
Liu akhirnya membawa tubuh annchi memasuki mobilnya, dan bergegas membawanya pulang kembali ke rumah mereka.
"kenapa kau sering sekali mabuk ann belakangan ini? apa yang kau pikirkan?" seru Liu sambil tangannya membelai lembut wajah annchi, Belaiannya ternyata membuat Annchi terbangun. Masih dalam kondisi yang mabuk, annchi menangkap tangan Liu dan mengarahkan wajahnya menatap Liu.
" Liu, itukah kau?kenapa dalam kondisi seperti ini saja aku masih melihatmu, huh, aku benci seperti ini, pergi, hush pergi dari pandanganku" seru annchi sambil mendorong-dorong tubuh Liu. Liu tak berkata apapun, ia kembali menangkap tangan Annchi dan menggenggamnya. Tak lama berselang mereka sampai di rumah, bibi yan menyambut Liu.
"selamat datang tuan Liu, ada apa dengan nona ann tuan?" tanya bibi yan cemas
"bibi yan? hai bibi, lama sekali aku tak melihatmu, aku merindukan mu hehe" seru annchi tertawa kecil, melihat Annchi mabuk wajah bibi yan semakin cemas
"tak apa-apa bi, dia hanya sedikit mabuk, aku akan membawanya ke kamar, jangan khawatir" seru Liu tersenyum. Sudah lama sekali bibi yan tidak melihat senyuman di wajah Liu saat berada dirumah itu. Biasanya Liu hanya. terpaku memandang rumah kaca dari jendela kamarnya atau diam duduk bermain beberapa lagu sedih dari piano rumah itu. Melihat senyuman Liu, bibi yan ikut tersenyum.
"baiklah tuan" jawab bibi yan singkat.
perlahan-lahan Liu membuka pintu kamar dan merebahkan tubuh annchi di atas tempat tidurnya namun tiba-tiba annchi bangun dan memeluk Liu, menangis terisak di pelukannya.
"a...ann kau kenapa?" tanya Liu
"aku merindukanmu, tapi kenapa kau tega sekali padaku, kenapa kau tak sesedih aku, aku benci sekali padamu, hiks hiks" seru Annchi sambil memukul-mukul punggung liu.
"siapa yang bilang aku tak sedih ann? kau tak bisa membayangkan membayangkan perasaan ku tanpamu" tanya Liu lembut
"BOHONG!!! KAU PEMBOHONG!!!" Annchi melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya "kau bohong liu, kau memeluk gadis lain di depanku saat itu lalu hari ini masih sempat tertawa bahagia dengan gadis lain, kau bohong!! aku benci padamu, aku benciiiii!!!" Annchi memukul mukul dada liu, kemudian Liu menahan tangan Annchi
"jadi kau cemburu ann? jadi alasan kau mabuk ini karena kau lihat aku bersama pink tadi?"
"iya, aku cemburu, apa kau puas?" mendengar jawaban Annchi, Liu seketika mencium bibirnya, kali ini annchi sekuat tenaga mendorong tubuh liu.
"huh, bahkan dalam kondisi mabuk pun aku bisa-bisanya berkhayal menciumnya, sungguh menyedihkan kau ann" seru annchi menarik selimutnya dan memejamkan matanya. melihat itu Liu tertawa kecil dan menarik tubuh annchi dan membuatnya duduk lagi, hal itu sontak membuat ia sedikit sadar kalau yang berada di hadapannya bukan hanya sekedar halusinasinya.
"li..liu" Annchi menatap wajah Liu dalam-dalam, mulai sedikit tersadar dari mabuknya.
"iya,, ini aku, aku juga merindukanmu" Liu tersenyum membuat wajah annchi merona, Liu melanjutkan ciumannya, awalnya annchi berontak namun Liu menahan tubuhnya begitu kuat lama kelamaan Annchi terhanyut. Menyadari annchi berhenti memberontak, ciuman liu pun turun ke leher, annchi terhanyut oleh ciuman Liu, Liu mulai membuka satu per satu kancing bajunya, memperlihatkan tubuhnya yang atletis, Setelah itu ia membaringkan tubuh Annchi sambil membuka kancing kemeja annchi namun tangannya di tahan oleh annchi, Liu mengehentikan ciumannya dan menatap wajah annchi.
" jangan liu, aku tak mau" bisik annchi
" tapi tubuh dan hatimu berkata lain ann" Liu melanjutkan ciumannya dan melepas tangan annchi untuk membuka kancing bajunya. Tidak ada penolakan berarti dari annchi. Ciumannya kembali turun ke leher, tangan Liu mulai memainkan dada annchi.
Annchi tak bisa menahan desahan dari mulutnya, mendengar desahan annchi, liu semakin bersemangat.
"tubuhmu masih seindah dulu ann"bisik liu masih sibuk dengan gerakannya dan kembali mencium bibir annchi. Sudah sekian lama mereka tak melakukannya, ada perasaan bahagia bercampur rindu di hati keduanya. Mereka "melakukan" itu hampir sepanjang malam, seperti biasa, liu selalu berhasil membuat annchi tertidur kelelahan
Saat Annchi tertidur di sampingnya, Liu menatap wajah istrinya, Menatap sosok yang sudah lama hilang dari kamar ini.
"aku akan memandangimu sampai pagi menjelang ann, perasaan seperti ini yang aku rindukan, ternyata Tuhan memberikan ku kesempatan mengulangnya meskipun hanya 1 malam, besok saat matahari bersinar, saat kau bangun dari tidur dan mabukmu mungkin kau menyesalinya dan takan mau kembali kekamar ini. Aku benar-benar merindukanmu ann" seru Liu berbicara di samping annchi yang terlelap.
keesokan harinya, cahaya matahari menyinari kamar, semilir angin memasuki ruangan menyapa annchi yang kemudian terbangun dari tidurnya. Perlahan ia membuka matanya.
"huh pusing sekali, aku dimana ini" seru annchi sambil melihat sekitar untuk beberapa saat kemudian seketika bangkit.
"ka..kamar ini" annchi kemudian melihat tubuhnya yang polos hanya di tutupi selimut, banyak tanda merah bekas ciuman Liu di tubuhnya, membuat wajah annchi merona.
"ja..jadi.. semalam itu bukan khayalanku? itu benar-benar Liu? jadi semalam aku dan dia? aaaaaahhhhhhh ya Tuhan!!!" seru annchi berteriak, kemudian "klak" suara pintu terbuka, Annchi langsung menoleh ke arah pintu masuk, melihat Liu memasuki kamar dengan membawa roti isi dan susu kesukaan Annchi, Annchi tak dapat menahan rasa malunya, kemudian menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya. Melihat Annchi seperti itu, Liu hanya tertawa kecil kemudian meletakan sarapannya di meja kecil di samping tempat tidur dan duduk di samping annchi.
"kenapa kau menutupi wajahmu dengan selimut ann? tak sanggup menahan malu karena merindukanku?" tanya Liu menahan tawanya
"benarkah???" seru Liu dengan cepat menarik selimut yang menutupi wajah annchi, seketika mata mereka bertemu, annchi benar-benar gagal menyembunyikan wajah meronanya, Liu menahan tawa gelinya. Kemudian Annchi kembali menarik selimutnya.
"duh ya Tuhan, ini sangat memalukaaaan!!!" batin Annchi berkali-kali menghujat diri sendiri dalam hatinya, Liu menarik selimut annchi lagi dan menarik tubuh annchi dan memeluknya.
"kenapa harus malu ann? aku sudah sangat akrab dengan tubuhmu, aku ini masih suami mu dan kita melakukan ini sudah tak terhitung jumlahnya" seru Liu, kemudian annchi melepaskan pelukan Liu.
"siapa yang malu??!! aku bahkan tak ingat melakukan apa denganmu, semalam aku mabuk dan kau menjebakku, ini pelecehan aku bisa menuntutmu!!"
"haha, apa berhubungan dengan istri sendiri bisa di sebut pelecehan? kita belum resmi bercerai kan ann, lagipula kau juga menikmatinya, kenapa menipu dirimu sendiri?" Liu tertawa sambil mencubit kedua pipi annchi gemas.
"aa..aaw sakit..lepassss liu!!!" annchi berusaha melepas cubitan Liu, kemudian Liu melepas cubitannya dan memeluk tubuh annchi.
"ann, kau tak tahu betapa aku merindukan situasi seperti ini di kamar ini, aku kehilanganmu seperti sudah bertahun-tahun, aku masih merasakan cinta itu di matamu, bisakah kau membatalkan perceraian ini? kau hanya salah paham padaku ann, percayalah" mendengar kata-kata liu, annchi terdiam, setiap kali hatinya melunak seperti ini, ingatan-ingatan yang membuatnya sakit kembali hadir, sesuatu berbisik di telinganya bahwa Liu mungkin saja berbohong dan mencoba bersandiwara lagi.
Liu tak mendapatkan jawaban apapun dari annchi akhirnya ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah annchi.
"bisakah kau memberiku kesempatan sekali lagi ann?" sesaat annchi menatap wajah pria di hadapannya, menatap sorot mata lembutnya.
" entahlah Liu, apa hubungan ini masih bisa di perbaiki atau tidak, Keluarlah, aku harus berbapakaian dan pergi ke kantor , aku sudah terlambat"
" 5 hari lagi sidang perceraian kita, masih belum terlambat untuk membatalkannya ann, oia, selama ini aku tak bisa menghubungimu karena shin memasang sebuah sistem yang berusaha memblokir ku untuk menghubungimu, aku tak bsa menghubungimu melacakmu, termasuk semua org di sekitarmu saat kau melarikan diri bersamanya waktu itu dan Pink beserta tim ku yang lain berbulan-bulan membantuku memecahkan masalah ini. aku dan dia hanya teman baik ann dan juga dia asistenku, aku berniat mengenalkanmu sebagai nyonya di perusahaanku, perusahaan yang pernah aku katakan padamu saat kita lulus dulu, tapi kejadian ini mematahkan semua rencanaku. Karenanya aku berhasil membuka blokir shin dan panggilan pertama saat aku bisa menghubungi mu adalah kemarin dan aku mengatakan aku merindukanmu saat itu. hanya kata-kata itu yang ada di kepalaku ann. Percayalah, aku dan dia tak ada hubungan apapun, aku hanya mentraktirnya karena membantuku, bahkan aku membawa semua timku makan bersama, mungkin kau hanya melihatku dan dia karena kami duduk di dekat jendela. Percayalah ann" Mendengar perkataan Liu, mata annchi berkaca-kaca
"apa kau masih pantas mendapatkan kepercayaanku liu? meskipun semua yang kau katakan adalah kenyataan, tapi aku terlanjur melihatmu bersama banyak wanita, bahkan meskipun hanya sandiwara xiauwen, dia tetap menyentuhmu, menciummu, kau tak tahu betapa hancurnya aku Liu melihat itu"
"lalu apa aku juga tak hancur melihatmu mencium mesra gavin semalam?"
"hah? ka..kapan aku menciumnya?"
"kau mabuk, tapi aku melihatmu mencium bibirnya mesra ann" seketika annchi mengingat-ingat kejadian dan perkataannya semalam bersama gavin. Annchi menggigit bibirnya.
" aku mabuk bahkan tak sadar apa yang aku lakukan,bagaimana bisa kau marah karena itu?"
"baiklah, sekarang kau memintaku untuk tidak marah karena itu, tapi bukankah kita ada di posisi yang sama ann? semua foto yang kau lihat, aku dalam kondisi terbius tidak sadakan diri, lalu kenapa kau harus marah padaku sampai seperti ini?" mendengar perkataan Liu, seperti ada petir menyambar-nyambar di atas kepalanya
"ba..bagaimana aku tahu kau di bius atau tidak? kau melihatku mabuk semalam itu bukti, sedangkan aku tak melihatmu tak sadarkan diri secara langsung, bagaimana kau membutkikannya?" kemudian Liu meraih ponselnya dan memperlihatkan fotonya bersama xiauwen kala itu.
"lihat tubuhku, lihat posisi tanganku, apakah aku terlihat sadar di sana? kau berhubungan denganku tak terhitung jumlahnya, tentu kau tahu kebiasanku jika menciummu, apa kau tak merasa ada yang aneh dari foto ini ann?" ini adalah pertama kalinya annchi melihat foto itu dengan jelas, meletakan emosinya dan memainkan logikanya, setelah melihatnya dengan jelas, annchi bahkan tak bisa menyanggah dama sekali, apa yang di katakannya benar foto itu terlalu aneh.
"baiklah, lalu apa yang kau lakukan bersama xiauwen dan anak itu di barber shop?" tanya annchi
" hemm jadi kau mengikutiku sampai rumah saat melihat aku dan dia keluar dari barber shop?" tanya Liu tersenyum, annchi mengangguk
"saat itu aku di minta yongji mengambil beberapa helai rambut anak itu untuk memastikan kembali DNA anak itu, Meimei tak pernah jauh dari xiauwen, aku memutar otakku untuk mencuri rambutnya, hanya dengan membawanya ke sana aku bisa mendapatkan rambutnya ann, jika kau tak percaya , tanyakan pada yongji"
"apa aku harus percaya padamu? bisa saja kalian bersekongkol untuk menipuku"
" ann, percayalah padaku, kau hanya salah paham"
"aku butuh waktu Liu, ini semua membuatku bingung"
" baiklah aku mengerti" seru Liu, kemudian beranjak meraih sarapan annchi di samping tempat tidurnya " ini, aku buatkan roti isi untukmu, terakhir kali kau bilang ini enak, jadi aku membuatkannya lagi untukmu, aku akan menunggumu di bawah dan mengantarkanmu ke kantor ann" seru liu sambil mengecup kening istrinya dan beranjak pergi. Setelah Liu menghilang dari balik pintu, annchi menatap roti isi yang ada di hadapannya.
"dia masih begitu manis seperti dulu, semua perkataannya tadi apakah kenyataan yang sebenarnya? bagaimana cara aku membuktikannya kali ini? aku sulit sekali menampik bahwa aku juga merindukan dia dan perasaan seperti ini, aku harus bagaimana?" batinnya