ONE LAST TIME

ONE LAST TIME
je t'aime



setelah acara itu berakhir, semua orang kembali ke rumah masinh-masing dengan fikirannya masing-masing. Tak terkecuali denhan Xiauwen, Shin, Liu dan annchi.


Setelah kembali dari acara itu Xiauwen semakin benci dengan Annchi, dia berfikir seharusnya acara ini untuknya dan Liu, tangan yang selalu di degenggamnya adalah tangan liu, sekarang dia berdiri sendiri melihat mereka bahagia, Annchi adalah satu-satunya batu yang menghalanginya bersama dengan Liu. Sebenarnya dalam hati kecil Xiauwen bagaiamanapun berusaha menarik Liu ke dalam pelukannya takan lagi berhasil, jika dia sendiri tak bahagia, bagaimana bisa membiarkan orang lain bahagia di sisi liu, bahkan Liu tak perduli dengan anak yang di kandungannya sama sekali, meskipun liu berada di sisinya itu hanya untuk memastikan DNA dari anak dalam kandungannya, semua rencananya hampir gagal total, semua triknya seakan membuat jurang antara liu dan dia semakin melebar, semuanya sudah sejauh ini, ia tak punya pilihan untuk berhenti sekarang. berbagai macam fikiran jahatnya terlintas di benaknya, annchi dalam bahaya dan Liu pasti menyadarinya.


Dari sisi liu, setelah malam ini dan kemarin


entah harus bahagia akhirnya perasaan ini bisa ia lepaskan ke udara, bebannya seperti berjatuhan melihat senyuman Annchi, baru ia sadari pelukannya bisa meruntuhkan semua keraguan dalam dirinya, menumbuhkan sebuah harapan bahwa ini memang harus di usahakan, dia memang patut di perjuangkan, xiauwen adalah bom waktu, suatu hari ia akan meledak.


Liu sadar Ini adalah episode baru di hidupnya ia sedang menggenggam tangan seseorang di sampingnya dan menyembunyikan tangan lain di satu sisinya, ini sama seperti menggambar mentari dan menyembunyikan petir.


" bagaimana aku harus melindunginya? bagaimana menyelesaikannya sekarang? aku sudah melangkah sejauh ini tak mungkin mundur, aku telah menarik tangannya sekarang tak mungkin ku lepas, hanya akan membuatnya terjatuh, tidak hanya dia, aku pun akan merasakan sakitnya"


**shin**


Di dalam apartemennya, dia mematikan semua lampu, membuka semua tirai jendela membiarkan sinar Bulan masuk, Matanya mengarah ke luar jendela, berdiri termenung menatap langit.


" akhirnya yang ku takutkan terjadi, mungkinkah pada akhirnya perasaan ini harus ku bunuh perlahan? akhirnya air mata ini tak bisa lagi menetes, akhirnya semua perisaiku untuk melindunginya harus perlahan hilang, akhirnya aku harus menghilangkannya dari fikiran dan hatiku, menyimpan perasaan yang sudah di miliki orang lain tentu hanya akan membunuhku perlahan, kau tahu an, jalan ini takan mudah untukmu, tapi kau bersikeras untuk berjalan di sana dengannya, kau tahu jalan itu akan membawamu ke sebuah badai tapi kau tetap memegang tangannya, berdansa di tengah badai tak semudah itu ann, pelangi yang kau lihat malam ini mungkin tak akan bertahan lama, aku dan kamu ternyata punya banyak persamaan ya ann, kita sama-sama tak bisa keluar dari perasaan bodohan ini" batin Shin sambil tersenyum dingin


*** Annchi***


setelah yang terjadi beberpa jam lalu, ia masih terjaga berbaring di tempat tidurnya, sudah jam 2 pagi, entah harus menyesal atau bahagia, entah harus tersenyum atau menangis, berjalannya kelak di altar akan seperti melangkah di bara api, menyiapkan sepatu baja pun akan tetap merasakan panasnya, menggenggam tangan Liu meskipun begitu nyaman dan lembut ia tahu akan kemana cerita ini akan di bawa, entah badai atau terik inilah keputusannya, entah salah atau benar ini adalah pilihannya, meskipun hati dan hidupnya seharusnya tak ada hubungannya dengan bisnis, semua orang di belakangnya bergantung langkah mana yang ia ambil, semua rumor yang merebak harus di hentikan, meskipun takut tetap harus di hadapi, di saat seperti ini, ia bahkan tak memiliki kesempatan untuk mundur, ini akan terjadi, ayah dan ibunya terlanjur berharap banyak, ini bukan hanya tentangnya, perasaan yang bergantung padanya juga harus tetap di putuskan salah satu(shin), bersama kak shin hanya akan menyakitinya dari hari ke hari, bersama Liu juga tak jauh berbeda, setelah kata-katanya tadi, ia yakin Xiauwen juga takan melepaskan liu begitu saja, Sebenarnya apa yang terjadi antara mereka berdua?"


triingggg notifikasi pesan di ponsel annchi berbunyi, Annchi langsung membuka pesan itu


" ann, kamu belum tidur ya? jangan begadang, besok kan kerja dan masih banyak yang harus di persiapkan loh" seru Liu di seberang telfon


"kok kamu tau aku belum tidur?" tanya Annchi


" tau dong, jangan underestimate insting calon suamimu ke kamu" seru Liu menggoda annchi


"iya benar, setelah apa yang terjadi, sekarang dia bukan liu yang dulu, dia saat ini berjalan di samping ku sebagai calon suamiku" batin annchi


" kok diem? ketiduran lagi?" balas liu


" gak diem kok, kamu memangnya gak denger aku ngomong?" tanya Annchi


"denger apa?"


" dari tadi aku teriak-teriak ke kamu, masa ga denger?"


" hehehe.. oh pasti kamu teriak-teriak bilang " Liuu aku cinta kamu" gt kan? hehe"


" hufh dari dulu sampai sekarang penyakit narsismu itu tak berubah"


" memangnya kau teriak apa?"


" aku bilang aku benci kamu"


" hemm bener-bener cinta maksudnya? hehe udan sana tidur sudah malam ann, besok aku jemput"


" ya kalo kamu mau di kejar paparazi"


" iya iya yaudah aku tidur dulu ya, good nite"


" good nite"


Setelah pagi menjelang, betul saja terjadi keriuhan di dalam maupun luar kantor, berita Pertunangan semalam sudah menyebar. hari Ini Gio kembali bekerja keras menghadapi para pers yang sejak tadi menunggu annchi dan liu.


Annchi dan Liu akhirnya datang, melihat keriuhan di sana, tiba-tiba liu mengeenggam tangan Annchi, membiarkan semua pers mengerumuninya,


" ayo cepat masuk liu" seru annchi sambil menarik tangannya


"ann, jalan satu-satunya kita harus menghadapi mereka, bersembunyi tidak akan menyelesaikan masalah" seru Liu sambil tersenyum pada Annchi


melihat senyuman Liu dan genggaman tangan Liu, seperti ada sebuah kenyamanan di lindungi olehnya, mata Annchi tak lepas dari wajah Liu, dengan dihujani banyak pertanyaaan Liu menjawabnya dengan santai dan dingin seperti biasa.


" wajah liu kalau lagi serius seperti ini benar-benar tampan, bagaimana mungkin xiauwen mau melepaskan prince charming sepertinya dengan mudah, sepertinya aku harus banyak bersyukur akulah yang ada di sisinya sekarang, hihihi, mulai hari ini aku takan terlalu banyak berfikir tentangnya, jalani dan nikmati saja proses ini, toh aku tak di rugikan" batin Annchi sambil senyum-senyum memandang Liu.


" hei lihat nona ann senyum-senyum dan wajahnya merona seperti itu melihat tuan Liu sedari tadi, pasti kau begitu bahagia ya nona ann?" tanya salah satu reporter pada Ann,


"ha.. eh itu..." lamunan annchi tiba-tiba buyar, seketika Liu menoleh ke arah Annchi dan mencium bibirnya di tengah kerumunan itu. Jantung anchi seperti akan berhenti, melihat wajah Liu sedekat ini, sudah lama tak merasakan ini fikirnya. Waktu serasa berhenti, semua orang serasa menghilang.


" tentu saja dia bahagia, apa yang membuatnya tidak memangnya?" seru Liu melepas ciumannya sambil memegangi pipi annchi. Mendengar itu Annchi menjadi salah tingkah, mendengar itu semua orang langsung riuh, Annchi yang panik langsung berlari masuk ke kantornya, Liu hanya tersenyum melihat Annchi berlari pergi.


sepanjang jalan ke ruangannya, tak bisa di sembunyikan wajah merona Ann, semua orang melihatnya tersenyum, bagaimana tidak, semua mata tertuju padanya, wawancara barusan pun di siarkan live. Gio mengikuti Ann sampai masuk keruangan.


" ehemm,, pagi ini matahari cerah sekali ya nona sampai menyilaukan mata begitu" seru Gio menggoda Annchi(matahari yang di maksud adalah liu)


" diam kau!" jawab Annchi sambil senyum tersipu


" wah wah,, sudah lama tak melihat nona tersenyum bahagia begitu, aku ikut senang nona"


"benar juga, sudah lama aku tak merasakan bahagia seperti ini, hufh kenapa hatiku seperti lega sekali?" batin annchi,


" triiinggg" suara pesan masuk dari ponsel annchi


" aku kembali ke kantor ya, tak bisa ke ruangan mu, asisten shu sudah mengatur jadwal kita bertemu dengan WO, design baju pengantin ku serahkan padamu, aku akan sedikit sibuk kedepannya, jangan lupa merindukan aku, aku cinta kamu" tulis liu.


" je t'aime aussi (aku juga cinta kamu)"


"J'attendais ces mots depuis longtemps, merci de me donner l'occasion (Saya sudah menunggu kata-kata ini sejak lama, terima kasih telah memberi saya kesempatan)" balas Liu


" aku tak tahu kau juga mahir bahasa prancis"


" jangan sepelekan aku" jawab Liu sambil tersenyum


" kau benar-benar pintsr seperti yang ayah bilang" batin Annchi sambil tersenyum