ONE LAST TIME

ONE LAST TIME
Rasa yang tepat di waktu yang salah



Keesokan harinya setelah Shin membereskan semua dokumen pembelian rumah yang di maksud kemarin dan selesai membeli semua keperluan untuk rumah tersebut, Shin bergegas menuju hotel dimana annchi menginap. Beberapa lama ia mengetuk tak ada jawaban, hingga membuatnya khawatir dan berpikir yang tidak-tidak, pintu kamar juga terkunci akhirnya ia menghubungi pusat bantuan hotel itu meminta kunci cadangan, beberapa saat menunggu, akhirnya seorang staff datang membawa kunci cadangan. Buru-buru Shin masuk ke kamar Annchi, ia melihat Annchi masih berada di atas tempat tidurnya. Shin segera mendekati ann, ia melihat wajah ann sangat merah dan nafasnya tersengal-sengal


" ann kau kenapa? tubuhmu panas sekali, ayo aku antar ke rumah sakit" seru Shin panik berusaha mengangkat tubuh ann namun di cegah oleh Annchi


" kak aku tak mau ke rumah sakit, aku ingin pergi saja" seru Annchi sambil menahan sakit tubuhnya


"iya oke kita pergi, tapi setidaknya biarkan dokter memeriksa mu dan memberikan obat untukmu" annchi menjawabnya dengan Anngukan.


Shin segera meraih ponselnya untuk menghubungi dokter keluarga Hua dan memintanya datang ke hotel. Setelah beberapa saat dokter itu pun datang dan memeriksa annchi


" bagaimana dok keadaannya?"


" ia baik-baik saja, hanya flu dan stress, nona ann juga hamil, sebaiknya butuh banyak istirahat tuan, aku memberikan beberapa obat untuknya" seru dokter itu sambil menyodorkan beberapa obat untuk annchi


" annchi hamil dok?" shin terkejut " baiklah dok, terimakasih, oya, kau mohon rahasiakan ini dari semua orang ya"


" baiklah tuan"


"ann sebelum minum obat aku akan memaksakan bubur untukmu, tunggu sebentar ya" Shin melangkah pergi ke dapur tapi sekali lagi annchi mencegahnya


" kak aku tak mau bubur, tetaplah di sini aku mohon" seru annchi


" baiklah, aku akan memesankan makanan dari hotel ini saja ya"


kemudian Shin memesan makanan hotel, beberapa jam berlalu, annchi terlelap setelah makan dan minum obat , shin terus berada di sampingnya. Sesekali ponsel annchi berbunyi, beberapa panggilan masuk dari Liu. Shin meraih ponsel Annchi dan mematikannya.


"aku takan membiarkanmu mengetahui keberadaan annchi, aku sudah memperingatkan mu jangan sampai annchi menoleh kepadaku, jika itu terjadi aku takan membiarkan dia pergi lagi" seru Shin, kemudian Shin membuka laptopnya dan menyambungkan sejenis kabel data ke ponsel annchi menyambung ke komputernya


" aku ingat kau adalah pakar di bidang IT Liu. aku takan membiarkanmu melacak dan menguhubungi Annchi mulai sekarang hingga nanti" batin shin sambil sibuk mengotak atik ponsel annchi, ia membuat lokasi ponselnya random, dengan begitu Liu akan sangat kesulitan melacak annchi.


beberapa jam kemudian, annchi bangun dari tidurnya, hari mulai gelap.


" kau sudah bangun ann, aku sudah mengatur rumah untukmu dengan pemandangan indah di tepi pantai, tempatnya jauh di luar kota, apa kita berangkat sekarang?" tanya Shin tersenyum, Annchi memandang senyuman Shin beberapa saat.


" senyuman itu kembali lagi, setelah beberapa hari yang lalu hilang entah kemana, hei ann, apa ini waktu yang tepar memikirkan ini?" batin ann


" oh oke kak, terimakasih kau mau membantu ku"


" ann, aku akan selalu di belakangmu, oia apa kita perlu mengabari Orang tua mu?"


" jangan dulu kak, aku ingin sendiri beberapa waktu, aku tak ingin menemui siapapun"


"baiklah, kita berkemas"


setelah selesai berkemas, mereka langsung menuju rumah yang di maksud, perjalanan lumayan panjang, dari kota sekitar 5jam, Shin sengaja memilih tempat yang jauh karena annchi sepertinya membutuhkan itu. Sesampainya di sana, annchi di buat takjub denhan pemandangan alami di sana, seperti jarang terjamah orang lain. Rumah itu begitu nyaman, begitu tenang, sangat sunyi, design yang luar biasa.


" wow kak, this house is incredible, amazing view! aku berhutang banyak kepadamu" seru annchi sambil berjalan menuju balkon belakang yang langsung menghadap pantai



"kau suka ann?"


" sangat suka kak, trimakasih" peluk annchi tersenyum


" aku bisa memberikanmu segalanya ann asal kau mau" mendengar itu annchi tersentak dan memalingkan tubuhnya dari shin, kembali melihat lautan.


" tidak, dari awal kata-kata ini hanya untukmu"


"benarkah? apa aku harus percaya? kalian sudah begitu jahat padaku, mempermainkan aku dengan sangat rapih, kalian benar-benar hebat!"


"semua orang yang menyembunyikan ini pasti punya alasannya masing-masing ann, aku yakin juga demi kebaikanmu" seru Shin


" kebaikan yang bagaimana dan seperti apa? membiarkanku bersama dengan pembohong sebegitu lamanya"


" sudah ayo masuk, kau hamil, kita bicarakan ini lain kali oke"


" oh kau sudah tahu?"


" ya, beberapa jam yang lalu" seru shin tersenyum memandang laut


"tadinya hal ini membuatku gembira, sekarang justru sebaliknya, entah bagaimana nasib anakku nanti"


" anakmu akan baik-baik saja kan, ia masih punya ayahnya"


" apa gunanya memiliki ayah pembohong, dia juga takan bahagia"


" kalau begitu biarkan dia tumbuh bersamaku"


"HAH? hehe kau sudah benar-benar gila"


" ya kau benar, aku bahkan menerimamu dan anaknya untuk hidup bersamaku" seru shin sambil memegang pipi annchi


" kak, kau tahu, Yin adalah sahabat terbaikku, aku bersamanya lebih dari kau bersamaku, kami kenal dari kami kecil, sebaiknya jangan kau lakukan apapun untuk menyakitinya, karena menyakitinya akan menyakitiku juga, aku juga tak ingin lagi di sebut pelakor kak"


" siapa yang menyebutmu pelakor?"


" seseorang, dia bilang aku merebut Liu dari xiauwen dan seharusnya aku juga tak merebutmu dari Yin"


" itu pasti Yin ya? maafkan atas kejadian tempo hari ya ann, dia memang keterlaluan"


" tidak keterlaluan kak, aku sadar itu wajar, Yin mencintaimu dan berharap mendapatkan balasan yang sama darimu, melihat calon suaminya memeluk orang lain tentu saja akan marah"


" lalu apa yang kau radakan sekarang?suamimu memiliki wanita lain di belakangmu"


" tentu marah, kecewa, sakit yang tak terhingga rasanya, tapi jika ingat akulah sebenarnya orang ketiga itu, hak ku untuk marah seperti hilang" mendengar itu shin langsung memeluk ann, air mata annchi sudah ia tahan sedemikian rupa, merasakan pelukan shin, akhirnya air mata itu tumpah juga. Pelukannya selalu menenangkan.


" kau tak merebut siapapun, kau juga tak merebut aku atau mungkin juga liu, jika aku harus meninggalkan Yin, itu bukan karena kamu, tapi akulah yang memutuskan memilih orang lain, semua orang berhak memilih yang terbaik, setidaknya ini adalah alasanku"


" kak, ini bukan waktu yang tepat membicarakan masalah ini, kau lupa hatiku sedang hancur berkeping-keping, butuh banyak waktu untuk menyusunnya, kau jangan menungguku kak, cintailah dia yang mencintaimu"


" maksudmu kau tak mencintaiku?"


"bukan maksudku menyakitimu kak, namun tak mudah tuk melupakan cerita panjang yang aku lalui dan lagi tidak ada yang tidak mencintaimu, tapi kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah"


" ya kau benar, aku yang berharap terlalu cepat sampai aku tak ingat perasaanmu saat ini, baiklah, kau istirahatlah, aku akan tetap berada di sini dan tidur di ruang ramu"


" baiklah, good night kak"