ONE LAST TIME

ONE LAST TIME
Perasaan yang Semakin Rumit



"xiauwen, apa kau baik-baik saja? " setengah berlari ia menuju ke arah Xiauwen yang terbaring di rumah sakit. Mendengar Liu panik, Xiauwen merasa bahagia. Dia merasa Liu masih memperhatikannya seperti dulu. Perasaannya pada Xiauwen masih belum berubah.


" kak Liu, huuuffh aku merindukanmu" sahut Xiauwen menarik tangan Liu untuk bisa memeluknya"


" hentikan wen, kau sedang sakit!" sahut Liu sambil melepaskan pelukan Xiauwen, "kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau jadi seperti ini?"


" aku bertemu charles di bar hari ini, awalnya tidak ada yang mencurigakan, namun lama kelamaan dia menggodaku dan berlaku tak sopan akhirnya aku memukulnya dan berlari menhindarinya tak ku sangka dia terus mengejarku, karena fokus berlari menghindar aku tak sadar ada mobil berjalan ke arahku"


"sudah ku katakan, jangan lagi kencan buta seperti itu, jangan mendekati pria asing tak kau kenal, kau ini bodoh atau bagaimana?" bentak Liu sambil mendorong-dorong kening xiauwen dengan telunjuknya lembut


" tapi kau baik-baik saja kan? bagaimana kepalamu, kakimu, tanganmu?" ucap Liu sambil mengecek satu-persatu bagian tubuh Xiauwen, melihat Liu khawatir, Xiauwen menarik tangan Liu lagi untuk memeluknya


" aku tidak apa-apa, yang terasa sakit hanya jika kau pergi, jadi jangan tinggalkan aku, tetaplah disisiku, jangan pergi menemui wanita itu ya" pinta Xiauwen kepada Liu


" kau ini benar-benar bodoh,,sudahlah jangan berfikir yang bukan-bukan, fikirkan saja bagaimana kau harus sembuh" bisik Liu sambil melepaskan dekapan Xiauwen untuk yang kedua kalinya


--------------------------------------------------------------------


hari Itu hari yang cerah, Annchi harus datang ke kampusnya untuk mencari beberapa buku refferensi. Seperti biasa, ia di antar paman wan ke kampus sampai gerbang kampus, menyusuri jalan menuju kampusnya sambil memandangi pohon-pohon besar meneduhkan sepanjang jalan, hawa dingin musim dingin mulai menyelimuti kotanya, ini belum musim dingin, hanya di penghujung musim gugur. Yin masih belum bisa di hubungi, rasanya kampus sepi tanpa ocehan gadis itu. Langkah demi langkah ia lalui dan memasuki pintu ruang perpustakaan yang besar, tak banyak orang di sana, hanya ada beberapa siswa sedang sibuk dengan laptopnya mssing-masing. Annchi pun mulai mengeluarkan Laptopnya, ia mulai membuka email dari kantor ayahnya berisi data-data yang ia butuhkan. Ia teringat pernah meminjam flsdhdisk salah satu temannya, kemudian saat ia memasukan flashdisk itu, seketika laptopnya blank.


Annchi panik sekali melihat Latopnya blank, ia terus saja mengutak atik laptopnya itu, ia khawatir skripsinya hampir selesai itu hilang


" benar- benar gawatt!!! kyaaaaaaaa,, aku harus bagaimana iniiii" teriak Annchi hingga seisi ruangan melihatnya.


" hai nona cantik, kenapa panik begitu?"


Annchi tiba-tiba mendengar seseorang berbicara di belakangnya, sepasang tangan meraih laptopnya dengan Annchi berada di tengah-tengahnya. Posisinya seperti pria itu memeluk Annchi dari belakang, hanya saja tangannya tidak memendekap annchi tapi meraih laptopnya, wajah pria itu hanya berjarak beberapa senti dari kepalanya. Saat ia menengok ke arah pria itu ternyata wajah Shin yang berada di sana, dengan serius dan setengah tersenyum, dia mengotak-atik laptop annchi hingga normal seperti sedia kala, Annchi masih terpana melihat wajah Kak shin dari samping, tak kalah mempesonanya dari Liu.


" apa kau baru menyadari aku setampan itu ann?" sambil menoleh ke arah Annchi , Shin tersenyum. Sekarang jarak antara bibir Annchi dan Shin begitu dekat. Sontak Annchi tiba-tiba berdiri canggung


" kak.. kak shin, mengapa kau bisa di sini?" tanya Annchi dengan nafas terengal-engal seperti habis berlari marathon


"hehehe.. bukankah harusnya kau berterima kasih terlebih dahulu?" jawab Shin sambil terkekeh


" hemm.. i.. iya ,, trimakasih kakak shin hua, sebagai gantinya aku traktir kau minum cendol di kantin kampus,, oke?haha " Sahut Annchi sambil tertawa


------------------------------------------------------------------------


" tringggg" ponsel Liu berbunyi, itu pesan whatsap dari salah satu assistennya


di sana menampilkan beberapa foto Annchi dan Shin , gambar pertama saat Shin membantu Annchi membetulkan laptopnya, gambar ke dua saat Annchi dan shin mengobrol , Gambar ketiga saat Shin mengusap-usap kepala Annchi, melihat gambar itu, rasanya Aura membunuh di wajah Liu bangkit, Melihat wajah Liu seperti itu, Xiauwen merebut ponsel Liu untuk memastikan apa yang terjadi.


" berikan ponselku Wen, aku sedang tak ingin bercanda dengan mu" ucap Liu dengan wajah sangay dingin, terlihat amarah di kedua matanya yang biru itu.


" apa kau akan pergi?" tanya Xiauwen


" aku tak akan lama, nanti aku akan kembali lagi" jawab Liu sambil beranjak pergi. belum beberapa langkah, Xiauwen menarik tangan Liu,


" Jangan pergi, aku mohon, aku tak mau di sini sendiri" sambil memasang wajah memelas


" hanya sebentar wen, hanya sebentar" Liu berusaha melepaskan tangan Xiauwen tapi tak berhasil, ia malah melihat Xiauwen menangis


" baiklah, aku tetap di sini" jawab Liu , dengan wajah setengah marah akhirnya Liu mengalah, fikiran Liu kacau kemana-mana, berfikir bagaimana pria itu bisa ada di kampus bersama Ann, melihat Annchi di sentuh oleh Pria lain rasanya tangan Liu ingin sekali memukul wajah pria itu.


" tak bisakah kau jangan lagi memikirkannya, bertemu dengannya Liu? biarkan aku di sisimu"," maafkan aku yang selalu menutup mataku melihat hatimu sejak dulu, aku malah terus mengganggumu untuk menemaniku memilihkan pria yang ingin aku kencani tanpa peduli perasaan mu, bisakah aku menebusnya untuk berada di sisimu?" Tanya Xiauwen, Air matanya terus meleleh membasahi pipinya.


"kenapa kau tiba-tiba membicarakan masalah ini setelah aku bertemu dengan Annchi? apakah ini bentuk perasaan cintamu atau hanya tidak rela peliharaanmu bertemu dengan tuan yang baru?" sahut Liu menatap Xiauwen dengan tajam


" kenapa kau berbicara seperti itu? apa aku dimatamu terlihat sekejam itu? tentu saja aku baru menyadari perasaanku untukmu Liu" jawab Xiauwen dengan wajah panik


" sudahlah wen, tak perlu membahas ini sekarang, aku sedang tak ingin membahasnya denganmu, istirahatlah, aku akan menemanimu" ucap Liu dingin


Liu baru menyadari perasaannya pada Xiauwen memudar tidak seperti dulu, mungkin karena Annchi sangat berbeda dengan Xiauwen, Liu merasa hati Annchi lebih nyaman untuk di tinggali di banding Xiauwen.


Xiauwen sedari dulu memang terlahir cantik, diapun menyadari dia cantik, hampir seluruh tubuhnya tanpa cela. Satu-satuny teman pria yang boleh ada di sisinya adalah Liu, entahlah, tapi di mata Xiauwen ,liu cukup dapat di percaya. Xiauwen sulit memantapkan hatinya hanya untuk satu laki-laki, menurutnya pria itu membosankan, tidak ada yang benar-benar membuatnya jatuh cinta. Kecuali Liu. Dalam batin Xiauwen, mungkin seharusnya ia berterimakasih kepada Annchi, karenanya dia menyadari, laki-laki yang selama ini dia cari di luar sana , ternyata berada di depan matanya. Dia buta selama ini, merasa menyadari perasaannya, Xiauwen tidak akan melepaskan Liu lagi. Tapi bagi Liu mungkin sedikit terlambat, hatinya mulai mencair untuk Annchi.


Terkadang, mungkin bukan Tuhan yang mempersulit kita menemukan orang yang cocok untuk diri kita, mungkin kita yang terlalu sibuk mencari jarum di dalam jerami, tanpa di sadari Jarum itu sudah ada di genggaman kita sampai pada akhirnya, jarum itu benar-benar jatuh ke dalam tumpukan jerami dan kamu benar-benar kehilanganya