ONE LAST TIME

ONE LAST TIME
invitation



waktu menunjukan jam 11 malam, Annchi juga sudah tidur di kamarnya, suara deru mobil berhenti di pelataran rumah, itu mobil Liu, kedatangan Liu di sambut oleh paman choi.


" tuan muda selamat datang, bukankah anda pergi ke luar kota?"


" aku membatalkannya paman, apakah istriku sudah tidur?" tanya Liu sambil melepas jasnya


" iya tuan, nona ann sepertinya sudah tidur sejak beberpaa jam lalu"


" baiklah aku ke kamar dulu, selamat malam paman"


" selamat malam tuan liu"


Liu segera melangkahkan kakinya menuju kamar, liu membuka tuas pintu dengan lembut agar tidak membangunkan Annchi, seperti yang paman choi katakan, Annchi sudah tertidur pulas, lampu kamar semuanya mati, hanya cahaya bulan yang samar masuk di antara tirai jendela. Liu langsung mandi membersihkan tubuhnya dan duduk di samping annchi, ia pandangi wajah cantik istrinya dan sebuah ciuman hangat mendarat di kening ann, ciuman itu membangunkan annchi. Annchi membuka matanya dan menyalakan lampu meja di samping tempat tidurnya.


"liu, kenapa kau bisa di sini? kau bukannya pergi keluar kota?"


" aku rindu kamu jadi aku putuskan pulang saja"


" apa kau minum? masih ada bau minuman beralkohol di tubuhmu"


" ya sedikit" seru Liu sambil menciumi leher annchi bergairah.


" li..liu bukankah dokter sudah memperingatkan mu?"


" ia hanya memperingatkan aku untuk lebih lembut, bukan melarang ku melakukannya denganmu kan" bisik liu sambil tangannya membuka kancing piyama annchi satu persatu.


" kenapa kau tiba-tiba begini, apa ada masalah?"


" aku mau kamu, apa butuh masalah dulu? sudah ssstt diam jangan cerewet, nikmati saja" seru liu meneruskan aksinya. Ciuman Liu terus turun ke gunung kembar Annchi, ia lama memainkannya dan akhirnya terus turun ke perut Annchi


" halo liu junior, ini ayah, ayah akan jaga dan berusaha untuk kamu dan ibumu sekuat tenaga, kauharus bahagia di sana sampai kau lahir kedunia, oke" Liu berbicara pada perut annchi dan menciumnya, mendengar itu membuat Annchi tersenyum dan menarik kepala Liu untuk mencium bibirnya.


" you are so sweet, feel happy to be with you" seru annchi tersenyum pada Liu


" so do i, feel happy too, i love you ann"


" love you too, ah uhh liu pelan sedikit, terasa sangat linu di bagian bawah perutku jika kau terlalu kuat, ssh uh" teriak annchi sambil mendesah


" oke, oke maaf, keindahan tubuhmu membuatku lupa kau sedang hamil, apalagi mendengar desahan desahan sexy mu ann, semakin membuatku semangat" ucap liu melakukannya sambil menciumi leher annchi


Malam itu sebenarnya fikiran Liu kacau, sebelum bertemu annchi ia pergi ke club untuk minum beberapa gelas. Ia merasa sudah sangat bosan dengan drama xiauwen, ia bimbang apa harus jujur saja pada Annchi, tapi waktunya tidak tepat, annchi sedang hamil muda, khawatir mendengar cerita ini ia malah stress dan membahayakan kandungannya.


Setelah selesai melakukan itu, Annchi kembali tidur dengan Liu memeluk tubuhnya, terlihat betul Liu sangat mencintai Annchi, ia memikirkan apa yang akan Xiauwen lakukan setelah ini, setelah ia menolak Xiauwen hari ini, firasat Liu sangat buruk. Sebetulnya bukan sekali dua kali Liu menolak xiauwen, sudah sangat sering Xiauwen mencuri kesempatan pada Liu, lama-lama liu jengah juga dengan apa yang di lakukan Xiauwen.


" aku harus bersiap dengan kemungkinan terburuk, harus menjaga annchi dan anakku lebih ketat mulai saat ini" batin Liu.


keesookan harinya , beberapa jam setelah Liu berangkat kerja, Annchi mendapatkan pesan dari Shin.


" Ann, aku di depan rumahmu, bisakah kau kemari sebentar?" tanya Shin


" baiklah kak, aku akan kesana"


Masih seperti 1 th lalu, ia dengan kharismanya, tak heran Yin juga bisa luluh di pelukannya.


" hai kak, ada apa kau mencariku?"


" masuklah dulu ke dalam mobil"


" hmm baiklah" seru Annchi sambil membuka pintu mobil Shin


" ini sepatumu, kau meninggalkannya di restoran tempo hari ann" seru Shin sambil menyodorkan kotak sepatu dan annchi menerimanya


" terimakasih kak, kau sampai repot datang kemari" senyum annchi, shin tak membalas senyumannya, wajahnya datar. Annchi menyadari wajah shin seperti itu, ia seperti tak mengenal shin lagi


" apa kau baik saja ann? bagaimana hidupmu 1 th ini?"


" seperti yang kau lihat kak, aku baik saja, bagaimana kabarmu?"


" aku juga baik ann" suasanya di sana sangat canggung, Shin yang sekarang jauh berbeda dengan shin 1 tahun lalu, biasanya saat bertemu annchi shin akan memberikan banyak senyuman hangat untuknya, sekarang tidak lagi, annchi juga tak berharap lebih, ia tahu posisinya saat ini sebagai nyonya liu. bukan lagi sebagai Annchi Ri.


" hemm, jika tak ada lagi, aku masuk dulu ya kak" annchi meraih tuas pintu mobil, namun di cegah Shin, annchi tersentak kaget


" tunggu dulu ann" seru Shin menatap Annchi, annchi tak berani memutar wahahnya untuk melihat Shin


" ada apa kak?" mata annchi masih terpaku melihat ke arah tuas pintu mobil, kemudian shin menarik pergelangan tangan Annchi dan memeluknya, hal itu membuat annchi terkejut dan menepis pelukan shin


" kak, aku sudah tau kau akan bertunangan dengan yin,aku rasa ini bukan hal yang pantas di lakukan"


"ya kau benar, maafkan aku, apa kau tak penasaran dengan alsanku ingin bertunangan dengan yin?"


" karna kau mencintainya, apa lagi alasannya"


" apa kau percaya aku tidak mencintainya?"


" kalau kau tidak mencintainya, jangan mempermainkannya kak, dia sahabatku"


" aku mencoba mencari dirimu di diri orang lain, aku menemukan sedikit dirimu di dalam diri Yin, jadi aku mau menikah dengannya"


" kak, dulu kau selalu bilang aku harus berjuang demi diriku, kaupun akan berjuang demi dirimu sendiri, lalu kenapa jadi begini?"


" apa kau tak lihat aku sedang berjuang demi diriku sendiri?"


" aku berdoa agar kau bahagia kak, Yin mau menerimamu dengan kenangan mu bersamaku, bukankah cintanya itu pantas di perjuangkan?"


" ini undangan pertunangan ku, datanglah bersama liu" seru Shin tersenyum menyodorkan sebuah surat undangan pertunangan. Sesaat annchi memandangi surat undangan di tangan Shin.


" oh begini ya rasanya menjadi dia 1 tahun lalu, meskipun aku bahagia bersama Liu, tapi tetap saja sosok shin sudah terlalu lama melekat di kepalaku, kenangannya sedari kami kecil melekat erat, apalagi kejadian 1 th lalu, sedikit banyak aku memiliki perasaan untuknya, mengetahui dia akan bertunangan rasanya sakit juga, tapi apa yang bisa aku lakukan lagi? apapun alasannya untuk menikahi Yin tentu saja itu caranya untuk berjuang untuk dirinya sendiri, apa aku masih pantas bersedih? ann, sadarlah, move on move on ayo move on!" batin Annchi yang kemudian menerima undangan pertunangan itu.


" baiklah kak, aku pastikan akan datang bersama liu, aku masuk dulu ya kak! semangatt!!" seru annchi menyemangati Shin dengan senyumannya dan di jawab anggukan shin


" jangan tersenyum seperti itu ann untukku, hanya akan membuatku merasakan sakit yang telah lama ku kubur untukmu" batin shin