
"yin kau dimana?" tanya Shin
"aku di skeleton kafe kak" jawab Yin
" oke tunggu aku di sana ya"
beberapa saat kemudian
" kak shiinnnn" melihat kedatangan Shin, yin langsung memeluk Shin, shin tersenyum " ada apa kau mencari ku, bukankah kau harusnya masih di kantor?"
" bertemu pacar sendiri tak perlu alasan kan?" sahutnya sambil mengusap kepala Yin dan kemudian duduk"
" apa kau rindu aku?"
" hemm, mungkin, apa kau sudah makan siang?" tanya shin
" belum, aku lapar kak" seru Yin manja
" baiklah kau pesan makanan, aku ke toilet dulu ya" seru shin, namun saat akan berdiri ia melihat ke lantai dan menemukan sebuah fotonya dengan Ann di mobil. Wajah shin terkejut, ia mengambil foto tersebut dan menyimpannya di saku jas, kemudian pergi ke toilet, sedangkan Yin sedang sibuk melihat menu.
" apa yang Yin habis lakukan di sini? mungkinkah ia habis bertemu dengan Ann dan memarahinya?" batin Shin, kemudian meraih ponselnya dan menghubungi Annchi.
ponsel Annchi berdering, Annchi melirik ponselnya yang berada di samping layar laptopnya "Rainbow is calling".
"Rainbow, nama ini masih ada di ponselku dan belum aku ganti, entah lupa atau memang tak ingin menggantinya. Harus aku angkat atau tidak? aku yakin dia menelponku untuk membicarakan masalah aku dan Yin, baiknya tak aku angkat, karena ini akan membuat hubungan mereka berantakan, aku tak ingin ada di antara mereka" batin ann
" kenapa tidak di angkat? ia tak pernah begitu sebelumnya" batin Shin mulai curiga, ia memperhatikan Yin dari jauh, berpikir apa yang sebenarnya terjadi, saat ia menyadari ada kamera CCTV , ia langsung melangkah menuju ruang kontrol kafe itu.
" maaf tuan, selain pegawai tidak ada yang boleh masuk ke ruangan ini" seru pegawai di sana
" aku hanya ingin melihat sedikit rekaman di kafe ini"
" anda memiliki surat ijin atau semacamnya?"
" tidak"
" kalau begitu seilahkan pergi"
" biarkan dia masuk" seru seseorang dari arah belakang shin, Shin mendengar itu langsung memutar balik badannya dan melihat siapa di balik suara itu. Gavin berdiri di sana sambil tersenyum
" bukankah kau tuan muda shin? ada apa ini sampai kau ingin melihat rekaman CCTV kafe ini?"
"apa aku mengenalmu?" seru shin bingung
"seharusnya sih kau tau, tapi jika tidak pun tak masalah, dan aku bukan pemilik kafe ini tapi aku memiliki akses untuk membiarkanmu melihat cctv yang kau maksud"
"hemm, oke terimakasih" jawab Shin sambil melangkah ke dalam ruang kontrol, ia terus mencari rekaman yang di maksud dan ketemu. Gavin berada di belakang Shin memperhatikan rekaman itu sambil tersenyum sinis. Wajah Shin berubah merah padam, melihat yang di lakukan Yin sangat keterlaluan. Ia juga heran melihat pria yang di belakangnya menolong Annchi dan mulai membalikan badannya dan menatap gavin tajam.
" siapa kau sebenarnya? kenapa kau kenal annchi?"
" aku hanya pengagum rahasianya yang kebetulan ada di sini untuk membelanya, bukankah wanitamu keterlaluan?
" kau ingin aku bagaimana? merebutnya dari mu dan liu? haha lagipula pertanyaan ku untuk Yin kenapa kau mengalihkan ke annchi?"
" kau sepertinya tahu banyak"
" bisa di bilang begitu" senyum sinis gavin merekah " baiknya kau kembali, pacarmu mencarimu tu" seru Gavin sambil menunjuk ke layar monitor, kemudian Shin kembali Yin.
Sesampainya di meja, Shin memandangi Yin, Yin sadar di pandangi seperti itu mulai angkat bicara.
" kak, apa kau baik-baik saja? kenapa ke toilet lama sekali?makanan ini sampai dingin"
"tidak apa-apa ayo makan dulu" seru Shin mencoba tenang,
"hari ini kau kemari untuk apa Yin?" tanya shin dengan wajah dingin
" tidak ada, hanya bosan" jawab Yin dengan sangat tenang
" tak heran kau menjadi model dan artis terkenal di German, kau bahkan menyembunyikan ini dengan sangat tenang" batin Shin
" benarkah? tumben sekali kau tak sibuk, biasanya jadwalmu padat yin"
" aku sedang lelah, jadi aku minta manager ku untuk meluangkan waktu ku, kenapa?"
" aku hanya heran, apa yang kau lakukan dengan foto ini sebelumnya?" shin menyodorkan foto yang ditemukannya di bawahnmeja. Wajah Yin mendadak cemas.
" darimana kau mendapatkan foto itu kak?"
" dari bawah meja ini, apa yang kau lakukan? apa kau habis bertemu dengan annchi?apa kau begitu mencurigai ku sampai kau membayar orang untuk membuntuti ku yin?" seru shin sangat datar sambil mengaduk secangkir kopi di depannya tanpa memandang Yin
"maafkan aku kak, aku tak bermaksud tak percaya padamu, tapi jika aku tak melakukan ini aku tak tahu kau begini kan, lagi pula aku tidak habis bertemu annchi, hanya bertemu seseorang yang ingin memberikan foto ini untukku" Yin berbohong
"benarkah? kau benar-benar tak mau jujur? aku bahkan tahu kau menyiram ann dengan wine, Yin!" seru Shin sangat datar sambil mengaduk kopi di cangkirnya tanpa melihat Yin. Wajah Yin langsung berubah panik
" kak, kau tahu dari mana? apa Annchi mengadu padamu? dia benar-benar wanita jalang!!"
" kau bahkan berani memaki sahabatmu sendiri di depan calon tunangan mu, apa kau tak takut aku membatalkan pertunangan ini?"
tatap Shin dingin, Yin tak pernah melihat wajah shin seperti ini, meskipun sangat tenang tapi aura kemarahannya bahkan tak bisa di tutupi.
"kenapa jadi kau yang marah kak? seharusnya aku yang marah! kau ini calon tunangan ku, tapi kau masih bisa memeluk wanita lain di belakangku, kalau kau di sini hanya untuk mempermainkan ku lebih baik aku saja yang mundur dan silahkan kau kejar wanita yang kau cintai itu!" seketika Yin berdiri dan melangkah pergi, namun langkahnya tertahan, Shin memeluknya dari belakang.
" aku hanya cemburu kak kau masih mencintainya, aku tahu ini akan terjadi ketika kau pulang dari perancis, kau akan menemuinya dan hatimu akan memihak padanya lagi, bahkan aku marah kepadanya kau tetap membelanya, aku benci kau begitu"
seru Yin terisak
" maafkan aku Yin, oke aku salah jangan menangis lagi, maafkan aku"
" jangan bertemu / menghubunginya lagi kak, kau milikku sekarang jadi mulai hari ini kau hanya boleh memandangku, bukan istri orang lain, annchi sudah bahagia dengan Liu, biarkan dia dengan hidupnya dan cobalah menerimaku, aku menaruh perasaan kepadamu juga sudah sangat lama, saat aku mendapatkan mu, aku takan membiarkan kau pergi dari ku lagi" isak Yin
" yang dia katakan benar, akulah yang bersalah, seharusnya jika memang tak memiliki perasaan untuknya aku tak menariknya untuk bersamaku hanya sebagai bayangan annchi, sampai detik ini perasaan ku pada annchi tak berubah sedikitpun, memasukan Yin kedalam permainan ini benar-benar kesalahan. Beginikah rasanya ann? akhirnya aku mengerti, bertahan untuk orang yang selalu menarikmu dalam pelukannya lebih penting daripada bersama dengan seseorang yang selalu mengatakan cinta tapi tak benar-benar berusaha menjadikanmu di sisinya? aku juga tak bisa mundur dari sisinya sekarang, bagaimana harus menjalani perasaan seperti ini ann? katakan padaku aku harus bagaimana menghentikan perasaanku padamu dan menggantikannya dengan hati orang lain?" batin Shin