ONE LAST TIME

ONE LAST TIME
Game On



usai bertemu tidak sengaja di toko.sepatu itu, shin mengundang annchi makan siang di salah satu restoran di mall itu. Annchi sempat menolak, namun Shin bersikukuh jadi mau tidak mau ia mengiyakan undangan tersebut.


Suasana makan siangnya jadi tidak biasa, suasananya sangat canggung, Yin yang biasanya cerewet pada annchi pun mendadak jadi pendiam, begitu juga shin


" duh kenapa orang-orang ini jadi canggung seperti ini sih, apa yang harus aku lakukan untuk mencairkan suasana"


" hemm, makanannya enak ya?" tanya Ann mecah kecanggungan, tapi hanya di jawab senyuman oleh Yin, entah kenapa Yin seperti tak suka ann di sini


" ya, ini enak, kalau kau suka kau bisa pesan lagi ann" senyum kak shin


" no no kak, terimakasih, kau kapan sampai di sini? kenapa tak memberi tahuku?" annchi melirik Yin, wajah yin seperti berkata " apa urusanmu bertanya begitu?"


" kemarin lusa ann"


"ohh begitu, kak, aku sepertinya sudah kenyang, kau lanjutkan saja makan siangnya, masih ada yang ingin ku beli dan harus buru-buru pulang, terimakasih ya makan siangnya" pamit Annchi yang langsung berdiri dan melambaikan tangan ke shin dan Yin. Tidak ada tanggapan apapun, shin hanya melambaikan tangan dan tersenyum, sedangkan Yin sama sekali tak menggubrisnya, sebenarnya ada apa dengan sahabatnya itu, jika dia pikir aku mungkin akan menjadi pihak ketiganya dia salah, seharusnya ia tak seperti itu kan.


"triiinggh" ponsel Annchi berbunyi, Liu is calling, Annchi lupa mengabari Liu


"duh gawat, dia marah lagi deh pasti" batin annchi sambil menepuk keningnya dan mengangkat telpon dari Liu itu.


"halo"


" KAU DIMANA?" tanya Liu dengan nada tinggi


" sayang maaf ya, aku lupa memberi kabar, aku masih di mall"


" sebelah mana?!"


" di lantai 2 di depan toko perlengkapan bayi" seru annchi memberikan detil lokasinya, tiba-tiba sebuah pelukan dari belakang mendarat di tubuhnya, seketika ia memutar balik tubuhnya, ia mendapati Liu di belakangnya.


" kenapa kau disini??"


" ini jam makan siang, apa aku tak boleh istirahat dan lagi kau tak memberiku kabar, bagaimana aku tak khawatir"


" he-he-he, oke baiklah" seru annchi sambil memperhatikan sepatu yang Annchi pakai masih belum berubah


"kau sudah berada di mall ini kurang lebih 1,5jam, masih belum menemukan flat shoes yang aku minta?"


" aduh iya flat shoes ku ketinggalan di restoran tempat kak shin, tak mungkin aku kembali Liu akan marah, aku juga tak mungkin jujur" batin Annchi


" ya ..hem.. itu " annchi bingung alasan apa yang harus ia keluarkan, Liu sangat Logic, dia takan terima alasan tak masuk akal


" ayo, beli!" seru Liu sambil menggandeng tangan ann menuju toko sepatu, setelah selesai Liu memintanya menemaninya makan siang, sebenarnya perut annchi sudah kenyang karena baru saja ia makan, karena tak mungkin jujur akhirnya ia mengiyakan Liu.


" kamu kenapa ga makan?" tanya Liu


" makan kok makan, nih" jawab Annchi sambil menyuap


" ann, besok lusa aku mungkin 3 hari akan pergi ke luar kota, kamu di rumah baik-baik oke!"


" luar kota lagi? setiap bulan kamu pasti ke luar kota, sebenarnya ada keperluan apa?"


" kepentingan pekerjaan" jawab Liu kikuk


" benarkah? setiap bulan loh!?"


" kenapa kamu curiga aku punya wanita lain?!"


" huh dasar, tak perlu khawatir, pria tampan di hadapanmu ini hanya milikmu ann" senyum Liu sambil mencubit pipi annchi lembut


" hihhh narsis!aku peringatkan, jangan sampai aku tahu kau macam-macam di belakangku, jika itu terjadi tak menunggu hari, aku akan pergi darimu"


" hehe, tidak akan" seru Liu tersenyum


***


"meimei kau pasti senang ya, ayah akan pulang lusa, kau bisa bermain dengannya" seru Xiauwen berbicara pada seorang anak perempuan batita bernama Meimei, umurnya 1 tahun 2 bulan, tak lain itu adalah anak Xiauwen, Aktingnya masih ia mainkan selama ini, karena sudah begitu lama Liu hampir melupakan masalah ini, setiap bulan Liu akan datang ke rumah Xiauwen untuk bermain dengan meimei, kepada Meimei Liu sangat hangat, tetapi ia masih sangat dingin kepada Xiauwen, Xiauwen tidak peduli, ia sudah merasa cukup dengan bisa melihat Liu berhari-hari tinggal di rumahnya, meskipun hanya untuk menjenguk Meimei.


2 hari berselang, benar saja Liu datang menjenguk meimei dengan membawa banyak mainan. Mendengar mesin mobil berhenti di pelataran rumah, meimei langsung berjalan terpincang-pincang kadang juga merangkak menuju pintu depan, seperti ingin menyambut ayahnya. ia masih sangat kecil namun itu selalu menjadi kebiasaannya.


"klek" bunyi tuas pintu terbuka, wajah Liu langsung tersenyum dan menggendong meimei.


" hai cantik, kau semakin besar lihat apa yang ayah bawa untukmu" seru Liu sambil memperlihatkan sebuah boneka cantik di sambut tawa ceria meimei. Xiauwen memandangi Liu dengan senyuman. Liu sadar, Xiauwen memandanginya seperti itu namun ia mengabaikannya.


"seandainya kau benar ayahnya dan aku adalah istrimu, betapa senangnya aku liu" batin Xiauwen


" kau sudah makan? aku membuatkan makanan kesukaanmu liu" tanya Xiauwen


"hemm" jawab Liu tanda setuju tanpa melihat Xiauwen, Liu berdiri dan melangkah ke meja makan, ia melihat begitu banyak makanan di meja makan


" kau yang buat ini semua?"


" ya, siapa lagi?" jawab xiauwen, Liu mulai mencicipi masakan xiauwen


"bagaimana kabar istrimu?"


" apa perlunya kau menanyakan annchi?" jawab Liu ketus


"apa tak boleh mendengar kabar nyonya liu?"


" dia baik, sangat baik" jawab Liu dingin


" Liu, mau sampai kapan kau dingin seperti ini? meimei sudah 1 tahun, kau bahkan belum bisa menerimaku, aku rasa keadaan sudah tak seperti dulu"


" wen, kau mengharapkan apa lagi dari ku? aku di sini sesuai perjanjian" Liu melirik xiauwen sinis


" aku ingin kamu" goda xiauwen sambil duduk di pangkuan Liu


" hentikan wen!" seketika Liu berdiri menghindari xiauwen ke arah sofa


" buru-buru xiauwen mengejar Liu memeluk dan mencium bibirnya, Sadar yang di lakukan xiauwen ia langsung membanting tubuh Xiauwen ke sofa dan menyeka bibirnya dengan punggung tangannya.


" aku peringatkan kau wen, aku di sini bukan untukmu! jangan sentuh aku dengan cara murahanmu!"


" murahan katamu? 1 tahun berlalu, kau bahkan tak mau aku sentuh sekalipun, perjanjian kita jelas liu, meskipun kau tak menikahi ku, aku ingin kau meluangkan waktu bersamaku dan memperlakukan aku seperti istrimu, apa kau tak ingat?"


" haha, aku sudah menepati janjiku kan, aku memberimu semua yang kau mau, hanya 1 yang aku tak bisa dan juga tak mau , aku takan menyentuhmu dengan alasan apapun" seru liu sambil mengambil jasnya dan melangkah pergi.


" oke, kalau itu maumu, kita tunggu saja siapa yang menyesal di akhirnya" Xiauwen meraih ponselnya dan menghubungi seseorang


" kau ikuti annchi kemanapun ia pergi mulai sekarang, kabari aku secepatnya" seru Xiauwen dengan senyum sinisnya


*DEAR MY LOVELY READERS, MAU VOTE DONG, MAU SAD ENDING ATAU HAPPY ENDING? komen ya!! ✌️😊