ONE LAST TIME

ONE LAST TIME
Taman Donghae



Saat annchi mendapatkan panggilan dari Yin, Annchi masih berada di antara kerumunan orang di dalam hall perusahaan Liu, Liu sedang berbincang dengan beberapa manager, sesekali serius dan sesekali tersenyum, annchi berdiri terpisah dengan Liu, hanya di temani Pink. Mata annchi tak bisa lepas dari Liu. Pink memperhatikan annchi beberapa saat, ia tahu pasti arah pandangan mata annchi menuju pada Liu.


"bukankah dia mempesona ann?" tanya pink tersenyum


"hemm, ya, seperti biasa, bukankah kau juga mengaguminya?" tanya annchi melirik Pink, beberapa saat pink tak dapat menutupi wajah kagetnya, Pink tahu, annchi mungkin saja sedang cemburu terhadapnya


" tentu saja, di kota ini, gadis mana yang tak mengagumi suami mu ann, semua gadis mungkin bermimpi menggantikan posisimu saat ini" seru Pink, kali ini annchi yang kaget mendengar jawaban Pink


"apa kau salah satu dari gadis-gadis yang ingin menggantikan posisiku pink?" tanya Annchi semakin serius


"hehe, seandainya kau benar-benar melepasnya beberapa hari lalu dan tak menerima permintaan rujuknya, mungkin aku akan berusaha menggantikan posisimu, tapi ann, jangan salah paham, saat ini kau bersamanya lagi, aku ikut bahagia, antara aku dan Liu saat ini hanya terikat kerja sama profesional, meskipun aku tak pernah menggunakan bahasa formal sebagai asisten, aku tetap hanya akan menjadi asistennya, aku mungkin menyukainya tapi tak berniat merebutnya, di dalam hatinya tidak ada ruang untuk orang lain selain dirimu, kau benar-benar gadis yang beruntung" lirik Pink tersenyum


"hemm" jawab annchi singkat dengan senyuman.


di tengah percakapan Liu, Liu melirik annchi yang sedang berbincang dengan Pink, dari mimik wajahnya, sepertinya mereka sedang membicarakan masalah yang serius, Liu khawatir kemudian datang menghampiri mereka.


"wajah kalian seru sekali, sedang membicarakan hal apa?" tanya Liu menatap ke dua wanita di hadapannya.


"tidak ada Liu, hanya obrolan wanita, pria tak akan tertarik hehe, benarkan Ann" jawab Pink


"hemm, benar, hehe , Liu apa bisa kau antar aku kembali ke perusahaanku? ada beberapa dokumen yang harus aku tanda tangani segera, Gio baru saja menghubungiku" tanya Annchi.


"hemm baiklah, pink, aku akan mengantar annchi, kau yang ambil alih acara ini, oke?" titah liu


"baiklah, hati-hati di jalan ann" seru pink dengan senyum manisnya


Liu baru saja mengantarkannya kembali ke perusahaannya, sambil melangkahkan kakinya masuk ke lobby, wajahnya yang semila gembira berubah menjadi wajah penuh tanda tanya, kenapa Yin memintanya datang kesana, apa munhkin Yin masih merasa sedih sehingga butuh ketenangan. Annchi tak pikir panjang menyetujui permintaan yin, di pikirnya pembicaraan mereka nantinya memang akan sangat emosional, berada di tempat yang tak banyak orang memang keputusan tepat. Annchi keluar dari pintu Lift dan mulai kembali pada rutinitasnya. Gio menyambutnya dengan hangat sambil memberikan beberapa dokumen yang harus annchi tanda tangani.


"nona ann, ini adalah beberapa dokumen yang harus kau periksa dan ini adalah sampel kain yang kau minta kemarin" seru Gio


"hemm baiklah, apakah presdir ada Gio?" tanya Annchi


"tidak nona, Presdir sedang menghadiri beberapa pertemuan"


"aah baiklah" seru annchi memasuki ruangannya dan duduk di kursi meja kerjanya.


"Gio, apakah kau tahu aku akan ke venice besok sore?" tanya Annchi


"ya ann, Liu menghubungiku kemarin, memintaku mengosongkan jadwalmu beberapa hari kedepan dimulai dari besok"


"bagaimana aku meminta izin liu jika besok akan bertemu dengan Yin di taman Donghae jika besok aku libur? bagaimana? ayo ann berpikir" batin annchi


"ada apa memangnya ann? kenapa kau seperti gusar sekali?" tanya Gio mengulang pertanyaannya


"tak apa, aku akan pergi bertemu sahabatku Yin, tapi Liu tak perlu tahu, bisakah kau merahasiakan ini darinya jika besok ia bertanya padamu katakan saja aku ada di kantor, oke?" tanya Annchi


kemudian annchi menghubungi Pink melalui ponselnya


"pink, aku annchi, apakah Liu di sekitarmu saat ini?" tanya Annchi


"tidak ann, Liu sedang rapat dengan beberapa kepala tim, ada apa ann?"


"aku ingin tahu, jadwal Liu besok"


"hemm besok liu harus bertemu dengan beberapa Klien sampai jam 2 siang sebelum keberangkatan kalian ke Venice, ada apa ann?"


"tak apa, aku hanya ingin tahu, baiklah, aku minta Liu tak perlu tahu aku menghubungimu saat ini ya pink, bisakah kau menjaga rahasia ini?" tanya annchi


"baiklah ann, tak masalah" Pink menutup panggilannya, ia sedikit curiga dengan Annchi,


"kenapa mendadak menghubungi ku dan meminta jadwal Liu, apa yang annchi sembunyikan sesuatu dari Liu? ah mungkin kecurigaanku saja, mungkin annchi sedang mempersiapkan kejutan untuk Liu" batinnya.


****


Keesokan harinya, Annchi sengaja bangun terlambat menunggu Liu berangkat bekerja, saat ia bangun pagi itu, sebuah roti selai dan susu sudah tersedia di meja samping tempat tidurnya, saat annchi berushaa meraih susu, ia melihat sebuah catatan yang di tinggalkan Liu.


aku harus ke kantor untuk beberapa urusan, barang bawaan kita sudah ku serahkan pada supir, karena jadwalku sedikit padat hari ini, kita bertemu di bandara jam 4 sore sayang,


-with love Your king, Liu**-


"king Liu? hehe, benar-benar drama king"Annchi menahan tawa gelinya, tapi itu cukup manis


jam bergerak sangat cepat sudah hampir saatnya Annchi menemui Yin, ia menaiki taksi menuju taman Donghae, ia tak mengizinkan supirnya mengantarnya, sebenarnya tidak ada yang melarangnya untuk membawa supir tapi entah kenapa ia ingin menaiki taksi untuk datang ke sana, jantungnya entah mengapa berdebar cukup kencang, begitu gugup, membayangkan apa yang akan dibicarakan Yin nantinya, sepanjang jalan Annchi berusaha merangkai kata-kata untuk berbicara dengan Yin. Sesampainya di tempat tujuan, annchi memasuki gerbang taman, mencari sosok Yin, lama menyusiri taman itu, akhirnya ia melihat Yin duduk di bangku taman, memandang annchi, tak ada senyuman di bibirnya pun tak sehangat dulu. Apa yang ia harapakan? sebuah tragedi besar mematahkan persahabatannya. Perlahan annchi mendekati Yin dan duduk di sampingnya. Mereka terdiam beberapa lama, situasi begitu canggung di antara mereka berdua.


"Yin, maafkan aku" akhirnya annchi memberanikan diri membuka suara.


"kenapa saat itu kalian bersama ann? apa yang sebenarnya terjadi? pertanyaan ini menggangguku" Yin menolehkan wajahnya menatap manik mata annchi, begitu dingin, begitu serius. Annchi menghela nafas dan menceritakan segalanya. Panjang lebar Yin mendengarkan penjelasan Annchi seksama.


"tahu kah kau ann? sejujurnya aku menunggu sangat lama untuk bersama shin, tapi aku tahu, hatinya sejak dulu hanya untukmu, sampai akhirnya kau menikah dengan Liu, hatinya mulai terbuka untukku, 1 tahun aku bersamanya, dia benar-benar seperti mimpi menjadi kenyataan, sampai akhirnya ia memutuskan kembali ke china, aku tahu kaulah ancamanku, aku berusaha mengentikannya, tapi ia bersikeras untuk bertemu denganmu sebelum acara pertunangan kami, aku tak berpikir ia akan sejauh ini melindungimu, ternyata yang ku takutkan terjadi, di antara keretakan haubunganmu dengan Liu, menjadi kesempatan untuknya kembali padamu, dan hal yang mengecewakan kau tak benar-benar menjauhinya ann, sampai akhirnya aku kehilangannya untuk selamanya, kenapa kau harus ada di antara kami ann??? KENAPA??? KENAPA?" air mata Yin menetes begitu derasnya, annchi bisa melihat rasa sakitnya dari matanya. Seberapa banyaknya penyesalan dan kata maaf untuk di dengar Yin itu akan terbuang percuma, apalagi kata-kata shin terakhir kalinya di dengar langsung oleh Yin, annchi bisa membayangkan betapa hancurnya Yin saat itu.


" Yin, aku tahu, ribuan kata maafku tak akan berarti apapun, andai segalanya bisa di ulang, aku juga ingin mengulang waktu mencegahnya untuk melindungiku, meskipun percuma, aku tetap ingin meminta maaf padamu, maafkan akun Yin" annchi memeluk erat tubuh Yin, isak tangis Yin semakin pecah.


"aku tak ingin menangis sendiri ann, kau tetap harus membayarnya" mendengar kata-kata Yin , Annchi melepaskan pelukannya dan menatap Yin


"harus membayarnya? bagaimana caranya?" tanya Annchi pada Yin, beberapa lama Yin terdiam dan kemudian menjentikan jarinya. Setelah Yin menjentikan jarinya, beberapa pria berbaju hitam datang dari arah belakang annchi, menyeret tubuh Annchi dengan kasar. Annchi mulai panik


"Yin, a..ada apa ini????? tolong aku, aku mohonntolong aku" annchi menatap Yin penuh harap, Yin kemudian mendekati annchi dengan senyuman ketusnya.


"ann, kau harus merasakan apa yang aku rasakan, hutang nyawa akan di bayar dengan nyawa" setelah Yin berbicara seperti itu, sebuah tangan membekap wajah Annchi dengan saputangan untuk membiusnya, Annchi meronta sekuat tenaga, hanya nama Liu yang ia teriakkan berulang-ulang dalam hatinya, air matanya mulai menetes.