
Hari berlalu tak terasa matahari meredupkan cahayanya yang menyengat berganti malam, Annchi masih duduk di bangkunya menatap serius ke layar komputer di depannya. Gio memasuki ruangan annchi membawa segelas cokelat hangat.
"ann, kau bisa meneruskan pekerjaanmu besok, hari sudah gelap, baiknya kau pulang " seru Gio
"hemm, ya, kau pulang duluan saja, pasti pacarmu sudah menunggu kan?" seru annchi dengan tersenyum
"baiklah kalau begitu, jangan bekerja terlu keras ann" seru Gio sambil membalikan badannya, baru membuka pintu, ia di kagetkan dengan sosok Gavin di hadapannya.
"Tu..tuan Gavin, ke..kenapa tuan bisa di sini?" tanya Gio heran
"apa bosmu masih di dalam?" tanta Gavin sambil melirik ke dalam
"iya tuan,silahkan masuk" akhirnya Gio mempersilahkan Gavin masuk
"nona ann" panggil Gio, annchi masih sibuk dengan kesibukannya, matanya fokus ke layar komputer di depannya, sambil sesekali membuka lembaran-lembaran map di samping tangannya.
"hemm, pergilah, aku baik-baik saja Gio" seru annchi tanpa melihat ke arah Gio
" apa kau juga akan mengusirku?" tanya Gavin tersenyum, Wajah putih bersih dan tampan,bertubuh tinggi atletis, setelan jas berwarna navy, jam tangan mewah di pergelangan tangannya dan sepatu kulit hitamnya memasuki ruangan Annchi, mendekati annchi kemudian menumpukan kedua tangannya di atas meja dengan tubuh sedikit merunduk, membuat wajahnya tak terlalu jauh dari wajah annchi, seketika Annchi menghentikan tangannya menekan tombol-tombol keyboard dan mulai mengarahkan pandangannya pada asal suara.
Sejak hari itu, Gavin secara intens mendekatinya. Sejujurnya Annchi melihat Gavin seperti melihat perpaduan antara Shin dan Liu, Gavin bisa lembut dan tegas dalam satu waktu, Gavin bisa serius dan lucu juga dalam satu waktu, tapi ia merasa ini terlalu cepat, ia masih belum bisa membuka hatinya untuk siapapun, apalagi belakangan ini pikiran annchi kalut, mendengar kata rindu Liu membuatnya bimbang.
"ga..gavin, kenapa bisa di sini?" tanya Annchi terkejut, dengan tatapan gavin seperti itu cukup membuat annchi salah tingkah.
"aku menunggumu di loby sudah sekitar 2 jam sejak jam kantor usai, kau tak juga turun jadi aku putuskan untuk naik, ternyata kau sedang shift malam?"
"oh.. ti..tidak.. hanya masih harus membereskan beberapa pekerjaan ku gave,ke..kenapa kau mencariku?"
" aku ingin kau menemaniku makan malam, aku yakin kau belum makan kan?"tanya gavin dengan senyuman khasnya.
memandang sosok tampan di hadapannya membuatnya merasa sedikit terpesona, ia tak pernah menyadari gavin setampan ini jika di lihat dari dekat. Pikirannya terbang entah kemana sejenak, sampai Gavin membuka suaranya membuat pikirannya kembali ke dalam tubuhnya.
"ann, kenapa melamun? apa kau sudah makan?" tanya Gavin sambil mengayunkan tangannya ke arah wajah annchi
"hah..eh.. iya iya, apa kata mu tadi gave?" pertanyaan annchi membuat Gavin dan Gio tertawa kecil.
"aku bilang, kamu sudah makan belum? kalau belum ayo kita makan bersama" seru gavin
"oh, itu.. hemm" annchi bingung ingin menjawab apa, ia sedang benar-benar ingin sendiri
"ayolah ann, jangan menolakku" seru gavin sambil berjalan ke samping annchi dan menarik tangannya, mau tidak mau annchi pun ikut gavin untuk makan malam.
Di sepanjang perjalanan, annchi membuka kaca mobil di samping tempat duduknya, merasakan angin yang masuk membelai wajah dan rambutnya. Gavin meliriknya dengan senyuman. Cantik. hanya itu saja yang bisa menggambarkan annchi saat ini. sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, tak berbicara apapun.
Mobil Gavin berhenti di tikungan perempatan karena lampu merah. Annchi melepaskan tatapannya dari ponselnya dan melihat sekeliling, matanya kemudian terpaku melihat sebuah restoran barbeque di seberang jalan, ia melihat Liu dan pink sedang duduk bersama dan tertawa bersama. Annchi menatap mereka dengan tatapan sangat dingin, Gavin melihat annchi menatap dingin pada sesuatu,akhirnya memaksanya juga mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan annchi. Sedikit terkejut, gavin pun melihat Liu dan Pink tertawa bersama, terlihat bahagia.
"ann, kau tak apa-apa?" tanya Gavin, annchi hanya menjawabnya dengan anggukan, matanya masih mengarah ke arah Liu. Lampu berubah menjadi hijau, perlahan, mobil gavin melaju, mata Annchi bahkan tak bisa lepas dari kaca spion di hadapannya.
"kenapa kau tak juga berubah Liu? apakah aku terlalu merendahkan mu, berpikir kau akan terpuruk karena rasa bersalah mu?" batin annchi, ia kalut dengan perasaannya sendiri.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai ke restoran. Gavin turun dan membukakan pintu untuk Annchi dan mengulurkan tangannya pada annchi, Annchi memandangi tangan itu beberapa saat kemudian menatap mata Gavin , gavin tersenyum dan Annchi meraih tangannya kemudian turun. Kemudian mereka duduk dan memesan makanan.
"ann, apa kau tak apa-apa?" tanya Gavin sambil memotong-motong daging steik di hadapannya.
"hemm ya, aku baik-baik saja, kenapa gave?" tanya annchi heran
"aku pikir kau sedang memikirkan Liu karena melihatnya bersama dengan wanita lain tadi"
" apa kau tak ingin mempertimbangkan tawaranku tempo hari?jangan habiskan tenaga dan pikiranmu untuk orang yang tak pernah memikirkanmu" mendengar perkataan Gavin, membuatnya berpikir sejenak.
"Gave, maafkan aku, aku sedang tak berselera makan, aku pergi dulu" seru Annchi sambil berdiri dan meraih blazer di samping tempat duduknya, mengabaikan pertanyaan Gavin tadi.
"apa kau akan pergi menemui Liu?" tanya gavin sambil meminum wine di tangannya.
"tidak gave" jawab annchi kemudian melangkah pergi.
"kemana dia akan pergi? apa aku harus mengikutinya?" batin gavin
Annchi melangkahkan kakinya menaiki sebuah taksi dan berhenti di sebuah club. Saat ini ada sebuah kata yang sulit sekali di jelaskan berhamburan di pikiran dan hatinya, ia hanya ingin sendiri tapi di saat seperti ini entah kenapa ia datang ke tempat ini. Annchi kemudian memasuki club itu, bising sekali, ramai bukan main. tapi setidaknya, tak ada yang mengenalinya. Ia kemudian duduk di bar, memesan minuman. Saat minuman ada di depannya, ia memandanginya dalam-dalam dan sesekali mengarahkan pandangannya pada ponsel di tangannya, bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin ia lakukan, apa yang ia rasakan.
"kemana perginya rasa benci itu di hatiku? kenapa melihat liu bersama gadis lain aku masih merasa berantakan seperti ini? sudah berapa lama kejadian itu kenapa masih belum bisa menata hatimu ann?kenapa dia begitu mudah tertawa bersama orang lain?"batinnya bimbang, perasaan marah dan kesal pada diri sendiri tak tertahankan.
"tapi, ini bukan salahnya jika pergi bersama wanita lain, aku dan dia sudah berakhir, apa yang dia lakukan tak ada hubungannya denganku kan, tak ada hubungannya lagi, kenapa aku masih ingin menangis saat ini?" air mata Annchi berjatuhan. gelas demi gelas ia habiskan, air matanya masih berjatuhan. Ia mulai mabuk, meracau sendiri di tengah keramaian. Ponselnya masih berada di tangannya, Kemudian tanpa di sadari ia menghubungi nomor Liu.
"Halo ann" tanya Liu di seberang telepon, Annchi mendengar suara Liu terdiam sejenak, air matanya lebih deras mengalir, kepalanya menyandar di atas lengannya yang terjulur di atas meja bar. Liu masih berada di seberang telepon,
"halo ann, halo, ann, kau dimana sekarang? aku akan menjemputmu, kau dimana? JAWAB!!!" Liu di seberang telepon mendengar suara bising lagu di club "apa kau sedang ada di club? dengan siapa?ANN!!" seru Liu panik, baru akan menutup panggilan itu, terdengar suara annchi.
"liu, apa begitu membahagiakan berpisah denganku? hiks hiks!" seru annchi terisak dengan suara mabuknya.
"ann kau bersama siapa? dimana kau sekarang?"
"bersamaku, kau tak perlu khawatir!!" suara annchi berubah menjadi suara gavin yang merebut ponsel dari tangan Annchi. Mendengar suara gavin, liu langsung mematikan sambungan teleponnya dan melacak keberadaan annchi, untung saja di saat seperti ini perisai shin sudah nonaktif jadi ia bisa dengan cepat melacak keberadaan annchi.
sadar ada yang merebut ponselnya Annchi berusaha membangunkan kepalanya dan duduk, samar-samar ia melihat Gavin di depannya.
"Ga..gavin.. bagaimana kau bisa di sini?" tanya annchi, berkali-kali ia hampir terjatuh dari tempat duduknya, Gavin dengan cepat mencegahnya.
"ann kau terlalu mabuk, ayo aku antar kau pulang" seru Gavin sambil berusaha merangkul annchi
" tidak gave, biarkan aku di sini beberapa lama lagi"
"kenapa kau jadi seperti ini ann?" mendengar itu annchi tersenyum dan menarik kerah kemeja Gavin dan mencium bibir Gavin. Gavin tersentak kaget tapi tak menolak ciuman Annchi. Beberapa saat bibir mereka bertemu dan annchi melepaskan ciumannya. Menatap Gavin dalam.
" gave, aku terima tawaranmu, ayo bermain bersamaku" seru annchi tersenyum dan kemudian tak sadarkan diri. Gavin dengan cepat menangkap tubuh annchi dan tersenyum
"itu hanya perkataan gadis mabuk, bagaimana bisa membuatku bahagia seperti ini?" batin gavin menyunggingkan senyuman di wajahnya, tapi itu hanya sesaat setelah seseorang berdiri di hadapannya dengan wajah sedingin es menatapnya, itu Liu, ia kemudian mencoba merebut tubuh annchi dari tangan Gavin, namun Gavin menepisnya.
"lepaskan tanganmu darinya Liu"
"dia masih istriku, kau yang harusnya melepaskan tanganmu darinya"
"dia sudah memutuskan bersamaku!!" wajah Liu berubah lebih dingin dari sebelumnya, ia kemudian menarik kerah gavin
"dengarkanku tuan gavin,sebelum hakim memutuskan, aku masih berhak atasnya, jadi lepaskan tanganmu dari istriku!!" seru Liu menepis tangan Gavin yang kemudian membuat Gavin juga menatap liu tajam.
"jangan lupa tuan Liu, hidup mati perusahaanmu masih ada di tanganku"
" tidak sebentar lagi" seru Liu
meraih tubuh annchi dan membopongnya menjauhi Gavin.