
Setelah Annchi tak sadarkan diri, Yin membawa Annchi ke tempat dimana Xiauwen di sekap. Pintu gudang terbuka, dengan tubuh sudah sangat lemah penuh dengan luka lebam,Xiauwen berusaha membuka matanya, samar ia melihat beberapa orang memasuki gudang itu, lambat laun Xiauwen melihat tubuh annchi, para pria itu melempar tubuh annchi dengan kasar ke tempat yang tidak jauh dari Xiauwen, Xiauwen sangat terkejut melihat tubuh annchi terikat, sampai saat ini wajah itu adalah wajah yang paling ia benci. Tak ia sangka, annchi juga akan di seret ke tempat yang sama dengannya.
Akibat benturan karena tubuhnya di lempar begitu saja, annchi terbangun dari pingsannya, kepalanya sangat pusing akibat obat bius. Beberapa kali annchi mengerutkan keningnya, menahan sakit di kepalanya. Ia sadar ia tak sendiri berada di ruangan itu, lambat laun pandangannya yang samar semakin jelas, ia tertegun melihat xiauwen berada tak jauh dari tempatnya saat ini dengan kondisi yang memprihatinkan. Pandangan mata mereka bertemu, saling memandang dengan wajah keheranan. Untungnya mulut mereka tak di bekap sehingga mereka masih bisa saling berbicara.
" xi..xiauwen, bagaimana kau bisa berada di sini?" tanya Annchi heran
"huh" xiauwen tertawa kecil denga wajah ketus "ini semua karena mu an, semuanya salahmu" sambungnya. Mendengar itu annchi semakin heran.
"salahku? kenapa ini semua bisa menjadi kesalahku?"
"kalau dulu kau tak merebut Liu dariku, aku takan terhina sampai mati seperti ini"
" apa maksudmu? bukankah kau yang begitu bodoh mempermainkan aku dan liu??" annchi terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata xiauwen "oh, jadi kejadian di villa itu, smuanya orang suruhanmu untuk menghabisiku?" mendengar itu Xiauwen tersenyum sinis
"ya benar, sayangnya si bodoh shin melindungimu dengan nyawanya, betapa bodohnya dia!! jika saat itu kau yang mati, aku takan berada di sini dan di perlakukan hina seperti ini ann"
"satu-satunya idiot di antar kita adalah dirimu sendiri wen, kalau saja kau tak merencanakan semua kebodohan ini, tidak akan ada masalah seperi ini"
" kebodohan? bukankah aku sudah sempat membuatmu merasakan hancurnya melihat orang yang paling kau cintai berpaling darimu, meskipun itu hanya sandiwaraku, tapi kau tetap hancur bukan? COBA KAU RASAKAN JADI AKU ANN!!! aku mencintai Liu tanpa sadar, hingga akhirnya kau merebutnya dariku, menghilangkan semua ruang di hatinya di gantikan dengan kehadiranmu, coba kau bayangkan!!! betapa mendedamnya hati ku ini padamu ann!!! bahkan, ketika hatimu hancur, ia masih berusaha meyakinkan cintanya padamu, 1tahun aku berusaha membuatnya bersandiwara di hadapanmu, aku berharap suatu hari nanti ia sedikit berpaling darimu, tapi kenyataannya jangankan berpaling, menoleh kepadaku saja ia merasa jijik, seperti melihat sampah di selokan!! kenapa kau harus hadir di antara kami ann? kenapa bukan kau saja yang mati menggantikan shin???"
mendengar 2 kalimat terakhir dari mulut Xiauwen, jantung annchi berdebar sangat kencang, 2 kata yang sama dengan yang di ucapkan Yin sebelum ia di bius beberapa waktu lalu,
"bagaimana bisa mereka berdua menanyakan hal yang sama, kenapa aku harus berada di antara mereka? kenapa seolah-olah akulah pihak ketiga itu yang patut di salahkan???? bukankah aku lah korban sebenarnya? atau benar yang mereka ucapkan? apakah ini memang kesalahanku?" air mata annchi mulai bercucuran, Pikirannya melayang entah kemana. Lama annchi bungkam.
"kau tau wen, Yin juga mengatakan hal yang sama dengan yang kau ucapkan beberapa waktu lalu, kenapa aku harus berada di antara kalian? seandainya aku tahu sejak awal perasaan kalian yang sesungguhnya, mungkin aku juga takan mau berada di tengah kalian. Apakah menjadi kesalahanku jika mereka mencintaiku? aku tak pernah meminta mereka berada di sisiku, merekalah yang memaksaku untuk berada di sisinya sejak awal, kau tak tahu wen, betapa aku ingin mengulang waktuku" seru Annchi dengan suara lemahnya.
***
Jam menunjukan pukul 16:30, Liu sudah berada di bandara menunggu annchi,mereka seharusnya bertemu jam 4 sore, kenapa annchi masih belum datang, 15 menit lagi jadwal penerbangan mereka, Liu berusaha menghubungi annchi namun ponselnya tidak aktif. Hal ini tentu sangat aneh, tidak mungkin annchi mematikan ponselnya dalam situasi seperti ini. Liu kemudian menghubungi bibi Yan, karena seharusnya Annchi berada di rumah, ia sudah meminta Gio mengosongkan jadwal istrinya untuk hari ini dan beberapa hari kedepan. Saat berbicara dengan bibi Yan betapa terkejutnya mendengar istrinya sejak siang tidak berada di rumah dan tidak bersedia di antar. Liu mulai panik. Ia tak membawa laptop pribadinya sehingga tak bisa melacak keberadaan annchi, perasaannya semakin tidak enak.
"ada apa lagi ini? bukankah semuanya baik-baik saja? apa mungkin annchi kabur? sepertinya tidak mungkin" batin Liu, tangannya kemudian menekan nomor Pink di layar ponselnya
"Pink!! lacak keberadaan Annchi sekarang!!! aku dalam perjalanan kembali ke kantor" Pink mendengar suara panik Liu sontak kaget dan heran.
" ada apa ini Liu? bukankah annchi bersamamu? penerbanganmu bukankah 15 menit lagi?"
"annchi tak datang, ponselnya tidak aktif, aku khawatir pink, segera lacak keberadaannya"
"baiklah, jangan panik Liu, kita akan segera menemukannya" seru Pink kemudian menutup panggilannya.
Beberapa saat kemudian Liu sampai di kantornya, setengah berlari ia menuju ruangannya, saat memasuki ruangannya, ia sudah melihat Pink duduk menghadap layar laptopnya, sangat serius. Melihat Liu datang Pink segera berdiri.
" sinyal terakhir ponselnya ada di pinggiran kota Liu, di taman donghae"
"jam berapa sinyal terakhirnya?"
"14:03"
"apa ia memiliki janji bertemu seseorang Liu di jam itu?" tanya Pink
"tidak, aku meminta asistennya untuk mengosongkan jadwalnya sampai beberapa hari kedepan, ia juga tak bicara akan keluar hari ini, aku pikir ia berada di rumah, ini aneh"
"sejujurnya kemarin annchi menghubungiku, menanyakan jadwalmu, aku juga merasa aneh dia memintaku jangan memberitahu mu" mendengar itu tatapan mata Liu semakin tajam, pertanyaan besar ada di kepalanya. Sesegera mungkin Liu menghubungi Gio.
"Gio, apa kau tahu dimana annchi?" tanya Liu sambil memasuki mobilnya
"a..ada apa Liu? kenapa kau terdengar panik?"
"apakah Annchi hari ini pergi ke kantor?"
"tidak Liu"
"aghhh ****, apa kemarin ia mengatakan sesuatu atau bilang ia akan kemana padamu?"
"Liu tenang dulu, apa yang terjadi, bukankah seharusnya kau saat ini bersamanya?"
"annchi menghilang, ponselnya tidak bisa di hubungi, apa kemarin dia mengatakan sesuatu padamu? seperti janji atau semacamnya?
"hah?? annchi hilang?? iya, kemarin dia mengatakan akan bertemu sahabatnya Yin, tapi aku tak tahu mereka bertemu dimana"
"Yin??? baiklah, trimakasih" Liu menutup teleponnya, ia mendengar nama Yin langsung tahu Annchi sedang dalam bahaya. Liu segera membuka laptopnya dan melihat semua percakapan dan histori panggilan annchi, Beberpaa saat ia mencari, ternyata benar, Annchi janji bertemu dengan Yin hari ini di taman yang sama dengan yang pink katakan. Kemudian Liu melacak keberadaan Yin, beberapa saat berkutat dengan kode-kode rumit, akhirnya ia menemukan Yin masih berada di taman itu.
"bukankah aneh, 2jam berlalu sejak ponsel Annchi mati dan Yin masih berada di sana, aku kira ia akan membawa annchi ke suatu tempat" Liu kemudian segera berlari menuju mobilnya untuk pergi ke taman itu. Pikirannya kacau, ia sangat mengkhawatirkan Annchi saat ini.
Beberapa menit berlalu, Liu sampai di taman itu, begitu sunyi,begitu sepi. Ia terus mencari keberadaan Yin.
Saat itu Yin berada di dalam mobilnya, ia masih berada di taman itu. Yin tahu Liu pasti akan mencarinya dan Annchi, ia sengaja meninggalkannya dan ponsel annchi di bangku taman itu. Liu terus melihat koordinat ponsel annchi dan yin yang di kirimkan pink ke ponselnya. Langkah Liu berhenti ketika melihat 2 buah ponsel tergeletak di atas bangku taman. Kemudian beberapa pria bertubuh besar berusaha menyerang Liu dari belakang. Liu refleks menghindar. Semakin lama semakin banyak yang menyerangnya, pukulan demi pukulan mengenai tubuh Liu, tak butuh waktu lama tubuh Liu terkapar di tanah. Liu masih sadar, ia merasakan sakit tak terkira di tulang rusuknya. Darah segera bercucuran dari pelipis dan bibirnya.
"Bagus, rupanya ini sebuah jebakan!!" batin Liu. kemudian tubuhnya di seret ke dalam sebuah mobil van, dari semua orang yang berada di sana, ia baru menyadari di setiap leher mereka memiliki tatoo yang sama, bergambar ular cobra, Liu seperti pernah melihat logo ini, tapi entah dimana.