt myself by hurting you🎶
***
beberapa hari berlalu, inilah hari annchi dan Liu mencoba baju pengantin yang akan mereka gunakan. Annchi sudah mengundang Yin untuk datang juga.
seru liu mengetik pesan untuk Annchi
" hufh dia ini cerewet sekaliiiii" batin Annchi sambil setengah berlari menuju mobil Liu, Annchi melihat liu berdiri bersandar di mobilnya. Sesampainya di hadapan Liu, liu langsung mencubit kedua pipinya gemas
"aaa aau sakiit" seru annchi sambil melepaskan cubitan Liu
" kenapa kau begitu lama?? aku hampir jadi ikan asin di sini menunggumu"
" ya jadilah ikan asin, aku tak peduli"
" lalu kau menikah dengan ikan asin begitu? benar-benar minta di cubit lagi" jawab Liu mencibit pipi anchi kedua kalinya
" liuuuuuuuuuuuu sakit"
" sudah ayo masuk, diane sudah menunggu"
seru Liu sambil membukakan pintu untuk annchi dan menjalankan mobilnya
. Sesampainya di sana Diane sudah berdiri menyambut mereka
" oh ya Tuhan, kalian tahu tidak waktuku sangat mahal" seru diane sambil memeluk annchi dengan senyuman
" haha maaf diane"
" sudah tak apa, mari masuk dan cobalah gaun mu" seru Diane sambil meminta Annchi memasuki ruang ganti.
beberapa saat kemudian, tirai kamar ganti di buka , Liu yang sedang duduk dan membaca beberapa majalah langsung menatap wajah annchi tak berkedip, melihat Liu tak berkedip seperti itu, diane langsung menepuk bahu Liu
" bagimana? apa mau di pandangi terus?" tanya diane
" eehem,, ya bagus, tapi diane bisakah kau merubah sedikit bagian dada dan bahunya? apa itu tak terlalu terbuka? aku tak ingin tubuhnya dilihat banyak orang" tanya Liu
" hah benarkah, aku pikir ini sempurna liu" seru annchi membantah, mendengar itu Liu langsung mendekap Annchi dari belakang,
" ya baju ini sempurna tapi tubuhmu akan di lihat banyak mata, tubuhmu hanya aku yang boleh lihat"
" hei heiii,,,, tidak bisakah kalian simpan kemesraan itu saat malam pertama nanti, kalian membuat ku sadar aku single , begitu iri melihat kalian" seru diane sambil tersenyum, mendengar itu annchi menjadi salah tingkah, mencoba melepaskan dekapan Liu tapi tak bisa, ia melihat wajah Liu hanya tersenyun
" hei diane, baiknya kau cari seseorang agar tak perlu iri pada kami, apa perlu aku carikan?hehe" seru liu menggoda diane
" boleh, carikan aku yang tampan dan mapan seperti mu oke?" jawab Diane sambil tertawa
" jangan seperti dia diane, kau akan menyesalinya nanti" seru Annchi
" jadi maksudmu, kau menyesal memiliki ku?"
" iya benar, tak ada yang baik di dirimu" seru annchi
" begitukah? coba katakan sekali lagi" seru Liu sambil mencubit pipi annchi
" kalian memang serasi, aku benar-benar iri" seru diane tertawa
"
x