
Sepanjang perjalanan pulang Annchi hanya terdiam, sesekali menatap wajah Shin yang berlumuran darah, sesekali ia menyeka sarah di pelipis dan bibirnya. Betapa menyesalnya Annchi melihat wajah Tampan shin seperti ini, tidak ada kata yang muncul dari bibir shin, hanya sesekali ia memandang wajah annchi dengan lembut, Annchi yakin banyak hal yang Shin sedang fikirkan, tapi ia menyikapinya dengan tenang. Sesampainya di depan gerbang rumah Annchi, Shin terdiam beberapa saat, kemudian ia menolehkan wajahnya ke arah anchi.
" jadi benar dia pacarmu ann?" tanya Shin lembut, Ann menjawab dengan Anggukan, ia bahkan tak berani melihat wajah Shin yang sedari tadi menatapnya
" bagaimana kau bisa bertemu dengan pria seperti itu?"," mengapa kau tak menungguku?" tnya Shin. Annchi masih terdiam,.entah apa yang harus dia katakan, ini semua memang salahnya. perlahan-lahan shin menyentuh leher Annchi, ia mengusap tanda merah di leher Annchi seraya berkata
" kau bahkan membiarkannya menyentuh tubuhmu, kau tak mungkin bisa membayangkan betapa hancurnya aku sekarang Ann" ucap Shin seperti menahan air mata yang sejak tadi ia bendung, seperti luka hatinya Jauh lebih sakit di banding luka pada tibuhnya. Ia beranjak keluar dari mobil, rintik-rintik gerimis mulai mengguyur tubuh Shin di luar mobil, seperti hujan menyamarkan air matanya yang mulai tejatuh
Ann masih bergeming, hatinya juga merasakan sakit yang sama dengan Shin, air matanya pun jatuh, pelan-pelan Ann mulai berjalan ke hadapan Shin, memeluknya dalam-dalam sambil mengatakann " maafkan aku kak, apa kau percaya kalau aku sebenarnya tidak pernah mencintainya dan aku tidak pernah mengkhianatimu?" gumam Annchi sambil memeluk pria mermata coklat dan tinggi itu
dengan tersenyum ia menjawab
" aku percaya!" jawabnya singkat,
Air mata Annchi lebih deras mengalir, ia merasa begitu gila, setelah apa yang ia lakukan bersama liu berulang-ulang, dia masih bisa mengatakan ini pada pria baik di hadapannya, ia heran ia masih bisa berkata tidak mengkhianatinya padahal jelas-jelas seluruh tibuhnya menjadi saksi ketidak setiaannya.
" Bertahun-tahun ia tidak pernah berani menyentuhku meskipun ia mencintaiku, bertahun-tahun menungguku hanya ingin bersamaku, saat ini dia datang membawa hatinya tapi aku malah melukainya, betapa bodoh dan egoisnya aku" gumamnya dalam hati
" maafkan aku kak, terus menyakitimu dengan perasaanku, maafkan aku tak pernah menyadari hatiku sejak awal, maafkan aku...." sahut annchi sambil mencium bibir Shin, saat itu seharusnya, shin merasakan kebahagiaan, akhirnya Ann menyadari perasaannya, tapi entah mengapa hatinya malah bertambah sakit, rasanya lebih sakit dari sebelumnya. Kemudian Ann melepaskan ciumannya dari bibir shin
" kak, baiknya kau tak perlu lagi datang mencari ku, aku bahkan sudah merasa kotor untuk mu, mungkin, aku akan mencoba bersamanya (Liu), kau pantas bahagia kak" ucap Ann sambil meninggalkan Shin yang masih berdiri mematung. Shin memandangi Ann yang berjalan menjauh dari dirinya. Tidak ada kata apapun yang terucap di bibirnya, seperti akan kehilangan seluruh hidupnya Shin tak tahu lagi apa yang ia rasakan saat ini.
Hujan masih mengguyurnya, bukan semakin reda malah semakin deras, ia pelan-pelan membuka pintu mobilnya dan mulai duduk terpaku di belakang kemudi.
"apa yang harus aku perbuat? apa aku harus pergi? atau tetap tinggal? mengapa sesakit ini? agggghhhh sial" ucap shin Emosi
Linda terus menuju kediamannya, semua pengawal dan asistennya heran dia tidak pulang bersama Shin dan Annchi terlihat basah kuyup, saat assisten wan menanyakan kenapa , Annchi hamya menjawab " aku tidak apa-apa paman ,hanya bertengkar kecil dengan kam shin, tolong jangan sampai orang tua ku tau ya" pinta Annchi
sedari tadi ponsel annchi tidak henti-hentinya berdering, saat di lihat itu adalah panggilan dari LIU, banyak sekali sms masuk darinya. "Mungkin dia akan marah-marah" pikirnya
"sudahlah, bersama siapa dan dengan siapa aku berhubungan pada akhirnya tidak penting, baik Liu atau kak shin mereka akan sama-sama terluka,sebelumnya aku tidak berani berfikir menjadi pacar kak shin, karena kejadian memalukan ini, aku semakin tidak berani berfikir dia masih menyukaiku, Ya Tuhaaaaaannn, mengapa nasibku benar-benar sial! agggghhhh" gumam annchi sambil menepuk-nepuk bantal di kamarnya.
~~
2 hari setelah hari itu, Ann hanya sibuk melupakan masalahnya dan mengerjakan skripsinya yang mulai deadline.
" Yin, dimana kau?" tanya ku via telfon
"aku sedang di German zeyenggg, kenapa? tumben telfon" sahut Yin dari seberang telfon
" huh, giliran di perluin aja kamu jauh, giliran aku tdk butuh kau selalu menggangguku, hufh" keluh ku dari
" duh zeyeng Ann maaf ya, ayah ku meminta ku untuk kesini, sebentar kok, lusa juga aku kembali, memangnya ada apa?"
" besok saja jika kau pulang aku cerita, cerita di telfon tidak enak"
" baiklah, baiklah"
" hufh kalau di perluin aja ga pernah ada"
tiba-tiba ponsel Annchi berdering, sebuah pesan, kemudian Annchi membuka pesan itu
" aku di depan rumahmu, -liu-"
mata Annchi terbelalak, masih punya nyali dia menemui ku, benci sekali aku padanya, kemudian , ponselnya berdering lagi
" 2 menit lagi kau tak juga keluar , aku yang masuk"
" aggggggghhhh kenapa hidupku sial sekaliiii, aku harus bertemu dengan manusia itu lagi,," gumamnya dalam hati sambil menepuk-nepuk keningnya
" 1 menit lagi" Liu dari seberang telfon
kemudian secepat kilat Annchi berlari menemui Liu, sesampainya di pintu gerbang, Liu tengah berdiri di samping mobilnya , menghadap lurus ke arah Annchi, dengan sebuah senyuman dingin ia mengetuk-ngetuk arlojinya , tanda Annchi terlambat.
" untuk apa kau kesini? demi Tuhan aku tak ingin lagi melihatmu, anggap saja kita sudah tak punya hubungan apapun" ucap Annchi
" benarkah? kau tak merasa rugi jika meninggalkan lelaki setampan,sekaya dan sepintar aku?" sahut Liu percsya diri sambil mengangkat kerah sweaternya
" cih!! pergilah, aku tak ada waktu meladeni pria narsis seperti mu" sahut Annchi seraya membalikan tubuhnya melangkah pergi, namun belum sempat melangkah pergi Annchi sudah di tarik masuk ke dalam mobil
" ahhhh... lepaskan tanganku!!!" anchi menjerit kesakitan
" siapa pria yang berani menciummu di taman itu?" tanya Liu dengan wajah serius
" kenapa? kau cemburu? bukankah kau katakan kau belum mencintaiku?" jawab anchi dengan wajah tengil
" belum bukan berarti tidak akan kan, mengapa kau biarkan dia mencium mu? aku benci melihatnya"
" dia calon suami ku, tentu saja aku membiarkannya menciumku, bahkan lebih pun akan ku biarkan" jawab Annchi , setelah mengucapkan kata-kata itu, bibir Liu tiba-tiba mendarat di bibirnya, seketika itu Annchi melepaskan ciuman liu
" LEEEEEPPAAAAS, plaaaaakkkkk!!" suara tamparan keras mendarat di pipi Liu hingga ujung bibir liu meneteskan darah
"Liu kau pikir kau siapa bisa seenaknya menciumku, merayuku, meniduriku, kau pikir kau bisa seenaknya memperlakukan ku?" ucap Annchi sangat emosi, tak terass air matanya mulai membasahi pipinya
" di fikiranmu aku apakah semurah itu? di fikiranmu apakah kau berhak melakukan apapun kepadaku? MEMANGNYA KAU INI SIAPAAAAA?huu huuu huuuu" Tangis Annchi pecah disana, rasa sakit, sedih merasuki hati Annchi. "Aku pikir, kau tak sebejat ini sebelumnya Liu, kau lahir di keluarga terpandang, ayahku pun kenal ayahmu dengan baik, kenapa kau perlakukan aku seperti pelacurmu Liu? kenapaaaaa???"
mendengar itu Liu langsung mendekap Annchi di pelukannya, ia sadar yang ia lakukan sudah melampaui batas
" Annchi, maafkan aku, aku tak bermaksud membuatmu merasa seperti ini, aku salah, maafkan aku, entah apa yang sering merasuki ku saat aku bersama mu, hingga aku selalu ingin menyentuhmu" jelas Liu, Annchi masih terisak dalam pelukannya, kemudian Annchi melepaskan pelukan itu.
" kriiingggg,, kriiinggg,, kriiingggg," ponsel Liu berbunyi, di sana tertera tulisan " Xiau wen is calling" tapi telp itu di reject oleh Liu, namun beberapa saat kemudian ponselnya berdering lagi dengan tulisa yang sama
" baiknya kau angkat telfonnya, aku akan pergi!" ucap Annchi, terlihat wajah Annchi berubah menjadi wajah sebal. Kemudian Liu mengangkat telfonnya sambil menggenggam tangan Annchi agar tidak pergi kemanapun, beberpaa saat Liu berbicara dengan wanita itu, wajah Liu berubah menjadi wajah serius. Setelah ia selesai, kemudian ia memalingka wajahnya menghadap Annchi
" aku harus pergi, kau jangan menangis lagi, aku berjanji tidak akan seperti itu lagi dan jangan lagi berhubungan dengan pria itu"," cup" Liu mencium kening Annchi lembut dan Liu meninggalkan Annchi sendiri