ONE LAST TIME

ONE LAST TIME
Resleting



sudah beberapa lama Annchi berada di ruang ganti di peternakan itu, mematung memandangi pantulannya di cermin, memang tak akan sulit untuk seorang Liu bersama dengan gadis cantik, seluruh gadis di kota ini juga berharap bisa bersamanya.


"ya..ya.. anggaplah seluruh gadis di kota ini berusaha bersamamu setelah kita berpisah, kau seharusnya tak perlu kaget ann, dia itu memang playboy, dia akan selalu menggunakan cara yang sama seperti saat awal bersamamu dulu, dia memang seperti itu, berhenti memikirkannya, fokus pada dirimu saja ann!" bisik annchi berbicara pada pantulannya di cermin.


tring.. bunyi pesan masuk pada ponsel Annchi berbunyi.


" ann, kita bertemu di restoran, aku perlu tenaga untuk berbicara bisnis denganmu" seru gavin


"baiklah gave, aku segera kesana" annchi membuka pintu kamar ganti kemudian melangkah menuju tempat gavin berada tanpa menyadari Liu sedang bersandar di samping pintu ruang gantinya.


Apa yang coba kalian pikirkan? tentu saja Liu mendengar perkataan annchi di dalam, Liu mendengar semuanya dan tersenyum menahan tawanya. Saat annchi membuka pintu ruang gantinya, annchi melangkahkan kakinya dengan cepat namun langkahnya terhenti ketika sepasang tangan kokoh memeluk pinggangnya dan mendekapnya, jantung annchi hampir copot karena kaget.


" kenapa kau pergi tadi? apakah kau sedang cemburu dan menghindari rasa canggung mu??" tanya Liu berbisik di bahu annchi sambil tersenyum.


" kenapa harus cemburu? jangankan memeluk wanita lain, aku pernah melihat yang lebih menyakitkan dari itu, jadi lepaskan aku!!" jawab annchi ketus namun tak bisa menampik perasaannya sendiri, Liu tau apa yang annchi maksud


"begitukah?seorang wanita tidak akan segugup ini jika hanya sebuah kebencian di dalam hatinya, apakah kau hanya tak tahu kau sedang membenciku atau merindukanku ann?" pandangan mata Liu tajam menatap annchi, pipi annchi mulai merona. Untuk menyembunyikan perasaannya, ia dengan cepat menepis tangan Liu dan membalikan badannya untuk beranjak pergi, namun sekali lagi Tangan Liu menariknya


"aku tak tahu lagi apa yang kau katakan ini Liu, apa kau selalu menggunakan trik semacam ini untuk menggoda gadis-gadis? aku tak terlalu heran jika banyak gadis berhasil kau kelabui ,kau memang sangat tahu cara menggunakan kelebihanmu dalam hal ini" seru annchi dengan nada yang sangat ketus


"apa sekarang kau sedang cemburu dengan pink? dia hanya asistenku dan juga teman baikku, jangan selalu berpikiran buruk padaku, aku tak sebejat itu, tapi terima kasih pujianmu, dengan kata lain kau mengakui kelebihan suamimu kan" kemudian Liu membalikan tubuh annchi dan meraih lagi lagi kait resleting di belakang baju annchi, annchi semakin tak tahu apa yang mau liu lakukan, ia berusaha berontak namun tangan Liu memegang pinggangnya erat.


" tak usah berontak, aku hanya ingin membantu menaikan resleting baju istriku yang turun, apa itu salah?" seru Liu sambil tersenyum,


"aku perjelas, aku sudah bukan istrimu lagi dan lagi, kau bebas dekat dengan siapapun saat ini"


"sebagai informasi nyonya Liu, sebelum hakim ketuk palu tentang perceraian ini, kau masih milikku" bisik Liu di telinga annchi, annchi mendengar perkataan Liu,ia seperti tak bisa mengontrol hatinya saat ini. Wajahnya merona merah. Tanpa memalingkan wajah annchi cepat-cepat melangkah pergi. Liu hanya tersenyum.


" kau tak bisa membohongi dirimu sendiri ann, Antara cinta dan benci itu seperti permukaan es di musim dingin, begitu tipis" senyum Liu.


Annchi melangkahkan kakinya menuju restoran dengan hati bergemuruh, ia berjalan sambil memegangi dadanya.


" ann kenapa kau lemah sekali, dia hanya bicara seperti itu tapi kau sudah tersipu malu, aahhhh lemah, benar-benar lemah" batin annchi menghujat dirinya sendiri dengan kesal.


Sesampainya di restoran, annchi mencoba mencari sosok Gavin yang sedang menunggunya, saat annchi memasuki ruangan, senyum gavin mengembang, annchipun tersenyum melihat gavin. Gavin kemudian berdiri dan menarik kursi di hadapannya untuk annchi.


"terimakasih gave" senyum annchi


" seorang putri memang seharusnya di layani seperti putri" Gavin tersenyum lembut. Kemudian mereka mulai memesan makanan, tak beberapa lama, makanan yang di pesan telah di sajikan di atas meja.


" apa kau juga mengundang Liu duduk semeja dengan kita?" tanya annchi


"tidak, urusanku dengannya sudah beres, seharusnya ia sudah pulang" seru gavin, mendengar itu, seperti ada rasa sedikit kekecewaan di wajah annchi.


"kenapa? kau tampak kecewa? masih peduli padanya?"


" setelah apa yang ia lakukan seharusnya tak ada kekecewaan selain kebencian kan" jawab annchi berusaha tenang sambil memotong daging steik di hadapannya


"benarkah? tapi sepertinya hatimu tak bisa menyembunyikannya dengan baik" mendengar perkataan Gavin, annchi menghentikan suapannya


" apakah kita bisa bicara bisnis saja gave?" tanya Annchi tiba-tiba serius.


" ann, jika kau begitu membencinya, kenapa kau tak coba bersamaku?setidaknya untuk membalas Liu kau butuh seseorang kan"


" apa maksudmu gave?"


" apa kau tak mau membalas Liu ann?"


annchi sedikit terkejut mendengar apa yang Gavin katakan, ia berpikir sebenarnya memang ia ingin sekali membalas Liu.


"mungkin ide Gavin bukan ide yang buruk, tapi jika aku melakukannya, apa bedanya dengan yang Liu lakukan?" batin annchi


"dan dengan kau bersamaku, bukankah akan menguntungkan perusahaan mu ann? Yizhen katakan kau baru hari ini kembali ke kantor, kau tentu belum tahu kondisi keuangan perusahaanmu kan, karena terlalu banyak rumor yang berkembang, ayahmu bekerja dengan sangat keras, perusahaanmu saat ini butuh investor besar ann dan dengan kemampuan yang aku miliki aku bisa melakukannya. Asal, kau bersamaku dan izinkan aku berusaha untukmu, aku akan membantu menstabilkan perusahaanmu. Aku tak minta kau menjadi kekasihku, itu terlalu cepat dan tak baik dengan situasi saat ini, akan lebih banyak rumor yang akan berkembang, aku ingin ini berjalan perlahan, bolehkah aku mencobanya ann?"


Wajah annchi benar-benar menunjukan wajah terheran-heran, ia tak menyangka gavin selama ini memendam perasaan padanya


"a..apa yang kau bicarakan gave? ba..bagaimana bisa kau berbicara begitu? apakah ini semua memang rencanamu?? apa kontrak kerja ini termasuk di dalamnya?" tanya annchi curiga


"tidak, aku tak memiliki rencana apapun sampai aku melihatmu menangis di depan makam shin dan mendengar semua yang kau katakan kala itu, aku merasakan kesedihan dan kekecewaan dalam satu waktu, jadi membuatku ingin membantumu, aku yakin kau tak tahu kondisi perusahaanmu kala itu, mungkin sampai hari ini juga kau tak tahu, sampai akhirnya aku memutuskan untuk membantumu dengan cara ini" Mendengar itu, annchi diam sejenak, berusaha berpikir dalam diamnya.


" gave, aku terlalu banyak di kecewakan orang lain di sekitarku, untuk saat ini aku tak sekalipun berpikir untuk bersama seseorang, ini terlalu cepat"


"tak masalah, asal kau mengizinkanku berusaha, aku akan menunggumu"


lagi-lagi annchi seperti pernah mendengar kata-kata ini, siapa lagi kalau bukan kata-kata shin, ia slalu akan berkata akan menunggunya, selalu berusaha berada di belakangnya. Sejujurnya, annchi berada di situasi dimana ia sangat membenci kata-kata seperti ini, ia membenci semua orang berkata akan berusaha, akan menunggu, akan selalu ada tapi pada akhirnya hanya kekecewaan yang ia dapatkan. Ia hampir tak percaya cinta itu nyata.


" terserah apa mau mu saja gave, aku sedang berada di posisi tak ingin bersama siapapun, aku ingin merasa cukup dengan diri ku sendiri saja, pada akhirnya aku hanya memiliki diriku sendiri untuk di percaya, aku tak perlu melakukan apapun untuk membalas Liu, aku percaya setiap manusia akan berjalan dengan karmanya, oia kalau apa yang kau katakan ini sebagai syarat kerjasama kita, aku menolaknya gave, baiknya aku permisi, terimakasih makan siangnya" seru annchi begitu dingin dengan wajah datar, sambil berdiri dan melangkah pergi, namun tangan Annchi seketika di raih oleh Gavin.


"aku akan tetap menandatangani kontrak itu, meskipun kau menolak perasaanku, itu tak masalah, tapi aku akan tetap menandatangani kontrak itu bukan sebagai pengagum rahasiamu, tapi sebagai temanmu, oke? duduklah, kita lanjutkan makan siang kita" seru gavin sambil tersenyum, annchi pun mengangguk tak bersemangat.


Masalah ini benar-benar merubah sudut pandang annchi, musim gugur di wajahnya benar-benar menghilang, di gantikan dengan musim dingin yang beku.


Pada akhirnya kita tahu hal tersulit saat kau di kecewakan adalah bukan tentang bagaimana kau bisa memaafkannya, tapi yang tersulit adalah bagaimana kau bisa melupakan hal yang membuatmu kecewa dan berusaha membangun kepercayaan itu lagi.


Annchi sedang merasakan bagaimana perihnya di sakiti dan di kecewakan, mendengar semua orang berharap pengampunan dan kesempatan darinya, itu seperti memintanya mengumpulkan kepingan-kepingan kaca yang berhamburan. Mungkin keping-kepingan itu akan kembali tersusun, tapi tak akan memantulkan pantulan sempurna seperti dulu.