ONE LAST TIME

ONE LAST TIME
Shin Hua



Jantungnya tiba-tiba berdegup cukup kencang, Pikirannya terus melayang-layang. Setelah panggilan Annchi di matikan oleh seorang Pria dia terus bertanya-tanya, siapa laki-laki itu?Shin berteman dengan Annchi sudah sangat lama, dia kenal betul Annchi seperti apa, rasanya sangat mengherankan jika Annchi sepagi itu sudah bersama seorang pria , dia pun mengatakan Annchi sedang mandi " apa yang telah mereka lakukan berdua?", " apa aku salah menekan nomor? ah tidak ini benar no Annchi" gumam Shin berkata dalam hatinya sambil melihat ponselnya berulang-ulang,


"apa Annchi sudah punya pacar?" batinnya khawatir. Seperti sedang menaiki roller coaster. " aku harus pulang, aku akan pastikan sendiri" gumam Shin. Secepat kilat dia meninggalkan kantornya dan mengemas pakaiannya.


di kediaman Annchi-


"tringgg, triiinggg" ponsel Annchi berbunyi, saat Annchi melihat ponselnya dia mendapati pesan dari kak Shin


" Ann, aku dalam perjalanan pulang ke china tunggu aku ya 😘" terlihat emoticon cium itu di ponselnya, entah harus senang / sedih mendengar kak Shin pulang, nyatanya hatinya bahkan lebih sakit dari sebelumnya, aneh sekali perasaannya kali ini, sudah sejak lama Annchi tidak sadar perasaannya kepada Shin, setelah terjadi semua hal tak terduga ia baru menyadari posisi Shin di dalam hatinya.


Seketika itu air matanya mulai membasahi pipinya. " kenapa aku baru menyadari setelah sekian lama kak? kenapa aku baru tau aku menaruh hati padamu setelah ada Liu? apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Annci seraya menangis,


* beberapa jam kemudian*


"Ann, Ann lihat siapa yang datang" ucap ibu mengetuk pintu kamar Annchi.


" ya Tuhan, itu pasti kak Shin, aku harus ganti bajuku, tidak mungkin dia melihatku memakai baju seperti ini" gumamnya dalam hati "oke mam, sebentar lagi turun" jawab Annchi.


Secepat kilat dia mandi dan mengganti bajunya, sedikit touch up untuk memastikan wajahnya tak terlihat muram karena sehabis menangis. Setelah selesai ia bergegas bertemu dengan Shin, hatinya tiba-tiba bahagia sekali.


" kyaaaaaaa... kak Shiiiiiinnnnnnn, aku merindukanmu" ucap Annchi seraya berlari memeluk Shin, sontak Shin tersenyum bahagia melihat Annchi memeluknya.


" hai gadis nakal, lama sekali aku tak melihatmu, kau tumbuh menjadi wanita yang cantik" ucapnya sambil mengedipkan matanya berusaha menggoda Annchi


" ah kakak, baru saja sampai sudah menggodaku, seharusnya kau mentraktirku bukan hanya menggodaku" jawab Annchi dengan manja


" baiklah, gimana kalau kita jalan-jalan dan makan, aku juga lapar, berjam-jam di pesawat, karena merindukanmu bahkan makanan yang disediakan tak ku sentuh" ucap Shin sambil mengusap kepala Anchi dan tersenyum.


Akhirnya mereka pergi ke arah pinggiran kota, sambil menikmati indahnya malam.


" Ann, bagaimana kuliahmu, apakah baik-baik saja? skripsi mu bagaimana?" tanya Shin sambil mengemudi


" hemm kuliah ku baik-baik saja kak, skripsinya juga lancar, ya meskipun banyak penolakan dari dosen tapi lumayan lancar" jawabnya sambil tersenyum manis


" anak pintar" jawab kak shin sambi tangannya membelai lembut kepala Annchi.


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di sebuah outdoor cafe, tempatnya sungguh indah, banyak lampu kecil berwarna- warni, suasananya seperti taman kecil di isi dengan banyak meja-meja untuk para tamu. setelah memesan makanan , mereka mulai mengobrol seru, Annchi seperti melupakan masalahnya dengan Liu, bahkan terbersit Liu pun tidak sama sekali.


Shin memperhatikan setiap kata yang Annchi katakan sambil sesekali tersenyum dan tertawa, saat Annchi mengibaskan rambutnya kebelakang, betapa terkejutnya Shin saat melihat tanda merah di leher Annchi, wajahnya tiba-tiba berubah dari yang ceria langsung menjadi serius, tapi kedewasaan Shin membuatnya tidak langsung berbicara apapun, dia hanya menatap jengkel tanda merah itu, " siapa yang berani mendahuluiku menyentuh Annchi, brengsek" gimamnya dalam hati.


" kak,, kak,, haloo, kau menyimak ku tidak? kau sedang memperhatikan apa?" tanya Annchi sambil melambai-lambaikan tangannya ke wajah Annchi.


Annchi melihat wajah Shin tiba-tiba berubah, Annchi betul-betul di buatnya heran.


" hemm ya,, iya aku mendengarkan mu, hanya sedikit teringat pekerjaanku di kantor" sahut Shin masih dengan wajah dingin, beberapa saat kemudian ponsel Shin berdering, kemudian shin beranjak dari tempat duduknya dan pergi akan menjauh dari Ann, terlihat mereka mengobrol serius di telepon tak berapa lama Shin duduk kembali.


" Ann setelah ini kau ingin kemana?" Tanya Shin tersenyum


" hemm,, bagaimana kalau ke taman saja kak, aku sering pergi ke sana memandangi langit, langit di sana indah" sahut Ann sambil tersenyum


" baiklah" senyum Shin sambil menghabiskan makanannnya.


Setelah selesai, mereka langsung bergegas pergi ke taman, tapi sebelumnya di tengah perjalanan mobil Shin berhenti di sebuah pertokoan, kemudian Shin turun memasuki toko tersebut. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Sin kembali ke dalam mobil


" ini ice cream untuk senyum mu dan ini bunga untuk hatimu" ucap Shin sambil memberikan kedua benda itu, jantung Ann seperti akan copot, ia langsung teringat kata-kata Liu saat di mercusuar, " aku seperti pernah mendengar Liu mengatakan hal yang sama saat di mercusuar, ah bodoh tak perlu mengingat-ingatnya" gerutu Annchi.


" kau tidak senang aku memberimu bunga dan ice cream Ann? mengapa wajahmu seperti itu? " tanya shin


Kemudian mereka bergegas ke taman, setelah duduk dan memakan Es krim, Annchi membuka obrolan.


" kak bagaimana kabar Shen, apa dia baik-baik saja? lama sekali aku tak mendengar kabarnya" tanya Ann


" hemm, dia mungkin sedikit sibuk beberapa bulan terakhir, karirnya di Perancis sedang baik, jadi wajar tak banyak bisa menghubungi mu" jawab Shin,


"ann, apa aku boleh bertanya sesuatu" tanya shin dengan wajah serius , " tempo hari aku menelpon mu, ada seorang pria yang menjawabnya, ia bilang kau sedang mandi, apa itu pacarmu?" tanya Shin tak kalah serius, tatapan Shin seperti memiliki hawa dingin yang menusuk, seperti akan membunuh Annchi seketika.


" duh, siall, si pria mesum itu benar-benar melewati batas, pantas saja waktu itu itu wajahnya dingin dan menanyakan hal itu padaku, rupanya ia habis menerima panggilan kak shtin, ahhhhhh siall apa yang harus aku katakan pada kak shin? apa harus jujur atau berbohong?" batin Annchi dalam hati, sampai tak sadar Shin terus memandanginya


" kenapa kau tak jawab pertanyaan ku Ann? jadi betul dia pacarmu?" tanya Shin memperjelas


" hemmm, i...iiya kak dia pac...." belum sempat dia menjawab, bibir shin sudah menempel di bibir Annchi, mata Annchi terbelalak melihat wajah Shin yang begitu dekat, jantungnya mulai memburu seperti akan copot ke luar. tiba-tiba "Bbbbuuuuuuuuukkkkkk" suara tonjokan keras mendarat di pipi Shin, seketika Shin terjatuh dari tempatnya duduk. Mata Annchi mulai mencari asal pukulan itu dan melihat sosok Liu di sampingnya. Tapi dia tidak sendiri, dia melihat gadis cantik di belakang Liu memandang Liu dengan pandangan heran. Seketika Liu menarik tangan Annchi dan mendekapnya.


" jangan berani menyentuh Annchi atau kau tidak akan melihat indahnya dunia lagi" ucap Liu tajam kearah Shin, kemudian Shin berdiri dan


" Buuuuukkkk" pukulan yang sama kerasnya melayang ke pipi Liu, Liu tersungkur dan Tangan Annchi kembali di tarik Shin.


"kau yang seharusnya menjauhi Annchi, singkirkan tangan kotormu darinya tubuhnya mulai sekarang", ucap Shin


" hah, jangan banyak bermimpi!! dia Wanitaku, kau yang harusnya menjauh!!! dan "Bukkkkkkk" sekali lagi pukulan Liu mengenai pipi Shin, Annchi terheran-heran di buatnya, jantungnya kembali berdetak sangat cepat ,berusaha menahan tubuh Shin sekuat tenaga agar tidak melanjutkan memukul Liu, Xiauwen juga melakukan hal yang sama mencoba melerai.



(ilustrasi Shin hua)


.


" Li..liu kenapa tiba-tiba kau memukulnya? apa kau kenal mereka?" Tanya Xiauwen pada Liu, Liu masih menatap tajam kearah Shin, yang tersungkur di depannya. Tiba-tiba " plaaaaakk" suara tamparan dari tangan Ann ke arah wajah Liu, Liu bergeming


" kau keterlaluan Liu" teriak Ann,


" aku, aku kau bilang keterlaluan? di saat sudah larut malam seperti ini kau sedang asyik bercumbu dengan pria lain, sekarang siapa yang keterlaluan" bentak Liu pada Annchi.


" lalu apa bedanya aku dengan mu, kau juga sedang bersama wanita lain kan!" sahut Annchi sambil menunjuk wanita yang saat ini berdiri di samping Liu, Xiauwen yang mendengar itu, dia hanya diam. Masih berfikir keras apa yang sedang terjadi.


Kemudian Annchi mulai membantu Shin berdiri, dengan bibir berdarah Annchi mulai membersihkan luka di bibir Shin dengan saputangannya, melihat itu Liu menarik tangan Annchi dan memeluknya dengan marah.


" Ann, sebenarnya aku ini siapa mu? kau lihat wajahku tak kalah terlukanya dari dia, tapi kenapa kau lebih memperhatikannya??" tanya Liu pada Annchi dengan gemas, tidak ada sepatah kata apapun yang keluar dari mulut Annchi, tangisannya mulai tak terbendung, sekuat tenaga Annchi melepaskan dekapan Liu dan menarik tangan Kak shin menjauh.


Melihat Annchi pergi dengan pria itu, pikiran dan emosi Liu benar-benar kacau, melihat Itu Xiauwen memeluk Liu erat.


" Kau tak perlu menjelaskan apapun tentang gadis itu, aku tau, aku mendengar semuanya, aku pikir selama ini kau hanya menyukaiku tapi aku salah, aku pikir aku tak menyukaimu aku pun salah, Liu, bisakah kau melupakan gadis itu dan berada disisiku?" Tanya Xiauwen masih memeluk erar tubuh Liu.


Liu mendengar perkataan Xiauwen hanya diam mematung, tak ada kata-kata apapun keluar dari mulutnya


" baiknya aku antar kau pulang ya" ucap Liu mengabaikan pertanyaan Xiauwen sambil melepas pelukan Xiauwen


----------------------------\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=------------------------


(ilustrasi.shin hua)