
Setelah melihat bukti dan mendengar penjelasan Gavin, untuk kesekian kalinya ia merasa di bohongi, sekali lagi annchi merasa semua orang mempermainkannya.
"kenapa tak ada satupun di antara mereka yang bisa aku percaya?" isak annchi.
"ann, ternyata kau di sini, aku mencarimu kemana-mana" Terdengar suara Liu berada di balik tubuh annchi, terdengar jelas nafasnya tersengal-sengal, annchi membalikan tubuhnya menghadap Liu. Annchi menatap Liu dengan air mata berderai.
"apa kau sudah percaya padaku ann? aku sama sepertimu, mereka menjebakku" seru Liu mendekap tubuh annchi
"seandainya kau memiliki keberanian untuk berkata jujur padaku dari awal, ini semua tidak akan terjadi Liu"
"satu-satunya alasanku, aku takut kehilanganmu ann, aku terlalu mencintaimu, apa sekarang kau percaya padaku?"tanya Liu melepaskan dekapannya dan menatap wajah Annchi. Annchi mengangguk.
" apa sekarang kita bisa bersama lagi seperti dulu?" tanya Liu dengan tatapan penuh harap. Annchi menjawabnya dengan gelengan kepala, membuat Liu menatap annchi dengan heran.
"kenapa? apa semua bukti ini belum cukup untuk mu?"
"bukan, sejujurnya, aku pagi tadi aku sudah menghubungi pengacaraku untuk membatalkan perceraian kita, tapi ayah mengekang keputusanku, ia begitu kecewa padamu" Mendengar perkataan annchi, Liu tersenyum dan menarik tangan Annchi.
"ki..kita mau kemana?" tanya Annchi berjalan di belakang Liu.
" ketempat ayahmu, meminta restunya untuk yang kedua kalinya" seru Liu menatap annchi sambil tersenyum.
Sesampainya mereka di rumah Yizhen, mereka di sambut oleh assisten Wan.
"selamat malam nona Annchi, tuan muda Liu"
"Paman, apakah ayah mertuaku ada di dalam?" tanya Liu
"tuan besar sedang bersama nyonya besar di halaman belakang, namun sesuai perintah tuan besar, tuan muda Liu tidak di perkenankan masuk" jawab Paman wan.
"paman, biarkan Liu masuk, aku yang bertanggung jawab" seru annchi
"maaf Nona, saya akan tetap mencegahnya masuk, bagaimanapun ini perintah"
"Baiklah ann, masuklah dan bicaralah pada ayahmu aku ingin bertemu, aku akan menunggumu di sini" seru Liu pada annchi. Annchi menatap wajah Liu dan mengangguk setuju
"mengesankan, Pria ini bahkan berani bertemu dengan ayah setelah apa yang sudah terjadi, tidak ada keraguan dan takut di raut wajahnya" batin Annchi,
Beberapa lama Liu menunggu, akhirnya Annchi kembali.
"Liu, apa kau yakin? ayah saat ini benar-benar marah padamu, dia yang sekarang sama sekali berbeda dengan dia yang dulu, aku khawatir padamu"
" tak perlu khawatir dia tidak akan membunuhku, hehe, aku ingin kau ingat ini ann, aku akan melakukan apapun untuk bersamamu, jangankan bertemu dengan ayahmu, nyawakupun pernah aku pertaruhkan untukmu, oke?"
"baiklah, ia menunggumu di halaman belakang" seru Annchi.
"ann, tunggulah di sini"
"ta..tapi"
" ini pembicaraan antar pria, kau tak perlu tahu" seru Liu sambil mengedipkan satu matanya dan tersenyum. Annchipun mengangguk.
Annchi kemudian menunggu Liu di ruang tengah bersama ibunya, 30menit berlalu, tapi Liu masih belum menampakan wajahnya, Faliu hanya tersenyum melihat raut wajah khawatir anaknya itu.
"sudah lah ann, ayahmu takan memakan Liu, tak perlu berlebihan"
"tapi aku tetap saja khawatir bu"
"hehe.. tapi ibu kagum loh dengan tekad Liu itu, sangat bertanggung jawab. Benar-benar pria idaman" seru ibunya senyum-senyum menatap Annchi.
" kau berlebihan bu, memang seharusnya dia menjelaskan semua hal kan pada ayah agar ayah tak salah paham"
"tapi ann, kalau dia tak mencintaimu, ia akan dengan mudah berpaling, apalagi kau yang berinisiatif menceraikannya, dengar-dengar asisten Liu sangat cantik kan ann?"
"siapa yang bilang dia cantik?" seru Annchi menekuk wajahnya, lagi-lagi karena cemuburu.
"wah, ada aroma kecemburuan rupanya, ternyata betul-betul cantik ya ann? haha"
"ibuuuuuu, berhentilah menggodaku!!! sudah aku tak peduli, aku akan ke halaman belakang, melihat apa yang terjadi, menunggu mereka seperti ini aku bisa gila!!" seru annchi tak sabar melangkahkan kakinya menuju halaman belakang rumahnya, di ikuti Faliu. Yang terbayangkan oleh Annchi adalah ayahnya sedang memarahi Liu habis-habisan, mengekang semua usaha Liu untuk kembali bersamanya dan berencana mengusirnya seumur hidup dari keluarga Ri namun bayangannya buyar seketika ketika Annchi sampai di hadapan 2 pria beda usia itu. Annchi malah menemukan ayahnya dan Liu tertawa bersama menyeruput kopi sambil bermain catur. Terlihat sangat santai. Wajah Annchi benar-benar terheran-heran. Melihat Annchi dari arah pintu, Yizhen tersenyum dan memanggilnya. Annchi kemudian mendekati ayahnya.
"ka..kalian, kenapa malah tertawa dan bermain catur, aku kira kalian akan bertengkar" seru Annchi sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah ayah dan Liu. Liu tersenyum melihat wajah keheranan annchi.
"apa yang kau harapakan ann? apa kau berharap ayahmu akan memarahi ku habis-habisan kemudian mengusirku?" tanya Liu
"tentu saja, melihat reaksi ayah ketika aku membatalkan perceraian pagi tadi aku tak berpikir ia justru bisa tertawa saat bersamamu saat ini, ka..kau bagaimana bisa?"
" sudahlah ann, ini rahasia para pria, kau tak perlu tahu, baiknya kalian kembali ke rumah kalian" seru Yizhen
" ta..tapi yah"
" ann, ayahmu takan bisa menemukan menantu seperti Liu lahi, dia takan mungkin melepaskannya begitu saja, liu baiknya kau ajak istrimu pulang " seru faliu menahan tawanya. Mendengar perkataan Faliu, Liu tersenyum malu.
" baiklah kalau begitu, ayah ibu aku akan membawa annchi pulang, oia aku akan pastikan kalian mendapatkan cucu secepat mungkin" perkataan Liu membuat Yizhen dan Faliu tertawa, Annchi mendengar itu tak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"ayo kita pulang ann" seru Liu kemudian mengangkat tubuh annchi kendalam pelukannya dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
"kyaaaa,, Liu turunkan aku, ya Tuhan kau benar-benar tak tahu malu!!!" seru annchi
,