ONE LAST TIME

ONE LAST TIME
Mengubah takdir



Hari demi hari berlalu, annchi dan Liu beberapa kali berpapasan, setiap kali mereka berpapasan, ada suara gemuruh di dalam hati mereka masing-masing, berpura-pura tak terjadi apapun dan berpura-pura tak saling mengenal satu sama lain itu sangat menyiksa. Di antara kesendiriannya, mereka diam-diam saling mendoakan satu sama lain, diam-diam saling mencari tahu kabar masing-masing, diam-diam memendam perasaan yang sama.


Banyak hal yang annchi lewati, Annchi tak pernah lagi kabur dari rumahnya untuk menghirup udara malam, hal itu untuk menghindari insiden penculikan yang berakhir di atas ranjang bersama Liu,insiden itulah awal mula tragedi di kehidupan mereka sebelumnya, ia berusaha keras menghindarinya. Begitu juga dengan Liu, berhari-hari hanya sibuk dengan urusan kampusnya,menjaga jarak dengan xiauwen bukanlah hal yang mudah, berusaha keras menjauh tanpa membuat xiauwen curiga, ia mulai berhenti memilihkan teman kencan untuk xiauwen, berhenti menemaninya datang ke club malam, berhenti mengatur hidupnya agar ia tak pernah salah paham.


Seperti kejadian siang itu xiauwen datang menghampirinya di kantin kampus, Liu sedang berkonsentrasi dengan laptopnya, tiba-tiba Xiauwen duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di atas bahu Liu, seluruh mata memandang xiauwen. Membuat Liu sangat risih, bagaimanapun ingatannya pada gadis di sebelahnya ini sangat buruk, kali ini ia harus mengulang situasi seperti ini. Melihat wajah Xiauwen sangat memuakkan. Dengan cepat Liu menepis kepala Xiauwen dari bahunya.


"hentikan wen, berapa banyak mata memandang kita dengan pandangan jijik, lihatlah" seru Liu tanpa menatap Xiauwen, ia hanya sibuk menatap layar kaca laptop di hadapannya.


"Liiiu kenapa akhir-akhir ini kau begitu dingin padaku??? aku salah apa?" kemudian Liu menatap Xiauwen


" berhentilah merengek wen, kita sudah dewasa, jangan bertindak kekanakan, hentikan, aku tak menyukainya" mendengar perkataan Liu, xiauwen terheran-heran, biasanya meskipun dingin, liu tak pernah sedingin itu padanya.


"Liu, bukankah biasanya kau menyukai aku di dekatmu, kenapa kau berubah hanya dalam beberapa hari saja? apa kau sedang menyukai orang lain?" tanya xiauwen, Mendengar itu Liu menghentikan jentikan jarinya di atas papan keyboard, menoleh menatap gadis di sampingnya itu dan menghela nafas panjang.


"wen, apa kau menyukaiku??" tanya Liu dengan sorotan mata yang tajam


"a..aku..hufh.. kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti ini? membuat jantungku berdebar liu"


"jika pertanyaan seperti ini membuatmu berdebar, aku sudah tahu jawabannya. wen, perlu aku perjelas beberapa hal padamu, pertama, aku tak sedang menyukai siapapun, kedua, aku selalu menganggapmu sebagai adiku sendiri wen, tak lebih, ketiga, aku tak ingin kau salah paham lebih jauh,aku tak menyukaimu seperti seorang pria menyukai wanita wen, aku menyukaimu seperti adik dan kakak, apa kau mengerti?" tanya Liu.


"ke..kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu? kenapa kau tak menyukaiku seperti pria dewasa menyukai wanita dewasa?"


"entahlah, yang jelas, berhentilah bermain dengan banyak pria, mulailah fokus dengan karirmu, hidupmu, berhentilah bermain-main, jika tidak, kau akan sangat menyesal wen, aku dengar kau mendapatkan kontrak dengan majalah ternama Vogue german, kenapa kau tak pergi mengambilnya, itu langkah luar biasa untuk karirmu" perkataan Liu begitu aneh di telinga xiauwen


"dari kapan ia memperhatikan pekerjaannya sebagai model, bukankah biasanya dia melarang aku ini dan itu, kenapa tiba-tiba berubah, aku juga tak pernah mendengar ia dekat dengan siapapun, mungkin yang di katakan Liu benar" batin Xiauwen


" ya..ya.. baiklah, kakak tersayang, aku akan pergi menandatangani kontrak itu, aku akan menjadi model besar, jangan sampai menyesal jika suatu hari aku menikah dengan orang lain"


"tidak akan, aku juga mendengar kau dekat dengan anak pengusaha kaya bernama Gavin, aku dengar dia sangat baik, bagaimana jika kau bersamanya, kelihatannya kalian sangat cocok" seru Liu, kali ini Xiauwen benar-benar tersentak kaget, Xiauwen meletakan punggung tangannya ke kening Liu.


" apa kau sakit? kenapa tiba-tiba kau tak terlihat seperti ahli IT tapi malah terlihat seperti cenayang??? bagaimana kau tahu hubunganku dan Gavin?"


"cenayang? hehe, percayalah padaku, kau akan hidup bahagia bersamanya, kau akan mendapatkan sokongan luar biasa jika kau menikah dengannya, dia juga cukup tampan, bukankah kau juga menyukainya?" tanya Liu, membuat wajah Xiauwen memerah.


"sudah sana, pergilah, aku harus mengerjakan tugasku"


"oke..oke.. baiklah aku pergi dulu, jika aku menerima perkerjaan dari vogue, aku takan bisa melihatmu beberapa lama, jangan merindukanku ya"


"hehe" liu tertawa sinis "selamanya takan merindukanmu wen" mendengar itu xiauwen tertawa sinis. Kemudian ia berlalu dari hadapan Liu. Liu menoleh memandang punggung xiauwen. Bahkan berharap ini adalah pertemuan terakhirnya dengan gadis itu. Rasa bencinya pada xiauwen di kehidupannya yang lalu tak bisa ia tutupi begitu saja.


***


Beberapa hari lalu annchi mendapatkan pesan singkat dari Shin, ia katakan akan pulang segera, setelah pulang ia akan menemuknya. Seharunya jika tidak salah ingat, hari yang di maksudnya kala itu adalah hari ini, pagi ini ia akan menunggu annchi di bawah dengan senyumannya yang lembut. Annchi menghela nafas. Benar saja, beberapa saat membatin, Faliu mengetuk pintu kamar annchi, mengatakan Shin menunggunya di bawah. Annchi mengangguk dengan senyuman, kemudian Faliu menutup pintu kamar anaknya. Beberapa saat ia berdiri di depan pintu kamar annchi, Faliu menyadari beberapa hari ini annchi begitu aneh, bahkan berubah seperti bukan anaknya. Setiap kali ia bertanya tentang hal ini, annchi tak pernah menjawabnya dengan serius.


lama berselang, annchi pun keluar dari kamarnya, menuruni setiap anak tangga, perlahan ia melihat sosok yang ia rindukan selain Liu. Ingatan wajah terakhir shin kala itu masih tertanam kuat di ingatannya, sekarang ia akhirnya melihat lagi sosok yang sempat hilang itu, senyuman di sudut bibirnya masih terlihat sangat lembut, sosok yang pernah membuatnya sangat menyesal pernah hidup karena membiarkannya mati di hadapannya begitu saja. Annchi setengah berlari memeluk Shin, merasakan hangatnya lagi dekapan pria di hadapannya ini. Selamanya ia tak ingin melihat Shin mati sia-sia seperti di kehidupannya yang lalu.


"apa kau sangat merindukanku ann? pelukanmu begitu kuat?" seru Shin tersenyum


"ya tentu saja merindukanmu, aku sempat bermimpi buruk kau mati di hadapanku kak, aku melihat prosesi pemakamanmu dan tak berhenti menangisimu setiap hari, aku bersyukur itu hanya mimpi buruk" seru Annchi pada Shin, kemudian melepaskan dekapannya.


"ya ku harap begitu kak"


kemudian Shin membawa Annchi berjalan-jalan,pergi ke restoran seperti di ingatannya sebelumnya, tapi kali ini tak ada tanda merah di lehernya, semuanya baik-baik saja, ia juga pergi ke taman Yongsan di akhir perjalanan mereka. Annchi menatap wajah Shin yang juga terlihat bahagia. Perlahan Shin menggengam tangan Annchi. Shin menatap wajah Annchi yang mulai canggung itu. Dari dalam jas nya ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dan menyodorkannya pada Annchi, annchi terperanjat kaget.


"a..apa ini kak?" tanya Annchi sambil membuka kotak kecil itu, ia melihat sebuah cincin permata yang indah


"ann, aku tahu ini terlalu cepat untukmu, tapi aku begitu menyukaimu, maukah kau menikah denganku setelah kau lulus nanti ann?" tanya Shin, annchi tak dapat menyembunyikan wajah kagetnya di hadapan Shin.


"ternyata jika dulu aku tak melakukan apapun dengan Liu, inilah yang di rencanakan Shin untukku, pantas saja ketika ia mengetahui aku berpacaran dengan Liu, Shin sangat terpukul, betapa jahatnya aku saat itu, tapi apa bedanya kali ini juga aku harus menolaknya, satu-satunya orang yang aku ingin hidup bersamanya adalah Liu, tapi di kehidupan ini aku tak bisa memilih siapapun, baik Liu ataupun shin, jika mereka bersamaku, tragedi itu akan terulang lagi" batinnya, Annchi menatap wajah Shin dalam-dalam, sesaat ia menghela nafasnya.


"kak, maafkan aku, aku tak bisa"seru Annchi, wajah Shin berubah.


"kenapa ann?apa kau tak menyukaiku? atau apa kau sedang menyukai orang lain? siapa laki-laki itu?"


"tidak kak,aku tak mungkin tak menyukaimu, kau pria sempurna, kau mimpi semua gadis dan aku juga tak sedang menyukai siapapun, hanya saja aku menganggapmu sebagai kakakku, hubungan kita terlalu baik, akan ada sebuah kecanggungan jika tiba-tiba aku harus memanggilmu suamiku kelak, hatiku tak mengizinkan hal itu kak dan lagi, ada seseorang yang begitu mencintaimu sejak dulu, kau hanya tak menyadarinya" seru, annchi, mendengar itu Shin mengernyitkan dahinya


"ada seseorang yang mencintaiku sejak dulu? siapa?" tanya Shin penasaran


"dia Yin kak, dia menyukaimu sejak lama, bahkan mungkin sejak pertama kali ia melihatmu, mungkin juga jauh sebelum kau mulai menyukaiku" wajah Shin terlihat begitu kaget mendengar ucapan Annchi " apa aku boleh tahu kak, jika kau benar menyukaiku, kenapa kau menolak tawaran perjodohan ayah kala itu" mendengar pertanyaan Annchi, Shin terdiam beberapa saat.


Shin mengingat kejadian beberapa tahun lalu, sebenarnya yang membuatnya ragu untuk menerima perjodohan Yizhen kala itu karena ia masih terlalu muda dan juga ia bimbang dengan perasaannya, sejujurnya ia menyukai Yin tapi juga menyukai annchi dalam satu waktu, hingga yizhen bertanya tentang perjodohan itu, ia terlalu bimbang hingga akhirnya menolaknya. Itulah yang sebenarnya terjadi.


"waktu itu aku terlalu terkejut dengan permintaan ayahmu ann, aku masih muda kala itu, hatiku di penuhi rasa bimbang, sehingga aku menolak tawaran ayahmu" jawab Shin


"kau bimbang karena kau juga menyukai Yin bukan?"


"ya kau benar ann, tapi itu dulu, sekarang aku hanya menyukaimu" seru Shin


"kak, sejak dulu Yin juga menyukaimu, menunggu waktu untuk bersamamu, sedangkan aku hanya menganggapmu sebagai kakakku, membuang perasaan Yin sama saja seperti membuang sebuah berlian untuk sebutir jangung kak, apakah kau benar akan melepaskannya?" tanya Annchi serius


" entahlah ann, itu hanya cerita lama, kali ini; hanya menyukaimu, tapi jika alasanmu menolakku karena ini, aku bisa bicara pada Yin"


"yin mungkin setuju kau menyukaiku, tapi bagaimana dengan perasaanku?aku tak yakin bisa merubahnya kak, bisakah kau tetap seperti ini? bisakah kita tak berubah sama sekali kak?"


" baiklah, tapi apa kau yakin kau tak sedang menyukai pria lain?" tanya shin


" sejujurnya, aku sangat menyukai seorang pria, tapi ia telah pergi selamanya kak, aku tak mungkin lagi bersamanya" seru annchi dengan wajah sangat sedih


"maksudmu dia meninggal?"


"mungkin, bisa di bilang begitu" annchi tersenyum tapi tak kuasa menahan air matanya, Shin menatap annchi dan mendekapnya, dari raut wajah annchi, Shin hampir yakin Annchi sedang tak berbohong, ia tak pernah melihat annchi sesedih itu sebelumnya.


dari kejauhan Liu menatap Shin memeluk wanita yang paling ia cintai, rasa cemburu tentu saja menyelimuti hatinya, tapi apa daya, ia tak lagi sanggup mencegahnya.


" sekarang aku benar-benar akan melepasmu ann, bahagialah bersamanya" seru Liu sambil meninggalkan tempat itu.