My Papa My Boss

My Papa My Boss
Balik Marah



Nandira mengendarai mobilnya ke sekolah untuk menjemput anak-anaknya. Pikirannya terus tertuju pada Rafiz yang mematikan ponselnya secara tiba-tiba saat dia masih berbicara padanya.


"Apa dia benar marah padaku, aku kan tak sengaja. Aku benar-benar lupa kalau dia menyuruhku menunggu Supir yang dikirim olehnya.Semoga saja dia bisa mengerti." cemas Nandira.


Nandira menoleh menatap ponselnya dan meraihnya, satu tangan memegang setir mobil dan lainnya memegang ponsel mencoba untuk menghubungi Rafiz. Nada sambung terhubung, "Ayu dong di angkat," gumam Nandira.Namun hingga panggilan berakhir Rafiz tak kunjung mengangkat panggilannya.


Nandira kemudian mencobanya sekali lagi, ia sedikit memelankan mobilnya konsentrasi nya benar-benar terpecah memikirkan Rafiz yang marah padanya." Ini kenapa lagi dia tak mengangkat panggilanku, Aku kan ga sengaja melupakannya," gerutu Nandira seorang diri.


Panggilan kedua pun sama, Rafiz tak mengangkat panggilannya.


"Sepertinya dia benar-benar marah," kesal Nandira menyimpan kembali ponselnya dan menambah laju mobilnya menuju ke sekolah anak-anak.


Nandira bisa melihat Zidan dan Syahidah sudah menunggunya di gerbang sekolah dan sepertinya ia sedikit terlambat menjemput buah hatinya itu. Disana hanya tinggal mereka berdua saja.


Begitu mobil Nandira berhenti di depan mereka, dengan segera mereka naik. Syahidah sudah menekuk wajahnya. Wajah cemberut terus diperlihatkannya pada mamanya, sedari tadi mereka sudah menunggu.


"Maaf ya, Mama agak lama," ucap Nandira membalikkan badannya melihat putrinya.


"Mama kok lama sekali sih, capek nungguin Mama ," keluh Syahidah.


"Iya maaf ya, tadi Mama ke toko dulu," jawab Nandira.


"Mama ke toko kue?! mama ada nggak bawain Syahidah kue coklat?" tanya Syahidah berbinar.


"Ada kok, nanti ya kita makan kita ke kantor papa , kita makannya di sana sama papa," ucap Nandira melihat Syahidah dari kaca spionnya. Zidan duduk di samping Nandira dan Syahidah duduk di jok belakang.


"Iya Mah," jawab Syahidah kembali ceria.


"Hufff, syukurlah. Untung aku nggak lupa buat bawain Syahidah kue. Kalau nggak, bisa-bisa anak gadis ini akan marah sama aku ditambah papanya juga marah.Aaaah! benar-benar pusing," batin Nandira menjerit mencoba untuk terus berkonsentrasi pada jalan.


"Mama mau ngapain di kantor Papa?" tanya Zidan.


"Enggak, Mama cuman mau jalan-jalan aja ke kantor papa, udah lama kan kita ga kesana." jawab Nandira.


"Mah kita pesan makanan ya, Zidan lapar, makannya di kantor papa aja," ucap Zidan.


"Iya, Mama juga belum makan, Zidan bisa tolong kamu pesankan makanan di restoran depan aja," ucap Nandira memberikan ponselnya pada Zidan.


Restoran langganan mereka, mereka lewati saat ke kantor Rafiz. Terlalu lama jika mereka sampai di sana kemudian memesan.


"Kita pesan apa Mah?" tanya Zidan setelah mengambil ponsel mamanya dan ingin menulis pesan.


"Mama ikut kalian saja," jawab Nandira.


"Syahidah kamu mau pesan apa?" Zidan beralih pada adiknya.


Syahidah ikut kakak saja mau pesan apa,"jawab Syahidah yang sudah tak punya tenaga lagi untuk memikirkan makanan apa yang harus dipesannya. Sedari tadi ia terus-menerus mondar-mandir di sekolahan menunggu mamanya. Syahidah bahkan sudah memejamkan matanya sekarang.


Zidan memesan makanan di restoran langganan mereka dengan menu kesukaannya.


Mereka sengaja memesan makanan agar mereka tak menunggu lagi saat mereka tiba nanti di restoran tersebut.


Itu adalah Restoran langganan mereka jadi pihak restoran sudah mengenal Nandira. Begitu mobil berhenti di parkiran restoran, salah satu pelayan sudah berlari mengarah ke mobil mereka memberikan pesanan yang telah mereka pesan.


Zidan yang melihat pelayan itu berlari kearah mereka langsung membuka kaca mobil dan mengambil uang di dompet mamanya.


"Makasih ya Kak," ucap Zidan memberikan uang kepada pelayan tersebut dan mengambil makanannya.


"Kembaliannya ambil aja," ucap Nandira saat melihat pelayan tersebut mencoba mencari uang kembalian di sakunya.


"Terima kasih Kak," ucap pelayan tersebut.


Nandira hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.


Merekapun kembali melajukan mobilnya ke kantor Rafiz.


Zidan melihat adiknya itu sudah tertidur, dan berusaha menahan kepalanya agar tetap tegak.


Zidan berpindah kebelakang dan menjadikan bahunya sandaran untuk adiknya.


Nandira melihat itu semua dari kaca spionnya.Ia sangat senang melihat bentuk perhatian Zidan pada adiknya.Walau terkadang mereka sering bertengkar namun mereka saling menyayangi.


Begitu Nandira sampai di kantor, beberapa karyawan kantor yang mengenal mereka sebagai Keluarga dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja, memberi hormat pada Nandira dan anak-anak nya.


Beberapa karyawan kantor yang mengenal mereka sebelum menjadi istri dari bos mereka langsung menyapa Nandira. Khusus cleaning service, Nandira mengenal mereka saat sering datang ke kantor ini untuk mengantarkan pesanan kue.


Walau sudah menjadi istri dari pemimpin perusahaan itu, Nandira tetap menyapa para karyawan yang ia kenal.


Nandira menenteng makanan yang tadi dipesannya sedangkan Syahidah membawa kue coklat nya, Iya terlihat lebih segar setelah tertidur tadi.


Ia mengetuk pintu beberapa kali dan mendengar suara Rafiz yang mempersilahkan mereka masuk.


Nandira membuka pintu dengan ragu, Syahidah dan Zidan langsung masuk begitu pintu dibuka.


Nandira melangkah pelan, matanya tertuju pada Rafiz yang melihat kedatangan mereka. Masih terlihat jelas disana wajah kesalnya saat menatap Nandira.


"Kok nggak bilang sih mau ke sini?" tanya Rafiz memeluk dan mencium Syahidah yang langsung menghampirinya.


"Mas kamu sudah makan? ini aku bawain makanan?!" ucap Nandira namun Rafiz tak menggubris pertanyaan Nandira.


Zidan, Syahidah Kalian sudah makan?" tanya Rafiz melihat kearah anak-anaknya.


"Meraka belum makan Mas, ini aku sudah beli makanan untuk kita. Kita makan sama-sama ya?!" ajak Nandira.


Lagi-lagi Rafiz mengacuhkan Nandira.


"Kalian mau makan apa? nanti papa pesankan?!" tanya Rafiz tanpa sedikitpun ada niat untuk melihat kearah Nandira.


Nandira mengepal tangannya dan mengeratkan giginya, ia tahu jika ia sudah melakukan kesalahan tapi mendiamkannya seperti ini sungguh sangat keterlaluan menurutnya.


Zidan, Syahidah kalian makan di luar ya nanti ruangan Papa kotor ," ucap Nandira.


Tanpa menunggu jawaban dari anak-anaknya Nandira langsung mengambil makanan tersebut dan membawanya keluar, Zidan dan Syahidah yang memang lapar mengikuti mamanya.


Nandira membawa mereka ke ruang pantry dan menyiapkan makanan di sana.


Zidan dan Syahidah mulai makan. Nandira awalnya mengira Rafiz akan ikut bergabung dengan mereka.Namun, kelihatan nya ia benar-benar marah padanya.


"Kalian makan dulu ya!, Mama panggil Papa dulu," ucap Nandira.


Syahidah mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan, sedangkan Zidan hanya mengacungkan jempolnya. Ia pun tengah sibuk melahap makanan kesukaannya.


Nandira kembali masuk ke ruangan Rafiz.


Rafiz hanya melirik Nandira lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Nandira melihat suaminya itu fokus pada laptopnya, Nandira berjalan menghampiri Rafiz dan sengaja berdiri di depan suaminya itu, sehingga menghalangi pandangan Rafiz dari layar laptopnya.


Rafiz mencoba menggeser Nandira yang menghalanginya.Namun, Nandira justru duduk di pangkuannya, mengalungkan tangannya dileher Suaminya.


"Apa kau marah padaku? aku benar-benar tidak sengaja melupakannya," sesal Nandira.


Nandira sudahlah aku sedang banyak pekerjaan,"ucap Rafiz mencoba menyingkirkan Nandira dari pangkuannya.


Nandira yang kesal berdiri dan melipat tangannya di dadanya, memandang Rafiz penuh kekesalan.


Rafiz tahu jika Nandira juga mulai marah padanya.Namun, Ia tetap fokus kembali pada layar laptopnya.


"Oh jadi gitu ya, kamu nggak suka aku duduk di pangkuanmu! sementara jika Jazlyn yang duduk di pangkuanmu kau begitu menyukainya, bahkan kau sangat menikmati bercumbu dengannya," kesal Nandira berbalik ingin meninggalkan Rafiz.Namun, Rafiz dengan cepat menahan tangan Nandira menghentikan langkahnya.


"Apa maksudmu?" tanya Rafiz.


Saat mengatakan hal itu hati Nandira terasa teriris, harinya kembali Sakit membayangkan kan apa yang dilihatnya waktu itu.


Nantilah sekuat tenaga mencoba menahan air matanya, ia mengeratkan rahangnya.


"Iya, kamu suka kan jika Jazlyn yang duduk di pangkuanmu. Aku bisa lihat sendiri bagaimana kau menikmati ciumannya waktu itu," jelas Nandira menggebu-gebu yang masih membelakangi Rafiz.


Rafiz baru menyadari apa yang dimaksud oleh Nandira.


"Apakah waktu itu Nandira datang ke kantor dan melihatku dangan Jazlyn," batin Rafiz.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏


Salam dariku 🤗


Author m anha ❤️


Love you all 💕💕💕


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖