
sesampainya di rumah, Liu menggendong annchi masuk ke dalam kamar, Bibi yan melihat itu tersenyum senang, sepertinya mereka sudah berbaikan, batinnya. Liu menatap Annchi dengan penuh makna begitu juga sebaliknya. Liu terus melangkahkan kakinya memasuki kamar tidur utama, kamar mereka. Ia mendudukan tubuh annchi di pinggir tempat tidur, Liu masih menatap wajah Annchi sambil sesekali membelai pipi istrinya itu.
"ann, aku ingin malam ini jadi malam pertama kita lagi"
" hah?" jawab annchi keheranan
" malam pertama dimana aku akhirnya bebas dari rahasia di belakangmu, aku akhirnya jadi suami mu tanpa rasa takut, akhirnya aku duduk di hadapanmu tanpa rasa bersalah, dan akhirnya aku benar-benar merasa bahagia" seru Liu, dari pancaran matanya, terlihat jelas aura kebahagiaan.
"hemm, iya, kelak jangan menyembunyikan apapun dariku, apapun yang terjadi kau harus berkata jujur, meskipun itu pahit atau manis aku ingin jadi orang pertama yang mendengarnya. Aku tak ingin kau berbohong lagi Liu, kurasa cukup bagiku menelan kebohongan dari mu sebelumnya, aku tak mau lagi" air mata Annchi tak kuasa terbendung, Liu segera memeluk tubuh annchi.
"iya, aku takan menyembunyikan apapun lagi darimu, tetap percayalah padaku, selain ayah ibumu, akulah orang yang paling mencintaimu ann"
" kau harus menebus rasa sakit hatiku Liu" mendengar perkataan annchi, liu mengernyitkan dahinya dan melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Annchi dengan bingung
" menebus rasa sakitmu? bagaimana caranya?"
"kau ini kan pintar tuan muda Liu, kau pikirkanlah caranya, oke?" jawab annchi tersenyum sambil beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju kamar mandi, Liu masih terpaku.
Beberpaa saat kemudian, Annchi keluar kamar mandi memakai baju handuk dan rambut panjangnya terurai basah. Sesekali Annchi mengusap rambutnya dengan handuk dan duduk di samping Liu. Liu duduk bersandar di atas tempat tidur, tiba-tiba sibuk mengotak atik laptop di pangkuannya. Sejujurnya Annchi kecewa, mana ada malam pertama si suami malah sibuk dengan laptopnya, seharusnya ia sibuk merayu istrinya. Annchi kemudian duduk di samping Liu memandangi suami tampan di sampingnya. Liu masih bergeming. Sesekali mata Annchi melirik ke arah layar laptop.
"i..itu pink, liu sedang chat dengan Pink?" annchi mendadak cemburu.
Sadar di perhatikan dan melihat wajah Annchi yang seperti sebal, akhirnya Liu menarik lengan Annchi membuatnya duduk lebih dekat.
"ada apa?"
" itu Pink?" tanya Annchi kesal "kau masih saja seperti dulu, sangat sibuk" seru Annchi cemberut, Liu kemudian menutup layar laptop di pangkuannya dan mendekap tubuh Annchi dari samping.
"iya, Pink membantuku memantau perusahaan clien dan perusahaan kita"
"apa harus jam segini?" dari nada Annchi, Liu menangkap kecemburuan Annchi.
"webbrick tidak seperti perusahaan mu, perusahaanku harus memantau 24jam perusahaan clien, tentu saja aku ikut bertanggung jawab, apa kau sedang cemburu?" tanya Liu kemudian mengangkat dagu annchi, wajah mereka hanya terpaut beberapa senti, membuat Annchi gugup dan menepis tangan Liu.
"ti..tidak, siapa yang cemburu?"
"benarkah?" Liu berbicara sambil mendorong tubuh annchi, lama-lama annchi terbaring.
"iya, untuk apa cemburu, kau sudah biasa seperti itu?"
" biasa seperti itu? seperti apa?" nada pertayaan Liu semakin sensual, tubuhnya saat ini tepat berada di atas annchi.
"seperti ini" melihat wajah Liu yang semakin dekat dengannya,ia tak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah. Tangan Liu mulai membuka ikatan handuk di tubuh annchi, tubuhnya yang putih terlihat jelas membuat nafas Liu semakin memburu.
"seperti ini??" Liu terus menciumi tubuh annchi, wangi sabun di tubuhnya tercium jelas, Tubuh annchi bergetar, jantungnya berdegup kencang, Annchi memegang erat punggung liu, merasakan sensasi yang di berikan Liu, perlahan dan lembut, ciumannya terus turun, seperti sebuah morphine, sekali kau merasakannya, kau akan ketagihan,Rasa geli membuat annchi tak bisa menahan desahan-desahannya. Melihat annchi mulai memanas, Liu kembali mencium bibir dan leher annchi. Dari tatapan Annchi, ia seperti sedang memohon liu untuk "masuk", rangsangan yang Liu berikan sangat menyiksa.
"aku takan "masuk" secepat itu ann, ingin menyiksamu sedikit lebih lama" Liu tersenyum menatap annchi, Annchi mulai kesal dan mendorong tubuh Liu, hal ini membuat mereka berganti posisi, annchi berada di atas tubuh Liu.
"hemm, baiklah, kau ingin bermain kejam, kalau begitu kau juga harus merasakan hal yang sama Liu" tangan Annchi mulai membuka satu persatu kancing kemeja dan membuka ikat pinggang dan resleting celana Liu. 8 kotak di perut Liu terlihat jelas, sangat menggoda. Annchi melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan Liu sebelumnya, beberapa lama ia menciumi tubuh Liu, membuat tubuh Liu pun bergetar.
"bagaimana? di siksa seperti ini apakah enak?" tanya Annchi tersenyum, Liu tak kuat lagi akhirnya mendorong tubuh Annchi untuk berada di atasnya.
" baiklah, aku menyerah, kita lakukan sekarang" seru Liu, annchi mengangguk. Malam terasa sangat panjang hari itu. Beberapa jam berlalu, setelah melakukan hal itu, Annchi berbaring di atas lengan Liu, keringat mereka bercucuran, hari itu udara dingin, temperature menunjukan angka 11°, tapi temperature di sekitar tempat tidur mereka naik menjadi 43°, panas. Liu menatap annchi yang terlihat lelah itu.
"aku tak pernah merasa seperti ini ke wanita lain ann, tidak ada yang secantik kamu di mataku, jadi berhentilah cemburu, aku hanya milikmu" bisik Liu
"asistenmu cantik Liu, semua orang berkata begitu, bagaimana aku tak cemburu"
"dia hanya temanku dan asistenku secara profesional, seperti kedekatanmu dengan Gio jadi jangan salah paham" Liu mengecup kening Annchi.
"bagaimana bisa aku dan Gio di samakan denganmu dan Pink, sudahlah, aku ngantuk" seru Annchi menarik selimutnya lebih tinggi dan memejamkan matanya dengan wajah cemberut, Liu menatap wajah istrinya hanya menahan tawanya.
"bagaimana bisa disamakan kau dan pink, bahkan ketika cemburu seperti ini pun kau terlihat lebih cantik" batin Liu.
Keesokan harinya, Annchi bangun lebih awal, sebelum Liu bangun Annchi bergegas bangun dan membuatkan sarapan untuk Liu. Ia menuruni tangga dan melangkahkan kakinya ke dapur. Terlihat sosok bibi Yan dan beberapa pelayan lain sedang bersiap mempersiapkan sarapan untuk mereka. Annchi mendekat.
"a..ada apa ini? kenapa kalian memandangku senyum-senyum begitu?" tanya Annchi
"selamat pagi nona annchi, apa nona merasa lelah?" tanya bibi ann tersenyum.
"hah? lelah? ke..kenapa memangnya?" tanya annchi semakin heran, kemudian Bibi yan memberikan isyarat menunjuk ke leher annchi, annchi langsung menatap pantulan kaca di pintu rak lemari, wajahnya merah merona sambil menutupi lehernya dengan tangannya.
"ha..ha..ha..i..iya sedikit lelah.. he..he..he.." jawab annchi dengan tertawa canggung.
"nona ann, kami tidak sabar mendengar suara pangeran kecil di rumah ini,hehe" seru seorang pelayan
"haissh, sudah lah kalian jangan menggodaku, membuatku malu" seru Annchi sambil mengambil beberapa helai roti dan selai.
"setelah nona dan tuan bertengkar, rumah ini sangat sepi, seperti rumah hantu, bahkan tua liu tak pernah tersenyum" seru sorang pelayan.
"bukankah memang dia jarang tersenyum hihi"
"ah iya juga ya nona hehe, pokonya kami harap nona dan tuan jangan bertengkar lagi"
" baiklah baiklah" jawab annchi,perasaan bahagia memenuhi hatinya.
Setelah selesai membuat beberapa roti selai, ia meletakkannya di meja makan, annchi segera bergegas naik ke atas, ke kamar mereka, hendak membangunkan liu, tapi tak di sangka saat annchi membuka pintu, melihat tubuh Liu sudah berdiri menghadap cermin memakai dasinya, berpakaian hampir rapih untuk pergi ke kantor. Annchi mendekati Liu dan membantu Liu membetulkan dasinya.
" aku pikir kau masih tidur" mata annchi menatap lurus ke arah dasi Liu.
"hemm, bukankah kau yang biasanya masih tidur jam segini, kenapa sudah bangun? aku kurang membuat mu lelah semalam?" goda Liu yang tiba-tiba mendekatkan bibirnya pada leher Annchi, mendengar itu annchi seketika menghindar dan menarik dasi liu kuat-kuat,seketika itu liu terbatuk-batuk tercekik.
"uhuk..uhuuuk.. kau ingin membunuhku ann? uhuk..uhukkk" seru Liu sambil tangannya melonggarkan ikatan dasi di lehernya, annchi hanya tertawa geli.
"kurang membuatku lelah? setiap kali kita melakukannya, pinggangku seperti akan copot tahu!! ayo turun, aku membuatkan sarapan untukmu, kita ke kantor bersama" Tiba-tiba Liu mendekap tubuh Annchi kuat-kuat.
"huh, sudah berapa lama aku tak merasakan perasaan ini, seperti bangun dari mimpi buruk ann, akhirnya aku bisa melihat dan merasakanmu seperti istriku lagi, ini sangat melegakan"
" li..liuu.. lepaskan, aku sulit bernapas" kemudian Liu melepaskan pelukannya, menatap annchi dengan senyuman "ayo turun sarapan istriku" dengan senyuman cerah Liu menggenggam tangan Annchi dan melangkah keluar. Pagi itu rumah mereka seperti di penuhi cahaya matahari yang begitu hangat. Bukan hanya annchi dan Liu yang merasakan kehangatannya, bahkan seisi rumah melihat mereka akur, semuanya merasakan kebahagiaan yang sama.
Setelah sarapan, Annchi dan Liu pergi ke kantor bersama, namun, liu tak mengantarkan Annchi pergi ke perusahaannya. Ia membawa Annchi pergi ke Webbrick, sempat membuat Annchi kaget. Baru kali ini ia datang ke perusahaan Liu. Sesampainya di Loby, seluruh mata memandang, semua orang berbisik membicarakan mereka. Pink datang menyambut sepasang suami istri itu dengan senyuman. Ini pertama kalinya juga Annchi di sambut oleh pink sebagai istri dari Bosnya, Liu.
"selamat pagi Liu, nona annchi, selamat datang di Webbrick" sapa Pink tersenyum manis. Liu seketika menoleh ke arah Annchi, yang sedikit terdiam melihat pink di hadapannya, Liu melepaskan genggaman tangannya dan memindahkan tangannya ke lengan annchi dan mendekapnya. Annchipun menoleh Liu, Liu tersenyum, pandangan matanya seperti sedang berbicara " jangan berpikiran aneh atau cemburu, aku hanya milikmu", annchi tersenyum.
"selamat pagi Pink, apa kau sudah siapkan yang aku minta tadi malam?" tanya Liu
"ya semuanya sudah siap"
"bagus"
"apanya yang sudah siap liu?"tanya Annchi heran.
"kau akan tahu sebentar lagi" jawab Liu tersenyum pada Annchi, setelah beberapa saat, langkah kaki mereka terhenti di depan sebuah pintu Hall besar, Pink perlahan-lahan membuka pintu Hall itu, Annchi dan Liu di sambut banyak pasang mata memandangi mereka dengan senyuman, Liu membawa Annchi memasuki Hall, semua orang di sana tersenyum hangat, bahkan banyak di antara mereka yang memuji kecantikan annchi,
"tak heran tuan CEO berusaha keras mempertahankan istrinya dan memecahkan teka teki perusahaan Hua, istrinya secantik bidadari, dia juga anak tunggal perusahaan terbesar di China, benar-benar pasangan sempirna, membuatku iri saja" kirA-kira begitulah rata-rata kata-kata yang muncul sari bibir pegawai di sana. Annchi sedikit mendengar percakapan mereka, wajahnya mulai merona. Tubuh annchi di bawa Liu naik ke atas Panggung dengan sorotan lampu, wajah tampannya semakin terlihat. Ia kemudian meraih mic di hadapannya dan memperkenalkan Annchi dengan bangga sebagai Nyonya CEO di perusahaan itu, ini pertama kalinya Annchi datang dan di perkenalkan secara resmi. Sorak sorai tepuk tangan pegawai di sana, membuat wajah bahagia Annchi terpancar jelas. Bagi annchi Ini adalah seperti sebuah pengakuan keberadaannya secara resmi. Pengakuan bahwa dialah satu-satunya dan hanya satu-satunya nyonya Liu, Annchi menoleh ke arah Liu dengan mata berkaca-kaca.
" hufh, Liu kau tahu, seberapa aku berushaa membendung air mata bahagia ini, terimakasih"
" jangan berterimakasih dulu, aku masih punya kejutan untukmu" kemudian Liu menoleh ke arah Pink, Pink membawa sebuah buket bunga dan sebuah kotak, Pink memberikan kotak itu pada Annchi dan setelah di buka air mata Annchi benar-benar tak terbendung lagi. Di dalam kotak itu ada sebuah kalung berliontin mutiara yang cantik, di sana juga ada sebuah amplop berisikan tiket pesawat dengan tujuan Venice, italia. Annchi sekali lagi menatap wajah Liu.
"i..ini?"
"ini kado untukmu, untuk menebus rasa sakit hatimu yang kau bicarakan semalam"
"ba..bagaimana kau tahu aku menyukai dan ingin pergi ke Venice Liu??"
"kau lupa suami mu sangat pintar ann?" seru Liu tersenyum
"apakah alasanmu tiba-tiba sibuk dengan laptopmu dan pink semalam karena merencanakan ini?" tanya Annchi, Liu mengangguk,annchi seketika memeluk tubuh Liu erat. Air mata bahagianya berderaian.