
πΆπΆ
Aku senang berada di sisimu
Aku bermimpi karena aku berada di sisimu
Aku bisa tersenyum karena aku berada sisimu
Aku kembali berdoa bahwa kau akan menjadi milikku
Jika kau melihat hatiku
Dan merasakan hatiku yang sesungguhnya
Jika kau melihat hatiku
Dan menemukan jalanmu untuk datang padaku
Aku ingin memberikan semua hatiku untukmu
Jika kau bisa tinggal di sisiku selamanya*
(taeyeon:all with you)
πΆπΆ
Mendengar sebuah lagu lembut mengalun di telinganya, mata Liu tiba-tiba terbuka, ia melihat sosok Ceily sedang menonton sebuah drama di televisi ruangan itu tak jauh dari tempatnya tertidur. Lagu itu berasal dari drama yang di tonton ibunya. Ia kemudian bangun dari tidurnya, ia melihat sekitar, ia berada di ruang tengah rumahnya, berada di sofa rumahnya. Ia melihat Ceilly melihatnya bingung. berusaha mencerna pikirannya. Liu menyentuh seluruh tubuhnya, wajahnya, terasa seperti tak pernah terjadi apapun.
"bukankah aku tenggelam bersama annchi??? bukankah seharusnya aku mati? kenapa aku bisa di sini?ba..bagaimana bisa?" bisik Liu, melihat wajah anaknya begitu bingung, Ceily mendekati anaknya.
"ada apa Liu? kenapa kau begitu terlihat bingung? apa karena terlalu lama tertidur? kau mimpi buruk?" tanya Ceily menyentuh pipi anaknya dengan lembut, Liu menatap wajah ibunya heran.
" bu, bagaimana aku bisa selamat? bukankah harusnya aku mati tenggelam bersama annchi?" tanya Liu
" hah? mati tenggelam? annchi? siapa annchi? pacarmu? haduh Liu, kau benar-benar bermimpi buruk, sepertinya kau terlalu kelelahan karena menemani ibu berbelanja hingga tertidur dan bermimpi buruk!!"
"kau tak mengenal annchi bu? dia istriku!!" kali ini ceily tertawa
"haha.. Liu.. kakakmu saja belum menikah dan kau masih kuliah bagaimana kau sudah memiliki istri" mendengar itu Liu semakin heran "hei, siapa Annchi itu? apa dia pacarmu? apa dia cantik? kenalkan pada ibu" sambungnya, liu mulai terdiam.
"yongji belum menikah, ibu bahkan tak mengenal annchi, dia katakan aku mengantarnya berbelanja? seingatku itu kejadian 2 tahun lalu, a...aapakah ini mungkin???? apakah aku benar-benar mengulang waktuku atau hidup kembali ke masa lalu? be..benarkahhh??? kejadian di tebing itu seharusnya 2 tahun dari hari ini, kalau tak salah ingat, hari itu tgl 23 november 2020, benerkah hari ini???" batin Liu heran.
" bu,bu,bu, apakah ini tanggal 23 november 2018?????" liu seketika menggenggam lengan Ceily dengan kuat, sampai Ceily meringis kesakitan. Liu mengabaikan pertanyaan ibunya.
"iya..iya kau ini sebenarnya kenapa liu???" ibunya terlihat khawatir, mengangkat tangannya menyentuh kenibg anaknya "kau tak demam, kau baik-baik saja, tapi kenapa kau aneh seperti ini?" tanya ibunya
"kalau aku tak salah ingat, hari itu aku bertemu annchi di taman Yongsan dan di sana pertama kalinya ia melihat annchi, jika ini benar terulang, malam ini harusnya dia berada di sana" seketika Liu berdiri dan mengambil jaketnya yang berada di atas kursi dan melangkah pergi dengan mobilnya. Sepanjang jalan ia berharap cemas.
Seperti hari itu, hari ini hujan turun dari atas langit,tak berapa lama Liu sampai di taman Yongsan, Liu menarik nafas panjang, berharap ia benar akan melihat annchi lagi di sana, masih teringat jelas di ingatannya kejadiaan saat mereka tenggelam, bagaimana Annchi tersenyum untuk terakhir kalinya. Ia kemudian membuka pintu mobilnya dan memasuki taman itu. Air mata Liu benar-benar terjatuh kali ini, ia benar-benar melihat annchi duduk di kursi taman,
Liu melihat annchi menengadahkan tangannya dengan memejamkan matanya merasakan tetes hujan yang turun, persis seperti 2 tahun lalu.
Perlahan ia mendekati Annchi.
πΆπΆ
Hanya dengan melihatmu
Membuat air mata mengalir
Jika kau melihat hatiku
Dan merasakan hatiku yang sesungguhnya
jika kau melihat hatiku
Dan menemukan jalanmu untuk datang padaku
Aku ingin memberikan semua hatiku untukmu
Jika kau bisa tinggal di sisiku selamanya
Bahkan jika kita kelelahan di dunia ini
Mari kita selalu tetap berada di sisi masing-masing
Jangan pernah melepaskan tanganku
Untukmu
Aku akan sangat bahagia
Jika takdir terakhirku itu kamu
Aku ingin memberikan semua hatiku untukmu
Jika kau bisa tinggal di sisiku selamanya
πΆπΆ
"kali ini Tuhan benar-benar memberikan lagi waktu untuk ku melihat wajah cantikmu ann, kali ini tuhan benar-benar memberiku kesempatan, seperti yang ku katakan sebelumnya, kali ini aku akan melihatmu dari jauh, membiarkan takdirmu mengalir tanpa aku di dalamnya, aku ingin melihat wajah cantikmu menua meskipun bukan bersamaku ann, aku ingin melihat wajah dan hatimu terisi dengan kebahagiaan meskipun kebahagiaan itu bukan dariku, ann tahukah kau? betapa aku ingin memeluk dan menciummu saat ini, betapa bahagianya aku melihatmu masih bernafas dan hidup" batin Liu, air matanya terus mengalir, permohonan terakhirnya terkabulkan, tapi hatinya di penuhi rasa sesak. Kemudian Liu meletakan sebuah payung di samping annchi dan melangkah pergi. Kali ini ia tak berkata apapun tak seperti di dalam ingatannya. Ia bertekat untuk mengubah takdir, melindunginya tanpa sepengetahuannya. Memperbaiki setiap kesalahannya.
Tak berapa lama mata annchi terbuka, ia memandang ke atas langit, melihat tetes-tetes hujan jatuh membasahi bumi. ketika ia menunduk dan menoleh ke samping tempatnya duduknya, ia melihat sebuah payung tergeletak di sana. Ia meraih payung itu.
Baik Annchi atau Liu, masing-masing tak tahu, mereka kembali terseret ke dalam lorong waktu yang sama, setiap dari mereka berusaha menghindar satu sama lain dengan alasan yang berbeda. Annchi menghindari Liu untuk memastikan ia tak pernah berada di tengah-tengah hubungan Liu dan Xiauwen, ia tak ingin lagi menjadi pengganggu hubungan mereka, sama seperti Liu, annchi berharap ia dapat melihat Liu menua dengan baik, penuh dengan senyuman, meskipun bukan menua bersamanya, ia akan tetap bahagia.
"2 tahun lalu di ingatanku, aku bertemu denganmu di sini Liu untuk pertama kalinya, kau mengehentikan tetesan hujan yang jatuh di atas tanganku, menatapku dengan mata indahmu itu. Waktu terulang untuk ku saat ini, kali ini kau datang tapi tak mengehentikan hujan itu untukku, sebagai gantinya kau memberikan payung ini" Ia kemudian menoleh jauh ke arah samping, ia melihat sosok liu, ia menatap punggung liu yang mulai menjauh, air matanya berjatuhan, tersamar dengan air hujan yang terus membasahi tubuh Annchi.
Annchi mulai melangkahkan kakinya, mengikuti langkah Liu dari jauh, ia bertaruh dengan dirinya dalam hati, jika sampai lampu lalu lintas di ujung jalan Liu membalikan tubuhnya dan menoleh ke arahnya, ia akan terus memeluknya dan bertaruh lagi dengan resiko di depannya, tapi jika sampai di lampu lalu lintas itu ia sama sekali tak membalikan tubuh dan menoleh ke arahnya, ia akan terus melanjutkan tekatnya menyembunyikan semuanya. Di sepanjang jalan ia berharap liu membalikan tubuhnya dan menoleh ke arahnya, tapi itu tak pernah terjadi. Liu tak juga menoleh, hingga ia menyeberang ke ujung jalan, annchi menghentikan langkahnya, terdiam terus menatap punggung Liu.
"Liu kau tak tahu seberapa aku ingin mengejarmu, memelukmu dan tak ingin melepaskan mu lagi, tapi kau tak menoleh sekalipun, aku harus tetap pada janjiku, aku akan terus berpura-pura tak mengenalmu, untuk berada di sini hari ini saja sudah cukup untukku, ini mungkin takdirku liu, jika aku boleh berharap, aku akan menunggumu sampai akhir waktuku." batin annchi, kemudian ia menyetop taksi dan malangkahkan kakinya masuk ke dalam taksi.
Setelah annchi masuk ke dalam taksi, langkah Liu terhenti dan membalikan tubuhnya menoleh ke arah belakang, ia melihat sebuah taksi terhenti dan kemudian berjalan meninggalkannya di belakang, ia tak sadar itu adalah annchi yang sedari tadi berjalan di belakangnya berharap ia menoleh. Liu tertunduk dan kembali melanjutkan langkahnya.
***
Keesokan harinya, Annchi dan liu sama-sama tahu apa yang akan terjadi hari ini. Annchi pergi ke kampusnya, diam seribu bahasa.
"nona ann, apa kau baik-baik saja? apa yang terjadi semalam?" tanya paman Yan
"tidak ada paman, hanya merasakan kehilangan sesuatu yang sangat penting di dalam hati" seru annchi terus menoleh menatap jauh ke luar jendela mobilnya.
Sesampainya di gerbang kampusnya, Annchi menghela nafasnya melihat kembali gerbang kapusnya seperti sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu. Ia berjalan menyusuri jalan itu, Yin datang dari arah belakang annchi, mengatakan hal yang sama seperti di dalam ingatannya. Annchi tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Yin dan memeluknya membuat yin heran.
" a..an, ada apa kau tiba-tiba memelukku?" Annchi melepaskan pelukannya, menatap wajah Yin.
"aku senang melihat wajahmu, senyumu dan yang terpenting kau tetap berada di sisiku hari ini Yin, aku mohon, kesalahan apapun yang akan aku lakukan kelak, jangan berubah menjadi monster di hadapanku, tetaplah di sisiku, menjadi teman baikku yin" air mata annchi menetes dengan derasnya, Yin menatap Annchi heran.
"kenapa kau tiba-tiba menangis ann? sebenarnya ada apa? apa kau takut aku marah padamu karena kau tak datang semalam? tenanglah ann, aku tak marah, selamanya kau tetap sahabatku" seru Yin mengusap air mata annchi. Kemudian mereka melanjutkan langkah mereka memasuki gerbang, melihat sosok Liu berada di ujung jalan berjalan menuju kearahnya, Annchi tak kuasa memandang 2 manik mata itu, membuatnya merasakan sesak tak terjabarkan, ia mulai menundukan wajahnya. Tiba-tiba langkah kaki mereka bertemu dan saling terhenti, mata mereka beradu beberapa saat. Liu segera menyadarkan dirinya, ia berusaha menghindar dan melangkahkan kakinya ke sisi kanan tak di sangka annchi juga melangkah ke arah yang sama, kemudian liu melangkah ke sisi kiri, annchi juga mengikutinya.
"kau jalanlah lebih dulu" seru annchi masih tak berani menatap Liu, ia menunduk. Liu menatap annchi yang menunduk, wajahnya terlihat begitu sendu, Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Yin di samping annchi, masih teringat jelas di ingatan liu, bagaimana Yin tega melepaskan tembakan pada annchi, Amarahnya hampir tak bisa terbendung. Tanpa berkata sepatah katapun, liu melanjutkan langkahkan kakinya.
"huh, siapa dia? kenapa menatapku seperti itu? kenapa melihatku seperti ingin membunuhku?" tanya Yin menoleh ke arah Liu, di susul annchi yang juga kemudian menoleh ke arah Liu.
"sudahlah, siapapun dia, kelak kau harus menghindarinya, oke?" seru annchi menarik lengan Yin.
"a..apa kau kenal dia ann? bagaimanapun dia begitu tampan, bagiamana aku bisa baru menyadari ada pemuda tampan seperti itu di kampus kita?"
"haish, apa di kepalamu hanya memikirkan pemuda tampan?" tanya annchi. Langkah Yin terhenti dan menatap Annchi
"kenapa?" tanya annchi
"apa di kepalamu tak ada keinginan untuk berpacaran ann? bagaimana dengan kak shin?" mendengar nama Shin, jantung Annchi seperti akan meloncat ke luar. Ia menatap Yin dalam-dalam
"Yin, berhentilah berbohong padaku, bukankah kau menyukai kak shin sejak lama?" tanya annchi tersenyum. Pertanyaan Annchi membuat Yin terhentak kaget.
"pe..pertanyaan apa itu tadi ann? kenapa kau bertanya seperti itu?"
"berhentilah berpura-pura Yin, sejak lama kau menyukainya, karena kak shin menyukaiku kau mengalah, kali ini, jangan mengalah untukku Yin, aku ingin kau bersamanya, jangan lagi sembunyikan hatimu" seru annchi
"tapi dia menyukaimu ann"
"denganku ia takan bahagia, ia di takdirkan untukmu, kerjarlah dia Yin"
"lalu bagaimana denganmu ann?"
"aku akan mengikuti kemana jalan takdirku Yin, kau tak perlu khawatir" seru Annchi memeluk sahabatnya itu.
"ann.. apakah ini benar kau? kenapa aku merasa kau berubah sekali? apakah kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku? atau kau sedang jatuh cinta pada seseorang"
" ya, aku jatuh cinta pada seseorang, tapi seseorang itu sudah tak ada dan tak pernah ada lagi di kehidupanku saat ini" senyum annchi, wajahnya begitu sendu, ia menyembunyikan banyak air mata di balik senyumannya itu. Yin sulit sekali mencerna apa yang di katakan annchi saat ini.