
"tuuut ...tuuu..tuuut" Annchi masih berusaha menghubungi Liu tapi ponselnya tidak aktif
" ann, ponselnya gak aktif?" tanya Shin
" iya kak, keterlaluan, dia meninggalkanku sendiri dan ponselnya pun di matikan, dasar tidak bertanggung jawab, hufh" seru Annchi kesal
" kalau Liu tidak ada, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang saja? ini sudah malam kan"
" aku lihat xiauwen pun tak ada, apa mereka bersama ya kak?" seru annchi masih mencoba menghubunginya, melihat Annchi yang gelisah, Shin mulai paham perasaan ann, Annchi mulai jatuh cinta pada Liu.
" mungkin ada urusan mendadak yang penting antara mereka, sudah ayo aku antar" seru Shin sambil menarim tangan Annchi masuk ke mobilnya.
"ann, kenapa gelisah sekali? apa pulang dengannya begitu penting?" tanya Shin sambil mengemudi
" hemm, gak juga sih kak, hanya saja aku kesal, kenapa dia meninggalkanku sendiri dan pergi dengan gadis lain"
" kau jatuh cinta ya dengannya?" tanya shin sambil menatap wajah Annchi sekilas
"..........." annchi terdiam, bingung ingin berkata apa, dia sendiripun tak yakin dengan yang ia rasakan, tapi melihatnya dengan yang lain sungguh menyakitkan.
" mungkin iya kak, aku mulai bisa menerimanya, aku mulai terbiasa dengan sifatnya yang mengesalkan itu, aku harus bagaimana?" seru Annchi, mendengar itu hati shin tiba-tiba sakit, namun tetap bersikap tenang.
" jika kau benar menyukainya, maka kejarlah dia" seru shin
" kau tak papa kak?" tanya Annchi
" aku tetap di belakangmu, jika dia memberikan kesempatan untukmu menoleh ke arahku kelak, aku takan melepaskan mu lagi, mungkin sejak awal aku yang salah, terlalu lama mengulur waktu menyatakan perasaanku hingga Liu datang menikung ku, sekarang ini adalah konsekuensiku berfikir kau akan menungguku, aku lupa kau cantik dan pintar, yang menginginkanmu pun bukan hanya aku, aku juga menyesal menolak saat paman yizhen menawarkan perjodohan antara kita, seandainya aku menerimanya mungkin kau sudah ada di sisiku sejak dulu, maka dari itu jangan merasa bersalah padaku, sejak awal ini kesalahan ku. ikutilah kata hatimu ann" seru shin panjang lebar.
" baiklah, jika kau sudah berkata seperti itu aku takan ragu-ragu lagi, aku akan berusaha untuk diri ku sendiri" seru Annchi tersenyum pada shin, shinpun membalas dengan senyuman Annchi.
"kau harus ingat ann, suatu hari jika dia menyakitimu, ingatlah aku yang selalu ada untukmu" seru Shin sambil mengusap kepala Annchi sambil tersenyum.
Sesampainya di rumah, Annchi begitu lelah, ia pergi mandi dan berganti baju. Berkali-kali melihat ponsel, setiap menit mengecek ponselnya, berfikir mungkin Liu akan menelfonnya. Ternyata tidak.
" sedang apa sebenarnya mereka berdua? apakah sedang......." fikiran kotor Annchi mulai melayang-layang di kepalanya.. " ah apa mungkin begitu? atau ponselnya lowbath? kalau lowbath tidak mungkin selama ini tak bisa di hubungi" batin Annchi menerka-nerka.
" ah ya Tuhan, saat aku tak peduli dengannya dia selalu ada untuk ku, tapi saat aku peduli bahkan dia tiba-tiba menghilang seperti di telan bumi, mana hilangnya bersama gadis cantik lagi, aghhh dasar playboy!" serunya
tringgggg... ponsel annchi berbunyi, annchi mendengar itu langsung melompat menuju ponselnya,,
" ann, besok traktir makan lah, sudah lama tak bertemu kita" seru Yin..
" aghhh aku kira Liu, manusia ini bener-bener ya" batin annchi kesal
" udah ninggalin orang seenaknya, pulang-pulang minta traktir, manusia bukan sih?" balas Annchi
" weew jangan ngegas bu malem-malem, ada apa sih?" bls Yin
" ngantuk, besok aja di mid cafe jam 10" seru annchi
" wew gak mau brunch ah, langsung lunch aja, jam 12 ya!"
" okey" seru Annchi
"hufhhh liiuuuu kau itu kenapa hilang dari peredaran begini? benci benci benciiiiiiiiii" seru Annchi kesal.
**** keesokan harinya ****
Keesokan harinya Annchi masih menunggu Liu menghubunginya, ponselnya masih tidak bisa di hubungi. Yang ada hanya Yin yang tak henti-hentinya mengiriminya pesan.
"sudah setengah 12, aku harus bergegas ke mid cafe bertemu yin" batinnta
" di anter gak ann?" tanya faliu
" gak lagi pingin naik bis aja ma, sekalian jalan-jalan" serunya
"oke hati-hati ya sayang" kecup faliu ke anak semata wayangnya
Annchi berjalan ke luar pagar, langkah demi langkah ia susuri sampai ke bus stop terdekat. " hufh sudah lama juga aku tidak jalan seperti ini, ternyata udara segar sekali di luar ya meskipun panas tapi banyak pohon jadi sejuk" batin Annchi
sesampainya di halte, Annchi menunggu bisnya beberapa saat, melihat daun-daun yg berguguran rasanya indah sekali, sejenak dia melupakan Liu. Bisnya akhirnya datang, banyak penumpang yang mengantri, sampai tiba saatnya masuk ada salah seorang penumpang dari dalam bis keluar dengan buru-buru menabrak tubuh anchi hingga annchi terhempas jatuh ke belakang tiba-tiba ada sepasang tangan meraih tubuhnya agar tidak terjatuh.
" happ".. " untung kau tidak jatuh" seru pria itu, Annchi langsung menoleh ke belakang, melihat siapa yang menangkapnya.
"oh,, eh. trimakasih" seru Annchi, kemudian dia duduk di kursi paling belakang, pria itu mengikutinya. Duduk di sampingnya dengan wajah cuek tidak memperdulikan Annchi sama sekali. Mata anchi kadang melirik pria itu, kadang pandangan mata mereka bertemu.
tapi hanya sebatas itu saja, tak lebih. Saat sampai di mid cafe Annchi turun, dan anehnya pria itu juga turun dan menuju tempat yang sama dengan Annchi. Pria itu berjalan di belakang annchi, sadar ia di curigai akhirnua pria itu membuka suara.
" aku tak sedang mengikutimu, tujuan ku ke mid cafe" seru Gavin
" oh.. maaf mencurigaimu, akupun akan ke mid cafe, aku pikir kau mengikutiku"
" aku gavin" seru gavin sambil menyodorkan tangannya
" annchi" seru annchi menyambut tangan Gavin.
Tanpa Annchi sadari, liu mengikutinya dari belakang menggunakan mobilnya. Ia masih ragu ingin menghubungi Annchi, masih belum bisa memutuskan apapun, ia ingin menjauh beberapa hari dan berfikir tenang, sebenarnya liu tak sengaja melihat annchi berjalan di trotoar, ia mulai mengikuti annchi karena ada seorang pria berjalan bersamanya. ia heran siapa pria itu, liu baru kali ini melihatnya. ia ingin mendekat tapi rasanya tak mungkin, dengan emosi seperti saat ini ia tak mungkin bertemu annchi, khawatir memperburuk suasana.
Sesampainya di mid cafe dia melihat Yin terlihat sibuk berbicara dengan seseorang di telfonyan. Saat yin melihat Annchi langsung melambaikan tangan. Dan anchi mendekat.
" tuan Gavin, ini laporan bulan ini" seru seorang pegawai cafe tersebut
Mendengar itu annchi hampir yakin bahwa Gavin mungkin adalah pemilik cafe itu tapi jika di lihat dari tampilannya, Gavin terlalu berpakaian santai untuk seorang owner cafe. " ah sudahlah, untuk apa menebak dia pemilik atau bukan" batin Annchi sambil mendekati Yin
"ann, siapa dia?" tanya Yin
" entahlah, mungkin pemilik kafe ini" sahut annchi
" wah hebatnya kau ann, kau di kelilingi pria tampan dan kaya, hufh aku iri"
" hushhhh berisik, aku tak kenal dia, aku hanya tak sengaja bertemu dia krna dia menolongku di bis tadi" seru ann
" oh begitu" seru Yin, sambil makan siang yin dan Annchi tertawa bersama, annchi menceritakan apa yang terjadi selama ini, Yin mendengar cerita Annchi hampir tak percaya.
" ann, apa kau tak ingin mempettimbangkan kak shin? menurutku kau lebih baik bersamanya, dia lebih stabil di banding Liu" seru Yin
" aku awalnya pun berfikir begitu, entahlah hati ku tau yang dia mau, ini bahkan tak masuk akalku"
" lalu kemana dia pergi sampai saat ini tak menghubungimu?"
" entahlah yin, aku pun masih menunggunya menjelaskan semuanya" seru annchi
***
HAI READERS PLEASE BANGET UNTUK KALIAN KLIK "LIKE 👍" NOVEL INI DI SETIAP EPISODE, JANGAN LUPA JUGA 5 BINTANGNYA DI POJOK KANAN ATAS YAA .. oia jangan lupa KOMENTARnya yaa biar kita bisa sharing 🤗🤗
"