
setelah beberapa hari Liu sudah di perbolehkan pulang, namun Liu masih belum di perbolehkan untuk bekerja, karena luka tusukan yang sangat dalam, butuh beberapa waktu untuk bisa sembuh, Annchi juga di perbolehkan menggantikan Liu untuk memimpin perusahaan, awalnya keputusan Yizhen di perdebatkan oleh Liu namun memang beberapa hari kedepan banyak pertemuan dengan berbagai clien dari dalam dan luar negeri, mereka tidak bisa menunggu karena terlalu penting akhirnya Annchi yang menghandle, Yizhen saat ini sedang berada di jepang bertemu client di sana.
pagi itu Annchi berada di depan meja riasnya, membuka laci dan mendapatkan undangan pertunangan Shin yang tinggal beberapa hari lagi, ia belum memberi tahukan Liu tentang undangan itu. Menatapnya dalam-dalam, pikiran Annchi terbang jauh kemanapun. Bukan karena tak bahagia di sisi Liu, tapi membuang jauh memori kenangan dengan cinta pertamamu tak semudah itu. Pikirannya masih berandai-andai dan bertanya, kalaupun harus menikah, kenapa harus dengan Yin sahabatnya. Kenapa harus dengan orang terdekatnya, terlebih lagi Yin sekarang bukan Yin yang dulu, bukan lagi gadis ceria yang selalu menebarkan cahaya di dekatnya. Ini akan berat, Yin memutuskan untuk menjadi bayangan dari Annchi, tak sulit untuk jatuh cinta dengan Shin.
Dari atas tempat tidur, Liu terus memperhatikan istrinya dari pantulan cerimin, ia bertanya-tanya kenapa wajahnya sesedih itu.
" ann, kau kenapa, kenapa wajahmu sedih?" mendengar Liu bertanya, Annchi tersentak kaget, ia langsung mengembalikan undangan itu ke lacinya.
"oh eh tidak apa-apa, Liu aku hari ini akan ke kantor, kau istirahatlah, tenang saja aku menggunakan flat shoes dan di antar jemput oleh supir, kau tak perlu khawatir " seru Annchi tersenyum sambil duduk di samping Liu
" baiklah, sesudah bertemu client kau tak perlu mengerjakan hal lain di kantor, cepat pulang untuk istirahat ya" seru Liu sambil mengecup kening ann
" baiklah aku berangkat ya" seru annchi sambil melangkah pergi. Setelah kepergian Annchi liu memeperhatikan laci meja rias Annchi, ia penasaran dengan sesuatu yang ia pegang sepanjang duduk di sana yang membuatnya begitu sedih. Akhirnya ia berdiri dan beranjak ke meja rias Annchi, membuka laci di sana , ia melihat surat undangan Shin
"sejak kapan ini ada di sini? kapan surat undangan ini di berikan ke annchi? kenapa dia semurung itu? masih belum move on?" banyak pertanyaa di kepala Liu, apakah istrinya masih menyukai Shin?
Bukan tentang suka atau tidak suka, bukan tentang masih mencintai atau tidak, Meskipun sudah di kubur dalam-dalam tentu saja bekasnya masih ada. Jika dia benar-benar pernah ada di hatimu, meskipun perasaan itu sudah di gantikan seseorang yang lebih baik, tetap saja ada perasaan yang sulit di jelaskan ketika kau mengingatnya. Begitu pula dengan Annchi, hubungan Shin dan Annchi sudah berlangsung sangat lama. Semua perhatian, tawa, pelukan suara shin terekam jelas di ingatannya, tapi seperti yang paman choi katankan, berdirilah di samping seseorang yang mencintaimu dan menarikmu jelas ke dalam pelukannya. Pada akhirnya, kau harus memilih dia yang mengatakan cinta dan berani melamarmu, bukan hanya cinta dalan semu yang membuatmu menunggu.
Sepanjang jalan, Annchi hanya diam, selain Shin ia juga mempertanyakan peristiwa penusukan itu.
"siapa lagi yang berusaha mencelakakan ku? ada apa lagi ini? berhubungan dengan ayah lagi? tapi perusahaan sudah bukan ayah lagi yang bertanggung jawab, meskipun Liu yang memegang kendali tapi tentu saja secara teknis akulah pemimpin sebenarnya" Lamunan Annchi tepecah ketika ponsel Annchi berbunyi, pesan masuk dari Yin
" aku ingin bertemu denganmu, aku tunggu di kafe biasa jam 12siang" seru Yin, pesan ini menjadi sangat aneh, Yin tak pernah mengirimkan pesan dengan to the point seperti ini.
" ada apa lagi ini?haduh kepalaku di buat pusing oleh banyak hal di hari yang sepagi ini" gerutunya dalam hati
sesampainya di Lobby kantor, semua pegawai di sana menyambut Annchi dengan hangat, seperti tidak sudah lama tidak datang ke kantor. Termasuk Gio. Saat gio tau annchi yang akan menggantikan Liu sampai Liu sembuh Gio langsung bersemangat. Inilah hari yang ia nanti-nantikan. Untuk beberapa hari kedepan ia tak perlu melihat tatapan dingin dan mendengarkan suara galak Liu.
" selamat pagi nona annchi, ya Tuhan hari ini langit sangat cerah sekali ya" sapa Gio dengan senyum lebar
" selamat pagi assisten ku, huh ya sudah lama tak melihatmu tersenyum selebar itu, hehe"
" tentu saja, akhirnya cahaya matahari masuk ke kantor ini lagi, biasanya hanya ada badai salju"
" haha, suami ku luar biasa ya, pantas saja perusahaan ini maju pesat di tangannya, aku juga sepertinya harus segalak dia agar kalian lebih disiplin" seru annchi tertawa
" aura dingin tuan liu takan ada yang bisa menandinginya, meskipun kau berubah menjadi dia, dia tetap tak terkalahkan nona hihi"
"sudah sudah, kau punya kabar apa untuk ku kerjakan hari ini?" tanya annchi
" banyaaaaak sekali, kau harus bersiap-siap nona hehe" jawab Gio sambil tersenyum
Annchi sampai di ruangan kerjanya, sudah menunggu beberapa manager berdiri menyambutnya, selain untuk menyambut mereka juga memberikan laporan yang harus di teliti oleh Ann.
" selamat pagi Nona Annchi" sapa mereka bersamaan
"selamat pagi, ada apa kalian berada di sini?"
" kami ingin menyapa nona dan memberikan beberapa laporan"
" kenapa kalian harus kesini sendiri, kenapa tidak meminta orang lain memberikan ini padaku" seru Annchi sambil sibuk membolak balik kertas laporan di depannya, kemudian Gio berbisik
" etos kerja Liu ini sungguh luar biasa, aku sampai terheran-heran, wajar jika dalam 1 tahun ia memegang perusahaan ini , income perusahaan bisa naik hampir 10%, ini sungguh sebuah pencapaian, ternyata proses di belakangnya sungguh luar biasa" batin annchi sambil mendengarkan satu persatu presentasi para manager. Semakin di dengarkan Annchi semakin menggerutu di dalam hatinya
" huh, baru bekerja tapi sudah di berikan tugas menumpuk, pantas saja di hari libur Liu masih harus memeriksa laporan, dia itu luar biasa, bagaimana harus menyelesaikan tugas sebanyak ini"
selesai presentasi, para manager undur diri. annchi langsung menyandarkan kepalanya di senderan kepala pada kursinya dengan wajah lesu.
" ada apa nona?" tanya Gio
" aku tak bisa membayangkan Liu bekerja selerti ini setiap hari, baru hari pertama tapi kepalaku seakan sudah tak sanggup lagi"
"hehe, itu belum seberapa nona, silahkan lihat emailmu sekarang, itu adalah usulan investasi dari banyak perusahaan, tuan liu biasanya sangat mendetail untuk meneliti isi dari perjanjian itu" seru Gio
Beberapa saat kemudian, terdengar suara panggilan masuk dari Liu.
" halo" sapa Annchi
" bagaimana situasi di kantor pagi ini? apakah para manager memberikan laporannya untukmu?"
" ya tentu saja pak bos, aku benar-benar harus mengangkat topiku untukmu Liu, aku baru duduk di bangku mu 2 jam, tapi sudah terasa sangat panas hehe" keluh annchi sambil tersenyum
" kalau kau merasa berat dengan pekerjaan di sana kau tak perlu kerjakan dan kembalilah ke rumah, masalah kantor biar aku urus jarak jauh" serunya khawatir
" kalau kau juga yang urus lalu kapan istirahatnya? sudah aku tak apa-apa, ada Gio di sini yang membantuku, dia cukup pintar kok" seru annchi melirik Gio yang sedari tadi tersenyum ke arah annchi
" baiklah, jangan terlalu lelah, ingat kau sedang hamil"
" iya iya sayang, sudah istirahatlah sana, aku kerja dulu oke"
" baiklah" sahut Liu menutup telponnya.
"wah tuan Liu perhatian sekali dengan nona ya hihi"
" iya dong, kalau kau ingin ada yang memperhatikanmu, punya lah pacar" seru annchi sambil terkekeh geli
" wah sepertinya kau kurang update nona, aku sudah menemukan tambatan hati"
" benarkah? apa dia pegawai di sini?" tanya Annchi tiba-tiba semangat
" iya nona, dari bagian personalia"
" jangan bilang pegawai baru disana ya? hemm seingatku Liu mempekerjakan pegawai baru di sana"
" hehe benar nona, aku jatuh cinta pada pandangan pertama"
" wah benarkah aku ikut senang, jadi kapan kau bisa traktir aku?" tatap Annchi tersenyum penuh harap
" oke gampang nona, kapan-kapan aku kenalkan kau dengannya ya sambil aku traktir"
" baiklah" jawab Annchi semangat