ONE LAST TIME

ONE LAST TIME
Patah Hati



"selamat pagi sayang" sapa Liu membangunkan Annchi dengan kecupan di keningnya


" honey, aku masih ngantuk" jawab ann sambil menarik selimutnya


" hei, sudah pagi, ayo sarapan, kasihan anak kita pasti kelaparan di sana" mendengar ucapan liu, annchi langsung membuka matanya


" Liu, aku seperti tak mengenalimu, sungguh, kau ini kan manusia es, setelah menikah kau berubah 180Β°, terlebih lagi saat kau tahu aku hamil, aku seperti sedang menikah dengan orang lain"


"sudah jangan cerewet, seluruh dunia cemburu padamu tahu, kau ini harusnya bersyukur"


" bersyukur kenapa?"


" huh semoga kebodohanmu ini tak menurun ke anakku kelak, tentu saja bersyukur, bukankah mendapatkan perlakuan seperti ratu begini harusnya kau senang?"


" tidak, aku malah jadi takut padamu"


" huh, terserahlah, itu aku sudah membawakan mu sarapan, jangan lupa sarapan, aku kerja dulu" seru Liu dengan nada ketus mencium kening annchi dan melangkah pergi


" hei, apa kau sedang marah?"


" pikir saja sendiri!!"


" hih, begitu aja ngambek, ampun deh" batin annchi, kemudian matanya melirik ke meja di samping tempat tidurnya, segelas susu dan roti isi tergeletak di sana


"meskipun menyebalkan, tapi dia sweet juga, apakah semua suami yang bahagia akan melakukan hal yang sama? entahlah, aku jadi lapar" kemudian annchi langsung meraih susu dan roti isi itu " wow, roti isi yang enak, bibi yan tumben membuatnya seenak ini" batin Annchi.


beberapa jam berlalu, Gio mengirimi Annchi pesan


" nona, apa terjadi sesuatu antara kau dan suamimu?" tanya gio


" tidak, memangnya kenapa?"


" hari ini mood tuan Liu sepertinya tidak baik, ia bahkan memarahi banyak pegawai sepanjang pagi ini"


" bukannya katamu dia memang galak? hihi"


" ya kau benar, tapi hari ini seperti harimau yang kelaparan, senggol benjol pokoknya nona, aku pikir kau sedang bertengkar dengannya"


" hemm baiklah aku kesana" annchi mengakhiri pesan itu, kemudian bergegas mengganti bajunya dan turun dari kamarnya, di sambut bibi yan.


" nona kau akan pergi kemana?"


" ke kantor bi, oia roti isi mu pagi tadi enak sekali"


" bukan saya nona yang membuatnya, pagi-pagi sekali tuan Liu yang membuatnya, saya berusaha menggantikannya namun dia menolak, dia sangat berusaha loh nona membuat roti isi itu untukmu" senyum bibi yan


" hah benarkah? oke fix disini aku yang keterlaluan, wajar hingga dia marah " batin annchi


" oh begitu ya bi, oke aku ke kantor dulu ya"


" di antar supir tidak non?"


" no bi, aku ingin naik bis, sudah lama sekali"


" jangan nona, nanti tuan Liu marah pada ku"


" tenang aku di sisimu" seru Annchi sambil mengedipkan sebelah matanya dan kemudian ia beranjak pergi.


Annchi memang sengaja memilih rumah yang dekat dengan halte, karena ia tahu sewaktu-waktu ia akan bosan naik mobil dan akan pasti mencari kendaraan umum, seperti sebuah hiburan untuknya. sebelum itu ia membeli sebuah cake kecil untuk suaminya. Sesampainya di kantor Liu, Di sambut Gio di luar ruangan bosnya itu.


" bosmu di dalam?" tanya annchi


" iya, sedang memarahi manager produksi, nona kau harus menyelamatkan nasib kami nona, hiks hiks"


" Gio kau tambah lebay, terlalu lama menjomblo sepertinya, hihi"


" tidak ada hubungannya nona, huuuuh"


" hahah yasudah aku masuk dulu" seru annchi sambil membuka pintu ruangan Liu, saat membuka ruangan ia melihat liu sedang melotot berbicara dengan manager produksi


" aku sedang berbicara denganmu manager gu" seru Liu dingin, namun annchi memberikan isyarat untuk manager itu meninggalkan ruangan dan di jawab anggukan oleh manager gu, melihat itu Liu memandangi annchi dengan tatapan tajam. Annchi mendekati Liu dan duduk di pangkuannya.


" liu, apa kau tak merasa ac di sini sangat dingin?"


" tidak! kenapa kau bisa di sini?" jawab liu ketus


" ingin membawakan mu sepotong kue dan berterimakasih untuk roti isi yang sangat enak pagi tadi" seru annchi sambil mencium pipi suaminya, diperlakukan seperti itu liu menjadi salah tingkah


" kau tahu aku yang membuatnya?"


" iya, bibi yan yang mengatakannya padaku, aku jadi merasa bersalah padamu, jadi aku kemari" Liu mengabaikan perkataan Annchi, ia malah fokus dengan high heels yang di pakai annchi


" kau kemari di antar siapa?"


" naik bis, hehehe" tawa annchi kikuk, ia mulai bersiap-siap mendengar ocehan suaminya


"kau ini, apa tak bisa kau pikirkan sedikit anak yang di perutmu itu? bagaimanapun itu anakku, kau pergi kesini naik bis dan dengan heels seperti itu, apa kau benar-benar mau menguji kesabaranku?"


" haduhhh, tuan muda liu yang terhormat, jangan marah oke oke aku salah lagi" seru annchi, kemudian Liu memanggil Gio ke ruangan dan memintanya untuk membelikan Annchi flat shoes.


" ini jam kerja liu, kau menyuruhnya membeli sepatu wanita? dia saja tak punya pacar bagaimana mau memilihkan flat shoes untukku?" seru Annchi melirik Gio, wajah Gio langsung berubah sebal, annchi menahan tawanya " sudah sudah, aku akan beli sendiri"


" tidak!! oke kau pergi bersamaku"


" tapi tuan, 10 menit lagi rapat dengan client yang sudah berkali-kali kau batalkan, kau tak mungkin keluar bersama nona sekarang"


" sudah kau tak perlu khawatir, jarak mall dengan kantor tak jauh, aku pergi sendiri, oke?"


" hemm baiklah, beri aku kabar saat kau sampai ya ann"


" baiklah, jangan lupa makan kuenya ya" seru annchi sambil mencium pipi liu dan melangkah pergi, saat annchi melewati Gio ia menghentikan langkahnya


" gio mangkannya cari pacar agar kau tak iri dengan kami, hihi" goda annchi


" hah,, he-he-he nona apa kau belum puas menggodaku seperti ini? aku benar-benar rindu bekerja dengammu nona, hiks, sekarang tak ada lagi kita bercanda seperti ini, dulu kan sering"


" ehemmm , kau bisa bercanda denganku gio kalau kau mau!!" liu berdehem dan bebicara dengan senyuman dingin, membuat annchi menahan tawanya


" he-he-he tidak berani tuan liu, mari nona annchi aku antar sampai loby" seru Gio dan di balas anggukan Annchi.


" ya Tuhan ann, kenapa kau bisa menikah dengan manusia es yang galak begitu sih? tak habis pikir aku, oia nona apa kau sudah tau tuan shin akan segera bertunangan?" mendengar itu Annchi langsung mengehentikan langkahnya dan menatap Gio


" kau dengar kabar dari mana Gio?"


" weibo, seluruh kota juga tahu karena beritanya dimanapun"


" benarkah, aku turut bahagia mendengarnya" tiba-tiba wajah annchi berubah sedih


"sudah 1 th berlalu, apa kau masih memiliki perasaan dengannya ann? kenapa kau terlihat sedih?"


" ti..tidak, tentu saja aku senang mendengarnya, sudah kau mengantarku sampai sini saja, aku akan naik taksi ke mall"


" baiklah, hati-hati ya ann" seru Gio, annchi hanya diam dan membalas dengan isyarat tangannya(πŸ‘Œ)


sesampainya di mall, annchi langsung menuju toko sepatu dan memilih sepatu yang cocok untuknya. Di sela-sela rak sepatu ia mendengar suara yang ia kenal, benar itu suara Yin, sudah sangat lama ia tak bertemu dengan sahabatnya itu. Kemudian ia mencari asal suara Yin


"hei yin, kau kemana saja??? kenapa bisa di sini? kebetulan sekali" seru Annchi sambil merangkul Yin, Yin yang melihat Annchi terdecak kaget


" a..an kenapa kau bisa di sini?" jawab Yin kikuk


" tentu saja membeli sepatu, kenapa kau tak mengabariku kalau kau di sini, huhuhu kau melupakan aku"


" a..aku.." di sela-sela ucapan Yin, seseorang pria datang membawakan sepatu untuk Yin


" sayang, ini sepatumu" seru shin menunduk membenahi kotak sepatu di tangannya, Shin tak menyadari ada Annchi di sana, mendengar suara Shin annchi langsung menoleh ke asal suara, betapa kagetnya dia melihat Sosok shin di belakangnya, begitu juga Shin terkejut melihat annchi, mendengar kata "sayang" dari mulut shin ke yin, seperti ada yang patah di dada annchi. 😭


****Hayooo siapa yang patah hati juga??? hihihi,,, untuk kalian my lovely readers, author mau bilang, trimakasih banyak untuk kalian yang masih setia baca sampai episode ini apalagi baca komen-komen kalian ,aku jdi semangat buat nulisπŸ™πŸ™, dan untuk kalian my lovely READERS PLEASE BANGET KALAU KALIAN SUKA NOVEL INI PLEASE UNTUK KLIK "LIKE πŸ‘" NOVEL INI DI SETIAP EPISODE πŸ™πŸ™πŸ™ please yaaa .. oia jangan lupa KOMENTARnya yaa biar kita bisa sharing πŸ€—πŸ€—