ONE LAST TIME

ONE LAST TIME
KARMA



Di samping kebahagiaan yang di rasakan Annchi dan Liu, mereka tidak tahu hal yang mengerikan telah terjadi pada Xiauwen, beberapa hari yang lalu, Zhen mengetahui keberadaan Xiauwen yang menghilang dari kediamannya, Xiauwen tahu hal ini akan terjadi, tapi tak pernah berpikir bahwa Yin yang akan mencarinya. Awalnya Ia berpikir pasti keluarga Hua lah yang akan mengirimkan orang untuk membalaskan dendam mereka, tapi Xiauwen salah. Sejak Gavin menghubunginya terakhir kali, Xiauwen di rundung rasa takut yang begitu besar di dalam hatinya,ia tak bisa mengelak bagaimanapun di tangan suruhanyalah Shin meregang nyawa.


Siang itu, Xiauwen hendak kabur ke luar negeri untuk menghindari apa yang akan terjadi padanya, dalam perjalanannya menuju bandara, beberapa mobil van hitam menghentikan paksa mobil yang di tumpanginya, dari mobil-mobil itu keluarlah beberapa orang berpakaian hitam mendobrak kaca mobilnya dan membuka paksa pintu mobil xiauwen, saat itu hanya supir yang membelanya tapi tentu saja tidak cukup, supirnya meregang nyawa dengan cepat. Baru kali itu Xiauwen merasakan takut yang teramat sangat di dadanya, tubuhnya dengan cepat di seret oleh pria berbadan besar itu, tak ada wajah bersahabat dari wajahnya, hanya aura membunuh yang ia rasakan. Xiauwen berusaha memberontak sekuat tenaga, namun satu pukulan di tengkuk belakang kepalanya sudah cukup membuatnya tak sadarkan diri, ketika ia sadar, tubuhnya telah terikat kuat pada sebuah ruangan yang hampir gelap. Hanya lampu temaram di tengah ruangan meneranginya. Saat Xiauwen sadar, perlahan ia membuka matanya, ia merasakan ousing luar biasa di kepalanya, samar-samar ia melihat beberapa orang berbaju hitam dengan tubuh besar memandanginya, berdiri tak jauh dari hadapannya, di depan pria-pria besar itu, terlihat seorang gadis yang tentu saja tak asing di ingatannya, Yin dan Xiauwen bekerja di dunia yang sama,tentu saja ia tak asing pada sosok Yin.


"Bu..bukankah dia Yin? kenapa dia bisa di sini?" batin xiauwen dalam hati. Melihat pandangan Xiauwen menatapnya lurus, Yin tahu apa yang sedang di pikirkan oleh gadis di hadapannya itu.


"xiauwen, apa kau saat ini sedang keheranan melihatku dan bertanya-tanya kenapa aku bisa di sini bersamamu?" tanya Yin dengan nada sinis


"kenapa kau bisa di sini? kenapa kau membawaku ke sini dengan cara seperti ini? aku tak punya masalah denganmu!"


"tak punya masalah denganku? haha itu lelucon yang paling konyol yang pernah aku dengar!!!" Xiauwen mencoba menangkap apa yang di katakan yin, mencoba memahami yang terjadi.


"wen, aku dulu menganggapmu gadis cantik yang selalu baik, tapi ternyata di belakang kamera kau seperti iblis, kau adalah seniorku di dunia modeling tapi kenapa kau bisa sekejam itu, apakah kau tak tahu hubunganku dengan Shin? apakah karena sudah terlalu lama kau menghilang dari duniamu jadi sampai kau tak tahu hubunganku dengan Shin???" sambung Yin, membahas Shin, matanya mulai berkaca-kaca, perasaan dan luka di hatinya masih sama. Tak sedetikpun ia melupakan senyuman Shin. Mendengar perkataan Yin, Xiauwen baru ingat, Yin adalah calon tunangan Shin. Keringat dingin seketika membanjiri tubuh Xiauwen. Yin beranjak dari tempat duduknya dan mendekati tubuh Xiauwen. Ia berhenti dan jongkok tepat di hadapan Xiauwen. Melihat wajah Xiauwen yang pucat, Yin tersenyum sinis.


"kenapa wajahmu sepucat itu? apa kau sekarang menyadari apa yang akan terjadi padamu, huh?" Yin memegangi dagu Xiauwen , menatap lurus ke manik mata Xiauwen. Xiauwen merasa seperti seekor kelinci yang di lilit ular. Sesak.


"aku mohon Yin, aku tak pernah berencana membunuh Shin, aku hanya ingin menghabisi Annchi, tak kusangka tunanganmu begitu melindungi gadis itu!jadi tolong Yin jangan seperti ini padaku!"


"lalu apa aku harus menangis sendiri? kau juga harus merasakan apa yang aku rasakan, kehilangan orang yang kau cintai wen!!" seru Yin sambil melangkah menjauhi Xiauwen


"ma..maksudmu a..apa Yin?"


"haha.. kau tahu apa yang aku maksud wen" seru Yin tertawa licik tanpa menoleh


"YIN JANGAN SENTUH LIU, AKU MOHON!!!"


" berharaplah dalam mimpimu wen!!" Yin ingin Xiauwen menderita sampai ketulang-tulangnya, ia melangkah pergi dengan melirik beberapa pengawal dan tersenyum.


"dia model terkenal, buat dia puas, jangan sampai mengecewakannya!!" mendengar yang di katakan Yin, Xiauwen seketika tahu maksud Yin berbicara seperti itu pada beberapa pria di sampingnya, Pria-pria itu tersenyum dan melangkahkan kakinya mendekati Xiauwen


"tenang nona xiauwen, kami akan melakukannya dengan lembut, kami akan membuatmu puas!!"


"Ma..mau apa kalian!! jangan sentuh aku,, jangan.. JANGAAAAAAANNNN!!!!!"


"Annchi, lihat aku membalaskan apa yang kau rasakan, pelacur akan tetap jadi pelacur, bukankah aku baik padamu, tapi sayang kau juga harus merasakan yang dia rasakan" batin Yin.


Setelah memasuki mobil, Yin mendapatkan kabar bahwa Liu dan annchi akan berangkat ke Venice besok, senyuman di raut wajahnya berubah menjadi dingin, tentu saja Yin tidak akan membiarkan Liu dan Annchi berbahagia di atas penderitaannya. Rencana jahatnya berputar di dalam kepalanya.


" Ann, aku sudah membalaskan dendamu, sekarang giliranku yang membalaskan dendamku pada mu dan Liu, jangan harap kalian selamat" seru Yin sambil meraih ponsel dari tasnya. Ia menekan tombol menghubungi annchi.


tuuuuuutt... tuuuuut .... suara nada sambung panggilan berbunyi di telinga Yin. Beberapa saat kemudian terdengar suara annchi yang lembut.


"hallo yin" seru annchi di seberang telepon


" suaramu masih sama seperti dulu ann, begitu menjijikkan, mendengar suara ini aku teringat bagaimana shin membelamu di depanku, sungguh memuakkan" batin Yin, Annchi masih berada di seberang telepon


"ya Ann" seru Yin


"Yin, benarkah ini kau? a..ada apa kau tiba-tiba menghubungiku? aku pikir kau masih marah padaku" tanya annchi


"iya aku marah padamu, karena kalian aku kehilangan cintaku" batinya


" ann, apakah besok siang aku bisa bertemu denganmu di taman donghae?" tanya Yin


"taman donghae?? itu berada di pinggir kota, bagaimana kalau kita bertemu di kafe biasa saja Yin?" annchi heran, belum pernah yin memintanya bertemu di taman itu, taman itu tak banyak di kunjungi orang, selain tempatnya sunyi, taman itu berada dipinggir kota, Annchi menatap tiket yang ada di tangannya, keberangkatannya ke Venice bersama Liu besok sore jam 4, tapi Annchi tak bisa mengabaikan Yin, sudah sekian lama ia ingin menjelaskan perihal dirinya dengan shin tapi karena banyak hal Annchi tak pernah berhasil menghubungi Yin dan saat ini Yin menghubunginya, memintanya bertemu, ini adalah kesempatan Annchi menjelaskan segalanya pada Yin, Annchi tak tahu, Bahaya sedang berada di sekelilingnya saat ini.


"aku ingin bertemu di taman itu, tapi jika kau menolak aku mengerti" gertak Yin, Yin sebenarnya tahu, annchi takan menolak ajakan Yin saat ini, jadi dia dengan mudah menggertak Annchi.


"ba..baiklah, kita bertemu di sana"


"aku harap ini hanya antara kita ann, Liu tak perlu tahu" mendengar itu, annchi semakin heran, kenapa Liu tak boleh tahu?


"baiklah, aku mengerti, kita bertemu di sana besok siang" seru annchi sambil menutup panggilannya.