
"ann, katakan sesuatu tentang undangan ini" tanya liu sambil menyodorkan kertas undangan pertunangan Shin
" huh, kenapa hari ini begini banget, seharian ini pekerjaanku banyak, bertemu Yin dan basah kuyup, Shin meneleponku tak ku angkat dan sekarang Liu menanyakan undangan itu, bagaimana menjelaskan kepadanya aku tak mungkin datang, dia pasti bertanya kapan undangan ini di berikan, haduuuuuuhhhhhh sebal, kesialan ini terus membuntuti ku" batin annchi beberpaa saat melihat undangan ini dengam menghela napas panjang, wajanya seperti sangat malas membahas masalah ini sekarang. Liu menatap annchi yang tak juga meraih undangan itu, kemudian menepikan mobilnya dan mengarahkan kepala annchi untuk menatapnya.
" kamu kenapa?" tanya Liu sambil memegang pipi istrinya dengan kedua tangannya hal ini membuat annchi kikuk dan tak berani memandang Liu.
" tatap mataku, kau kenapa?" tatapan liu sangat dingin, seperti mencurigai sesuatu.
"iihhh, aku kenapa? lihat, aku baik-baik saja" jawab ann sambil menepis tangan Liu dan memalingkan wajahnya
"aku tanya sekali lagi, kamu kenapa ann? cemburu dia bertunangan dengan sahabatmu?" tanya Liu sekali lagi memalingkan wajah annchi dengan ke dua tangannya.
" deg..... kok dia bisa tahu?" batin annchi, hening, annchi tak menjawab apapun, bingung akan menjawab apa, hal ini membuat Liu marah.
"oke, aku sudah dapat jawabannya" sahut Liu yang kemudian tancap gas mobilnya dan kembali mengemudi, hening, Liu sangat marah, dia tak berkata apapun, tak sekalipun ia menoleh kepada annchi, annchi berkali-kali melirik Liu yang berwajah sangat dingin itu.
Sesampainya di depan gerbang rumah.
"kenapa kau tak masuk liu?"
" masuk lah sendiri, aku ada urusan lain" jawab Liu ketus
"ka..kau kenapa?" tanya ann gugup, kemudian Liu memalingkan wajahnya ke hadapan Annchi
" kenapa kau belum bisa melupakan shin?"
tanya Liu sangat dingin dan serius, sudah lama annchi tak pernah melihatnya seserius dan dingin seperti ini, mengingatkannya 1 tahun lalu.
" a..aku?? apa aku mengatakan sesuatu tadi? jangan mengambil kesimpulan sendiri!"
" karena kau diam saja aku jadi bisa membaca pikiranmu"
" apa 1 tahun ini kau tak bahagia di sampingku ann? apa aku masih tak sebanding dengan kak shin mu itu?"
Saat ini perasaan annchi seperti di sayat-sayat, mendengar Liu berkata seperti itu semakin menyadarkan kalau ia benar cemburu, Liu mungkin adalah hari ini dan masa depannya, tapi Shin akan terus menjadi masalalunya, melupakan kenangan manis tentu butuh waktu lebih lama, jangankan 1 tahun bahkan mungkin beberapa tahun kedepan masih akan teringat.
" kenapa kau diam saja? apa perkataanku salah? kau tak bahagia dan aku tak sebanding sengan kak shin mu itu? baiklah sekarang aku tahu, maka turunlah, aku butuh waktu sendiri" seru Liu
" kau salah paham liu, 1 tahun ini aku sangat bahagia, tapi aku minta waktu sedikit lagi untuk melupakannya, ini tak semudah yang kau bayangkan liu"
" kau ini sangat bodoh ann, di saat seperti ini apa kau tidak bisa berbohong sedikit hanya untuk membuatku nyaman, aku sudah bukan lagi pacarmu yang bisa dengan bebas kau bicara seperti itu, kau sedang berbicara di depan suamimu yang sangat mencintaimu, tidakah kau berpikir perkataan mu barusan bisa menyakitiku? " Liu tersenyum sinis
"a..apa aku salah bicara? oh ya Tuhan kenapa aku sebodoh iniiiiiiii!!" batin annchi
" bu..bukan itu maksudku liu!" sahut annchi semakin panik sambil menggenggam lengan Liu
" turunlah ann, berikan waktu untuk ku sendiri" mendengar itu, annchi terdiam dan mengangguk tanda setuju. Ia membuka tuas pintu mobil dan melangkah keluar, setelah menutup pintu mobil, Liu langsung beranjak pergi
malam itu annchi tak bisa tidur, Liu tak pulang, ia ingin bertanya pada jisoo atau yongji namun ia khawatir masalah ini akan semakin besar, membuat panik semua orang jadi ia mengurungkan niatnya. berkali kali ia menghubungi Liu namun tak di angkat, berkali-kali ia mengirimkan pesan untuknya juga tak di balas.
"liu, kau pergi kemana sebenarnya? maafkan aku, bukan itu maksudku ðŸ˜" itu pertama kalinya ia merasa sangat menyesal dan pertama kalinya juga ia begitu berharap Liu mengangkat telepon darinya dan membalas semua pesan yang ia kirimkan. Pertama kalinya ia khawatir Liu pergi dan tak kembali. Ada yang tahu ini perasaan apa?
2 hari berlalu sejak saat itu, Liu masih belum kembali, semua telepon darinya juga tak pernah di angkat. Hari ini di kantor begitu membosankan, pikirannya melayang-layang bertanya-tanya apa ini perasaan rindu atau bersalah?
" nona ann, haloo nona!" seru Gio melambaikan tangannya di depan wajah Annchi yang melamun
" oh iya kenapa?"
" 2 hari ini kau sering melamun ada apa?"
" tidak apa-apa kok, Gio aku ingin keluar dulu ya, titip kantor sebentar"
" kau mau kemana? kenapa kau aneh sekali?"
" tidak apa-apa aku baik-baik saja"
***
hari ini Shin sebetulnya ingin menghubungi Annchi untuk meminta maaf atas nama Yin namun ia urungkan niatnya, Ia khawatir akan mendapat masalah lebih banyak baik untuk dirinya dan untuk Annchi. Akhirnya ia pergi ke sebuah kedai kopi langganannya, ia sering sekali datang ke sana. Kedai itu tidak besar, tapi memiliki secangkir kopi yang sangat enak, dulu Shin sempat ingin mengajak annchi datang ke sana, namun hingga saat ini ia tak pernah membawanya. Kedai kopi ini berada di tengah ibukota, di depan kedai kopi itu banyak sekali pertokoan.
Shin seperti biasa duduk menghadap jendela sambil menikmati kopi kesukaannya dan bekerja dengan laptopnya hujan mulai turun, entah kenapa cuaca saat ini begitu cepat berubah, beberapa waktu lalu masih sangat cerah, namun sekarang langit mendung dan hujan.
"huh hari ini panas sekali, mau kemana hari ini? lebih baik berjalan-jalan saja sambil mencari street food yang enak" batin Annchi. ia berjalan-jalan sampai agak jauh, membeli beberapa cemilan street food sambil melihat-lihat di pertokoan. Lama berjalan ia melihat toko perlengkapan bayi membuat langkahnya terhenti.
" sayang lihat, baju bayi itu lucu sekali, oke mama belikan untukmu ya" annchi tersenyum sambil mengusap perutnya. Kemudian ia melangkah masuk ke dalam toko tersebut memilih-milih perlengkapan bayi.
" mama tak sabar melihatmu " seru annchi kepada perutnya, annchi kemudian melihat keluar ternyata hujan, akhirnya ia membeli payung di toko tersebut dan keluar dari toko itu.
Keluar dari toko itu dan menunggu taksi, sulit sekali mencari taksi di hujan lebat seperti ini. Di seberang jalan, tanpa sengaja Shin melihat Annchi berdiri sendiri di tengah hujan, ia melihat Annchi membawa beberapa kantung plastik dan keluar dari baby shop
" kenapa annchi keluar dari toko perlengkapan bayi? untuk siapa barang-barang itu?" seru shin tiba-tiba tersadar " apakah dia hamil???!!" batinnya, " masalah ini akan sangat panjang jika ia benar-benar hamil anak Liu, sampai detik ini aku belum berhasil memecahkan masalah DNA anak xiauwen, di tambah lagi annchi hamil. Baru akan beranjak menyusul annchi, tiba-tiba Shin melihat Liu dan xiauwen keluar dari barbershop, jaraknya 2 toko dari tempat annchi berdiri. Shin melihat itu buru-buru menyusul annchi, baru sampai pintu keluar ia sepertinya terlambat, annchi sudah melihatnya. Shin melihat dalam-dalam wajah Annchi, wajah yang tadinya gembira seketika berubah menjadi sangat suram
" Oh Tuhan, kenapa harus dengan cara begini? kenapa sangat kebetulan sekali??kenapa kau biarkan ia hamil sebelum mengetahui yang sebenarnya? ini akan sangat menyakitkan untuknya!" batin Shin, Melihat annchi masuk ke dalam taksi untuk membuntuti annchi, ia pun masuk ke dalam mobilnya membuntuti annchi dan liu.
**
Sambil menunggu Taksi, samar-samar ia mendengar suara anak kecil dan suara yang ia sangat kenali, jarak antara mereka sekitar 50m, saat ia menengok ke asal suara, ia melihat sosok Liu menggendong anak perempuan, ia melihat Xiauwen di sampingnya memegangi tangan anak kecil itu sambil tersenyum lebar dan anak itu memanggil Liu ayah. Jantung Annchi serasa ingin berhenti, tubuhnya lemas seketika bahkan menyangga payung di tangannya pun sepeti tak bertenaga. Hujan mulai membasahi tubuh annchi, Air matanya tersamarkan dengan hujan yang membasahi wajahnya. Dadanya seketika sesak sekali. Ketika ia melihat mobil Liu pergi, ia buru-buru menyetop taksi dan mengikuti mobil Liu.