
Sepanjang makan malam itu Annchi hanya memutar-mutar sendoknya, sesekali ia menyuap hanya untuk menghibur gavin yang telah mengajaknya makan malam, ia memandangi langit malam dari jendelanya. Masih berputar di kepalanya tentang Shin.
Gavin tau jelas apa yang sedang annchi pikirkan, semua orang yang ia sayangi meninggalkannya, Shin, anaknya, sahabatnya, apalagi perusahaannya juga dalan kondisi tidak stabil. Ketidak stabilan perusahaan Ri di ambil alih oleh Yizhen, Yizhen berhari-hari berusaha meyakinkan pemegang saham untuk tetap pada posisinya, namun kelihatannya ia harus berusaha lebih keras, permasalahan ini memang bukan permasalahan kecil. Pemegang saham perusahaan Ri sebagian besar adalah rekanan keluarga Hua, kematian Shin di picu karena Annchi. Keluarga Hua sama marahnya kepada 2 keluarga, hubungan mereka berangsur memburuk, ini tak baik bagi sebuah investasi, kondisi perusahaan memburuk dan semakin memburuk.
"Ann, 7 hari telah berlalu dari kejadian itu. Bagaimana hubunganmu dengan suamimu?" tanya Gavin. Annchi seketika memandang Gavin penuh arti.
" dia bukan lagi suamiku gave" jawab annchi datar sambil meneguk wine di tangannya.
" apa maksudmu?"
" aku terlalu membencinya saat ini, aku sudah menandatangani surat cerai"
"itu artinya rumor yang tersebar benar?"
" hemm" jawab annchi singkat
" kau masih menyalahkannya?"
" tentu saja, siapa lagi yang bersalah sejauh ini"
" kau juga sudah tahu anak di belakang Liu dan xiauwen?"
" hemm, ya" annchi menuangkan lagi wine ke dalam gelasnya
" apa kau yakin itu anaknya?"
" meskipun ribuan kali ia mengatakan itu bukan anaknya, aku tak bisa membedakan kebohongan dan fakta di balik wajahnya, faktanya 1th lebih aku mempercayainya dan dengan cantik ia membohongiku, karena mempercayainya juga aku kehilangan segalanya"
Mendengar itu, perasaan Gavin bercampur antara sedih dan senang, sedih melihat annchi yang ceria berubah begitu terluka di hadapannya, kekecewaannya begitu terlihat, meskipun ia tahu ia juga berada di balik ini semua, ia tak pernah berpikir annchi bisa sehancur ini, ia pikir hatinya hanya untuk Liu tapi ternyata masalahnya lebih rumit, tapi di balik kehancuran gadis itu, ini adalah momen emas untuk masuk ke ruang hatinya yang kosong.
" ann, sudah kau terlalu banyak minum, kau bisa mabuk" seru gavin meraih gelas wine di tangan annchi. Annchi terdiam dan kemudian berdiri.
"gave, aku akan ke toilet sebentar, kau tunggu di sini"
" baiklah ann"
Beberapa lama sudah annchi pergi ke toilet tak kunjung kembali, baru akan beranjak menyusul annchi, seorang pelayan datang setengah berlari kearah gavin, ia menyampaikan seseorang pingsan di toilet restoran. Ia ingat annchi kemudian segera berlari ke toilet perempuan. Membuka pintu toilet benar saja, seseorang yang pelayan itu maksud adalah Annchi. Buru-buru Gavin mengangkat tubuh cantik Annchi. Beruntungnya, restoran dimana mereka makan malam adalah restoran hotel mewah milik keluarga Gavin jadi Gavin membawa annchi ke salah satu suite room di hotelnya.
sambil menggendong tubuh Annchi masuk ke dalam lift, Gavin memandangi wajah cantik Annchi.
"tidak heran Shin dan Liu memperebutkan mu ann, kau pewaris perusahaan besar, dan dari ujung kaki hingga rambutmu kau sempurna bagaimana pria tak menyukaimu bahkan aku juga mengagumimu" batin Gavin tersenyum memandangi annchi, pintu lift terbuka, ia mengantar annchi masuk ke dalam kamarnya dan meletakan tubuh annchi di atas kasur yang sangat nyaman. Setelah tubuh annchi terbaring sempurna, Gavin memandangi annchi dalam-dalam, memperhatikannya dari dekat, ia duduk di samping annchi berbaring
"benar-benar gadis yang cantik"
"tring" pesan masuk ke ponsel Liu dari nomor tak di kenal
***
Sepanjang hari itu, Liu dan Yongji sedang menghadiri rapat darurat dengan pemegang saham yang tersisa di perusahaan mereka, setelah berdiskusi dengan sangat alot, akhirnya mereka sepakat tetap mempertahankan saham mereka di perusahaan Yoshan group. Tapi, keadaan perusahaannya masih belum stabil, masih jauh dari stabil, ia kehilangan 30% saham terbesarnya karena gavin.
selesai mengurus semua pekerjaannya hingga larut, Liu merebahkan tubuhnya di sofa ruanganYongji, terlihat begitu lelah. Jam menunjukan pukul 8 malam.
"Yongji, jam berapa pertemuan dengan client besok kak?" Liu sambil melihat arlojinya
" jam 11 siang,kau tak perlu datang, biar ku tangani ini, kau berhari-hari tidak tidur dan menjadikan kantor ini rumahmu, kau butuh istirahat Liu"
" aku tak bisa istirahat meskipun aku butuh kak, aku ingin berhenti memikirkan ini semua tapi bayangan annchi tetap di kepalaku, aku terus berpikir bagaimana membuatnya kembali"
" jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, kita pasti bisa mengatasi masalah ini, mungkin hanya butuh sedikit waktu liu"
"sejujurnya aku tak peduli dengan perusahaan ini, bahkan kehilangannya pun aku rela, tapi ini berhubungan dengan hasil kerja keras ayah dan kau kak, karena kebodohanku ini, perusahaan ini hampir tamat, terlalu banyak defisit yang terjadi kak, darimana kita mendapatkan uang untuk menutupi kerugian kita, tak main-main 2,5jt dolar kak!"
"apakah kau tak ingin bicara dengan presdir gavin untuk mengubah kesepakatannya denganmu?"
"sudah ku lakukan, ia tetap pada pendiriannya"
" apakah mungkin dia memiliki niat lain pada annchi?"
"mungkin saja, ia mengambil kesempatan dalam kesempitan"
" apa kau sudah bicara pasa Annchi?"
" belum dan sepertinya akan sulit membuatnya percaya padaku lagi kak, apa aku harus melepaskannya kali ini?" sebelum yongji menjawabnya, tiba-tiba suara ponsel liu berdering, sebuah pesan masuk. Mata Liu terbelalak melihat isi pesannya, melihat wajah adiknya begitu kaget, ia pun meraih ponsel adiknya yang kemudian di ambil lagi oleh Liu.
" aku harus pergi!" seru Liu sambil meraih jas dan kunci mobilnya
" kemana?"
" merebut istriku kembali" jawab Liu ketus
sesampainya di Marion hotel, Liu segera menuju kamar yang di maksud.
"bisa-bisanya kau mabuk dengannya ann, aku takan membiarkannya mengambil kesempatan apapun darimu" pintu lift terbuka, beberapa saat mencari kamar yg di maksud akhirnya ia menemukannya. Berada di depan pintu berusaha masuk, pintu tak di kunci, Liu dengan mudah masuk. Ia berjalan menuju kamar, menyiapkan diri melihat sesuatu yang buruk.
"klak" tuas pintu di buka, tidak ada siapapun selain tubuh annchi yang terbaring di sana.
"kemana Gavin? bukankan seseorang tadi memberitahuku dia bersama gavin?" jantung Liu mulai berjalan normal, sebelumnya ia khawatir terjadi sesuatu dengan annchi. Liu berjalan kearah Annchi, seperti sudah berabad-abad lalu liu tak melihat istrinya tertidur seperti ini, wajahnya yang lembut, rambutnya yang terurai indah membuatnya mengingat saat belum terjadi semua masalah ini, ketika ia selalu melihat annchi tertidur di kamar mereka dengan nyaman, sepulang kerja Liu selalu membelai wajah istrinya yang tertidur, jikapun ia bangun ia akan tersenyum manis dan bertanya " sayang, kau sudah pulang?" , tiba-tiba air mata Liu menetes, sesuatu patah di dalam hatinya, mengingat semua perkataan yang Annchi katakan di depan media. Semua usahanya sia-sia. Liu berbaring di samping annchi, memandangi wajah istrinya.
"ann, demi seluruh langit dan bumi aku berani bersumpah, aku tak pernah berusaha membohongi mu, tapi aku tak menampik aku tak bersalah di sini, aku hanya ingin bersamamu, aku bersamanya juga untuk mencari bukti anak itu bukan anak ku setelah sekian lama akhirnya terbukti anak itu bukan anakku, kabar gembira ini harusnya menggembirakan tapi kenyataan berkata lain, sesuatu terjadi dan kau mengetahui semua ini lebih awal, betapa kejamnya Tuhan, ini juga tak adil untukku ann, bisakah kau mengerti juga posisiku? kau pikir ini mudah untukku kehilangan mu dan anak kita? setelah sekian lama aku menunggu anak kita. kau tak pernah membayangkan betapa bahagianya saat dokter memberitahuku kau mengandung, betapa aku berusaha menjagamu meskipun pada akhirnya aku kehilangan kalian, tidak bisakah kau lihat usahaku ann? jika aku bisa bertukar peran dengan shin, aku rela mati untuk mu, bagaimana sekarang meyakinkanmu untuk percaya padaku? melihat mu terguncang seperti ini, kau pikir aku tak hancur? aku terus berpikir apa sebaiknya aku benar-benar melepasmu? membebaskan mu, pada akhirnya aku menyadari sesuatu, bahwa mungkin berdiri di sampingku memaksakan perasaanku padamu, hanya akan membuat lukamu semakin dalam, keegoisanku yang memberanikan aku terus berjalan bersamamu, berpikir bahwa aku bisa melindungimu dari pukulan kenyataan di belakangku, tapi ternyata aku tak sekuat itu, alih-alih melindungimu aku justru semakin melukaimu"