
" Ann apa kau kenal dia? wajahnya seperti tak asing" tanya Yin
" tidak, aku bertemu dengannya 2 hari lalu di taman Yongsan saat aku akan pergi ke tempatmu" saut Annchi sambil membereskan bukunya di loker kampus.
" oh, jadi dia yang menghalangimu datang? huh, teganya kau Ann, kau tak tau saat itu aku sedih sendiri di cafe"
" benarkah? huh, paling juga karena yongji kau menangis, seperti biasa kan? kenapa dia? selingkuh lagi?" tanya Annchi sambil memandang Yin yang wajahnya tiba-tiba sedih
" iya, dia selingkuh dengan teman modeling ku, aku benci dia, tahu akan seperti itu aku tidam akan mengenalkannya, hah, dasar bodoh!" jawab Yin sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dengan tangan. Melihat itu Annchi menyingkirkan tangan Yin berusaha menghentikan yang Yin lakukan.
" sesulit itukah pergi dari pelukan Yonji, Yin? apakah jika terlanjur cinta akan sulit melepaskan meskipun sakit?" tanya Annchi penasaran.
Maklum Annchi tidak pernah benar-benar tertarik berpacaran karena setiap kali mendengar sahabatnya itu bercerita, sepertinya pacaran hanya membuang-buang waktu, karena akan sering sedih, tiba-tiba seperti gila, kemudian menangis lagi.
" huh, kau tak akan tau apa yang ku rasakan, mangkannya jangan jomblo teruuussss, tuh kak Shin hua menunggumu sudah sekian lama"
Shin Hua adalah senior Annchi saat SMA dulu, hingga saat ini masih berhubungan baik dengan Annchi, selain tampan Kakak Shin juga sangat pintar, saat ini Ia bekerja di perusahaan teknologi yang paling terkenal seantero dunia di Perancis. Ayah Annchi sangat menyukainya karena kepintarannya, keluarga Hua sudah lama berhubungan dengan keluarga Ri, rasanya sudah seperti keluarga sendiri, apalagi adik senior Shin, Shen hua juga berteman baik dengan Annchi. Ya bisa di bilang Shen dan Shin adalah teman Annchi sejak kecil, waktu itu Annchi pernah mendengar ayah, paman zhang( ayah senior shin) dan kak Shin berbicara mengenai perjodohan kami, hanya saja waktu itu kak Shin menolaknya dengan sopan, Ia ingin masalah jodohnya biar berjalan seadanya dan diapun tak yakin Annchi menyukainya saat itu.
Shin sebetulnya menyukai annchi sejak kecil, tapi setelah 1 sekolah dengannya waktu SMA dulu, ia baru menyadari perasaannya yang sebenarya kepada Annchi, sifar ceria dan lugu Annchi begitu membekas di hati Shin, dulu saat SMA Annchi sering meminta Shin membantunya mengerjakan PR, karena Shin memang pintar dia selalu senang hati membantunya.
"betul juga ya, akhir-akhir ini kak Shin jarang menelfonku, mungkin dia sibuk ya" tiba-tiba Annchi teringat Shin,Annchi sebetulnya menyukai Shin tanpa sadar, tapi karena jarang bertemu hanya melalui telfon jadi Annchi tidak terlalu menyadari perasaannya. Dia fikir, jika pada akhirnya mungkin Shin adalah jodohnya, teringat pembicaraan ayah beberapa tahun lalu dengan kak shin dan paman Zhang.
" hemm.. maksudnya kau baru menyadari kenapa kau tak pacaran dengan shin, begitu Ann?" pertanyaan Yin tiba-tiba memecahkan lamunannya dengan Kak shin
" hemm, gimana ya Yin, aku sendiri saja tidak tahu pasti perasaanku dengannya, lagian, dia tidak pernah berbicara tentang perasaannya padaku, mana mungkin aku berani membayangkan dia jadi pacarku" mendengar itu, Yin hanya tertawa geli, melihat sahabatnya sebenarnya dia tau kalau Annchi memiliki perasaan untuk kak shin dan sebaliknya.
" baiklah, aku masuk kelas dulu ya Ann sayang, mulai lah berfikir pria mana yang kau pilih, pria yang di depan kampus tadi atau kak Shin, dua-duanya sama tampannya loh" goda Yin.
" hush hush sana kau cepat masuk kelasmu, benci aku mendengar godaan mu" sambil mendorong-dorong yin menjauh, Yin hanya tertawa geli
" hei kau tau, kak Liu Yoshan mahasiswa tingkat akhir fakultas komputer? kemarin dia memenangkan kejuaraan di luar negeri loh" gumam wanita itu
" ya aku dengar, luar biasa kak Liu itu, sudah super tampan, pintar, kaya pula, apa yang kurang darinya, andai dia mau menjadikanku pelayannya aku rela jika itu bisa membuatku melihatnya setiap hari" sahut wanita yang satunta
Mendengar itu, Annchi hanya tersenyum sinis dan bergumam kecil "mereka sangat bodoh, mau-maunya di jadikan pelayan hanya untuk melihat pria tampan setiap hari, dasar bodoh" , tiba-tiba suara obrolan mereka terhenti oleh suara laki-laki yang tidak asing di telinga Annchi, dari sela-sela rak buku annchi melihat sesosok laki-laki yang dia kenal jelas, dia Liu, saat ini Annchi masih belum tau nama pria yang dia temui di gerbang pagi tadi.
"apakah sudah selesai nona-nona membicarakanku di perpustakaan? apakah kalian tidak tau di perpustakaan dilarang mengobrol?" terlihat Liu mendekati wanita itu dengan menyandarkan satu tangannya di rak bumu dan satunya lagu di kantong celananya. badannya yang tegap, wajahnya yang tampan, cukup bisa membuat gadis-gadis itu salah tingkah.
" kak.. kak li..Liu, maafkan kami ya, bukan maksud kami membicarakanmu kak" jawab salah satu gadis itu dengan tangan gemetar, terlihat jelas mereka salah tingkah, tak berapa lama gadis-gadis itu pun beranjak pergi, kemudian Liu membalikan badannya melihat Annchi dari sela-sela buku, dengan pandangan sinis Liu berkata kepada Annchi.
" dan Kau,sudah puaskah menguping orang lain menggosip? sunggu tak tau sopan" ucap Liu kepada Annchi, " luar biasa nona Annchi ini, apa kau benar-benar sedang rindu padaku hingga harus mengikutiku kemanapun?" goda Liu. Jantung anchi tiba-tiba seperti mau copot, sekarang giliran Annchi yang salah tingkah di buatnya, tapi hanya sebentar dia merasakan itu, dia dengan cepat menguasai tubuh dan fikirannya
" siapa yang menguping? aku hanya tak sengaja mendengar, siapa suruh mereka mengobrol di dekatku" mata Anchi mulai berpaling dari wajah Liu, matanya saat ini sibuk meneruskan mencari buku yang dicarinya sejak tadi. Tanpa sadar Liu sudah ada di belakang Annchi.
Merasa ada seseorang di belakangnya, Annchi langsung memutar badannya ke arah belakang, betapa kagetnya Annchi saat dia melihat wajah liu yang hanya berjarak beberapa senti di depan wajahnya. Fikirannya kacau, terbayang kejadian malam itu.
" ma.. mau apa kau?" tanya Annchi dengan wajah khawatir.
" tentu saja ingin mencium pacarku, aku merindukanmu" tak tunggu lama, Liu mencium Annchi dengan lembut, tidak ada penolakan Annchi di sana, dia pun merasa aneh mengapa dia tidak menolak ciuman Liu saat itu, fikirannya kacau dan bingung, beberapa saat kemudian Liu melepaskan ciuman di bibir Annchi sambil berkata
"manis,, bibirmu masih semanis malam itu" goda Liu, karena terlalu bingung apa yang harus di lakukan, Annchi hanya melepaskan tangan Liu kemudian beranjak pergi, dia benar-benar tidak bisa mengendalikan degup jantungnyankali ini, harusnya marah jadi hanya lari menghindar saja. Annchi bergegas duduk di bangkunya semula sambil mengotak atik laptopnya.
"ah siaaaaaalll, benar-benar sial, kenapa selalu bertemu dengan orang itu? benci sekali rasanya" gerutu Annchi sebal.
Dari seberang Liu terus memperhatikan Annchi, dia juga merasa aneh mengapa setiap kali bertemu dengan gadis itu dia selalu ssja ingin menciumnya, pandangannya selalu tertuju pada bibir indah Annchi
"mengapa aku begitu tertarik dengan bibirnya, rasanya aku mulai gila, mungkin terlalu banyak melihat komik mesum" sambil menepuk keningnya berkali-kali Liu mulai meninggalkan perpustakaan.