
Semilir angin menembus masuk membelai lembut wajah annchi, seberkas sinar masuk menyinar kamar itu. Mata annchi perlahan terbuka, pandangannya samar dan semakin jelas melihat sebuah tangan terjulur dari bawah tengkuknya, sebuah tangan tangan yang terlihat kokoh berkulit putih dan lembut dengan gurat-gurat urat muncul dari bawah kulitnya menggenggam tangannya dengan erat, tangan yang sangat familiar di ingatannya, dengan hati-hati Annchi melepaskan genggaman tangan itu dan membalikan tubuhnya, seperti yang dia tahu, tangan itu adalah tangan Liu, ia sedikit kaget tapi berusaha tenang, wajah ini yang sudah sekian lama tak ia lihat tidur bersamanya, kini ada di sampingnya, terlihat sangat lelah.
" bagaimana dia bisa berada di sini?"
beberapa saat annchi memandangi, ada rasa perih berbalut rindu di hatinya, namun ingatan foto yang di kirimkan xiauwen menyadarkannya bahwa wajah dan tubuh pria di hadapannya ini bukan hanya miliknya dan dia adalah alasan ia kehilangan bayinya dan Shin, kemarahan mulai memenuhi hati annchi, air matanya terjatuh menetes membasahi lengan Liu. Annchi berusaha bangkit menjauh dari tubuh Liu, namun Liu lebih cepat menarik pinggang annchi hingga annchi kembali terjatuh di pelukannya, wajah mereka berhadapan, beberapa detik pandangan mata mereka menyatu, hingga Annchi kemudian berusaha lagi bangun, namun dekapan Liu lebih kuat. Annchi berusaha melawan namun gagal.
"LEEEEEPAS LIU!!!" berontak annchi
"ann, tolong biarkan seperti ini hanya untuk beberapa menit" seru Liu mendekap annchi dengan erat. Air mata Liu menetes menumpahkan semua kerinduannya pada Annchi.
"Aku merindukanmu ann, benar-benar merindukanmu"
"hah, kau pikir aku percaya setelah sekian lama kau berbohong padaku??? kau pikir aku akan terus bodoh seperti annchi yang dulu??? kau salah Liu, trik licikmu sudah tak mempan untukku! jadi lepaskan aku!!!!"
" aku tak peduli kau percaya atau tidak, tak peduli kau akan mendengarkan aku atau tidak, apa yang ingin aku katakan tolong kau dengarkan" mendengar Liu berkata seperti itu Annchi mulai berontak berusaha melepaskan dekapan Liu
"LEPAS!!!! AKU BILANG LEPAS!!! semua ucapanmu adalah kebohongan untukku, jadi sekarang lepaskan aku!!" annchi berusaha menepis tangan Liu, namun Liu mendekap Annchi lebih erat.
" aku katakan sekali lagi, entah kau akan percaya atau tidak aku tak peduli, tapi ini perlu kau ketahui, semua ini berawal dari saat aku melihatmu dengan Shin bertamasya di villa biru, setelah waktu itu kau pergi bersmaa shin yang telah memukulku, aku kacau dan mabuk sendiri, sampai detik ini aku tak ingat apapun apalagi "berhubungan" dengan xiauwen, aku pun heran bagaimana dia bisa bersamaku malam itu, sampai akhirnya aku bangun dan melihat xiauwen di sampingku, beberapa minggu setelah itu dia memberitahu ku dia hamil, aku tak percaya dan tak mau percaya sampai ia membawa Hasil DNa palsu dan memaksaku untuk mempercayainya, aku berusaha menggugurkan anak itu dengan berbagai cara tapi xiauwen mengancamku jika anak itu terbunuh maka ia pun akan mati, aku pikir selama kau tak tahu mungkin tak akan terjadi apapun hingga kita menikah selama 1 th aku TIDAK PERNAH menyentuhnya, saat aku tahu kau cemburu shin akan menikah dengan sahabtmu, hatiku hancur ann, tapi aku pikir ini adalah kesempatanku untuk mencari tahu lagi DNA anak itu karena Yongji mencurigai gadis itu setelah penusukan di dufan waktu itu, akhirnya aku harus bersama xiauwen untuk mencari bukti anak itu bukan anakku, tapi ternyata kau justru melihat k
sandiwaraku lebih awal hingga terjadi kejadian seperti ini, aku berhasil membuktikan anak itu bukan anakku, tapi kau sudah tak mempercayaiku sampai hari ini, foto ku dan xiauwen yang kau lihat beberapa hari lalu untuk kedua kalinya aku di dijebak olehnya, aku tak melakukan apapun, aku juga korban di sini ann, aku tak berbohong, aku hanya ingin kau bersamaku ann, " Liu melonggarkan dekapannya dan melihat mata annchi yang berkaca-kaca
" kebohongan apa lagi yang kau ceritakan ini liu? tak puaskah kau cukup menyakitiku dengan narasi kebohongan mu kemarin dan sebelum-sebelumnya?,aku hanya mempercayai yang aku lihat, aku melihat kau dan dia di rumah itu dan tertawa bahagia bersama xiauwen dan anak itu, cukup Liu, aku masih menunggumu menandatangani surat perceraian kita" seru Annchi sambil bangun dari tempat tidurnya di susul Liu yang kemudian dengan cepat meraih lengan annchi.
"ANNCHI! AKU SALAH, AKU SALAH MENYEMBUNYIKAN INI DARIMU!!" liu mengegnggam kuat lengan annchi, matanya tajam, Annchi merasakan sebuah kemarahan dari tatap matanya
"tapi aku lakukan ini untuk melindungimu, aku tak mau menyakitimu, aku juga tak mau kehilanganmu!! KENAPAN KAU HANYA MARAH PADAKU??? KENAPA KAU TAK MARAH PADA SHIN?? DIA TAHU MASALAH INI SEJAK AWAL, DIA JUGA MENYEMBUNYIKAN INI DARI MU!! APA KARENA AKU TAK MATI BERSAMANYA HINGGA KAU HANYA MARAH PADAKU???" sambung Liu dengan nada tinggi, Annchi terkejut dengan apa yang di katakan Liu, secara logika Liu benar.
"benar!!! aku menyesal kau tak mati saja bersamanya!!! dengan semua yang kau katakan barusan aku menyadari, seharusnya tak satupun dari kalian yang pantas aku tangisi!!!! kalian pikir kalian siapa?dengan mudah membohongiku selama ini, mempermainkanku seperti gadis idiot, tapi sudah cukup Liu, mulai detik ini aku sadar, air mataku, waktuku, pikiranku, semuanya terlalu berharga jika ku berikan pada kalian!!! jadi lepassssskan tangan kotormu dari tubuhku!!!" Annchi melepaskan genggaman tangan Liu dan melangkah pergi,
" apakah dengan aku menandatangani surat perceraian itu membuatmu bahagia?" tanya Liu dari belakang annchi, langkah annchi terhenti
" ya benar! itu membuatku bahagia dan lebih baik," seru annchi tanpa menoleh kebelakang
" baiklah meskipun aku merasa ini tak adil untukku, aku akan menandatangani surat itu dan memberikannya padamu jika itu bisa membuatmu bahagia, tapi kau harus tahu, perasaanku padamu dan semua yang aku lakukan 1 tahun ini untukmu itu bukan sandiwara, satu-satunya sandiwara yang aku mainkan adalah aku berusaha bersabar memainkan peranku di depan xiauwen, surat itu akan ku berikan padamu secepatnya"
beberapa hari setelah bertemu annchi di hotel, Liu berusaha menghanyutkan dirinya kembali ke kantor, berusaha memecahkan permasalahan kantornya yang semakin kritis. Beberapa hari ia mencoba segala kemungkinan yang ada tapi nihil, dengan rumor yang tersebar, sungguh sulit mendapatkan kepercayaan investor. Tekanan dari berbagai pihak bermunculan.
siang itu Genji datang ke kantor dan mengumpulkan Liu dan Yongji dalam satu ruangan, disana Liu melihat wajah Genji dan Yongji mulai terlihat sangat khawatir.
" kalian tahu kenapa aku meminta kalian berada di sini? terutama kau Liu, apa kau tahu masalah ini semakin berlarut-larut?" tanya Genji dengan sangat dingin
" ia ayah" jawab Liu
" aku mendengar presdir gavin mengajukan syarat untuk menolong kita, kau harus menceraikan annchi, apa itu benar?"
" benar ayah"
" apa kau memiliki pilihan lain untuk menyelamatkan perusahaan ini?"
" tidak ada yah"
Braakkkkkkkkkk, Genji membanting tangannya di atas meja dengan keras, memecahkan kesunyian di dalam ruangan itu.
"kau tahu berapa lama aku merakit perusahaan ini? berapa lama kakakmu berusaha menjaga perusahaan ini agar berjalan dengan baik?apa kau benar-benar akan menghancurkan perusahaan ini demi cintamu Liu?" tanya Genji serius pada anak bungsunya, terlihat kemarahan di matanya, "apa kau akan terus egois seperti ini dan mengulang kesalahanmu lagi?" tanya Genji, pikiran Liu benar-benar kacau, ia di hadapkan oleh 2 pilihan yang sama beratnya.
" ayah, pasti ada cara lain yang bisa kita perbuat" seru Yongji berusaha menenangkan ayahnya dan membela Liu
"DIAM KAU YONGJI! sebagai kakak seharusnya kau tahu posisimu, aku menyerahkan adikmu kepadamu karena aku tahu kau cukup dewasa membimbingnya, tapi tak ku sangka pada akhirnya kalian mengecewakanku"
"tapi masalah ini tak semudah itu yah, banyak hal tak sesuai rencana"
"brakkkkkk" genji lagi-lagi membanting tangannya " seharusnya sedari awal aku takembiarkan Liu menikahi Annchi, ini benar-benar lelucon"
"berhentilah memarahi kakak yah, ini adalah kesalahanku, baiklah, aku akan menceraikan Annchi dan berbicara pada gavin" seru Liu kemudian melangkah pergi, Yongji mencoba menahan pundak Liu dan menatap wajah adiknya, Yongji paham apa yang di rasakan Liu saat ini, tapi juga sadar tak ada yang bisa ia lakukan lagi untuk membantu adiknya.
mendengar semua kemarahan Genji dan mengingat perkataan Annchi, ia sadar, keegoisannya menahan takdir akan merugikan semua orang, Langkah inilah yang harusnya ia hentikan selagi bisa dulu, seharusnya ia tak mempertaruhkan kebahagiaan semua orang demi kebahagiaannya sendiri, Liu menyadari betapa egoisnya dirinya saat ini, sedari awal seharusnya ia tak melangkah sejauh ini, Liu memejamkan matanya beberapa saat, membuka hatinya dan berusaha merelakan.