ONE LAST TIME

ONE LAST TIME
Drama Queen



" Liu itu apa tak bisa memilih waktu yang tepat untuk melamar seseorang? jiwa keromantisannya sebagai pria itu kemana? sudah banyak kecewa, banyak menangis, juga banyak menunggu, seenaknya dia datang membuat malu di depan gavin, dan lagi membawa cincin untuk melamar, benar-benar tak masuk akal" seru Annchi berbisik


" kau bicara denganku nona?" tanya Gio


"tidak!" seru annchi ketus " gio, suatu hari kau akan menikah, bagaimana caramu nanti melamar kekasihmu?" seru annchi


" kenapa kau tiba-tiba membicarakan ini, kau habis di lamar ya? hehe" goda Gio


"jangan cerewetttt, jawab saja!"


" hemm, aku belum memikirkan sampai situ, mungkin membuat sebuah makan malam, kenapa? kau sedang berkhayal di lamar dengan cara yang romantis ya?"


" apa salahnya ingin di lamar dengan romantis kan,hufh" seru Annchi sambl menopangkan wajahnya di satu tanganya.


" benar-benar drama queen, ini secara tidak langsung membebani si pria" seru Gio sambil mendekati meja annchi


"kenapa begitu?" tanya Annchi


" menyiapkan mental melamar gadis saja sudah berat, di tambah harus memikirkan cara romantis apa yang di sukai gadisnya, ini melelahkan" seru Gio sambil mengambil Kue di meja Annchi, sadar kuenya akan di raih Gio segera tangan Gio di pukul kecil


" hei hei, ngomong si ngomong aja, tangan gak usah ikut jalan doong!" seru Annchi tertawa


"ya ampun ann, lihat kau beli kue seperti ini berkantung-kantung, apa ini untuk hibernasi? haha" seru Gio sambil mengambil kue dan memakannya


" hibernasi kepala mu, sana bagikan kue ini untuk yang lainnya"


"oke siap bu bos" seru Gio sambil membawa kantung-kantung kuenya ke luar. Beberapa menit kemudian ia kembali lagi.


" Gio, aku sedang bingung" seru annchi


" bingung kenapa?"


" kalau ada 2 gadis di dekatmu, yang satu lembut menenangkan dan yang satu ceria tapi menyakitkan kau pilih mana?"


" hemm, apakah yang lembut membuat mu merasa monoton?" tanya Gio


" ya sedikit"


" apakah yang ceria membuatmu sering tertawa tapi juga sering membuatmu menangis?"


" exactly"


" jika aku di posisi itu, aku pilih mencari orang ketiga yang lembut, nyaman, tapi juga ceria, hihi" tawa Gio


" hufh, benar-benar kesalahan aku bercerita padamu, kau ini luar biasa dalam pekerjaanmu, tapi untuk masalah seperti ini seriuspun kau tak mampu, huh" seru Annchi semakin kesal, melihat bosnya kesal begitu Gio semakin tertawa


"gio apa kau ingin kehilangan 30% bonus akhir tahunmu?" tanya Annchi melirik Gio dengan senyuman ketus


"hahhhh??? kenapa begitu ann? aku sering lembur mengerjakan semua pekerjaanku loh, hiks hiks (T_T) !" seru gio


"iya sebagai kompensasi untuk ku karena kau menertawakanku begitu, dasar pegawai tak tau sopan santun" seruuu annchi


"kyaaaaaa ampuun bosquuee!!" seru Gio, melihat ekspresi Gio, annchi hanya tertawa geli.


*Tak terasa Annchi dan Gio bukan hanya menjadi pegawai dan atasan tapi juga perlahan menjadi teman yang akrab.


***keesokan harinya dikantor Annchi***


Annchi sedang sibuk dengan layar laptopnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada pesan masuk dari gavin.


" ann, aku sedang menuju kantor mu, aku masih ingin melihat sampel wallpapper yang kemarin,kau sedang dimana?"tulis gavin


" oh oke, aku di kantor" balas Annchi


16 menit berlalu, gavin sampai di kantor annchi, ia memasuki ruangan Annchi dengan senyuman. Di sambut oleh gio dan Annchi.


" selamat siang presdir gavin" seru Gio


" selamat siang" senyum Gavin ke Gio, "nona ann, aku ingin melihat sampel yang aku bicarakan tempo hari"


" ya tuan, mari saya antar ke ruang sampel" seru annchi sambil melangkah pergi ke ruang sampel di ikuti Gio.


sesampainya di ruang Sampel , gavin dan Annchi berbicara serius, terkadang berdebat kecil mengenai design dan bahan dari Wallpapernya, untuk urusan bisnis gavin memang sangat detail dan alot.


"benarkah? aku rasa motif dan coraknya tidak sesuai dengan interiornya nanti"


" tapi kalau di lihat-lihat warna perak ini akan menampilkam kesan glamour.


" tapi perak bukan warna yang cocok untuk desaign sebuah kamar, warnanya cerah, warna biru atau hijau lebih cocok karena memberi kesan lembut dan tenang" seru ann sambil berfikir, " ah, bagaimana kalau menggunakan yang ini saja gave" seru annchi sambil menaiki tangga menunjuk gulungan wallpapper yang di maksud, tapi karena memakai sepatu hak tinggi, akhirnya malah tergelincir, untuk ke dua kalinya Gavin menangkap tubuh ann yang hampir jatuh. Gio yang melihat itu hanya bisa senyum-senyum.


" duh, maaf ya gave, aku tak biasa pakai sepatu hak tinggi, jadinya malah terpeleset begini" seru Annchi sambil bangun dari dekapan Gavin


" ya tidak apa-apa kok, dengan senang hati loh bisa menangkapmu 2x ann" seru gavin menggoda Ann, mendengar itu wajah annchi memerah


" nona ann, apa kau sedang flu? wajahmu kenapa merah begitu?" goda Gio sambil menahan tawanya


" beriisiikkkk, bosan dengan gaji besar rupanya kau Gio?" seru Annchi kesal sambil menutupi malunya, Gio dan Gave hanya tertawa geli


"yasudah, aku pilih wallpapper yang kau tunjuk barusan saja, sepertinya lebih baik, bagaimana dengan seragamnya? apa sudah masuk tahap produksi?" tanya Gavin


" masih belum, tim design masih membenahi beberapa sudut designnya agar lebih nyaman dan flexible, mungkin beberapa hari lagi baru masuk ke bagian produksi" seru Ann


" baiklah, aku percayakan padamu ann" seru gavin " oia ini waktunya makan siang, bagaimana kalau kita makan siang dulu?" tanya Gavin ke anchi dan Gio


"maaf tuan, saya sedang diet spesial tak makan siang, mungkin dengan nona ann saja" seru Gio melirik Annchi dengan senyuman isengnya


" oh, iya oke, lunch dimana gave?" seru ann


" di restoran kantormu saja gimana?" tanya Gavin


" oke, ayo" seru annchi " Gio semoga rencanamu menjadi mummy berjalan sesuai harapan ya Gio" seru annchi menggoda Gio dan hanya di balas wajah bingung Gio.


**restoran kantor**


" kau dan asisten mu itu begitu dekat ya?" tanya Gavin


" ya, umur kami hanya beda 2 tahun, jadi sudah seperti teman, kenapa?" tanya Annchi


" tidak apa-apa, kalau dengan pria kemarin hubungan mu apa?" tanyan gavin sambil memakan makanannya


"siapa? Liu? hubunganku dengannya apa ya? hmmm, untuk saat ini tidak jelas, hehe" seru annchi sambil tersenyum


" ternyata kehidupan gadis cantik sepertinya memusingkan juga ya, hehe" seru Gavin sambil tertawa


" ya beginilah, nasib menjadi nona cantik tak selalu baik, banyak roh jahat menghantuiku setiap hari" jawab ann


" hahhaaa, kalau aku jadi pacarmu mungkin akan cemburu setiap waktu ya"


" haha kau ini, mana mungkin tuan muda gavin mau menjadi pacarku" seru annchi


"kenapa tidak mungkin, aku saja sudah cemburu melihat keakrabanmu dengan Gio" seru gavin dengan senyumannya yang santai, mendengar gavin bicara begitu annchi yang sedang minum langsung tersedak kaget.. "


" haduuuh apa dia bicara serius? kalau serius matilah aku, muncul lagi masalah baru, kak shin dan Liu saja belum selesai ,hufh" batin annchi melamun


"kok jadi melamun ann?"


" ti..tidak, hanya saja selera humormu sangat buruk gave heheh"


" aku tidak bercanda , if u let me, i'll prove it" senyum gavin


" if i let u, u'll regret it soon"


" why?"


" karena di sekelilingku banyak pria tampan dan mapan, kau takan sanggup menahan rasa cemburumu seperti yang kau bilang tadi hehe"


" hahaha, unpredictable answer ann, clever enough to reject someone, you are interesting ann, like it" seru gavin dengan tertawa, annchi pun ikut tertawa.


"


***


HAI READERS PLEASE BANGET UNTUK KALIAN KLIK "LIKE 👍" NOVEL INI DI SETIAP EPISODE, please yaaa .. oia jangan lupa KOMENTAR dan BINTANG 5 nya yaa biar kita bisa sharing dan aku lebih semangat nulisnya🤗🤗