
Pagi itu hujan turun di Yonsan, langit rasanya hitam pekat, sehitam hari-hari Liu semenjak tahu Annchi hilang ingatan, tidak pernah ada senyum di wajah Liu, meskipun Xiauwen menghiburnya, bahkan setiap Xiauwen menelfonnya, tak sekalipun dia angkat.
Hari itu semalaman Liu menemani Annchi, semalaman Liu memandangi wajah Annchi sambil menggenggam tangannya, sesekali mengusap wajahnya. Banyak sekali yang ia fikirkan hingga tertidur di samping tempat tidur Annchi. Setelah annchi bangun, ia melihat Liu di sampingnya ,saat di dadanya terus melanda.
" kenapa sesakit ini jika aku melihatnya? apa aku kenal dia? kenapa perasaan ini aneh sekali?" batin Annchi
" tuk.. tuk.. tuk.." Annchi mengetuk-ngetuk kepala Liu dengan ujung jarinya. Liu terbangun dan tersenyum kepada Annchi.
"Ann, kau sudah bangun, bagaimana kepalamu? bagaimana kakimu? apa masih sakit?" seru Liu sambil mengecek tubuh Annchi
" hei kau, apa aku benar-benar mengenalmu?"
tanya Annchi dengan pandangan penasaran
" tentu saja kau mengenalku, sepertinya kepalamu terlaku keras terbentur" seru liu sambil menjentikan ujung narinya ke kening Annchi
" ah.. ahh..sakit tau" jawab Annchi " memangnya kau siapa? kenapa aku tak mengingatmu?" tanya Annchi
" apa kau percaya kalau aku bilang kau pacarku?" jawab Liu serius memandang Annchi
" hahahahaha,,, bisa saja kau,, tak mungkin aku pacarmu, di hatiku hanya ada kak shin seorang" jawabnya dengan wajah tak berdosa.
Mendengar itu senyum di wajah Liu memudar. Beberapa saat Liu memandang wajah Annchi dalam-dalam
" dengan gampangnya kau bilang di hatimu ada orang lain, apa kau tak peduli perasaanku? siaaal!" batin liu sambil menggenggam erat sprei tempat tidur annchi tanda kesal
" hei, kenapa wajahmu tiba-tiba kesal?a.. aapaa benar kau pacarku? kok bisa?" tanya Annchi
" bisalahhhhhh, kau pikir saja sendiri!" jawabnya sambil pergi keluar meninggalkan Annchi sendiri
" yaampun aneh sekali pria itu, masa aku bilang begitu saja dia marah" batinya
Beberapa saat kemudian Shin datang membawa bunga mawar merah yang indah, Senyumnya merebak melihat Annchi terduduk di tempat tidurnya
" Bonjour, belle princesse Annchi (selamat pagi, putri annchi yang cantik)" senyum Shin sambil memberikan bunga kepada Annchi
"bonjour aussi beau prince(selamat pagi juga pangeran yang tampan)" sahut Annchi sambil tangannya menerima karangan bunga dari Shin
"merci très belle fleur(terima kasih, bunga yang sangat indah)"
"De rien, cette fleur est spécialement pour vous (sama-sama, bunga ini khusus untukmu)" jawab Shin sambil mengelus-elus kepala Annchi.
" kau selalu baik kak, hihi,, hei kak apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Annchi
"Que veux-tu demander?( mau tanya apa?)" jawab Shin dengan bahasa Perancis
" kak, sebenarnya apa yang terjadi padaku sebenarnya? kenapa aku bisa di rumah sakit?ibu bilang aku kecelakaan"
" iya kau kecelakaan mobil" seru Shin berbohong, tak mungkin ia jujur untuk saat ini
" oh jadi benar ya, kak, kau kenal pria yang waktu itu saat aku baru sadar?"
" hemm.. tidak, aku hanya mengenalnya sedikit dan aku juga tak peduli, kenapa?"
" setiap kali aku melihatnya, kenapa dadaku sakit? tapi jika melihatmu atau orang lain aku tak merasakannya"
" hehehe, itu mungkin hanya perasaanmu saja tuan putri" sahut Shin sambil mencubit dagu Annchi, sebenarna Shin mengerti apa yang di maksud Ann, mungkin banyak memori buruk yang terjadi antara mereka, ingatannya seperti membuangnya, tapi tubuhnya bahkan tidak lupa" batinnya
" mana mungkin hanya perasaanku kak, lalu kenapa dia bilang dia pacarku? jelas-jelas aku tak punya pacar dan aku tak kenal dia"
" mana mungkin kau pacarnya, kau itu pacarku" goda Shin pada Annchi
Tanpa mereka sadari, Liu berdiri di depan pintu kamar Annchi, Liu mendengar pembicaraan mereka. Liu mengepal tangannya dengan geram.
" brengsek kau shin, pintar juga kau memanfaatkan situasi, jelas-jelas dia wanitaku, Aaggghhh" batinnya sambil memukul tembok kamar Annchi dan pergi.
---------\=\=\=\=------
-Di kamar Liu-
secara Rahasia Liu mulai mencari tau sebenarnya siapa dalang di balik semua ini
" orang itu harus benar-benar membayar atas semua penderitaan Ann dan atas memori Ann yang hilang" batinnya geram
1 jam, 3 jam, 5 jam berlalu, masih belum juga menemukan petunjuk " aaaaghhh siaaaal" , ia mulai meretas beberapa data dari perusahaan-perusahaan yang pernah bekerja sama dengan Ri.corp. saat datanya terbuka mata Liu terbelalak
" woooowwwww ada ribuan data perusahaan, ya Tuhan, jika ini bukan demi hatiku, aku bahkan tak ingin melihatnya " batin liu sambil menepuk keningnya berkali-kali.
*Fyi: mengingatkan Liu Yoshan kuliah di fakultas ilmu komputer dan memenangkan banyak penghargaan di bidang teknologi, sama kayak Shin jadi gak heran dia juga dengan gampang hack data perusahaan-perusahaan. Selain itu keluarga Yoshan juga punya perusahaan yg bergerak di bidang teknologi.sekian sekilas info.
" dengan data sebanyak ini, mustahil aku harus mengeceknya sendiri , aku harus ke kantor dan meminta bantuan yongji" batinnya bergegas ke kantor ayahnya.
sesampainya di kantor, ia langsung di sambut oleh sekertaris choi.
" Selamat pagi tuan muda, tumben sekali anda datang, ada yang bisa saya bantu tuan?"
seru sekertaris choi
" dimana Yongji paman?" jawab Liu
" Dia sedang rapat bersama Tuan besar, Tuan muda bisa menunggu tuan Yongji di ruangannta"
" baiklah" jawab Liu sambil berjalan menuju ruangan yongji.
Sesampainya di depan pintu ruangan Yongji, ia di sambut assisten pribadi Yongji, Ana. tampilannya begitu cantik, pakaiannya pun sangat menggoda tapi sayang make upnya tebal " hemm buruk sekali selera Yongji, sama sekali bukan tipeku" batin Liu
" Tuan Liu apa kabar? lama tidak bertemu denganmu, tua Yongji sedang rapat bersama Tuan besar, jika anda mau silahkan menunggu di dalam" seru ana sambil mempersilahkan Liu masuk,
kemudian ia duduk di meja kerja Yongji, Ruangannya indah sekali, ia tak heran jika ayah memanjakannya, sebagai anak tertua perusahaan Yoshan, Yongji memang sangat berbakat.
Sekilas tentang Yongji, dia Adalah anak peryama dari keluarga Yoshan, dia semumuran sama Shin, wajahnya gak kalah badboynya sama liu, tapi badboynya Yongji mah lebih elegant daripada Liu yang tampilannya lebih casual, tapi Yongji lebih playboy dan Liu enggak, Yongji dari dulu tertarik sama perusahaan ayahnya, apalagi dia juga punya bakat bisnis yang boleh di bilang mumpuni. Dia itu mantannya Yin sahabatnya Annchi( masih inget dong di awal-awal author pernah nyinggung sedikit mslah yongji playboy. Beda sama Liu yang gak pernah mau mengurus perusahaan Yoshan, mungkin karena masih muda. Tapi siapa sangka, Liu juga punya bakat yang bagus di bidang teknologi jadi Liu selalu jadi tempat sharing Yongji kalau perusahaannya ada masalah. Hubungan kakak beradik ini harmonis, kadang Yongji suka menggoda adiknya dengan menyodorkan wanita-wanita cantik di sekeliling Yongji, tapi Liu menolak.
beberapa menit sudah dia menunggu Yongji, rasanya bosan sekali, ia mulai membuka-buka laci yongji, iseng. Mata Liu kaget melihat banyak sekali alat kontrasepsi di lacinya
" hah dasar penjahat kelamin, dia pasti sering berhubungan sama gadis-gadis di kantor, sungguh sial punya kakak bajingan, haha" batin liu sambil terkikik geli.
"berani sekali kau melihat-lihat barang miliku dan menertawainya" seru Yongji dengan wajah serius menatap adiknya
"hi..hi..hi.. aku baru menyadari kau ini selain punya bakat luar biasa di perusahaan, kau juga sangat berbakat merayu wanita kak, baiknya kau membantuku untuk merayu 1 wanita" seru Liu sambil tertawa
"hah dasar anak bodoh, merayu Xiauwen pun kau tak mampu, lebih baik kau pensiun menjadi laki-laki, aku sangat malu mengakui kau sebagai adik" jawan Yongji sambil "menoyor" kepala adiknya. Melihat itu Ana tersenyum menahan tawa. Ana melihat Liu tak kalah tampannya dari Yongji.
" ana, kenapa kau senyum-senyum begitu? menertawaiku?" seru Liu menatap Ana
" maaf tuan Liu, bukan maksud saya menertawakan ,hanya saja saya kagum melihat hubungan kalian berdua" jawab Ana
" hubungan apa? aku malu mengakui orang ini menjadi kakaku, kau jangan mau di rayu pria mesum ini ana, kau akan menyesal! " jawab liu sambil menatap Yongji yang mulai melotot
" Tutup mulutmu bocah, minggir dari tempat duduku, mengotorinya saja kau" seru Yongji