
Berkat kembalinya saham Gavin, perusahaan Yongji selamat dari keterpurukan, kabar baik ini membuat kesehatan Genji semakin membaik, semua orang berterimakasih pada Liu yang mengesampingkan urusan pribadinya demi perusahaan, seolah-olah Liu melakukan ini dengan senang hati. Yang mereka tidak tahu, setiap ia kembali ke rumahnya yang dulu penuh dengan cinta sekarang jadi semakin belumut karena sepi. Yang dulu penuh dengan tawa sekarang hanya sisa kenangan yang tergeletak rapi di setiap inci kamar dan seluruh rumahnya.
Moment ini mungkin adalah definisi sebenarnya dari kata-kata menari di atas penderitaan orang lain, betapa bencinya Liu dengan keadaan ini, meskipun ia tahu di hati Annchi masih ada dirinya, tapi perceraian ini sudah di ambang pintu, pernikahan ini seperti menemui jalan buntunya. Ia juga tak banyak melakukan pencegahan apapun. Sama seperti berada di atas lumpur hisap, semakin bergerak semakin tenggelam. Liu semakin lama semakin jarang pulang ke rumahnya , lagipula paman choi sudah kembali ke sisi ayahnya, tak ada lagi yang bertanya kenapa ia tak pulang, kapan ia pulang dst. Ia lebih sering menginap di kantornya, kadang yongji dan Jisoo mengajaknya keluar bersama anak-anak namun terakhir kali hanya membuatnya semakin teringat Annchi dan anaknya yang sudah tiada. Perasaan ini memang sulit sekali di jelaskan. Kebenaran yang selama ini dia nantikan, ketika di tangan malah tidak berguna lagi.
"Liu, Liu, aku punya berita besar untukmu!!!!!" seru Pink setengah berlari ke arah Liu, Liu yang sedari tadi menatap kosong layar komputernya akhirnya tersadar dan matanya melirik Pink dengan wajah datar
"apa? cepat katakan?" jawabnya dingin
"aku mencoba semua kemungkinan yang kita bicarakan sebelumnya dan sesuai dengan tebakanmu kode yang di buat shin memang sedikit aneh, setiap kolom jendela yang mengarahkan kita ke kode lain ternyata mengandung huruf-huruf yang janggal, dari ratus ribuan kode aku mengelompokkan nya dalam beberapa kelompok, butuh 2 malam kerja keras aku menyatukannya, jika di satukan, dari setiap kelompok memiliki simbol yang sama, coba tebak simbol apa?"
" hati?"
"hah??? bagaimana bisa kau tahu?"
" kau bilang butuh 2 malam? aku menyelesaikan puzzle itu hanya 6jam" Liu menyombongkan diri
"haissshhh,, kalau begitu kenapa tak kau sendiri saja yang selesaikan masalah ini??! kenapa menyuruhku?"
"yang aku tak mengerti, apa maksud ini semua pink? apa hubungannya?" sesaat mereka terdiam memikirkan hal yang sama, Pink berjalan mondar-mandir sambil menggigit-gigit ujung pulpennya, setelah beberapa lama mereka diam, mereka sama-sama memandang satu sama lain .
"jangan-jangan!!??!" kata-kata itu muncul bersamaan dari mulut mereka seperti memiliki kecurigaan yang sama,Liu kemudian dengan wajah serius mengotak-atik kode shin, beberapa lama dia memijat cepat papan keyboard di hadapannya. Pink segera mendekati Liu mencoba mencari tahu apa yang Liu sedang kerjakan. Mata Pink berbinar-binar seperti sedang melihat sebuah harta karun dari dalam tanah. Liu menatap Pink dengan penuh harapan seakan sedang menyusun kekuatan menghadapi kegagalan yang sudah berpuluh-puluh kali, jari telunjuknya berada di atas tombol Enter. Mata Liu kembali menatap layar komputer di depannya sesaat kemudian ia menutup mata sambil menekan tombol Enter. Pink terus memandangi layar komputer Liu, tak kalah cemas.
"deaktivated shield success, shield nonactive"
melihat kata-kata di layar Komputer, seketika Liu berdiri, Pink dan Liu saling menatap.
" kita berhasil Liu!! KITA BERHASIL!! WOHOOOOO!!! YEAAAAAYY!!!!!" seru Pink bersemangat, refleks Liu memeluk Pink karena terlalu bahagia, membuat Pink tiba-tiba terdiam dalam senyumannya
"WE MADE IT PINK!!! kita berhasil!!!!"seru Liu bersemangat
"Liu, lepaskan pelukanmu atau aku akan menyukaimu" mendengar perkataan Pink, ia teringat kata-kata itu juga pernah ia katakan pada xiauwen sebelum semuanya berubah. kata-kata itu seketikw menyadarkannya ia sedang memeluk Pink dengan erat, kemudian Liu segera melepaskan pelukannya dengan wajah canggung.
" maaf,maaf Pink, aku tak bermaksud apapun, aku hanya terlalu bahagia"
"iya iya, aku tahu,mana mungkin kau sengaja, di hatimu hanya ada 1 wanita kan hehe" senyum pink, mendengar itu Liu bertambah canggung dan terdiam
Alasan pink menerima pekerjaan dari Liu saat itu bukanlah tanpa alasan, sejak pertemuannya di perlombaan kala itu, ia merasa jatuh cinta pada pandangan pertama, apalagi setelah tahu rival terberat selama lomba adalah Liu, samakin membuat Pink terpesona. Ya dengan ketampanan dan IQ nya, wanita mana yang tak terpesona apalagi latar belakang keluarganya yang kuat menjadi nilai bonus untuknya. Tapi Pink sadar, di hati Liu hanya ada Annchi, mana berani dia berharap lebih dari Liu, apalagi mengingat ia memiliki masalah pribadi yang pelik, perasaannya pada akhirnya hanya akan berakhir di sebuah kata yang di namakan "friendzone".
" kenapa kau jadi kikuk begitu? bukannya harusnya kau menawarkan untuk mentraktir aku!!!" seru Pink memecahkan situasi canggung di antara mereka
" hei!! aku memecahkan masalah ini sendirian, apa kau tak lihat aku berpikir sendiri beberapa menit lalu???"
" heiiiii!!! kau takan sampai di step ini tanpa bantuan aku dan tim A mengerti tidak??? janjimu harus di lunasi bukan?"
"ya baiklah, itu hal yang mudah!" katakan pada tim B untuk mencoba formula ini memecahkan pertahanan Apple, jika berhasil kita berhasil, Apple akan bekerjasama dengan kita"
"baik!!jangan lupa traktir aku Liu!!" seru pink bersemangat
"haha oke!" seru Liu bahagia.
setelah Pink keluar dari ruangannya,mata Liu menatap ke arah ponselnya, ia berpikir untuk mencoba menghubungi annchi, namun keraguan menyelimutinya. Perlahan tapi pasti, jemarinya menekan tombol menghubungi annchi.
tuuuutttt.... tuuuuuttt.. suara nada sambung terdengar di ujung telepon
"halo" annchi mengulang pertanyaannya, Liu masih speechless. "halo, halo, jika tidak ada yang penting aku matikan panggilanmu!"
"halo ann" seru Liu gemetar, annchi merasakan suara Liu gemetar, dari tatapannya sedikit khawatir.
"apa kau sakit?" tanya Annchi, Liu terdiam sejenak
"apa kau sedang mengkhawatirkan aku?" kali ini giliran jantung Annchi seperti akan meledak
"ti..tidak, tentu saja tidak, kalau tidak ada yang penting, aku tutup, aku sedang sibuk!"
"aku merindukanmu ann" seru Liu, membuat Annchi terdiam, mereka terdiam cukup lama, kemudian "klik" annchi menutup panggilannya tanpa berbicara sepatah katapun. Gio yang berdiri di depannya mematap Annchi dengan perasaan bingung.
"apa itu Liu?" tanya Gio, Annchi mengangguk
"apa dia mengatakan sesuatu?"
"ya, dia bilang dia merindukanku"
"lalu kenapa kau tak menjawabnya?"
" aku membencinya Gio" jawab annchi muram
"kalau kau membencinya kenapa wajahmu berkata sebaliknya?" tanya Gio sambil menggelengkan kepalanya dan melangkah pergi
***
Setelah pemakaman Shin, tidak ada satupun dari annchi, Liu dan Gavin berikut dengan semua orang di belakang mereka yang memperhatikan xiauwen dan Yin, mereka semuanya seperti menutup mata tentang 2 gadis itu, tak ada yang mengetahui pasti dimana xiauwen, Liu juga tak pernah berusaha menghubunginya,
"untuk apa menghubunginya? toh itu juga bukan anaknya, aku di tipu mentah-mentah" begitu batinya
antara mereka tidak ada yang mengetahui bahwa Yin masih menyimpan dendam atas kematian Shin, seperti api yang berkobar di dadanya, beberapa hari lalu ayahnya telah menemukan akar penyebab kematian shin.
di kediaman Yin...
Saat itu Yin sedang berlatih menembak di salah satu paviliun di kediamannya. Matanya begitu jeli, ia selalu mendapatkan nilai sempurna, sebagai seorang anak pemimpin gangster terkenal, tentu saja Yin sangat ahli menembak, setidaknya ada 4 senjata yang Yin pelajari dari ayahnya termasuk cara menggunakan pistol.
sore itu Yin berlatih menembak, saking seriusnya ia tak menyadari ayahnya memperhatikannya dari belakang dan kemudian duduk dan menghisap rokok di tangannya.
" seperti biasa, anak gadis ayah selalu sempurna"
" tentu saja ayah, aku harus pastikan menembak tepat sasaran untuk mencapai tujuanku" Zhen terdiam, mengerti maksud anaknya
" kau seharusnya membiarkannya meleset dari titik targetmu agar sasaranmu merasakan sakit lebih lama" seru Zhen,Mendengar itu Yin memandang ayahnya penuh arti, begitu juga ayahnya yang kemudian menatap Yin.
"apa yang membuatmu datang kemari ayah?"
"aku menemukan akar masalahmu, targetmu hanya kijang liar, jangan terlalu cepat membuatnya mati, itu terlalu mudah"
"he.he. baiklah, aku akan membuatnya tersiksa sebelum mati, seret dia kemarkas yah" seru Yin sambil memalingkan wajahnya dari ayahnya, ia menatap papan tembak dengan wajah mengerikan. Aura membunuh yang begitu kuat mengelilinginya.
"baiklah" zhen tersenyum dan menyeruput kopi di tangannya.